Pengalaman Pemula Ikut Event Foto Model (Yamaha Photo Race) dengan Lumix G85

Pengalaman Pemula Ikut Event Foto Model (Yamaha Photo Race) dengan Lumix G85


Ragu dan minder

Saya mendapatkan info perihal event ini di grup komunitas. Jujur saya tertarik karena pertama belum pernah, kedua ada slot gratis. Namun saya sempat ragu karena minder dengan gear begitupun skill yang saya punya.

 

Saya sudah membayangkan yang ikut event ini pasti para fotografer yang sudah terbiasa. Semua sudah jago, lengkap dengan peralatan perang yang lengkap nan mahal. Jam sudah menunjukkan 06.30, registrasi seharusnya dimulai jam 07.00 sementara saya belum memutuskan.

 

Akhirnya, dengan menarik satu napas panjang sambil meyakinkan diri, saya mengambil kamera Lumix G85, lensa Olympus 12-40mm f2.8 Pro, dan lensa jadul andalan saya canon nFD 50mm f1.4.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Sesampai di lokasi, saya cukup lega karena ketakutan saya tidak terbukti sepenuhnya. Peserta yang ikut memang banyak yang pro tetapi ternyata saya bukan satu-satunya pemula yang ikut. Saya memerhatikan alat tempurnya juga terdiri dari berbagai lini harga dari Canon seri R terbaru sampai Canon 600D produksi 2011. Terpantau juga lensa seri GM dan Zeiss yang harganya mencapai puluhan juta, hingga lensa 7Artisans yang harganya sejutaan.

 

Yamaha Photo Race

Acara ini bernama Yamaha Photo Race, sebuah event fotografi yang dilaksanakan oleh Yamaha dan didampingi oleh Martha Suherman, fotografer profesional yang sudah sangat lama malang melintang di dunia fotografi Indonesia. Setelah registrasi, Ci Martha memberikan pengarahan soal event. Seluruh peserta mendengarkan dengan serius, sambil menyiapkan kamera, lensa, sampai perlengkapan lighting yang dibawa sendiri.

 

Yamaha selaku penyelenggara telah menyiapkan model dan property berupa Yamaha Fazzio dan Filano yang begitu imut dan menarik, serta Yamaha Nmax yang nampaknya terlalu macho untuk pria berukuran nano seperti saya.

 

Ah, kebetulan saya memang naksir sama Fazzio. Sekalian sajalah lihat-lihat.

 

Pengalaman pertama

Sebagai seseorang yang sebenarnya hanya ikut-ikutan dengan skill pas-pasan, bisa dibayangkan di lokasi saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan. Banyak sekali pertanyaan di kepala. Apa yang harus saya foto? Bagaimana mengatur komposisinya? Saya memotret ke arah mana? Lensa mana yang harus saya pakai? Kompor tadi sudah mati belum ya?

 

Tidak berlebihan jika saya bilang sepanjang sesi saya panik dan benar-benar clueless. Sementara para peserta lain sudah beraksi dengan lincah. Bunyi bip tanda autofocus sudah terkunci bersahut-sahutan dengan bunyi shutter yang sudah tertutup. Sementara saya, masih berdiri dengan pikiran kosong.

 

Saya akhirnya memberanikan diri memotret dan hampir semua saya lakukan dengan mengintip melalui EVF (jendela bidik kecil pada kamera). Ini saya lakukan bukan karena kondisi di luar sedang silau melainkan supaya orang lain tidak bisa melihat jeleknya foto saya.

 

Yamaha Fazzio bersama model. Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Selain kebingungan mencari posisi, terlihat saya juga kebingungan mencari titik fokus. Terlihat di foto sebelah kanan foto saya tidak fokus ke mata model tetapi sepertinya fokus di tengah, di posisi lengan di atas batok Yamaha Fazzio.

 

"Makanya sering-sering latihan, Tyar!", saya menasehati diri sendiri dalam hati.

 

Lumix G85 + Olympus 12-40mm f2.8 Pro: Focus Hitrate

Setelah beberapa foto yang tidak fokus, saya memutuskan untuk mengganti lensa yang memiliki kapabilitas autofocus. Kali ini saya menggunakan lensa yang lebih fleksibel, 12-40mm f2.8 Pro. Lensa ini memungkinkan saya untuk mengatur komposisi lebih bebas karena bisa zoom in dan zoom out, tidak seperti lensa fix sebelumnya.

 

Setelah mengganti lensa, ternyata tetap tidak fokus.

 

Gagal fokus, literally. Lumix G85 | Olympus 12-40mm f2. Pro

Soal lensa, sebetulnya lensa Olympus ini adalah lensa yang sangat bisa diandalkan soal ketajaman dan autofocus. Di area inilah Lumix G85 menunjukkan kelemahannya. Saya sangat mencintai kamera ini, tetapi memang autofocus bukanlah area unggulnya. Teknologi Contrast-Detect DFD sepertinya sulit untuk mengimbangi momen yang serba cepat. Ditambah saya juga yang memang kurang berpengalaman jadilah mahakarya fokus meleset ini.

 

Seingat saya, saya menggunakan mode deteksi wajah-mata tetapi memang saat saya memotret, area fokus berwarna kuning yang menunjukkan kamera belum mengunci fokus dan saya sudah menembak.

 

Sepertinya saya semakin yakin untuk tidak merekomendasikan kamera ini untuk yang kebutuhan memotretnya lebih banyak. Lebih baik pilih Sony, Canon, atau pilih body Lumix S5 Mark II yang sudah menggunakan teknologi Phase-Detect jika autofocus adalah kebutuhan utama.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro | f2.8 | 1/2500

Soal ketajaman, combo ini menurut saya masih bisa diandalkan terutama di tempat yang cahayanya cukup. Sayang sekali saya tidak bisa hal yang sama untuk kecepatan dan akurasi fokusnya. Menggunakan Lumix G85 yang autofocusnya tidak reliabel sangat berisiko momen terlewat.

 

Olympus 12-40mm f2.8 Pro: Focal Range

12-40mm di body Micro Fourd Third berarti setara 24-80mm pada kamera Full Frame. Focal range yang cukup fleksibel untuk banyak keperluan. 12mm sudah cukuplah untuk ambil angle lebar, dan 40mm cukup sempit untuk close up.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro di 12mm

Mohon maaf fotonya miring dan bocor, kedua foto di atas semata untuk memberikan gambaran selebar apa angle yang bisa didapatkan dengan lensa ini.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro di 40mm

Di focal terjauhnya, lensa ini berada di 40mm, setara 80mm di kamera full frame.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro di 40mm dan f2.8

Ini adalah alasan saya membeli lensa ini. Focal range yang cukup fleksibel dan memiliki aperture (bukaan) maksimal di f2.8. Memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk sekaligus menciptakan separasi melalui efek blur pada background sehingga foto potret menjadi lebih menarik.

 

Untuk diingat, lensa ini dipasang di body yang sudah cukup jadul yaitu Lumix G85. Saya jadi penasaran bagaimana jika lensa ini dipasangkan di body yang lebih moderen seperti G9 atau GH6, atau mungkin G9 Mark II yang dirumorkan akan segera diperkenalkan sebagai kamera MFT pertama dari Lumix yang mengadopsi Phase Detect Auto Focus (PDAF).

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro

Satu area yang juga menjadi kekuatan lensa ini adalah jarak fokus minimumnya yang cukup dekat. Di atas kertas, lensa ini memiliki jarak fokus minimal di 20cm. Menjadikannya cocok untuk mengambil foto close-up atau detail produk.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro

Saya kemudian bergerak ke spot foto Nmax. Melewati jalan Sarinah yang pagi tadi sangat ramai. Suasana 17-an masih terasa sangat kental. Sesekali lewat parade.

 

Sebelum memulai memotret, saya mengganti lensa kembali ke Canon nFD 50mm f1.4.


Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Berbanding terbalik dengan lensa Olympus 12-40 Pro yang jauh lebih moderen dan tajam, Canon nFD memiliki karakter sebaliknya: soft dan serba manual. Lensa ini tidak begitu tajam, cenderung lembut. Ini sama sekali tidak berarti bahwa lensa ini jelek. Lensa yang usianya lebih tua dari saya ini memang biasanya sengaja digunakan untuk memberi kesan nostalgik dan organik. Cocok untuk foto yang moody.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Yang pasti, lensa Canon nFD ini jauh lebih menantang untuk digunakan. Pertama, karena ini adalah lensa manual. Kedua, jarak focalnya yang fixed di 50mm atau setara 100m di full frame. Frame menjadi sangat sempit sehingga harus mengambil dari jarak yang cukup jauh. Untuk foto outdoor, ini tidak masalah. Namun untuk penggunaan di dalam studio, ini pasti akan sangat menantang. Bahkan bisa mustahil jika ruangannya kecil.

 

Beda cerita kalau lensa ini di-adapt di body APSC atau fullframe. Frame akan lebih luas dan hasil akan lebih maksimal.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Ci Martha dengan humble memberikan saran kepada para peserta untuk memperlakukan model dengan respect dan humanis. Kenali namanya, dan jangan ragu untuk memanggil dan mengarahkan. Saran sederhana tetapi sangat berguna untuk saya yang baru pertama memotret model ini. Saya pun mencoba mempraktekkannya dan benar saja. Model terlihat lebih rileks dan refleks saat kita panggil namanya. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih setiap dia menoleh ke saya. Terima kasih, Windy.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Lumix G85 | Canon nFD 50mm  

Acara ditutup dengan ngobrol santai di halaman Sarinah. Ci Martha memberikan tips dalam memotret dengan memerhatikan anggota gerak model seperti kaki dan tangan. Penting untuk mengarahkan pose, mengatur komposisi, serta angle agar anggota gerak seperti kaki misalnya agar terlihat lebih jenjang. Suatu tips yang seharusnya saya praktekkan di awal karena setelah diperhatikan lagi, anggota tubuh model yang saya ambil banyak yang terkena crop.

 

Ci Martha sharing sambil mempraktekkan pose

Ci Martha juga memberikan tips apabila hunting bareng seperti ini, kita bisa mengambil angle dari bawah sehingga mengurangi risiko fotografer/orang lain yang bocor alias ikut masuk ke dalam frame. Lebih lanjut jika matahari sedang silau, Ci Martha memberi tips untuk mengarahkan exposure ke wajah model dibandingkan langit.

 

Mengikuti event seperti ini ternyata seru dan mengasyikkan. Saya mendapatkan banyak sekali insight dan yang pasti berkesempatan untuk praktek langsung bersama puluhan fotografer dari berbagai genre. Terima masih Yamaha atas kesempatan ini, Ci Martha untuk sharingnya, dan tentu saja kedua model yang sangat lincah dan sabar meski diterpa sinar matahari yang cukup panas.

 

Jika ada kesempatan lain, sepertinya seru jika ikut lagi.

 

Coba cari saya

Jakarta, 20 Agustus 2023.

Pengalaman Pemula Ikut Event Foto Model (Yamaha Photo Race) dengan Lumix G85
4/ 5
Oleh

1 komentar


EmoticonEmoticon