Halo Makassar: Film Lokal yang Siap Menyapa Penonton Nasional

Bukan. Ini Bukan Diat
Dua tahun berlalu sejak film Uang Panai=Mahar(L) meledak menjadi film regional pertama yang menembus box office Indonesia (Liputan6.com, 2016). Dua hari lagi tepatnya 12 April 2018, Finisia Production akan menghadirkan kejutan lewat film terbarunya bertajuk Halo Makassar.

Saya pribadi yang memang menyukai Uang Panai tentu saja antusias ketika diundang untuk menghadiri Gala Premiere yang bertempat di Cinemaxx Phinisi Point (PiPo) Mall Makassar tanggal 7 April kemarin.

Antusias, tapi juga dumba'-dumba' alias khawatir, akankah Halo Makassar berhasil menghidupi hype Uang Panai, yang notabene memenangkan penghargaan khusus Film Produksi Daerah Terbaik di Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2017?

Duh sabar ki' nah, kakak penulis, kakak produser dan kakak sutradara. Memang nda enak sekali itu hidup di bawah bayang-bayang mantan.

Namun di postingan ini saya tidak akan membandingkan antara Uang Panai dengan Halo Makassar, yah karena saya tahu nda ada orang yang suka dibanding-bandingkan. Tulisan ini juga mau dibilang review juga kayaknya nda pantas karena saya bukan reviewer film.

Jadi apa namanya dong?

Halo Makassar
(Romance; Komedi)
Sebuah Tanggapan Seorang Penonton


1. Premis Film yang ringan dan segar 
Di tengah maraknya film Indonesia reborn dan adaptasi, Finisia Pro menghadirkan premis yang segar. Diat (Rizaf Ahdiat), seorang musisi jenius dari Jakarta jatuh cinta pada suara Anggu (Anggu Batary), operator radio perusahaan taksi ketika memenuhi permintaan klien di Makassar.

Diat di dalam taksi mendengarkan suara Anggu
Diat sendiri adalah musisi yang kalau ngomong ketus dan pendek-pendek kayak pacar ngambek lagi balas WA. To the point, tidak suka berbasa basi, tidak sopan dengan memotong pembicaraan orang lain yang berusaha akrab, dan selalu menghindari kontak mata saat bicara. Sementara Anggu, di sisi yang lain adalah perempuan bergingsul yang supel dan sangat passionate dengan pekerjaannya.

Anggu menyapa supir dan para penumpang taksi dengan gaya supelnya
Berbeda dengan operator radio taksi yang biasanya kalau ngomong datar kayak papan karambol, Anggu yang cheerful memang meninggalkan kesan kepada para supir taksi dan para penumpangnya. Anggu, di balik radio pusat memberikan info soal cuaca dan jalan macet dengan gaya seperti penyiar radio FM. Dibawakan dengan suara ceria dan diselingi jokes, Anggu tidak sekadar memberikan informasi maupun instruksi, ia seolah mengajak para pendengarnya berdialog.

Cerita berlanjut. Diat jatuh cinta pada suara yang menemaninya di setiap perjalanannya selama di kota Anging Mammiri. Kalau ada orang baper sama suara operator radio taksi, Diat inilah orangnya.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua? Saya tidak akan menceritakan plot kisahnya dengan lengkap di postingan ini. Intinya, Halo Makassar film bagus, dan itu adalah pernyataan jujur. Tidak percaya? Nonton sendiri filmnya karena Halo Makassar mengudara 12 April di jaringan bioskop kesayangan Anda.

(Dear FinisiaPro kalau kita baca ini, jangan ki' lupa ajak ka' lagi di premiere film selanjutnya nah *gubrak ternyata modus)

Tapi serius, ini film bagus. Bukan karena saya dapat undangan gala premiere terus otomatis film ini jadi saya bilang bagus. Berikut ini adalah beberapa hal lagi yang saya suka selain plot dan alur yang rapi.


2. Sinematografi


Hal kedua yang menurut saya menjadi highlight film ini adalah sinematografi yang cantik. Saya suka komposisi gambarnya, sub-framing, juga pewarnaan yang bagus namun tetap natural dan tidak berlebihan. Soalnya ada, film kelas nasional lain yang color gradingnya justru agak maksa.

Yah meskipun ada beberapa potongan gambar agak kasar saat digabung, sinematografi dari sineas lokal ini patut diapresiasi.

3. Musik dan original soundtrack


Saya suka musiknya, dan bukan cuma original soundtracknya. Backsound yang bagus dan ala-ala cinematic jadi sinkron sama background Diat yang juga musisi. Jujur, musik jadi salah satu bagian paling bagus di film ini, meski ada beberapa bagian yang musiknya berganti dengan tiba-tiba.

Ngomong-ngomong soal soundtrack, original sountrack Halo Makassar berjudul Di Mana Kamu, dibawakan oleh Ren Feat Eien.

4. Lucu, meskipun kamu bukan orang Makassar

Anggu, tanggung jawab! Jatuh cinta ka'!
"Lucu ji?", adalah pertanyaan pertama yang saya dapatkan dari teman-teman setelah menonton film ini lebih dahulu. Mafhum, namanya juga film komedi. Kalau tidak lucu, ya gagal dong. Tapi saya dengan mantap menjawab pertanyaan itu dengan: iya

Di sini, Bimbi dan Mellong berhak dapat apresiasi lebih sebab keduanya berhasil mengocok perut penonton menjadikan bioskop riuh oleh tawa yang renyah. Selain itu, lucunya film ini tidak lepas dari peranan Tumming dan Abu di belakang layar sebagai konsultan komedi.

Humor film ini lebih ke verbal alias kata-kata, jadi jangan harap ada adegan tepung-tepungan. Meskipun humornya dominan verbal, jangan takut tidak mengerti sebab film ini tetap menggunakan bahasa pemersatu bangsa - Bahasa Indonesia dengan sentuhan logat Makassar. Cuma logatnya ji yang beda.

5. Merekam Makassar


Meski bersetting Makassar kontemporer, film Halo Makassar tidak melepaskan diri dari kultur dan identitas budayanya dengan scene tari kipas (?), Delta Lakkang, sampai PSM Makassar. Kalau ada yang bilang anak muda Makassar begitu mencintai kotanya, film ini adalah salah satu buktinya.

6. Bersinar, meski tanpa nama besar
Absennya nama besar bukan menjadi penghalang melainkan menjadi daya tarik dan warna sendiri bagi perfilman Indonesia yang kita ketahui bersama, terlalu Reza Rahadian hahaha. Poin saya, meski absen dari nama besar di dunia perfilman, film ini saya yakin mampu bersinar.

Debut akting dari para pemeran utama di film ini terlihat kapabel mewakili karakter masing-masing. Chemistry antarpemain juga dapat. Belakangan kami ketahui bahwa Diat dan Anggu memang tidak pernah dipertemukan selama proses shooting.

Nah, itu adalah enam bagian terbaik dari film ini menurut saya. Meskipun begitu, di catatan yang lain ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan.

7. Bimbo dan Mellong - Another Tumming Abu?


Bimbi Mellong jadi dua sidekick yang kocak nan tolo-tolo di tengah dialog pemeran utama yang serius (terdengar familiar?). Bagian ini formulanya memang cukup mirip dengan Uang Panai dengan Tumming dan Abu-nya. Formulanya mirip, iya - tapi tidak sama. Mellong yang Makassar dan Bimbi yang Papua saja sudah beda.

Keduanya sendiri menurut saya berhasil membuat dinamis film ini dengan humornya yang kocak. Ka bosan jaki' juga nanti kalau Tumming Abu terus. Siapa yang tahu, munculnya Tumming Abu & Bimbi Mellong menjadi pemantik munculnya duo komedi (atau trio/grup) yang lain ke permukaan. Amin.

Mari kita tunggu sepak terjang Bimbi dan Mellong di kesempatan yang lain :)

Overall, good job Bimbi Mellong.

8. Cast terlalu homogen dari segi usia
Seperti Uang Panai, cast Halo Makassar terlalu homogen dari segi usia. Kecuali mace pemilik kantin dan seorang supir bijak (entah siapa namanya), semuanya terlalu muda.

Rasanya agak aneh melihat Anggu dimarahi bos yang dari wajah saja sudah kelihatan sama usianya. Atau melihat Diat kena omelan klien yang seorang manager perusahaan yang dari wajah - juga terlihat terlalu muda. Barangkali, feelnya akan lebih dapat jika yang memerankan bos dan manajer itu adalah orang-orang yang paruh baya seperti suara laki-laki tua yang mewawancarai Anggu, Pitto, dan Dinda di teaser #2 itu cocok dan pas banget. Film ini butuh aktor berusia lebih tua agar lebih relevan dan nyambung dengan kehidupan kita sehari-hari.

9. Sound effect komedi agak berlebihan
Musiknya bagus, iya. Hanya saja sound effect komedinya digunakan terlalu sering sehingga jadinya overused. Bagaimana ya menjelaskannya? Itu, kalian tahu efek suara sejenis "ba dum tss" nda? Yang biasa muncul ketika seorang aktor baru saja melakukan dan atau mengatakan sesuatu yang lucu? Nah sound efek komedi sejenis ba dum tss itu menurut saya terlalu sering muncul, jadi kayak seolah-olah penonton butuh pertanda bahwa adegan barusan adalah lucu, padahal sih memang lucu. Cuma suara ini jadi agak mengganggu.

MAJOR SPOILER ALERT! KALAU KALIAN TIDAK SUKA SPOILER, SAYA PERINGATKAN UNTUK MENG-SKIP POIN 10.

SUPAYA AMAN POIN 10 INI SAYA MASUKKAN KE SPOILER SAJA YA.


 ***
Penutup
Tepuk tangan yang riuh saat credit title mulai merangkak naik menutup gala premiere. Suara gemuruh tepukan mewakili apresiasi dari para penonton di gala premiere hari itu. Lampu bioskop perlahan menyala, menerangi kru dan pemeran Halo Makassar membungkuk memberi penghormatan kepada penonton. Padahal, jika ada orang yang patut dapat apresiasi, mereka itulah orangnya.

Saya optimis film ini akan laku di pasaran.

Sebagai penutup, aman untuk bilang Halo Makassar recomended untuk kalian tonton - meskipun kalian bukan orang Makassar. Seperti yang saya bilang di awal, Halo Makassar adalah film bagus. Penulisan cerita yang rapi, premis yang segar di antara film-film remake dan adaptasi, konten tradisional yang tercover, sinematografi dan musik yang apik, serta yang paling penting humor yang berhasil membuat pecah bioskop menjadi alasan yang cukup untuk menonton film ini di bioskop tanggal 12 April 2018.

Jangan lupa ajak temanta', odo'odo' ta' nonton bareng, makin rame ki' nonton makin seru. Tapi kalau mau ki' sendiri juga nda apa-apa ji. Nda ada ji larangan wkwk.

By the way, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Finisia Production bukan cuma atas kesempatannya untuk menonton gala premiere, tapi karena sudah bikin film ini. Finisia Pro sekali lagi berhasil menghadirkan hiburan yang mengangkat Makassar untuk dinikmati semua.

Kalau bisa, di Coffee Crime tempat saya menyelesaikan tulisan ini saya ingin bertepuk tangan untuk penulis, produser, dan sutradara, serta seluruh kru yang terlibat, tapi nanti diusir ka' gang.

Akhir kata, maju terus perfilman Makassar. Maju terus perfilman lokal.

8 komentar

Review yang detail dan memberi banyak masukan buat kami... terima kasih banyak

Hahhayyy.. Selalu ngakak baca tulisannya Tyar.
Yang no.10 itu emang bikin dumdumglet, apalagi harus ki klik dulu baru muncul tulisan.. De'eh kayak tong harus diforeplay dulu!
#eh #apasih wawkakwkk...

Sebenarnya yang saya sempat highlight adalah peran Mellong dan Bimbi. Bukan bermaksud rasis, tapi Bimbi yang berkulit putih dan lebih mirip Chinese malah digariskan sebagai orang asli Papua. Sarkartis sekali. Haha

Terima kasih atas kesempatannya untuk Gala Premierenya, Kakak Produser. Semoga sukses untuk Halo Makassar.

Hahahahahahah takutku' perumpamaannya gang

Hahaha sebenarnya tawwa nda ada dialog yang bilang dia asli Papua. Bimbi bilangnya dia dari kecil sampai besar di Papua. Mungkin orang sini ji juga bapak na coba nanti kalau ketemu kita tanya ki asal usulnya di'.