21 December, 2014

Di tahun 2016 ini, kayaknya frasa, "anak muda" dan "bisnis" adalah dua kata yang begitu sering saya dengar di manapun. Nongkrong sama teman misalnya, pasti di antara obrolan ngalur ngidul itu ada satu dua obrolan tentang bisnis. Tentang peluang bisnis inilah, peluang bisnis itulah. Iya sih, kayaknya di era informasi kayak gini, peluang bisnis sudah terbuka makin lebar untuk siapa saja. Makanya, tidak susah bagi saya dan kayaknya kita semua untuk menemukan pebisnis dari berbagai kalangan usia dan latar belakang. Ada yang kuliah sambil berbisnis, ada yang ngaryawan sambil bisnis, ada juga yang bisnis sambil bisnis - alias punya lebih dari satu bisnis.

Bisnis mereka pun beragam dan kreatif-kreatif, contohnya kayak bisnis cake super unyu punya teman saya ini: Soul Cakes Shop by Lisdawanti (Instagram: www.instagram.com/soulcakesshop)

Cakenya unyu beud ga sih?
Atau kayak bisnis minuman bubble-bubble kekinian Happy Bubble punya Wahidah, teman SMA saya. (Instagram: www.instagram.com/happybubbleofficial)

Segar kali yah jam istirahat minumnya ini
Dan tidak mau ketinggalan, si pacar juga mulai berbisnis sejak lulus kuliah tahun lalu. Doski sekarang punya online shop jilbab/hijab gitu. Doski memilih Instagram sebagai media promosi, nah supaya calon pembeli ini makin yakin sama koleksi hijabnya, maka kami memutuskan untuk memotret sendiri koleksi produknya. Ini hasilnya:

Kunjungi Instagram @HijabTaste untuk galeri lengkap
Dari cerita mereka, bisa dibilang bahwa modal yang terbatas memang menjadi hambatan utama dalam memulai bisnis. Tapi bagi mereka, ambisi tidak boleh sekedar jadi mimpi, tapi harus dikejar.

Saya pun akhirnya tidak mau kalah, karena ambisi jadi model kalender hot sudah tidak mungkin dikejar, maka saya akhirnya memilih untuk memulai mengejar ambisi membangun layanan fotografi dan videografi di Makassar. Bersama 4 orang yang kesemuanya belum menikah, ambisi ini mulai kami kejar.

Project prewedding pertama saya - konsep, foto, dan editing by me. Harap maklum XD
Nah, pas banget usaha baru kami ini lagi panas-panasnya, teman saya mengajak untuk ikutan Festival #Ambisiku yang diadakan oleh Tri, salah satu provider besar di Indonesia. Katanya, ada sharing dan peluang gitu deh. Tanpa babibu, saya langsung mengiyakan.

Festival #Ambisiku sendiri diadakan di 3 kota besar di Indonesia: Yogyakarta, Makassar, dan Bandung. Di Makassar, acara ini berlangsung pada tanggal 23 - 25 September 2016 di Trans Studio Mall Makassar.

Mejeng dulu di totem #AmbisikuMakassar
Nah, event ini ada 5 acara besar, 1) Kejar Ambisiku yang dikhususkan untuk mereka yang ingin memulai dan mengembangkan bisnisnya. Nanti akan ada mentoring dari mentor berpengalaman, dukungan pengembangan dari Tri, dan perluasan jaringan bisnis ke 56.5 juta pelanggan Tri dan jaringan internasional kelompok bisnis CK Hutchison Holdings, 2) Talkshow inspiratif dari pelaku bisnis lokal dan nasional, 3) Workshop, 4) Bazaar produk kreatif anak muda Makassar, dan 4) Musik dan seni, pastinya.

Nah, di antara banyak rangkaian acara itu, saya tertarik dengan salah satu workshop yang dibawakan oleh Mattuju, perusahaan manajemen kreatif berbasis di Makassar dengan tema workshop Memanfaatkan Ruangan dan Media yang Ada untuk Foto Produk. Pas banget sama Ambisi yang ingin saya kejar!


Bazaar #AmbisikuMakassar
Memasuki area event, kami disambut oleh pameran produk dan bisnis kreatif anak muda Makassar. Di kiri kanan terlihat jajaran produk dari makanan hingga fashion yang kreatif dan unik-unik semua.

Mereka yang mejeng dengan totem #AmbisikuMakassar yang disebar di beberapa titik di kota Makassar
Ambisi anak muda Makassar, dari yang ingin segera berbisnis dan ingin segera dilamar
Workshop yang kami ikuti dipandu oleh Adhar, fotografer Mattuju. Adhar sharing bagaimana cara memanfaatkan media dan ruangan yang terbatas untuk foto produk yang tetap bagus dan kekinian. Selain sharing bagaimana membuat foto produk yang menarik, kami juga diajari membuat DIY super mini studio (sumpah ini istilah saya ngasal bikinnya biar kedengaran keren saja) supaya bisa membuat foto produk yang menarik dengan keterbatasan ruangan dan media.

Adhar Mattuju berbagi tips membuat foto produk
Kami diajari membuat mini studio untuk foto produk dengan bahan dasar kardus, karton, kertas kalkir, dan lampu belajar. Kardus berfungsi sebagai rangka utama mini studio, lampu belajar sebagai sumber cahaya utama, karton sebagai background foto, dan kertas kalkir berfungsi sebagai diffuser cahaya sehingga cahaya lampu belajar tidak terlalu keras dan jadi lebih rata.

Salah seorang peserta workshop membuat mini studio
Ternyata, membuat mini studio tidak sesulit yang kami bayangkan. Caranya gampang. Tinggal membuat lubang di sisi kiri kanan kardus, menempeli kertas kalkir di lubang yang sudah dibuat, menempatkan kertas karton sebagai background, maka jadilah mini studio kita.

DIY Mini Studio
Setelah mini studio ini selesai, kami pun bergantian mencoba memotret produk. Hasilnya? Meskipun dibuat dengan barang-barang seadanya, ternyata hasilnya cukup memuaskan dan yang pasti - Instagrammable. Yang terpenting kata Adhar adalah angle, komposisi, dan editing nantinya. Untuk editing, saya sepakat sama Adhar untuk menggunakan Snapseed di Android dan iOs. Selain gratis, toolsnya juga lengkap. Kita bisa menggunakan selective tools untuk mengedit bagian-bagian foto tertentu tanpa merusak bagian foto yang yang lain.

Contoh hasil foto dengan kamera handphone.
Gimana?
Cukup bagus kan hasilnya? DIY mini studio ini cocok untuk kalian yang punya produk tidak terlalu besar. Selama ini sih, kami memotret koleksi produk secara outdoor, di bawah sinar matahari langsung. Hasilnya sebenarnya cukup bagus, tapi berhubung intensitas cahaya matahari yang berubah-ubah dan karena musim hujan sudah mulai masuk, kami pun kepikiran untuk membuat mini studio juga.

Kamu juga harus coba!

Seusai mengikuti workshop, kami berkeliling melihat jajaran produk yang dipamerkan di bazaar sambil tentu saja - mencari jajanan pengganjal perut.

Tumming dan Abu
Orang Makassar mana sih yang tidak kenal Tumming dan Abu? Kalian yang sudah pernah nonton film Uang Panai' juga pasti sudah kenal dengan dua sosok ajaib ini. Dengan logat Makassar mereka yang kental, mereka memang telah berhasil mencuri perhatian para netizen. Mereka memang sering membuat video komedi di Instagram dan Youtube, dan sejak main film Uang Panai', popularitas mereka meroket.


Tumming dan Abu di #AmbisikuMakassar
Yang keren menurut saya dari Tumming dan Abu adalah, mereka menjadi diri mereka sendiri di depan kamera. Mereka sharing dan memberikan motivasi bagi anak muda Makassar untuk tetap aktif dan kreatif. Di antara semua guyonan absurd mereka, saya mencatat satu buah kalimat yang diucapkan oleh Tumming, "Bekerja sesuai apa yang kalian suka". Kerja sesuai passion.

Ciyee passionpreneur ciyee


Fandy WD on Stage
Selain kedatangan para pelaku bisnis kreatif lokal dan nasional, festival #AmbisikuMakassar juga kedatangan para pelaku seni dan musik. Ada The Overtune (musik), Ina Waloni (pelaku seni), Gio Idol, dan lain-lain. Hari itu, kami dihibur oleh penampilan apik dari Fandy WD, seorang loop musician, ituloh, musisi yang biasanya tampil sendiri dengan musik loop (berulang-ulang). Soal loop music ini sendiri banyak yang sering mengira lip sync karena melihat seorang penyanyi sendirian dengan suara musik yang rame dan kadang-kadang ada backing vokalnya. Padahal itu mah kerjaan musisinya sendiri di panggung dengan alatnya yang lebih rumit daripada hubungan tanpa kejelasan.

Talkshow hari itu ditutup oleh Kevin Osmond dari Printerous, dan berbagai rupa perusahaannya yang lain. Kevin Osmond memang adalah seorang seial entrepreneur dengan berbagai bisnis yang dikelolanya.

Kevin Osmond sharing mengembangkan startup di #AmbisikuMakassar
Meskipun sudah malam, peserta terlihat antusian memerhatikan pemaparan Kevin Osmond. Barangkali karena pemaparannya yang lengkap dari bagaimana memulai bisnis hingga mengembangkannya disertai sharing pengalamannya mengelola berbagai bisnisnya.

Satu hal yang beberapa kali Kevin Osmond ulangi hari itu adalah, "konsistensi". Konsistensi dalam menyatakan ide itu menjadi satu langkah besar: memulai.

Nah, Kevin juga berbagi tips untuk kita yang baru memulai bisnis untuk eksperimen pasar dengan mengikuti bazaar. Gunanya adalah mengetes kesesuaian produk kita dengan selera pasar, sebelum kita memutuskan apakah produk kita sudah sesuai dengan keinginan pasar atau belum, mana yang harus diperbaiki sebelum melakukan promosi dan pemasaran yang lebih besar lagi. Ini bisa dilakukan dengan membuka stand di pameran makanan atau pameran produk.

Kevin menutup sesinya dengan mengutip Steve Jobs, "Stay Hungry, Stay Foolish".

Pulang dengan semangat
Hujan malam itu tidak mematikan semangat kami, para pemateri hari itu kayaknya sukses membakar semangat kami untuk mengejar ambisi kami masing-masing. Nah, untuk kalian yang punya ambisi dan ide bisnis, kalian bisa mengikuti program #KejarAmbisiku. Kalian yang terpilih akan mendapatkan mentoring dan bantuan pengembangan bisnis dan jaringan loh dari Tri Indonesia.

Jadi, apa ambisimu?

Asus Incredible Race
Malam pertama di Zenvolution 2016 ditutup dengan briefing oleh tim Asus perihal Asus Incredible Race yang akan digelar besoknya. Kami dibekali sebuah tas punggung nan imut berisikan T-Shirt, sebotol air mineral, voucher makan siang senilai Rp 150.000,-, voucher air mineral, voucher minuman isotonik, jas hujan, uang jajan senilai Rp. 50.000,-, dan boks berisi satu unit Zenfone 3.

Iya, Zenfone 3.

Asus Incredible Race adalah sebuah perlombaan berisikan sepuluh tantangan yang harus kami selesaikan dalam satu hari. Maka sebagai persiapan, pagi hari itu saya sarapan sebanyak-banyaknya, ditambah makan pisang dua batang (batang?) untuk tambahan kalori, dan minum jus semangka bergelas-gelas. Pagi itu juga, untuk pertama kalinya, saya mandi *lah.

Semua persiapan ekstra ini adalah demi memenangkan Asus Incredible Race. Soalnya hadiahnya memang Incredible beud, tidak tanggung-tanggung hadiahnya uang tunai sejumlah total Rp. 109.000.000,-. Terbilang: Seratus sembilan juta rupiah. Jumlah yang cukup untuk bayar panaik dua gadis bugis yang belum sarjana.

Demi Tim 30!
Seusai mandi, saya langsung mengenakan T-Shirt kebesaran, maksudnya T-Shirt yang dikasih panitia ukurannya kebesaran. Body saya yang mungil ini dikasih T-Shirt berukuran L. Hasilnya, saya jadi kayak rapper nanggung yang belum akil baliq.

Tapi memang dasar jodoh. Pak Arif, teman sekamar saya dapat T-Shirt berukuran M. Kami pun tukaran, meskipun ternyata ukuran M pun masih juga kebesaran.

“Makanya cepat nikah supaya gemuk!”, kata Pak Arif puas mem-bully saya. Saya tertawa lalu terjun dari lantai 3.

Saya tergabung di tim 30. Tim beranggotakan 20 orang dengan varietas usia yang beragam. 50% di antaranya orang-orang Makassar sehingga tim saya kurang Bhinneka Tunggal Ika. Padahal saya berharap bisa satu tim dari blogger-blogger dari seluruh nusantara biar akrab, biar dekat.

Perjalanan menuju titik start di Hotel Inaya pun dimulai. Zenfone 3 sudah di-charge penuh dan perut sudah diisi. Di depan Courtyard Hotel Nusa Dua, Bali, tepat di samping satpam yang sedang bertugas, Saya mengepalkan tinju ke udara lalu berikrar tidak akan makan buah palapa sebelum membawa tim 30 menjuarai Asus Incredible Race!

Pose foto paling standar
Baru saja kami berjalan dari penginapan menuju garis start, hujan turun. Pagi itu di Nusa Dua, langit memang sedang mendung-mendungnya. Alhasil, jadilah jas hujan sebagai #OOTD alias Outfit of The Day pagi itu. Tidak ingin membuang waktu, kami mempercepat langkah menembus gerimis.

Outfit of The Day-nya Asus Incredible Race
Ngomong-ngomong soal jumlah peserta, Asus Incredible Race ini diikuti oleh sebanyak 551 peserta, jumlah inipun tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MuRi) sebagai Permainan dengan Peserta Terbanyak yang dilakukan oleh Perusahaan IT. Masih pagi-pagi udah bikin rekor aja, hebat ya Asus ini.

Tim kami dipimpin oleh Mas Budi, Blogger yang saya lupa asalnya dari mana (maafkan saya, Mas Budi). Setelah dibagikan nomor peserta dan guide Asus Incredible Race, MC memberi aba-aba tanda Asus Incredible Race sudah mulai. Sontak, 551 peserta ini berhambur menuju station pertama masing-masing.

Ketua tim 30 dan anggota tim yang rusuh
Station 1 – Long Exposure
Setelah lebih kurang 15 menit perjalanan, kami sampai ke station pertama. Station tantangan pertama ini bernama Station Long Exposure. Di Station ini, kami ditantang untuk membuat foto Light Painting menggunakan Asus Zenfone 3. Meskipun waktu 15 menit yang diberikan untuk menyelesaikan tantangan cukup banyak, nyatanya kami keteteran. Ini semua karena tim kami masih belum kompak. Mas Budi terlihat kesusahan mengatur kelompok kami yang terdiri dari beragam kategori usia.

Kami lalu membagi tugas, Idham si fotografer andalangue langsung mengambil tripod dan menyetel kamera Pixel Master di Zenfone 3-nya, memilih mode manual, ISO 3200, dan shutter speed selama 32 detik. Anggota kelompok sisanya menulis Zenvolution dengan fitur Screen Flashlight di Zenfone 3 masing-masing. Baru empat kali percobaan, waktu ternyata sudah habis. Meskipun sempat ribut saat mengatur sesama anggota tim, hasil fotonya cukup lumayanlah. Standar tapi tidak terlalu buruk.


Hasil foto Light Painting Tim 30 di Asus Incredible Race. Coba tebak saya yang mana?
Seusai menyelesaikan tantangan, kami dikasih kode QR berisikan lokasi pos selanjutnya. Saya dipercaya sebagai penyecan (((penyecan))) QR code, begitu si-scan, lokasi pun muncul di layar Zenfone 3. Saya dan Mas Budi lalu memimpin perjalanan, mereka tidak tahu saja kalau saya ini buta arah muahahahaha.

Station 2 – Display Station
Kalau Station pertama tadi berada di dalam ruangan gelap, station kedua outdoor tepat di bawah terik matahari. Kami diberikan 20 barcode untuk di-scan oleh masing-masing anggota kelompok. Setiap barcode mengarahkan kami ke sebuah potongan gambar lewat Google Chrome. Totalnya, ada 20 potongan gambar yang harus kami susun menjadi sebuah gambar utuh.

Oleh Mas Budi, saya disuruh untuk mengatur anggota kelompok. Membagi masing-masing satu barcode untuk 1 orang peserta. 10 barcode pertama, lancar. Sayangnya, karena kurang sabar, makin lama masing-masing anggota kelompok langsung maju untuk meng-scan sendiri tanpa instruksi. Akibatnya, saya kehilangan jejak barcode mana yang sudah di-scan, mana yang belum.

Semua Zenfone 3 pun dikumpulkan ke atas meja. Jangan ditanya potongan gambarnya lengkap atau tidak, karena ketidaktertiban kelompok kami sendiri, ada beberapa gambar yang sama – artinya mereka meng-scan barcode yang sama, artinya pula ada barcode yang tidak di-scan.

But the show must go on.

Kami langsung menyusun puzzle dengan potongan gambar yang kami punya. Layar terang Zenfone 3 ternyata masih mampu memperlihatkan gambar dengan jelas meskipun kami berada di bawah terik matahari Nusa Dua yang semakin meninggi. Hambatannya malah datang dari layar Zenfone kepunyaan masing-masing anggota tim yang terkunci dan dipasangi pin.

Huft.

Alhasil, tim kami tidak berhasil menyelesaikan tantangan ini. Tekanan pun meninggi, ini semua karena masing-masing anggota tim bergerak sendiri-sendiri mengabaikan instruksi dari ketua tim. Mas Budi mencoba untuk tetap tenang menyikapi tense interkelompok yang sepertinya memuncak di Station kedua ini. Pokoknya, suasanya sudah betulan kayak reality show yang biasa ada di tipi-tipi. Satu dua tim lain yang kebetulan lewat pasti menoleh karena ruwetnya tim kami.

Setelah perdebatan yang cukup tegang, akhirnya kami sampai pada satu keputusan: Seluruh anggota tim wajib mengikuti instruksi dari Mas Budi ketua tim seperti seharusnya anggota kelompok yang baik, dan saya dipromosikan jadi asisten Mas Budi.

Mereka masih belum tahu juga kalau saya buta arah.

Merumput karena kelelahan padahal baru 2 Station
Station 3 – Sonic Master
Kami kembali ke ruang ber-AC yeah! Pos Sonic Master ini berada di salah satu ballroom hotel. Oh, tidak ada yang lebih menyegarkan daripada dinginnya udara dari Air Conditioner setelah perjalanan panjang dari station 2 yang makin panas dalam banyak pengertian.

Ditambah lagi, penjaga station Sonic Master ini juga adem banget. Double adem.

Di station 3 ini, penjaga station akan memutarkan satu demi satu lagu, dan kami harus menebak judulnya. Untung saja, suara dari speakernya jernih. Ini berkat teknologi audio Sonic Master yang memungkinkan produk Asus menghasilkan suara yang jernih high resolution.

Musik pun dimaikan satu-satu. Awalnya, kami berhasil menebak beberapa lagu awal dengan mantap. Makin lama, ternyata lagunya makin susah. Ada beberapa lagu yang sebenarnya familiar tapi kami tidak tahu apa judulnya, ada juga jawaban kami yang salah karena menjawab In My Mind harusnya On My Mind, itu loh lagunya Ellie Goulding.

Karena tantangan tebak lagu ini semuanya adalah lagu-lagu mainstream dan hitz, anggota tim kami yang sudah berumur sukses jadi anggota hore-hore. Iya kali om-om kumisan beranak usia SMA tau lagu Major Lazer? Akhirnya, para generasi mudalah yang menjadi ujung tombak di station ini. Sayangnya, kami hanya berhasil menebak 13 dari total 20 lagu. Payah banget. Coba musiknya dangdut atau qasidah, pasti tim kami juara!

Sebelum pamit ke pos selanjutnya, sepik pun dimulai dengan mengajak penjaga station selfie dulu pake Zenfone 3 tak lupa meminta Instagramnya. Hihi dasar cowok.

Modus banget :))
Station 4 – EIS
Kami kembali ke ruang terbuka. Matahari makin terik, entah itu hujan tadi pagi sudah ke mana. Etapi ada yang beda sekarang, kami dikasih alat transportasi berupa mobil pariwisata tanpa jendela. Kenapa tanpa jendela? Kalau tanpa mesin, namanya dokar.

Ba dum tss.

Tantangan di station ini adalah, mobil akan mengelilingi komplek Resor Nusa Dua, dan di sepanjang perjalanan itu, kami harus merekam video pakai Zenfone 3. Nanti setelah kembali lagi ke station 4, kami akan ditanya perihal yang kami lewati.

Kami pun langsung membagi tugas, Idham duduk di depan dan merekam dari bangku depan mobil. Kami yang duduk di belakang merekam perjalanan sesuai posisi duduk. Yang duduk di sebelah kanan merekam sisi kanan jalan, yang kiri merekam sebelah kiri jalan.


Makin sempit makin akrab
Teknologi Electronic Image Stabilizer (EIS) di Zenfone 3 memungkinkan rekaman video kami minim guncangan. EIS ini memang dirancang untuk mengurangi efek guncangan saat merekam video. Meskipun sepanjang perjalanan, mobil berguncang cukup aduhai, video berdurasi lebih dari 10 menit yang kami rekam masih layak tonton.

Jadi yang keyakinannya ke pacar masih sering berguncang, coba deh pacarnya dipasangi EIS.

Selain minim guncangan, kualitas videonya juga cukup bagus untuk kategori phone camera. Begitu kembali ke station 4, kami diberikan 10 pertanyaan seputar hal-hal yang kami lihat di perjalanan seperti apa nama gedung ini, apa nama hotel ini, dan berapa logo Asus Incredible Race yang terpampang sepanjang perjalanan. Kami boleh menonton video yang sudah kami rekam tadi sebagai contekan. Saat melihat hasil video yang saya rekam tadi, ini kok sepanjang perjalanan yang keliatan muka saya semua ya? *lah ternyata pake kamera depan.

Station 5 – Ayo Kita Menari  4K!
Ini adalah pos yang menurut saya paling menantang, bagaimana tidak – tubuh kami yang sudah tidak muda lagi ini, yang sendi-sendinya sudah mengeras dipaksa harus menari Bali. Tarian dipimpin oleh 2 orang instruktur. Mula-mula, kami diajari gerakannya dulu tanpa musik. Setelah itu, barulah kami menari dengan musik. Satu orang bertugas untuk merekam dengan resolusi 4K. Idham lagi-lagi lincah mengambil tripod, saya mulai curiga sebenarnya dia bukan inisiatif, tapi cuma cari alasan supaya tidak usah ikut menari.

Detik-detik menjelang encok
Meskipun sebenarnya saya merasa ada bakat terpendam sebagai penari latar, ternyata gerakan yang diperagakan oleh instruktur terlalu susah meskipun kelihatannya kemayu. Saking susahnya, urat-urat saya kayaknya pada keluar semua dan sendi-sendi bergeser dari tempatnya semula. Ini semua gara-gara gerakan jarang diasah, terakhir kali bergerak seperti ini kayaknya waktu Senam Kesegaran Jasmani di masa sekolah.

Kehabisan Waktu
Sayang sekali, kami banyak membuang waktu pada saat jam makan siang. Ini semua gara-gara restoran yang kami pilih pelayannya sangat-sangat lama sekali. Saking lamanya, mungkin bisa selesai mengerjakan dua bab skripsi. Padahal kami sudah diingatkan sama Mas Budi untuk kembali berkumpul jam 1 siang, nyatanya, jam 1 siang belum ada tanda-tanda pesanan kami diantarkan padahal kami sudah memesan setengah jam yang lalu. Tambah stress-lah Mas Budi.

Sudah hampir kehilangan kesadaran di restoran

Saya bahkan sudah sempat ketiduran waktu menunggu pesanan, waktu bangun, baru appetizernya yang datang. Sudah setengah dua, makanan utama belum juga menampakkan diri. Mau pindah juga sudah tanggung, appetizernya sudah dimakan. Ini baru namanya nunggu segan, pindah tak mau.

Finish
Memasuki jam 3 sore, kami langsung diarahkan panitia ke garis Finish. Bersama seluruh anggota tim 30 yang semakin station semakin kompak, kami menembus garis finish lalu maju satu-satu maju untuk dikalungkan medali finisher. Alhamdulillah, games yang begitu menantang fisik ini bisa kami selesaikan.

Finish Incredible Race dengan fisik lelah dan kulit melegam elegan
Kekuatan Baterai Zenfone 3
Begitulah rangkaian Asus Incredible Race yang menantang fisik dan kemelekteknologian seluruh peserta. Lewat Incredible Race ini, kami betul-betul ditantang untuk memanfaatkan Zenfone 3 di berbagai kondisi. Seusai menjajal seluruh fitur Zenfone 3, ternyata baterai Zenfone 3 masih bersisa banyak. Kesimpulan saya, Zenfone 3 adalah smartphone yang worth your money banget.

Really Incredible Race
Menjadi peserta Asus Incredible Race yang pertama ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami semua, blogger, awak media, dan dealer Asus. Asus Incredible Race, meskipun mengusung tema perlombaan justru mempererat ikatan antara seluruh peserta yang jumlahnya ratusan, yah meskipun tidak mungkin kenal semuanya sih. Siapapun juaranya, tidak ada rasa iri dan dengki, tapi tunggu saja di Inredible Race selanjutnya. Tim saya pasti akan menang! Makanya Asus harus undang saya lagi! Email saya masih punya kan, mas dan mba Asus?! *todong*

Kembali ke hotel
Begitu sampai hotel, saya langsung buka baju dan nyemplung ke kolam renang. Rasanya segar sekali, ditambah banyak bule berbikini dan bapak-bapak berbulu dada yang menambah sejuk pemandangan. Rasa lelah langsung hilang. Selesai berenang, saya kembali ke kamar lalu showeran air panas, sumpah berasa horang kaya banget, padahal kalau di rumah mandinya pake gayung dan ember plastik.

Mentang-mentang waktu SMA ngambilnya IPS, sampai sekarang ini saya memegang teguh prinsip ekonomi, "pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya". Hal ini memang selalu saya praktekkan dalam hal menentukan barang yang hendak saya beli, apapun. Dari menu makan siang sampai perangkat elektronik. Semua harus worth it. Pengorbanan yang saya keluarkan harus seimbang dengan yang saya dapat!

Atau dalam bahasa yang lebih sederhana: Irit.

Karena itu, sebelum membeli suatu barang, menonton film di bioskop, atau sekedar ke tempat nongkrong kekinian, saya pasti mencari reviewnya dulu. Minimal stalking fotonya di Instagram. Ini untuk menghindari kekecewaan, menghindari sakit hati yang lebih dalam nantinya. Dan yang paling penting - menyelamatkan isi dompet yang memang sering mengeluarkan sinyal SOS.

Apalagi kalau yang mau dibeli adalah perangkat elektronik.

Saya akan menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Saya akan mencari spesifikasi, testimoni pengguna di blog, dan video-video tes dan unboxing di Youtube. Ini wajib. Dengan begitu ketika sudah sampai di toko, saya sudah tahu produk yang mau saya beli lengkap dengan harganya. Jadi, saya bisa terhindar oleh bujuk rayu senyum manis dan rok mini SPG dan tidak tertipu harga yang dipatok. Soalnya banyak juga sih, toko yang menjual barangnya kelewat mahal dari harga yang direkomendasikan.

Nah, postingan ini ditulis untuk orang-orang yang berprinsip sama, ini dia review Asus Zenfone 3 ZE520L. Apakah Zenfone 3 ini seri smartphone yang worth it? Ini adalah 8 hal favorit saya di Zenfone 3. Mudah-mudahan bisa jadi referensi untuk kalian yang sedang mencari smartphone baru yang kekinian.

***
1. CURI PERHATIAN GEBETAN DENGAN TAMPILAN ZENFONE 3 YANG KECE DAN MEVVAH

Tampilan Zenfone 3
Hal pertama yang saya suka dari seri Zenfone 3 ini adalah tampilannya yang kece punya. Asus memang melakukan perubahan yang cukup radikal di seri Zenfone-nya kali ini. Zenfone 3 tidak lagi menggunakan bodi plastik seperti seri-seri sebelumnya. Kali ini, Asus membalut Zenfone 3 dengan metal dan Gorilla Glass dengan finishing motif ala Zen. Itu loh, cahaya yang memusar dan mengilap di bodi belakangnya.

Zenfone 3. Tipis dan elegan dengan kaca depan melengkung
Kaca Gorilla Glass di layar depan kini dibuat melengkung, atau istilah populernya 2.5D Curve Glass yang memberi kesan premium. Logo Asus juga dipindah ke belakang, dicetak di bodi lalu dibalut lagi oleh kaca. Yes, logo Asusnya ada di dalam kaca tangguh Corning Gorilla Glass, jadi tidak udah khawatir luntur (emang baju?).

Jajaran Zenfone 3 yang secara resmi diluncurkan di Nusa Dua, Bali kemarin juga menjadi seri pertama Zenfone dengan pemindai sidik jari. Di atas pemindai sidik jari, ada kamera didampingi laser autofocus dan LED. Nah, sebenarnya ada satu hal yang awalnya membuat saya khawatir - desain kamera yang menonjol di belakang membuat saya cemas kalau-kalau kamera ini akan rusak kalau diletakkan di meja. Tapi Asus menjamin kamera ini tangguh karena dibungkus oleh kaca Sapphire yang jernih dan kuat jadi tidak usah khawatir.

2. PAMER FOTOMU KE MANTAN DENGAN KAMERA BERESOLUSI BESAR BERSENJATA SENSOR SONY IMX298
 
Memotret dengan Pixel Master 3.0
Kualitas kamera menjadi pertimbangan utama saya dalam memilih gadget. Selain karena belum punya kamera profesional, kamera smartphone yang ringan dan praktis dibawa ke mana-mana menjadikan smartphone sebagai alternatif yang pantas dipertimbangkan.


Hasil foto Zenfone 3
Sebagai penyuka mobile photography, saya merasa sangat puas dengan hasil kamera Zenfone 3. Menurut saya, hasil foto Zenfone 3 sudah sangat cukup untuk menjadikan kamera ini sebagai alat dokumentasi foto dan video sehari-hari.

Di postingan ini, saya tidak meng-cover banyak soal kamera karena sudah saya bahas lebih dalam di sini. Ayo dong di-klik! Masa' saya harus nulis, "8 Hal Menakjubkan di Kamera Zenfone 3, nomor 5 akan membuatmu tercengang!" dulu biar kamu mau ngeklik?

3. MAKIN NYAMAN STALKING DI LAYAR FULL HD DENGAN KERAPATAN PIXEL 424 PPI

Layar Zenfone 3 luas dan nyaman dipandang

Di zaman sekarang ini, rasanya memang sulit sekali lepas dari smartphone. Bagaimana tidak, hampir semua aktifitas bisa dikerjakan lewat smartphone. Dari komunikasi sampai entertainment, dari PDKT sampai stalking mantan.

Sejak beralih ke Zenfone 2 Laser tempo hari, saya memang jadi senang menonton film dan video Youtube via smartphone. Alasannya tentu saja karena bisa nonton sambil tiduran. Coba bayangkan repotnya nonton film 2 jam sambil tiduran memegang laptop.

Zenfone 3 berlayar seluas 5.2 inch Full HD dengan kerapatan pixel 424 menjanjikan pengalaman menonton film yang lebih jernih dan detail.

Dengan layar sejernih ini pula, stalking Instagram mantan juga jadi lebih sensasional, kamu jadi bisa melihat detail senyum di bibirnya yang kok jadi makin manis sejak bukan sama kamu lagi. Kecerahan layar 600nits menjamin kalian bisa stalking foto doski meskipun di bawah sinar matahari yang silau. Stalking di malam hari juga jadi lebih nyaman dengan fitur Bluelight Filter, yakni filter yang mengurangi intensitas biru di layar smartphone yang melelahkan mata.

Oh, stalking tidak pernah semanis ini.

*kemudian nangis di pojokan

4. NGE-VLOG KECE SAMPAI 4K

Ngevlog dengan Zenfone 3?
Selain suka selfie, saya memang senang merekam video sehari-hari. Lumayan untuk kenang-kenangan. Arsip video saya di laptop pun cukup lengkap dari zaman SMA, meskipun direkamnya masih format 3gp dengan resolusi kamera 2MP. Semua wajah di dalamnya jadi kotak kayak sekelompok Danbo lagi tawuran. Pokoknya kalau diupload ke Youtube maksimal resolusinya pasti cuma 144p.

Sekarang, dengan Zenfone 3, hobi saya nge-video-video jadi makin gampang tersalurkan. Bodinya yang compact menjadikannya perangkat pengganti camcorder dengan hasil video jernih dan share-able banget ke Youtube atau Instagram.

Meskipun begitu, sampai saat ini saya masih merekam dengan resolusi 1920 x 1080 soalnya laptop saya sudah megap-megap sesak nafas disuruh ngedit video resolusi 4K. Nantilah, kalau sudah punya Zenbook *uhuk kode Jerry Shen CEO Asus*

Nah, terus apa itu fitur Electronic Image Stabilizer (EIS)?

Kan sekarang lagi zaman-zamannya tuh nge-vlog sambil travelling? EIS ini berfungsi untuk mengurangi efek getaran yang terjadi pada kamera, sehingga, hasil video jadi lebih minim guncangan dan lebih stabil. Tentu ini adalah berita yang sangat baik, mengingat semakin ringan suatu kamera, semakin susah untuk mengurangi getarannya. Jadi, untuk yang punya tangan yang gemar bergetar, fitur EIS ini akan jadi teman baikmu!

Di sela-sela Asus Incredible Race kemarin, saya sempat merekam beberapa video di berbagai kondisi cahaya dan kondisi jalan. Hasilnya bisa kalian liat:

A video posted by Adityar (@planetyar) on


I think it is safe to say that Asus did a really good job on photo and video recording aspect.

5. JEROAN TANGGUH UNTUK GAMING DAN MULTITASKING

Gotta Catch 'em All!
Saya tahu kamu ingin menjadi the very best, like no one ever was *lalu nyanyi jingle Pokemon*

Jadi kalau tadi kamu bertanya, apa sih yang dilindungi oleh body metal tangguh dan Gorilla Glass itu? Inilah jawabannya: 2Ghz Qualcomm Snapdragon 625 octa core 64bit featuring 650Mhz Andreno 506.

Apa artinya?

Sederhananya begini: kalau cuma untuk main game Pokemon atau Candy Crush sih, spesifikasi ini sudah berlebihan. Dengan dapur pacu sekuat itu, Asus Zenfone 3 menjamin pengalaman bermain game yang lebih lancar. Selain itu, sebuah fitur baru bernama Game Genie dikembangkan khusus untuk menambah kenyamanan bermain video game. Game Genie akan otomatis aktif membersihkan RAM dan mem-boost (dorong) performa.

Saat ini saya sedang mendalami game Asphalt untuk latihan ujian SIM dan belum mendapati lag yang berarti. Gambar yang dihasilkan juga detail dan jernih. No lag & no force close. Dan oh, untuk para Trainer Pokemon, Zenfone 3 sudah bisa pakai AR sehingga sensasi mencari Charizard jadi lebih nyata.

Hidup Valor!

Selama menggunakan Zenfone 3 ini, saya merasa smartphone ini begitu responsif. Dengan processor kencang dan RAM yang lapang, main game sambil mendengarkan musik tidak akan mengurangi performa secara berarti.

Kalau menonton sambil dengar main game gimana? Emang ada orang nonton sambil main game? Udah gila ya kamu ya?!

6. STALKING LEBIH KENCANG DENGAN 4G

4G dengan Zenfone 3
Dengan semakin banyak dan murahnya tawaran 4G para provider, kemampuan mengakses jaringan 4G menjadi wajib dimiliki para stalker. Memang sih, Zenfone 3 bukan perangkat pertama Asus yang mendukung 4G, tapi bagi saya yang terbiasa stuck di jaringan edge, browsing internet di jaringan 4G kayak terjun bebas dari tingginya hati gebetan ke tanah. Sekencang itu.

Kalau di Makassar sih, sejauh ini jaringan 4G saya lancar di semua rute yang saya lalui sehari-hari. Kalau spesifikasi lengkapnya sih, Zenfone 3 sudah menggunakan modem yang mendukung LTE Category 7 yang mampu berselancar di jaringan 4G hingga kecepatan 300 Mbps, namun di Indonesia belum ada jaringan 4G yang mampu menembus kecepatan 100 Mbps. Sekarang tinggal menunggu para provider memperbaiki sarana dan prasaranya.

Kalau kecepatan downloadnya sendiri, baru-baru ini saya menggunakan Zenfone 3 sebagai portable hotspot untuk mendownload file sebesar 1.8 GB, hasilnya bisa selesai dalam waktu kurang dari 30 menit.

Network yang kencang memberikan kesempatan bagi kamu untuk pamer kebahagiaan ke mantan dengan lebih cepat. Tunjukkan ke dia semua aktifitas kamu di semua social media biar dia tahu kamu sekarang bahagia. Sering-sering juga upload selfie kamu pakai fitur beautification sama cewek random yang kamu temui di mall supaya dia mengira kamu sekarang punya banyak teman cewek.

Untuk mantan tidak ada toleransi!

7. SO MUCH ROOM!

Ah... Ini aroma lapang yang kurindukan
Karena seri Android Marshmallow tidak lagi menyediakan fitur App2SD, maka memori internal haruslah besar. Untungnya, Zenfone 3 seri ZE520KL punya 32GB ruang yang bisa kamu isi. Dengan penyimpanan sebesar ini, semua aplikasi dan filemu tidak usah lagi berdesak-desakan. Dan kalau merasa ini masih kurang, kamu bisa menambah MicroSD hingga 256GB. Saya sendiri sih menambahkan Micro SD untuk menyimpan file kayak foto, film, dan bahan-bahan kuliah *pencitraan* *padahal buat nyotek pas UAS*

Dan oh, kalau kamu beli Zenfone 3, kamu dapat gratis 5GB storage di Asus Webstorage + 100GB storage di Google Drive selama 2 tahun.

8. ZEN-UI DAN APLIKASI PELENGKAPNYA

Zenfone 3 dan ZenUI
Asus punya interface-nya sendiri yang bernama ZenUI. Dulu, sebelum pakai Zenfone, saya sering sekali ganti launcher. Sekarang, launcher bawaan ZenUI tidak pernah saya ganti. Fitur double tap to wake and lock menjadikan saya tidak pernah lagi menekan tombol power untuk mengunci dan membuka kunci. Fitur touch gesture juga memberikan kita kesempatan untuk membuka aplikasi lewat pola sentuhan. Saya sendiri menggunakan touch gesture untuk membuka aplikasi kamera supaya tidak ketinggalan momen.

Aplikasi bawaan yang menurut saya juga kece badai adalah Asus Mobile Manager, sebuah aplikasi yang punya auto start manager, booster, cleaner, sampai mobile data manager yang memungkinkan kamu memantau dan mematikan akses internet untuk aplikasi tertentu.


Adapun soal bloatware, dibandingkan Zenfone 2 Laser pendahulunya, bloatware di Zenfone 3 ini sudah berkurang dan dapat di-disable dengan mudah.

***
Kesimpulan
Itu tadi adalah 8 hal favorit saya soal Zenfone 3. Masih banyak fitur yang belum saya sentuh seperti perangkat audio Sonic Master, kan dari awal judul postingan ini memang membahas fitur favorit saya kan ya? Fitur-fitur yang mendukung kebutuhan saya sehari-hari *kecuali stalking mantan ya kecuali stalking mantan*!!!

Kalau kalian punya fitur favorit soal Zenfone 3 yang belum saya tuliskan di sini, tulis di komentar yah!
Menurut saya, Zenfone 3 yang dibanderol dengan harga Rp. 4.099.000,- ini sangat sebanding dengan fitur yang ditawarkan. Meskipun lebih mahal dari para pendahulunya, harga ini masih lebih terjangkau dibandingkan dengan perangkat merek lain dengan spesifikasi yang sama.

Sedang mencari perangkat smartphone merangkap pocket camera? Ayo kita bahas!

Jujur ya, kamera DSLR atau paling ndak kamera Mirrorless masih menempati top wish list saya di tahun 2016 ini. Saya yang seorang blogger (abal-abal) yang selalu (ingin) kekinian ini selalu merasa bahwa sebuah postingan tanpa foto itu rasanya kurang lezat. Ibaratnya, bak sayur tanpa garam. Bak pot bunga tanpa pupuk kandang.

Selain untuk dokumentasi pribadi, kece banget kali kalau ke tempat-tempat keren, foto-foto lucu terus diposting ke Instagram biar dapat likes atau posting ke Path biar teman-teman pada nge-frowned. Memang sih, yang penting dari sebuah momen adalah bagaimana kita mengingat dan mengenangnya. Tapi, punya dokumentasi berupa foto memberi nilai lebih lagi kekal abadi.

Suatu hari, fee sebagai event organizer akhirnya dibayar. Saya lalu browsing harga kamera hampir setiap hari. Mencari-cari kamera DSLR atau Mirrorless yang seharga di bawah 5 juta rupiah. Ada beberapa yang sepertinya cocok. Mirroless Canon yang tempo hari sedang promo.
Sampai akhirnya fee itu keluar dan... Feenya kurang. Kurang dari harapan, dan sudah jelas kurang dari harga kamera yang sudah ditargetkan. Tempo hari tim saya dijanjikan 5 juta rupiah untuk event yang kami kerjakan hampir dua bulan, namun pada kenyataanya hanya dibayar setengahnya. Dua juta lima ratus ribu rupiah. Mimpi punya kamera menguap saat itu juga.

Akhirnya, uang itu saya gunakan untuk beli Zenfone 2 Laser yang tempo hari baru saja launching. Smartphone itu jugalah yang mengenalkan dan membuat saya jatuh cinta sama mobile photography. Sejak memegang smartphone itu, saya jadi hobi jepret sana sini. Zenfone 2 Laser itulah yang kemudian menjadi penunjang utama seluruh foto di blog ini dan instagram @planetyar (yuk mari difollow). Kualitas kameranya lumayan bagus meskipun bukan yang terbaik, tapi cukuplah.

Kalau kalian membaca postingan sebelum ini, kalian mungkin sudah tahu kalau saya baru saja mengikuti event launching produk terbaru Asus di Nusa Dua, Bali. Nah, produk yang paling mengundang perhatian saya adalah Zenfone 3. Soalnya, Asus dengan pede-nya mengusung tagline Built for Photography di perangkat terbarunya itu.

Karena Asus baik hati nan dermawan, saya berkesempatan memegang Zenfone 3 yang super kece ini, dan lewat postingan ini, saya ingin menunjukkan kualitas kameranya kepada kalian, mudah-mudahan bisa menjadi referensi.

1. Resolusi Kamera 16MP (belakang) dan 8MP (depan) dipersenjatai Sensor Sony Exmor RS IMX298 berukuran 1/2.8 inch
Ini adalah pertanda bahwa Asus memang benar-benar berfokus pada pengembangan kamera perangkatnya. Pengetahuan umumnya adalah, semakin besar resolusi sebuah kamera, semakin bagus kualitas gambar yang dihasilkan. Meskipun sebenarnya, resolusi kamera hanya bertanggung jawab pada ukuran/pembesaran foto. Sebenarnya, sensorlah yang menjadi bagian paling penting dari kamera. Semakin besar ukuran dan semakin tinggi kualitas dari sensor, semakin bagus hasil fotonya.

Sky Exposure - Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Cerah
Hal ini disadari betul oleh Asus. Buktinya, Asus menggandeng Sony yang kualitas dan pengalamannya di bidang sensor kamera-kamera-an sudah teruji. Sony Exmor RS IMX298 merupakan sensor yang banyak digunakan untuk mempersenjatai kamera smartphone kategori premium/flagship. Hasilnya? Hardware memang tidak bisa bohong. Gambar yang dihasilkan memang terlihat detail dan jernih. Apakah terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa Zenfone 3 adalah perangkat mobile photography terbaik? Ayo kita gali lebih dalam *lalu menggali*

Menangkap detail dengan kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Di bawah bayangan pohon
Kamera depan Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Gelap di bawah bayangan pepohonan


Kamera depan Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Agak redup karena berawan
2. Diagfragma 2.0 untuk hasil foto cerah dan efek Depth of Field yang Dramatis
Diagfragma atau Aperture atau Bukaan (buka-an) ibaratnya jendela. Semakin besar diagfragma itu terbuka, semakin banyak cahaya yang bisa masuk. Hasilnya, foto yang dihasilkan menjadi semakin terang.

Hubungan diagfragma dengan intensitas cahaya. Foto diambil dengan kamera belakang Zenfone 3
Cara menghitungnya seperti ini: Semakin kecil angka diagfragma itu, semakin besar diagfragma itu membuka - artinya semakin terang gambar yang dihasilkan.

Kamera Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Berawan, makanya backlight.
Sebagai pembanding, lensa kit DSLR memiliki bukaan terbesar di angka 5.6 atau 4.5. Zenfone 3 mampu membuka hingga 2.0. Artinya, Zenfone 3 dapat menghasilkan gambar yang terang dalam kondisi cahaya minim seperti mendung atau dalam ruangan.

Efek lain yang dihasilkan oleh diagfragma adalah ruang tajam atau ruang fokus yang dihasilkan. Semakin kecil angka diagfragma, semakin kecil pula ruang fokus yang dihasilkan. Sehingga, pada foto akan nampak sedikit ruang tajam di objek utama dan ruang belakang akan terlihat blur. Contohnya seperti foto ini.


Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Diagfragma: 2.
Angka diagfragma kecil ini memungkinkan kita untuk foto subjek-subjek secara close up seperti bunga atau foto wajah yang backgroundnya blur ala lensa fix kamera DSLR.

3. Optical Image Stabilization (OIS)
Nah bahasa apa lagi ini?

Sederhananya, OIS bertanggung jawab untuk menstabilkan gambar agar tidak berguncang, atau istilah popularnya meminimalisir shake. Sehingga, foto yang dihasilkan lebih stabil kalau tangan kita kadang suka tremor, suka bergoyang-goyang dangdutan kalau pegang kamera.

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Diambil sambil berjalan


Saya mencoba mengambil foto dengan kamera belakang sambil berjalan dan hasilnya memang stabil. Tidak terlihat guncangan padahal kami berjalan cukup cepat karena kepanasan. Barangkali karena cuacanya sedang cerah sehingga waktu yang diperlukan untuk menangkap gambar menjadi sedikit.

Penasaran, saya akhirnya membuka foto-foto selama mengikuti Asus Incredible Race dan menemukan foto ini:
Kamera belakang Zenfone 3. Foto oleh Idham Ama
Foto di atas diambil saat mengikuti salah satu tantangan Asus Incredible Race. Diambil saat mobil sedang berjalan. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. Wajah saya yang menjengkelkan itu bisa terlihat jelas tanpa guncangan.

Kamera belakang Zenfone 3 saat di pesawat
Teknologi OIS ini akan sangat membantu saat mendokumentasikan perjalanan, atau sambil jalan-jalan sore di kompleks sambil foto-foto untuk dipamer ke Path, hehehe. Selain itu, OIS dapat meminimalisir guncangan saat mengambil foto dalam kondisi cahaya sedikit.

4. Tidak lagi Ketinggalan Momen dengan Fokus Kencang
 
Kamera belakang Zenfone 3 dengan Tri Tech Auto Focus

Satu hal yang pasti dalam memotret adalah, sering kali momen itu tidak bisa diulang dan berlangsung sangat cepat. Dibutuhkan refleks dari si pemotret dan refleks kamera yang sama-sama kencang. Selain cahaya, tentu yang mementukan daya tarik foto adalah subjek foto itu sendiri. Ibaratnya, apa atau siapa yang ingin kita tunjukkan. Bunga kah? Binatang kah? Wajah kah? Dalam kondisi tertentu, menemukan fokus bisa menjadi hal yang paling menjengkelkan dalam menggunakan kamera handphone ataupun DSLR. Ajaibnya, Zenfone 3 mampu memotret objek yang kecil dengan fokus yang cukup tajam dan detail.

Hal ini memungkinkan berkat teknologi TriTech Auto Focus yang dibenamkan ke dalam kamera Zenfone 3. TriTech Auto Focus menggabungkan teknik focus pendeteksi kontras (continous focus), laser auto focus generasi kedua, juga phase detection sehingga fokus dapat diperoleh dengan lebih cepat. Tips jika sulit mendapatkan fokus adalah, gerakkan kamera maju atau mundur sampai fokus dapat diperoleh. Agak susah memang.

Teknologi TriTech auto focus ini akan sangat membantu untuk mengambil foto lebih cepat, seperti benda yang sedang bergerak, atau kita yang sedang bergerak.

5. Kreatif dengan Mode Manual
Kalau mode auto sudah menyediakan kemudahan sehingga kita tidak lagi perlu susah payah mengatur ini itu segala, terus kenapa saya harus repot mengaturnya sendiri?

Interface Mode Manual Kamera Zenfone 3
Kadang-kadang, kamu mau memberikan sentuhan artistik dalam gambar yang tidak bisa kamu peroleh lewat mode auto. Misalnya, kamu ingin menyatakan cinta lewat foto lukisan cahaya (light trail) seperti di bawah ini:
Melukis cahaya dengan mode manual. Foto oleh Idham Ama.
Untuk membuat foto ini, yang harus kita lakukan adalah mengatur kecepatan rana (shutter) selambat yang kita butuhkan. Zenfone 3 mampu membuka rana selama 1/50.000 hingga 32 detik. Semakin cepat gerak objek, semakin cepat shutter harus menyesuaikan. Foto di atas diambil di kecepatan rana 32 detik. Di mode manual juga kita bisa mengatur tingkat sensitifitas cahaya (ISO), white balance, juga lebar fokus.

Ingat untuk selalu menggunakan tripod untuk shutter lambat.

6. Foto Vibrant dengan Mode HDR

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto (HDR aktif)
Langit dan awan adalah salah satu objek foto yang saya sukai. Saya selalu kagum kalau liat foto langit biru yang kontras dengan awan putih. Ada kesan megah. Di foto di atas, kita bisa melihat objek utama tetap terang sedangkan langit biru dan awannya tetap terlihat vibrant. Mode ini cocok untuk foto arsitektur dan landcape.

Nah, soal mode HDR sendiri, triknya adalah kamera akan mengambil beberapa gambar. Sebut saja 1 gambar gelap untuk mengambil detail awan, 1 gambar dengan kondisi cahaya seimbang, dan 1 lagi foto yang terang. Kemudian, perangkat akan menggabungkan foto ini untuk menghasilkan foto dengan objek yang terang dan background (sebut saja langit atau sunset) juga tidak berlebihan intensitasnya. Sehingga, kita tidak bisa langsung melihat hasilnya di layar saat hendak memotret.

Nah, ini adalah salah satu teknologi unggulan Zenfone 3. Asus menyebut mode ini dengan pro HDR, pengguna bisa melihat hasil foto secara real time sebelum memotret, hal ini memungkinkan kita melihat hasilnya nanti sudah sesuai atau tidak. Canggih toh?

7. Wajah Mulus Kekinian dengan Mode Beautification

Kamera depan Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: Redup di bawah pohon
Wajah gelap berminyak, berpori-pori besar, dan berjerawat adalah musuh besar bagi pemuda-pemudi kekinian. Mode beautification berfungsi sebagai digital make up yang secara otomatis mereduksi ukuran pori-pori, mencerahkan, dan menghaluskan muka. Ada juga mode yang agak ekstrim seperti pembesaran mata, pemerah pipi (blush), juga mengubah bentuk muka menjadi lebih lancip.

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: redup di bawah pohon
Tidak usah ditanya lagi, mode ini paling cocok untuk selfie. Beatification meng-highlight wajah kita. Foto wajah di-highlight sehingga stand out dari background sehingga lebih menarik.

Satu-satunya dampak negatif dari mode ini adalah mungkin saya akan lebih sering dimarahi pacar karena handphone jadi sering dipinjam cewek-cewek untuk bikin display picture baru.

Kamera depan Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: Terang
Kamera depan Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: Cukup Terang - Indoor.
8. Toleransi terhadap Low Light

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: redup remang goyang dumang.
Kamera belakang Zenfone 3 - Close Up. Mode: Auto. Cahaya: Redup-redup asyik
Intensitas cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera berpengaruh besar terhadap foto yang dihasilkan. Kedua foto di atas diambil dalam kondisi yang cukup gelap. Uniknya, Zenfone 3 mampu menangkap gambar dengan cukup baik di kondisi gelap itu.

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Gelap
Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Low Light. Cahaya: Gelap.
Nah, ada lagi mode Low Light memungkinkan kita mengambil gambar di kondisi cahaya gelap, namun perlu diingat untuk mengambil gambar low light, resolusi kamera akan berkurang untuk menyesuaikan dengan kondisi minim cahaya itu.

8. Pushing to The Limit With RAW Capability
Yes! Yes! Yes! Menurut saya, inilah bukti utama Zenfone 3 bisa dibilang benar-benar Built for Photography. Sensor kamera yang digunakan Zenfone 3 memungkinkan kita untuk mengambil file (RAW). Apa artinya?

Langkah kerja kamera digital kurang lebih seperti ini:
a. Sensor kamera menangkap gambar
b. Gambar yang ditangkap diolah dengan mengatur saturasi, kontras, dan ketajaman
c. Output berupa JPG (atau format lain)

File RAW (biasanya berekstensi .DNG) adalah bahan mentahan yang belum diolah menjadi foto utuh berformat JPG yang dapat dibuka lewat galeri atau diupload ke Instagram. Terus kenapa kita butuh file mentahan itu?

Mudah-mudahan ilustrasi ini bisa membantu:
Umumnya, ada dua cara menikmati ayam goreng. Cara pertama adalah membeli ayam goreng di warung atau restoran. Kita masuk ke dalam warung makan. Kita memesan ayam goreng. Koki akan mengambil ayam, membumbui sesuai standarnya sendiri, mengatur keasinannya, menggorengnya dengan tingkat kematangannya sendiri, lalu menyajikannya dengan metodenya sendiri. Praktis, kita tinggal makan.

Cara kedua adalah membeli daging ayam mentah. Membumbuinya sesuai selesai, menyesuaikan tingkat keasinan, kepedasan, kematangan, hingga penyajian sesuai dengan selera masing-masing. Sehingga, tampilan dan rasa ayam goreng memang benar-benar sesuai dengan selera yang memasaknya.

Kurang lebih, seperti itu penjelasan file RAW. File mentahan ini menyimpan seluruh detail dan profil warna yang belum diolah sehingga memberikan kita kebebasan mengolahnya sesuai keinginan kita masing-masing.

File Matang berbentuk JPG
Contoh hasil file RAW
Yang paling mencolok adalah, intensitas warna dari kedua foto di atas. File RAW terlihat lebih pucat, dan kontras antar satu warna dengan warna yang lain sangat-sangat minim. Kenapa begitu? Sebab file RAW sama sekali belum disentuh oleh pemrogram foto, sehingga seluruh data masih ada di sana.

Sebelum melangkah lebih jauh, di bawah ini adalah perbandingan ukuran gambar antara file JPG dengan file RAW:

Perbandingan ukuran JPG VS RAW
WHAT?! 31 MB untuk 1 file? Yes. Itulah kelebihan RAW, tapi apa artinya? Karena belum diolah, file mentahan ini menyimpan semua detail, ketajaman, intensitas cahaya, dan profil warna. Sehingga, kita bisa lebih bebas mengedit intensitasnya masing-masing.

Bisa dibilang, file RAW memang untuk orang yang mau repot sebab untuk membuatnya menjadi sebuah gambar yang final ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Kenapa saya mengambil RAW? Karena kadang saya merasa tingkat warna dan kontras terlalu tinggi. Misalnya, wajah terlalu merah, atau kontras yang terlalu tinggi menghilangkan detail objek, rambut misalnya. Kalau sudah jadi JPG, detail yang hilang mustahil untuk dikembalikan. Iya, sama seperti kepercayaan yang dikhianati *uhuk.

Selain itu, di software pengolah gambar seperti Photoshop dan Lightroom ada banyak plugin dan filter yang bisa kita gunakan untuk menyesuaikan mood suatu gambar. Karena file mentahan ini warnanya pudar, filter yang digunakan akan terlihat lebih lembut dan fleksibel untuk diatur intensitasnya.

Filter yang diaplikasikan ke JPG kadang-kadang terlalu "keras" dan menghilangkan detail
Filter yang sama diaplikasikan ke file RAW menghasilkan warna yang lebih lembut
Tentu saja, hasil akhir ini berbeda bergantung dari selera masing-masing. Mood apa yang ingin kita tunjukkan.

Kesimpulan
Personally, saya suka. Ulang, saya suka banget dengan hasil foto yang dihasilkan oleh Zenfone 3. Jernih, cerah, detail, vibrant, dan yang pasti: fleksibel. Kualitas gambar yang dihasilkan sudah sangat cukup untuk keperluan dokumentasi sehari-hari untuk blog ini dan foto-foto cantik nan kekinian di Instagram. Hardware premium didukung dengan software Pixel Master Camera dengan berbagai mode menjadikan kombinasi hardware dan software menjadi optimal.

Sayangnya, kamera bawaan tidak memungkinkan kita untuk mengambil file RAW, dengan kata lain kita membutuhkan bantuan aplikasi pihak ketiga. Barangkali untuk mengurangi kerumitan pengoperasian dan pengolahan RAW oleh pengguna baru.

Yang jelas, barangkali bukan over percaya diri, atau menurut istilah Makassar, bukan ka-pede-ang Asus menggunakan tagline Built for Photography di perangkat Zenfone 3-nya ini. Fitur dan kualitasnya menunjukkkan kesan premium dan profesional. Bagaimana menurut kalian?

Ini beberapa foto untuk yang ingin contoh hasil foto yang lebih banyak lagi:

Bahan mentah yang cukup besar dari awal menjadikan simple retouch wajah (menghilangkan jerawat dan kerutan) menjadi cukup alami dan tidak merusak elemen wajah. Menurutku sih hahaha.
Ala-ala Warm Isolation
Follow IG @planetyar dong, Kak!
Tes Close Up 1
Tes Close Up 2
Tes Close Up 3
Tes Close Up 4
Terinspirasi foto kekinian di Instagram
More sample photos coming soon, stay tune, Aliens :)
Dan oh, semua gambar yang dimuat di postingan ini adalah hasil foto yang sudah diresize dan dikompres supaya ukurannya tetap bersahabat. Gila bok 1 foto ukurannya sampai 4 MB. Untuk full size dan file RAWnya akan saya upload jika dapat wifi gratisan nan kencang supaya teman-teman bisa melihatnya lebih jelas.

Okeh, sekali lagi. Gimana, Gaes? Sudah memutuskan kapan mau ganti ke Zenfone 3?

Di postingan berikutnya, saya ingin membahas kamera Pixel Master dan 20 modenya! See you *kiss *kiss *hug *hug