(Zenvolution Part 2) Ayo Kita Jajal Sampai Batas Kamera Asus Zenfone 3!


Sedang mencari perangkat smartphone merangkap pocket camera? Ayo kita bahas!

Jujur ya, kamera DSLR atau paling ndak kamera Mirrorless masih menempati top wish list saya di tahun 2016 ini. Saya yang seorang blogger (abal-abal) yang selalu (ingin) kekinian ini selalu merasa bahwa sebuah postingan tanpa foto itu rasanya kurang lezat. Ibaratnya, bak sayur tanpa garam. Bak pot bunga tanpa pupuk kandang.

Selain untuk dokumentasi pribadi, kece banget kali kalau ke tempat-tempat keren, foto-foto lucu terus diposting ke Instagram biar dapat likes atau posting ke Path biar teman-teman pada nge-frowned. Memang sih, yang penting dari sebuah momen adalah bagaimana kita mengingat dan mengenangnya. Tapi, punya dokumentasi berupa foto memberi nilai lebih lagi kekal abadi.

Suatu hari, fee sebagai event organizer akhirnya dibayar. Saya lalu browsing harga kamera hampir setiap hari. Mencari-cari kamera DSLR atau Mirrorless yang seharga di bawah 5 juta rupiah. Ada beberapa yang sepertinya cocok. Mirroless Canon yang tempo hari sedang promo.
Sampai akhirnya fee itu keluar dan... Feenya kurang. Kurang dari harapan, dan sudah jelas kurang dari harga kamera yang sudah ditargetkan. Tempo hari tim saya dijanjikan 5 juta rupiah untuk event yang kami kerjakan hampir dua bulan, namun pada kenyataanya hanya dibayar setengahnya. Dua juta lima ratus ribu rupiah. Mimpi punya kamera menguap saat itu juga.

Akhirnya, uang itu saya gunakan untuk beli Zenfone 2 Laser yang tempo hari baru saja launching. Smartphone itu jugalah yang mengenalkan dan membuat saya jatuh cinta sama mobile photography. Sejak memegang smartphone itu, saya jadi hobi jepret sana sini. Zenfone 2 Laser itulah yang kemudian menjadi penunjang utama seluruh foto di blog ini dan instagram @planetyar (yuk mari difollow). Kualitas kameranya lumayan bagus meskipun bukan yang terbaik, tapi cukuplah.

Kalau kalian membaca postingan sebelum ini, kalian mungkin sudah tahu kalau saya baru saja mengikuti event launching produk terbaru Asus di Nusa Dua, Bali. Nah, produk yang paling mengundang perhatian saya adalah Zenfone 3. Soalnya, Asus dengan pede-nya mengusung tagline Built for Photography di perangkat terbarunya itu.

Karena Asus baik hati nan dermawan, saya berkesempatan memegang Zenfone 3 yang super kece ini, dan lewat postingan ini, saya ingin menunjukkan kualitas kameranya kepada kalian, mudah-mudahan bisa menjadi referensi.

1. Resolusi Kamera 16MP (belakang) dan 8MP (depan) dipersenjatai Sensor Sony Exmor RS IMX298 berukuran 1/2.8 inch
Ini adalah pertanda bahwa Asus memang benar-benar berfokus pada pengembangan kamera perangkatnya. Pengetahuan umumnya adalah, semakin besar resolusi sebuah kamera, semakin bagus kualitas gambar yang dihasilkan. Meskipun sebenarnya, resolusi kamera hanya bertanggung jawab pada ukuran/pembesaran foto. Sebenarnya, sensorlah yang menjadi bagian paling penting dari kamera. Semakin besar ukuran dan semakin tinggi kualitas dari sensor, semakin bagus hasil fotonya.

Sky Exposure - Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Cerah
Hal ini disadari betul oleh Asus. Buktinya, Asus menggandeng Sony yang kualitas dan pengalamannya di bidang sensor kamera-kamera-an sudah teruji. Sony Exmor RS IMX298 merupakan sensor yang banyak digunakan untuk mempersenjatai kamera smartphone kategori premium/flagship. Hasilnya? Hardware memang tidak bisa bohong. Gambar yang dihasilkan memang terlihat detail dan jernih. Apakah terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa Zenfone 3 adalah perangkat mobile photography terbaik? Ayo kita gali lebih dalam *lalu menggali*

Menangkap detail dengan kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Di bawah bayangan pohon
Kamera depan Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Gelap di bawah bayangan pepohonan


Kamera depan Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Agak redup karena berawan
2. Diagfragma 2.0 untuk hasil foto cerah dan efek Depth of Field yang Dramatis
Diagfragma atau Aperture atau Bukaan (buka-an) ibaratnya jendela. Semakin besar diagfragma itu terbuka, semakin banyak cahaya yang bisa masuk. Hasilnya, foto yang dihasilkan menjadi semakin terang.

Hubungan diagfragma dengan intensitas cahaya. Foto diambil dengan kamera belakang Zenfone 3
Cara menghitungnya seperti ini: Semakin kecil angka diagfragma itu, semakin besar diagfragma itu membuka - artinya semakin terang gambar yang dihasilkan.

Kamera Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Berawan, makanya backlight.
Sebagai pembanding, lensa kit DSLR memiliki bukaan terbesar di angka 5.6 atau 4.5. Zenfone 3 mampu membuka hingga 2.0. Artinya, Zenfone 3 dapat menghasilkan gambar yang terang dalam kondisi cahaya minim seperti mendung atau dalam ruangan.

Efek lain yang dihasilkan oleh diagfragma adalah ruang tajam atau ruang fokus yang dihasilkan. Semakin kecil angka diagfragma, semakin kecil pula ruang fokus yang dihasilkan. Sehingga, pada foto akan nampak sedikit ruang tajam di objek utama dan ruang belakang akan terlihat blur. Contohnya seperti foto ini.


Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Diagfragma: 2.
Angka diagfragma kecil ini memungkinkan kita untuk foto subjek-subjek secara close up seperti bunga atau foto wajah yang backgroundnya blur ala lensa fix kamera DSLR.

3. Optical Image Stabilization (OIS)
Nah bahasa apa lagi ini?

Sederhananya, OIS bertanggung jawab untuk menstabilkan gambar agar tidak berguncang, atau istilah popularnya meminimalisir shake. Sehingga, foto yang dihasilkan lebih stabil kalau tangan kita kadang suka tremor, suka bergoyang-goyang dangdutan kalau pegang kamera.

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Diambil sambil berjalan


Saya mencoba mengambil foto dengan kamera belakang sambil berjalan dan hasilnya memang stabil. Tidak terlihat guncangan padahal kami berjalan cukup cepat karena kepanasan. Barangkali karena cuacanya sedang cerah sehingga waktu yang diperlukan untuk menangkap gambar menjadi sedikit.

Penasaran, saya akhirnya membuka foto-foto selama mengikuti Asus Incredible Race dan menemukan foto ini:
Kamera belakang Zenfone 3. Foto oleh Idham Ama
Foto di atas diambil saat mengikuti salah satu tantangan Asus Incredible Race. Diambil saat mobil sedang berjalan. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. Wajah saya yang menjengkelkan itu bisa terlihat jelas tanpa guncangan.

Kamera belakang Zenfone 3 saat di pesawat
Teknologi OIS ini akan sangat membantu saat mendokumentasikan perjalanan, atau sambil jalan-jalan sore di kompleks sambil foto-foto untuk dipamer ke Path, hehehe. Selain itu, OIS dapat meminimalisir guncangan saat mengambil foto dalam kondisi cahaya sedikit.

4. Tidak lagi Ketinggalan Momen dengan Fokus Kencang
 
Kamera belakang Zenfone 3 dengan Tri Tech Auto Focus

Satu hal yang pasti dalam memotret adalah, sering kali momen itu tidak bisa diulang dan berlangsung sangat cepat. Dibutuhkan refleks dari si pemotret dan refleks kamera yang sama-sama kencang. Selain cahaya, tentu yang mementukan daya tarik foto adalah subjek foto itu sendiri. Ibaratnya, apa atau siapa yang ingin kita tunjukkan. Bunga kah? Binatang kah? Wajah kah? Dalam kondisi tertentu, menemukan fokus bisa menjadi hal yang paling menjengkelkan dalam menggunakan kamera handphone ataupun DSLR. Ajaibnya, Zenfone 3 mampu memotret objek yang kecil dengan fokus yang cukup tajam dan detail.

Hal ini memungkinkan berkat teknologi TriTech Auto Focus yang dibenamkan ke dalam kamera Zenfone 3. TriTech Auto Focus menggabungkan teknik focus pendeteksi kontras (continous focus), laser auto focus generasi kedua, juga phase detection sehingga fokus dapat diperoleh dengan lebih cepat. Tips jika sulit mendapatkan fokus adalah, gerakkan kamera maju atau mundur sampai fokus dapat diperoleh. Agak susah memang.

Teknologi TriTech auto focus ini akan sangat membantu untuk mengambil foto lebih cepat, seperti benda yang sedang bergerak, atau kita yang sedang bergerak.

5. Kreatif dengan Mode Manual
Kalau mode auto sudah menyediakan kemudahan sehingga kita tidak lagi perlu susah payah mengatur ini itu segala, terus kenapa saya harus repot mengaturnya sendiri?

Interface Mode Manual Kamera Zenfone 3
Kadang-kadang, kamu mau memberikan sentuhan artistik dalam gambar yang tidak bisa kamu peroleh lewat mode auto. Misalnya, kamu ingin menyatakan cinta lewat foto lukisan cahaya (light trail) seperti di bawah ini:
Melukis cahaya dengan mode manual. Foto oleh Idham Ama.
Untuk membuat foto ini, yang harus kita lakukan adalah mengatur kecepatan rana (shutter) selambat yang kita butuhkan. Zenfone 3 mampu membuka rana selama 1/50.000 hingga 32 detik. Semakin cepat gerak objek, semakin cepat shutter harus menyesuaikan. Foto di atas diambil di kecepatan rana 32 detik. Di mode manual juga kita bisa mengatur tingkat sensitifitas cahaya (ISO), white balance, juga lebar fokus.

Ingat untuk selalu menggunakan tripod untuk shutter lambat.

6. Foto Vibrant dengan Mode HDR

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto (HDR aktif)
Langit dan awan adalah salah satu objek foto yang saya sukai. Saya selalu kagum kalau liat foto langit biru yang kontras dengan awan putih. Ada kesan megah. Di foto di atas, kita bisa melihat objek utama tetap terang sedangkan langit biru dan awannya tetap terlihat vibrant. Mode ini cocok untuk foto arsitektur dan landcape.

Nah, soal mode HDR sendiri, triknya adalah kamera akan mengambil beberapa gambar. Sebut saja 1 gambar gelap untuk mengambil detail awan, 1 gambar dengan kondisi cahaya seimbang, dan 1 lagi foto yang terang. Kemudian, perangkat akan menggabungkan foto ini untuk menghasilkan foto dengan objek yang terang dan background (sebut saja langit atau sunset) juga tidak berlebihan intensitasnya. Sehingga, kita tidak bisa langsung melihat hasilnya di layar saat hendak memotret.

Nah, ini adalah salah satu teknologi unggulan Zenfone 3. Asus menyebut mode ini dengan pro HDR, pengguna bisa melihat hasil foto secara real time sebelum memotret, hal ini memungkinkan kita melihat hasilnya nanti sudah sesuai atau tidak. Canggih toh?

7. Wajah Mulus Kekinian dengan Mode Beautification

Kamera depan Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: Redup di bawah pohon
Wajah gelap berminyak, berpori-pori besar, dan berjerawat adalah musuh besar bagi pemuda-pemudi kekinian. Mode beautification berfungsi sebagai digital make up yang secara otomatis mereduksi ukuran pori-pori, mencerahkan, dan menghaluskan muka. Ada juga mode yang agak ekstrim seperti pembesaran mata, pemerah pipi (blush), juga mengubah bentuk muka menjadi lebih lancip.

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: redup di bawah pohon
Tidak usah ditanya lagi, mode ini paling cocok untuk selfie. Beatification meng-highlight wajah kita. Foto wajah di-highlight sehingga stand out dari background sehingga lebih menarik.

Satu-satunya dampak negatif dari mode ini adalah mungkin saya akan lebih sering dimarahi pacar karena handphone jadi sering dipinjam cewek-cewek untuk bikin display picture baru.

Kamera depan Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: Terang
Kamera depan Zenfone 3. Mode: Beautification. Cahaya: Cukup Terang - Indoor.
8. Toleransi terhadap Low Light

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: redup remang goyang dumang.
Kamera belakang Zenfone 3 - Close Up. Mode: Auto. Cahaya: Redup-redup asyik
Intensitas cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera berpengaruh besar terhadap foto yang dihasilkan. Kedua foto di atas diambil dalam kondisi yang cukup gelap. Uniknya, Zenfone 3 mampu menangkap gambar dengan cukup baik di kondisi gelap itu.

Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Auto. Cahaya: Gelap
Kamera belakang Zenfone 3. Mode: Low Light. Cahaya: Gelap.
Nah, ada lagi mode Low Light memungkinkan kita mengambil gambar di kondisi cahaya gelap, namun perlu diingat untuk mengambil gambar low light, resolusi kamera akan berkurang untuk menyesuaikan dengan kondisi minim cahaya itu.

8. Pushing to The Limit With RAW Capability
Yes! Yes! Yes! Menurut saya, inilah bukti utama Zenfone 3 bisa dibilang benar-benar Built for Photography. Sensor kamera yang digunakan Zenfone 3 memungkinkan kita untuk mengambil file (RAW). Apa artinya?

Langkah kerja kamera digital kurang lebih seperti ini:
a. Sensor kamera menangkap gambar
b. Gambar yang ditangkap diolah dengan mengatur saturasi, kontras, dan ketajaman
c. Output berupa JPG (atau format lain)

File RAW (biasanya berekstensi .DNG) adalah bahan mentahan yang belum diolah menjadi foto utuh berformat JPG yang dapat dibuka lewat galeri atau diupload ke Instagram. Terus kenapa kita butuh file mentahan itu?

Mudah-mudahan ilustrasi ini bisa membantu:
Umumnya, ada dua cara menikmati ayam goreng. Cara pertama adalah membeli ayam goreng di warung atau restoran. Kita masuk ke dalam warung makan. Kita memesan ayam goreng. Koki akan mengambil ayam, membumbui sesuai standarnya sendiri, mengatur keasinannya, menggorengnya dengan tingkat kematangannya sendiri, lalu menyajikannya dengan metodenya sendiri. Praktis, kita tinggal makan.

Cara kedua adalah membeli daging ayam mentah. Membumbuinya sesuai selesai, menyesuaikan tingkat keasinan, kepedasan, kematangan, hingga penyajian sesuai dengan selera masing-masing. Sehingga, tampilan dan rasa ayam goreng memang benar-benar sesuai dengan selera yang memasaknya.

Kurang lebih, seperti itu penjelasan file RAW. File mentahan ini menyimpan seluruh detail dan profil warna yang belum diolah sehingga memberikan kita kebebasan mengolahnya sesuai keinginan kita masing-masing.

File Matang berbentuk JPG
Contoh hasil file RAW
Yang paling mencolok adalah, intensitas warna dari kedua foto di atas. File RAW terlihat lebih pucat, dan kontras antar satu warna dengan warna yang lain sangat-sangat minim. Kenapa begitu? Sebab file RAW sama sekali belum disentuh oleh pemrogram foto, sehingga seluruh data masih ada di sana.

Sebelum melangkah lebih jauh, di bawah ini adalah perbandingan ukuran gambar antara file JPG dengan file RAW:

Perbandingan ukuran JPG VS RAW
WHAT?! 31 MB untuk 1 file? Yes. Itulah kelebihan RAW, tapi apa artinya? Karena belum diolah, file mentahan ini menyimpan semua detail, ketajaman, intensitas cahaya, dan profil warna. Sehingga, kita bisa lebih bebas mengedit intensitasnya masing-masing.

Bisa dibilang, file RAW memang untuk orang yang mau repot sebab untuk membuatnya menjadi sebuah gambar yang final ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Kenapa saya mengambil RAW? Karena kadang saya merasa tingkat warna dan kontras terlalu tinggi. Misalnya, wajah terlalu merah, atau kontras yang terlalu tinggi menghilangkan detail objek, rambut misalnya. Kalau sudah jadi JPG, detail yang hilang mustahil untuk dikembalikan. Iya, sama seperti kepercayaan yang dikhianati *uhuk.

Selain itu, di software pengolah gambar seperti Photoshop dan Lightroom ada banyak plugin dan filter yang bisa kita gunakan untuk menyesuaikan mood suatu gambar. Karena file mentahan ini warnanya pudar, filter yang digunakan akan terlihat lebih lembut dan fleksibel untuk diatur intensitasnya.

Filter yang diaplikasikan ke JPG kadang-kadang terlalu "keras" dan menghilangkan detail
Filter yang sama diaplikasikan ke file RAW menghasilkan warna yang lebih lembut
Tentu saja, hasil akhir ini berbeda bergantung dari selera masing-masing. Mood apa yang ingin kita tunjukkan.

Kesimpulan
Personally, saya suka. Ulang, saya suka banget dengan hasil foto yang dihasilkan oleh Zenfone 3. Jernih, cerah, detail, vibrant, dan yang pasti: fleksibel. Kualitas gambar yang dihasilkan sudah sangat cukup untuk keperluan dokumentasi sehari-hari untuk blog ini dan foto-foto cantik nan kekinian di Instagram. Hardware premium didukung dengan software Pixel Master Camera dengan berbagai mode menjadikan kombinasi hardware dan software menjadi optimal.

Sayangnya, kamera bawaan tidak memungkinkan kita untuk mengambil file RAW, dengan kata lain kita membutuhkan bantuan aplikasi pihak ketiga. Barangkali untuk mengurangi kerumitan pengoperasian dan pengolahan RAW oleh pengguna baru.

Yang jelas, barangkali bukan over percaya diri, atau menurut istilah Makassar, bukan ka-pede-ang Asus menggunakan tagline Built for Photography di perangkat Zenfone 3-nya ini. Fitur dan kualitasnya menunjukkkan kesan premium dan profesional. Bagaimana menurut kalian?

Ini beberapa foto untuk yang ingin contoh hasil foto yang lebih banyak lagi:

Bahan mentah yang cukup besar dari awal menjadikan simple retouch wajah (menghilangkan jerawat dan kerutan) menjadi cukup alami dan tidak merusak elemen wajah. Menurutku sih hahaha.
Ala-ala Warm Isolation
Follow IG @planetyar dong, Kak!
Tes Close Up 1
Tes Close Up 2
Tes Close Up 3
Tes Close Up 4
Terinspirasi foto kekinian di Instagram
More sample photos coming soon, stay tune, Aliens :)
Dan oh, semua gambar yang dimuat di postingan ini adalah hasil foto yang sudah diresize dan dikompres supaya ukurannya tetap bersahabat. Gila bok 1 foto ukurannya sampai 4 MB. Untuk full size dan file RAWnya akan saya upload jika dapat wifi gratisan nan kencang supaya teman-teman bisa melihatnya lebih jelas.

Okeh, sekali lagi. Gimana, Gaes? Sudah memutuskan kapan mau ganti ke Zenfone 3?

Di postingan berikutnya, saya ingin membahas kamera Pixel Master dan 20 modenya! See you *kiss *kiss *hug *hug

18 comments

  1. Aku uda liat jugak review asus zenfone 3 ini dari temen temen blogger. Emang kece sik yak! Huhuhu.. Jadi pengen..

    ReplyDelete
  2. Duh, ngiler. Rilis mi di pasaran ini, kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. *lap iler*
      Ada mi di beberapa toko online, kalau MTC kayaknya belum pi. Harusnya September ini masuk mi sih.

      Delete
  3. Model-modelmu itu loh.. Hahahahah! Fixed! Pokoknya kuliah Prof Hafied saya harus duduk dekat kau!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu model-modelku mahal loh bayarannya, mereka sudah terkenal se-Fisip.

      Delete
  4. Setelah menyempatkan membaca dikala aktivitas sibuk saya saat duduk2 di teras.. Sy sempat ingin bertanya soal HDR pd perangkat yg saudara gunakan..

    Namun, setelah sampai pada poin ke 7, sy tersentak...tak...tak....

    Wanita berjilbab pink (Atau orange?/atau mgkn peach?) yg senada pula dgn warna bajunya mengalihkan perhatian saya..

    Kalau kisana kapan2 ke rmh lg, bolehlah kisana berbagi pin, wa, line, fb, path, ataupun telegram wanita yg dimaksud..

    Sekian kisana...

    Best regards,

    LP EMO

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pertanyaan dan permintaan kisanak benar-benar berat. Tunggulah, Kisanak. Hal ini harus kita selesaikan secara adat.

      Delete
  5. Untuk mengambil foto format raw pake aplikasi apa ya, Dan editnya pake aplikasi apa? Terima kasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk ambil foto RAW bisa pake Camera FV-5 (berbayar sih), kalau editing bisa pake Snapseed.

      Delete
  6. Untuk mengambil foto format raw pake aplikasi apa ya, Dan editnya pake aplikasi apa? Terima kasih..

    ReplyDelete
  7. hapeku asus zenfone 2 saja sudah keren kameranya iiih apalagi ya zenfone 3 ini
    tapi mantap RAM nya nihhhh 4GB loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Produktifitas selfieku langsung meningkat dengan sangat tajam hahaha. Etapi yang ini RAMnya yang versi 3GB.

      Delete
  8. aku suka tes close up nya, cakep clear, sejauh ini baru memakai beberapa modenya, untuk selfie oke juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya Beautyfication-lah juaranya *lanjut selfie lagi*

      Delete
  9. keren HP nya, jadi pgen..
    Btw, salam kenal ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zenfone 3 emang bener-bener jawaban dari banyak pertanyaan hehe. Salam kenal, terima kasih sudah berkunjung.

      Delete
  10. Keren nih artikel nya , mantap. Sayang pas di bali ga sempet kenalan . Saya group 25

    ReplyDelete