Menginap di Retro Point Bed & Breakfast Bandung: Murah dan Nyaman


Kereta Argo Parahyangan yang saya tumpangi tiba di Bandung pukul dua pagi lebih sedikit. Saya meraih ransel di bagasi atas kemudian berjalan keluar gerbong bersama penumpang dari Stasiun Gambir Jakarta.

Sejak dulu saya memang sangat ingin ke Bandung. Barangkali sejak Sherina harus ikut ayahnya yang pindah tugas dari Jakarta ke Bandung di film Petualangan Sherina. Rasa penasaran itu makin tinggi ketika membaca cerita Dilan dan Milea di blog Pidi Baiq. Cerita itu membawa saya ke Bandung tahun 1990, ketika di sana masih sering muncul kabut dan orang-orang Bandung masih sering membuat minuman jahe.

Dingin udara Bandung menghambur lamunan 1990, membawa saya kembali ke tahun 2019. Waktu menunjukkan pukul 02.24 pagi. Saya mengecek handphone, membuka aplikasi Grab kemudian memesan Grabbike tujuan Retropoint Bed and Breakfast sambil berjalan keluar stasiun.

Suasana stasiun Bandung dini hari
Driver menjemput saya di depan stasiun, berjalan sedikit ke arah kiri. Untuk berjaga-jaga, saya menggunakan fitur tracking yang tersedia di aplikasi Grab dan Gojek kemudian mengirimkannya ke grup WA rombongan dan orang terdekat. Barangkali tidak sampai sepuluh menit, saya sudah sampai. Dekat saja sebenarnya homestay ini dari stasiun, cuma 600 meter. Saya sebetulnya berpikiran untuk berjalan kaki saja dari stasiun. Sayang waktu kedatangan saya yang sudah kemalaman tidak kondusif, tidak ada jaminan saya akan tidak diculik alien, kuntilanak, atau waria.

Sudah terkunci saat sampai
Saya mengetuk pintu yang sudah terkunci, sosok bapak-bapak yang sepertinya penjaga malam menyilakan saya masuk. Saya berjalan ke lantai dua, mendapati kamar 6, 7, dan 8. Bodohnya adalah, saya lupa menanyakan saya di kamar nomor berapa kepada rombongan. Saya duduk sebentar melihat pintu nomor enam, kemudian nomor tujuh, lalu nomor enam lagi. Dengan penuh keraguan, saya mengetuk pintu nomor tujuh sambil Assalamualaikum.

Tidak berapa lama, Deddy Huang membuka pintu. Sendirian dia di kamar. Saya mengetuk kamar yang benar.

Akhirnya, kasur.
Setelah menge-charge power bank dan handphone, saya bergegas tidur. Banyak agenda jalan-jalan pagi ini.

Pagi datang tidak terlambat, sisa capek karena perjalanan semalam masih ada tetapi tidak mampu menahan saya untuk bangkit mencuci muka. Kamar mandi homestay ini bersih dan cukup luas. Ada closet duduk, shower air hangat, dan wastafel dengan cermin. Catatan, bawalah sendiri perlengkapan mandi karena selain handuk, homestay ini tidak menyediakan perlengkapan mandi lain seperti sabun dan shampoo.

Setelah mencuci muka rasanya mulut dan kerongkongan saya kering, butuh teh atau kopi sepertinya. Saya berjalan ke arah lobi yang terletak di lantai satu mendapati rombongan bapak-bapak bersarung yang dipimpin Kang Didno dan Maseko sudah lebih dulu nongkrong di sana.

Teh dan kopi gratis untuk para tamu

Retropoint BnB yang beralamat di Jl. Haji Basar 61, Kebonjati ini tidak menyediakan sarapan, sebagai gantinya disediakan kopi, teh, gula, dan air mineral dari dispenser untuk menyeduhnya. Kalau mengganjal perut yang lapar, disediakan PopMie dengan harga Rp6.000 saja.

Saya menyeduh teh kemudian bergabung bersama rombongan yang sudah tiba di Bandung sejak kemarin. Mengobrol santai tentang pelbagai hal yang menyenangkan sambil mengicip kue yang dibeli Koh Deddy dari penjaja kue tradisional.

Ngeteh pagi di lobi RetroPoint BnB. Foto: Travelerien.com
Barulah nampak oleh saya ternyata homestay ini ternyata cerah dan cantik sekali. Kontras dengan yang saya lihat dini hari jam tiga pagi tadi. Dengan warna dominan putih dengan aksen kayu, lengkap dengan hiasan dinding bernuansa travelling

Soal kamar, homestay yang dari luar terlihat kecil ini ternyata memiliki kamar yang cukup banyak. Totalnya ada delapan kamar. Untuk harga Retro Point BnB, terbilang murah saja. Untuk kamar jenis Standar, harganya Rp220.000 sedangkan Deluxe Rp240.000. Bisa lebih murah lagi jika pesan langsung dengan promo diskon 15% untuk pembayaran dengan GoPay. Menginap berdua atau bertiga, biayanya bisa dibagi lagi. Pas untuk travelling ekonomis.

Murah iya, tapi bagaimana dengan kondisi kamarnya? Untuk yang penasaran dengan foto kamar RetroPoint BnB ini, berikut ini fotonya:

Kiri: Deluxe. Kanan: Standar
Secara umum kamarnya berkonsep minimalis dengan warna dominan putih dan aksen kayu yang konsisten, sama seperti lobi. Kamarnya juga bersih, lengkap dengan air conditioner jika kamu merasa gerah.

Menginap di homestay ini, saya menyarakan memilih kamar deluxe saja. Kamarnya lebih luas, ada meja dan kursi, ada pula extra bed yang letaknya di atas kamar mandi dengan perbedaan harga hanya Rp20.000 saja dengan kamar jenis standar.

Namun jika kamu hanya butuh tempat untuk tidur saja, kamar standar tentu sudah lebih dari cukup.

RetroPoint BnB cocok untuk beramai-ramai

Bisa santai sambil berfoto. Foto: Travelerien.com

Narsis dimulai sepagi ini
Saya bergegas mandi kemudian mengepak seluruh barang bawaan. Memastikan tidak ada yang tertinggal baik di dalam kamar hingga kamar mandi. Rombongan sudah siap semuanya di bawah, segar dan bersemangat untuk memulai perjalanan. Kunci kami kembalikan kepada resepsionis yang ramah.

Bandung pagi itu cerah. Cahaya matahari keemasan membelai wajah-wajah kami yang baru saja mandi, seolah menggoda untuk berfoto sekali lagi.

Okeh ayo kita foto lagi.

Narsis untuk memulai hari
Retropoint BnB
Jalan Haji Basar 61 (Kebunjati). Bandung
www.retropoint-bnb.com
reservation@retropoint-bnb.com

Informasi lebih lanjut: Kunjungi Instagram @pandatravelbdo atau via WhatsApp ke 082119764484

This post have 4 komentar

  1. Eh gue agustus nanti mau ke bandung nih. Di situ ada wifi nggak yaaar? *penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Singatku sih ada, tetapi lemah

      Delete
    2. Hm, saya butuh tempat yang wifinya kencang.

      Delete
    3. @Firman nginap di wifi corner saja, man

      Delete