Main ke Trans Studio! Terhubung dan Tumbuh Bersama Makassar

Ada dua tempat yang saya selalu suka datangi. Yang pertama sekolah tempat saya belajar dulu, dan yang ke dua taman bermain. Ada semacam nostalgia yang kekanak-kanakan di sana.
***
Belasan tahun yang lalu, sehabis hari menerima rapor, ayah dan ibu saya akan mengajak saya dan adik laki-laki saya untuk ke taman bermain. Fashion Park adalah tempat favorit kami. Saya tidak bisa mengingat dengan penuh seperti apa Fashion Park pada waktu itu, yang saya ingat saya akan melihat bapak menggandeng tangan adik saya, sedangkan saya dan mamak akan berjalan di belakangnya. Mula-mula, kami akan melihat binatang-binatang, lalu ke arena permainan outdoor semacam permainan di taman kanak-kanak, lalu terakhir ke Game Zone. Hari-hari yang menyenangkan.

Bapak dan mamak juga tidak absen mengajak kami jika di dekat rumah ada penyelenggaraan pasar malam. Biasanya, rombongan pasar malam ini akan membawa pula  permainan-permainan seperti komidi putar, ombak-ombak, mandi bola, dan bianglala. Bianglala adalah wahana yang paling saya suka. Lampu-lampu terang dan nyala bergantian, tempat duduk yang menyerupai lonceng warna-warni, lalu pada saat berada paling atas, kita bisa melihat semua wahana dan pengunjung dari sana.

Sayangnya, sejak saya masuk SMP, kami tidak lagi pernah lagi ke taman bermain. Tapi apabila di dekat rumah diadakan pasar malam, saya akan ke sana sendiri meski hanya sekedar melihat-lihat. Memasuki masa SMA, entah apa yang terjadi rombongan pasar malam itu tidak pernah datang lagi. Untung saja, di antara absennya saya dari kehidupan taman bermain dan pasar malam selama bertahun-tahun itu, sesuatu yang besar rupanya sedang terjadi. Pada tahun 2009, sebuah taman bermain indoor terbesar di Indonesia selesai dibangun. Trans Studio Makassar dibuka untuk umum.

Awalnya, saya tidak begitu antusias – meskipun sebenarnya penasaran melihat isinya. Beberapa bulan setelah dibuka, saya belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Sudahlah, lagipula saya sudah terlalu tua untuk ke taman bermain.
Sialnya, ternyata adik saya yang perempuan rupanya diam-diam penasaran sama Trans Studio.

Diam-diam pula dia mengumpulkan tabungan supaya bisa main ke sana. Suatu hari setelah tabungannya cukup, dia minta ke mamak untuk dibolehkan main ke Trans Studio. Mamak ketuk palu mengizinkan dengan syarat saya harus menemaninya. Sebagai mahasiswa yang lebih sering bokek daripada beruang awalnya saya menolak, namun dengan penuh keyakinan, adik saya yang waktu itu baru saja lulus SD rupanya telah menabung untuk beli 2 lembar tiket. Begitulah pertama kali saya ke Trans Studio, ditraktir oleh adik perempuan yang beda umur 9 tahun. Hina. Hina sekali.

Sesampai di Trans Studio, kami masuk melalui pintu otomatis yang akan terbuka dengan sendirinya. Belum apa-apa, saya sudah kaget duluan. Ditemani rasa penasaran dan antusias pada saat yang bersamaan, saya tidak tahu bahwa hari itu saya akan belajar banyak.

Kami disambut oleh kakak-kakak yang ramah dan ceria. Saya tidak ingin terlihat lebay tapi begitu masuk ke Trans Studio Theme Park, rasanya masuk ke kota kecil yang ajaib. Pohon-pohon yang dihiasi lampu warna-warni menyala bergantian, rasanya langsung lupa jika pada saat itu kami masih di Makassar, melainkan di sebuah kota moderen dan ajaib di San Francisco (meskipun saya juga belum pernah ke San Francisco sebenarnya). Belum berhenti mata saya menyisir satu persatu isi di bagian depan Trans Studio Theme Park itu, tiba-tiba saya tersentak. Sebuah wahana rupanya telah bersiap menyambut kami, sebuah wahana raksasa dengan lampu-lampu menyala terang bergantian dan bilik yang menyerupai lonceng warna-warni. Bianglala. Sebuah bianglala raksasa dengan logo Trans Studio di tengahnya.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengajak adik saya ke sana, mengantri. Di depan kami mengantri sepasang pemuda dan pemudi, barangkali berpacaran. Seperti kami dan pengunjung lain, mereka berdua juga terlihat senang dan ceria. Semakin dekat antrian kami, tentu kami semakin senang. Sesekali saya memperhatikan sepasang kekasih tadi, si cowok terlihat antusias sedangkan di cewek justru terlihat takut. Saya menduga si cewek tadi takut sama ketinggian sedangkan si cowok sebaliknya. Dengan tenang, si cowok coba meyakinkan pacarnya itu untuk tidak perlu takut. Setelah tidak terlalu lama mengantri, tibalah giliran mereka. Si cowok naik duluan, dengan senyum ia mengajak pacarnya untuk naik dan bersikap tenang, mungkin berharap senyum dan ketenangannya bisa menular.

Bianglala mulai berputar, adik saya kegirangan, bersamaan dengan mulainya kami berputar ke atas, semua kenangan di Fashion Park dan pasar malam bersama bapak dan mamak juga terlintas kembali. Kami berputar menikmati pemandangan Trans Studio Theme Park dari atas. Dari Bianglala terbesar yang pernah saya naiki. Sementara itu, si cewek dan pacarnya tadi sudah mulai tenang. Mereka sudah mulai mengobrol meskipun sesekali ceweknya akan menutup mata setiap melihat ke bawah.

Di wahana JELAJAH, kami menaiki semacam perahu yang berbentuk batang kayu. Perahu batang kayu mulai bergerak pelan membawa kami masuk ke hutan belantara, hutan mistis yang dihuni oleh suku pedalaman. Perahu berjalan santai dan tenang, kami berdua tidak berhenti melihat sekeliling seraya terkagum-kagum dengan detail hutan yang diciptakan, sesekali terdengar suara-suara burung dan binatang-binatang menambah kesan "hilang" di tengah hutan. Tiba-tiba, perahu yang tadi bergerak pelan mulai bergerak naik seperti mobil yang melalui jalan menanjak. Lalu berjalan datar kembali. Saking seriusnya melihat ke sekeliling, saya lupa melihat ke depan, perahu kami menuju air terjun dan meluncur kencang sekali ke bawah. Kami berteriak kencang. Rasa takut, kaget, dan senang bercampur jadi satu lalu, "Byurrr!". Perahu kami menabrak air yang menciptakan cipratan yang cukup untuk membasahi. Kami tertawa sampai ujung penjelajahan.

Sebenarnya waktu itu kami ingin menikmati semua wahana, namun karena uang yang kami bawa terbatas, kami hanya mampu menikmati beberapa wahana. Mafhum saja, waktu itu, untuk menikmati wahana besar seperti Jelajah, Roller Coaster, Dragon's Tower, Dunia Lain, Studio 4D, dikenakan biaya tambahan. Roller Coaster adalah wahana yang kami pilih berikutnya. Menyenangkan meski belum berkesempatan menikmati semua wahana. Sungguh, Trans Studio begitu hari itu begitu menyenangkan. Belum pernah saya lihat adik saya seceria itu, rasanya tidak ada yang mau pulang. Suatu hari, saya harus bayar utang membawa adik saya kembali ke Trans Studio dan menikmati semua wahana.
***
5 tahun kemudian, tepatnya bulan Agustus lalu, saya kembali ke Trans Studio Theme Park, namun kali ini tidak bersama adik. Waktu itu kami dapat promo bulan Agustus, beli 1 tiket gratis 1 tiket untuk yang berulang tahun bulan Agustus. Tidak seperti terakhir kali ke sana, kali ini hanya dengan satu kali beli tiket, sudah bisa bermain di semua wahana. Asyik? Ini sih bukan asyik lagi namanya! Tapi super ultra great wonderful asyik! (Tyar norak deh).

Ada Alien Nyasar
Tidak banyak yang berubah selama 5 tahun ini, Trans Studio tetap menjadi taman bermain paling menyenangkan dan semakin menyenangkan. Sewaktu masuk, kakak-kakak yang menyambut dengan ceria persis seperti di awal-awal pembukaan Trans Studio sampai saat ini masih siap menyambut kami dengan ucapan selamat datang, dengan sama cerianya.

Susah untuk jadi tidak norak jika masuk Trans Studio. Maunya selalu mau mencoba semua hal yang baru maupun lama. Sebagai pemanasan, wahana boom-boom car menjadi pilihan pertama. Karena tadi saya sudah bilang susah untuk jadi tidak norak di Trans Studio, hal lain yang juga sulit adalah untuk ingat umur dan tidak jaim.

Seandainya kalian ada di sana, kalian bisa melihat cerianya orang-orang yang bermain boom-boom car, anak muda, mahasiswa, anak SMA, sampai pasangan yang sudah menikah mungkin belasan atau puluhan tahun dengan cerianya bermain boom-boom car. Berlomba memacu mobil dan saling menabrak satu sama lain. Suara mesin wahana rasanya tenggelam oleh suara tawa para pengunjung. Begitu permainan selesai, suara tawa masih terdengar.

Sayangnya boom-boom car tidak bisa dibawa pulang. Padahal mobil-mobilannya bagus, lumayan dipakai jalan-jalan di sekitar kompleks dan antar mamak ke pasar.

Target berikutnya: Jelajah. Lia, partner in crime saya hari itu sebenarnya takut main di wahana Jelajah karena takut menghadapi seluncuran terakhir itu. Dia takut sama yang tinggi-tinggi, untungnya, saya tidak tinggi *eh. Karena dia takut, maka saya suruh dia duduk di depan, supaya saya bisa melihat dan mendengar ekspresi ketakutannya dengan lebih jelas. Muehehe *ketawa alien*.

Orang di belakang itu sepertinya akan menemukan kru Trans yang hilang. Wajahnya serius begitu.
Karena Lia masih mengumpulkan nafasnya yang sempat hilang beberapa tarikan di wahana ini, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Baru juga satu wahana -____-"
Akhirnya kami memilih ke dunia sains, wahana yang sebenarnya lebih diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin bermain sambil belajar. Tapi dasar karena susah ingat umur, masuklah kami ke sana. Di dalamnya ternyata banyak hal-hal yang menarik.

Teori Evolusi Darwis: Tyar, Monyet, dan Seterusnya
Salah satu yang menarik adalah ruangan simulasi gempa bumi. Di dalamnya ada ibu-ibu yang istirahat santai sambil menunggu anaknya bermain. Saat itu sebenarnya di ruang simulator sedang terjadi gempa tapi beberapa ibu rumah tangga ini terlihat santai sampai ada yang main hape. Mungkin karena sudah terbiasa naik angkot, guncangan simulator gempa ini menjadi tidak ada apa-apanya.


Sekeluarnya dari dunia sains, kami melanjutkan perjalanan ke barat mencari kitab suci. Ehm, melanjutkan permainan di wahana selanjutnya: Dunia Lain alias rumah hantu. Dengan sok tahu dan sok berani, saya jalan di depan padahal sebenarnya juga takut. Yang paling menyeramkan di wahana ini adalah jalan masuk antriannya. Kita harus berjalan kaki terlebih dahulu beberapa saat sampai ke pintu antrian sambil ditemani lukisan-lukisan tua serta pernk-pernik antik ditambah lampu berwarna merah. Hampir saja saya pingsan sebelum mengantri.

Seusai mengantri, kami naik ke kereta tua dan menyeramkan. Jugijagijugijagijug - Kereta berangkat. Gerbang dunia lain terbuka dengan sendirinya lalu masuklah kereta ke sana. Untuk yang satu ini, saya tidak ingin membocorkan pada kalian ada apa di dalamnya supaya tetap menjadi kejutan. Yang pasti, jangan masuk ke wahana ini sendirian. Nanti penghuni dunia lain ini bukannya menakuti malah prihatin padamu yang datang sendiri.

Sulit pose sangar di background seunyu ini
Perjalanan di lanjutkan ke Dragon's Tower. Itu, permainan yang kita akan dinaikkan ke puncak menara lalu tiba-tiba dijatuhkan ke bawah dengan kecepatan tinggi. Iya, kurang lebih rasanya kayak di-PHP, eh taunya pas menyatakan cinta malah ditolak.

Dari bawah, saya melihat towernya tidak terlalu tinggi. Maka, dengan sok tahu saya mengajak Lia ke sana.

Di dalam, tepat di sebelah saya duduk seorang kakak yang membawa adiknya. Sulit menebak umurnya karena suasana di dalam tower yang gelap, namun mudah mendengar percakapan mereka waktu itu. Kau tahulah, tidak dibutuhkan cahaya untuk sekedar berbicara dan mendengar. Si adik yang perempuan rupanya takut dan menolak main wahana ini. Dengan santainya, si kakak mencoba meyakinkan adiknya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Awalnya adiknya merengek tidak mau. Saya? Saya diam saja di sebelahnya karena juga takut. Saya juga ingin dibujuk sih sebenarnya tapi malu. Kalau kalian ada di sana, kalian akan melihat si kakak dengan sabar meyakinkan adiknya itu, pelan-pelan dan hati-hati ia menaikkan adiknya ke kursi, memasangkan pengaman dan menenangkannya dengan mengatakan bahwa ini akan jadi pengalaman yang mengasyikkan. Adiknya diam kini. Mengangguk ia. Berpegangan kuat.

Jesh. Jesh. Jesh. Wahana mulai bergerak. Kakak di sebelah saya masih sibuk menenangkan adiknya. Dalam sejurus kami sudah berada paling atas, ya ampun orang di bawah kelihatan kecil sekali. Di tengah ketakutan kami itu, muncullah seorang penyihir di atas awan lewat TV menambah kesan mistis. Lalu syuuuuutttttt, wahana meluncur dengan bebas ke bawah. Aaa... Semua penumpang wahana berteriak dengan lantangnya, termasuk kakak dan adik yang duduk di samping saya. Saya? Saya cuma bisa melotot dan merapatkan gigi, dan dahi berkenyit. Tidak mampu berteriak. Serius.

Setelah turun dari wahana, semua tertawa dengan riangnya. Sementara itu si adik sudah tersenyum. Tugas kakaknya sudah selesai. Sedangkan pada saat bersamaan, isi perut saya belum benar-benar kembali ke posisinya semula, barangkali letak usus besar dan lambung sudah tertukar karena dijatuhkan dengan kecepatan tinggi.

Dragon's Tower. Apapun yang kalian pikirkan, saya tidak sedang menangis
Hari sudah siang, pertunjukkan bioskop 4 dimensi sudah akan dimulai. Buru-buru kami ke sana. Hari itu, kami kebagian film Avengers, film pendek dengan efek 4 dimensi. Kursi yang bergerak-gerak ditambah efek air yang nyata. Sayangnya di pemutaran pertama, kami belum bisa menonton karena rupanya kursi yang kami pilih sedang bermasalah. Tidak rusak, hanya saja guncangannya tidak penuh. Kakak petugas sudah meminta dengan ramah penonton lain untuk berbagi kursi, mengisi kursi yang masih sebenarnya masih kosong namun orang yang diminta tidak mau pindah. Akhirnya kami mengalah untuk tidak menonton dulu di pemutaran pertama ini. Marah? Tidak. kamu tidak bisa marah di tempat seceria Trans Studio. Toh masih ada pemutaran selanjutnya.

Captain Amerika Bagian Barat dan Thor. Impian jadi superhero sebentar lagi terwujud
Sungguh, tidak lengkap rasanya main ke Trans Studio jika kamu tidak menonton drama musikalnya. Pertunjukan kali ini berjudul I Basse Goes To Bollywood. Tentang seorang perempuan Makassar yang bertemu kembali dengan kekasihnya di negeri India. Sungguh, pertunjukan ini mengubah pandangan saya pada Trans Studio selamanya. Iyah, lebaynya Tyar mulai lagi.

Berpose gaya standar
Trans Studio mungkin sebuah taman bermain yang menyenangkan bagi semua orang dengan segala wahana moderennya. Di pertunjukan ini saya melihat anak-anak muda Makassar menari, bernyanyi, dan beratraksi dengan warna Bollywood campur Makassar. Di pertunjukan ini, saya tidak hanya melihat anak-anak muda yang kreatif dan ceria tapi juga merasa begitu terhubung dengan budayanya. Sesekali terdengar candaan dengan bahasa dan dialek Makassar yang membuat kami terpingkal-pingkal.

Performernya yang mana?
Saya masih terkagum-kagum bahkan setelah keluar dari ruang pertunjukan. Selama ini saya mengira Trans Studio adalah tempat yang moderen dan hedonis, rupanya di dalamnya ada integrasi moderenisme dan budaya tradisional yang lekat. Tidak sampai situ seakan memang sengaja untuk menantang pikiran itu, tiba-tiba panggung tengah mendadak ramai.

Sebuah pertunjukan bertemakan petualangan Si Bolang membawa pengunjung berkeliling nusantara lewat tarian tradisional akan segera berlangsung. Mula-mula dibawanya kami ke Sumatera, lalu ke Kalimantan, Ke Jawa, Bali, mampir sebentar di Sulawesi dengan baju bodo yang merah menyala dan gerobak pisang epe', lalu terakhir ke ujung timur negeri ini di tanah Papua. Tarian-tarian dengan gerak dan musik yang mistik berpadu dengan warna-warni lampu dan keceriaan. Duar! Kurang keren apa coba'?

Dua pertunjukan tadi benar-benar menghubungkan bukan hanya antara satu pengunjung dengan pengunjung lain, atau antara performer dengan pengunjung, bahkan menghubungkan kami semua dengan budaya, baik pengunjung dari Makassar atau luar Makassar. Kebudayaan, hal yang menurut banyak orang sudah mulai terlupakan ternyata mendapat tempat yang istimewa di Trans Studio. Hal ini sekaligus memberi angin segar dan optimisme. Suatu hari, mungkin suatu hari jika seluruh perusahaan besar memberi ruang yang besar bagi kebudayaan tradisional seperti yang dilakukan oleh Trans Studio, anak-anak muda Makassar tidak akan melupakan budayanya. Makassar mungkin saja menjadi kota kreatif berikutnya.

Bisa saja waktu itu tidak akan lama lagi, belakangan ini Makassar ramai oleh kegiatan komunitas-komunitas kreatif. Terakhir kali saya mengecek terdapat paling sedikit 75 komunitas di Makassar. Tumbuhnya komunitas kreatif ini tidak lepas dari peranan media sosial di internet yang menghubungkan kecintaan mereka pada dasar komunitas masing-masing. Sebut saja komunitas Makassar Berkebun atau Komunitas Blogger Anging Mammiri. Harapan lain kepada Trans Studio memberikan ruang yang besar pula terhadap komunitas-komunitas ini. Main ke Trans Studio semakin ramai semakin seru. Promo diskon komunitas bolehlah. Bukan tidak mungkin suatu hari akan ada komunitas Fans Trans Studio. Toh siapa tahu, Trans Studio bisa tumbuh lebih besar lagi bersama Komunitas Makassar sendiri.

Melihat peran Trans Studio menghubungkan moderenisme, pengunjung, dan budayanya, saya jadi ingat dulu waktu kuliah saya menulis tugas akhir bentuk integrasi antara moderenitas teknologi informasi dengan budaya tradisional yang dilakukan komunitas Lontara Project. Apa? Kalian kaget? Kalian kaget kalau saya juga pernah kuliah? Teknologi informasi dan komunikasi akan terus bergerak maju, bukan sebaliknya. Apabila digunakan dengan baik, hal ini sebenarnya menjadi potensi untuk menghubungkan jangankan orang dengan orang, bahkan juga menghubungkan orang-orang dengan budayanya, bukan hanya menjauhkan anak-anak muda dari budayanya seperti yang selama ini kita takutkan.

Ngomong-ngomong soal media sosial, sampai sekarang, saya masih sering berhubungan dengan teman-teman yang saya temui melalui Friendster.com pada tahun 2008 lalu. Apabila dipergunakan dengan baik, teknologi informasi akan menghubungkan kita dengan cara yang mungkin tidak pernah kita kira sebelumnya. Promo beli 1 tiket gratis 1 tiket di Trans Studio ini pun kami temukan lewat media sosial di internet. Lumayan kan?

Dunia semakin sempit, mereka yang menguasai teknologi informasi akan maju selangkah. Tidak hanya komunitas yang menjamur dan semakin tumbuh besar berkat teknologi. Usaha-usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga mengalami pertumbuhan yang sama. Berhubungan dengan konsumen di manapun berada tidak pernah semudah ini. Langkah Trans Studio menyelenggarakan lomba blog ini juga keren dan patut diacungi jempol. Dengan banyaknya blog yang membahas Trans Studio Makassar dan Trans Studio Mall, calon pengunjung akan lebih mudah mendapatkan informasi dan terhubung dengan Trans Studio.

Kita jangan takut, teknologi informasi dan komunikasi tidak selalu berakibat buruk, namun juga jangan bergantung padanya. Bagaimanapun juga, teknologi memang dibuat untuk memudahkan. Meski begitu, ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Secanggih apapun dalam menghubungkan, teknologi tidak akan menggantikan peran seorang pacar yang menenangkan untuk naik bianglala, atau saling menenangkan ketika main wahana dunia lain yang menyeramkan, juga tidak akan menggantikan kesenangan nyata bersama suami atau isteri yang berboncengan dengan boom boom car, saling tabrak menabrak dengan bahagia melupakan umur dan masalah masing-masing, teknologi tidak akan menggantikan seorang kakak yang menenangkan adiknya ketika ingin main di wahana Dragon's Tower, tidak akan menggantikannya untuk menaikkannya ke kursi, mengancingkan pengaman, dan berteriak keras dan lepas bersama ketika wahana melesat turun dengan kencang lalu naik kembali. Teknologi, sampai kapanpun tidak akan menggantikan genggaman tangan bapak dan mamak dengan tangan kecil putra-putrinya yang ingin terus berlarian mencoba semua wahana di taman bermain. Trans Studio, sadar atau tidak telah menjadi penghubung yang begitu menyenangkan bagi semua hal itu.

Trans Studio bagi saya bukan hanya sekedar wahana bermain, lebih dari itu Trans Studio telah menjadi penghungung bagi banyak hal. Trans Studio benar-benar menghubungkan saya dan adik yang waktu itu tidak begitu dekat. Mafhum, sejak adik perempuan saya itu lahir, kami tidak lagi pernah ke taman bermain. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya hingga tulisan ini diterbitkan, saya dan adik berkunjung ke taman bermain. Trans Studio juga menghubungkan kami dengan pengunjung lain yang tidak saling kenal namun tetap bersenang-senang bersama, penghubung antara masyarakat Makassar dan luar Makassar, penghubung masyarakat dengan budayanya, dan yang paling menyenangkan bagi diri saya sebagai penghubung antara saya dan kenangan masa kecil bersama bapak dan mamak yang sudah tidak mungkin bisa diulang lagi. Nostalgia bianglala - Nostalgia yang kekanak-kanakan. Hubungan yang telah naik tingkat menjadi ikatan.

Secara pribadi, saya berharap Trans Studio terus hidup dan berkembang bersama Makassar. Trans Studio telah menjadi ikon kebanggaan bersama dan semoga tetap seperti itu. Terimakasih, Trans Studio Mall dan Trans Studio Theme Park Makassar.

Ada dua tempat yang selalu saya senang datangi. Bangunan sekolah dan taman bermain.
***
Tulisan ini diikutserakan pada lomba Blog "Connected" Trans Studio Makassar dan Komunitas Blogger Anging Mammiri.


Salam dari Bianglala dan Juara Moto GP :)

11 comments

  1. Wahh keren ya, sa waktu ke Makassar tida sempat ksana. :'( semoga lain waktu bisa dtang ke Trans Studio. :D

    Menarik judul skripsinya, emang teknologi kayak pisau, kalo digunakan dengan baik bisa untuk memotong daging, ikan. Tapi kalo digunain untuk negatif ya bisa melukai orang lain bahkan diri sendiri. :D

    Menurut gue juga, modernitas yang digabungin dengan budaya tradisional adalah konsep baru mengenalkan budaya ke anak-anak zaman skarang yang apa2 serba modern. Jadi gak salah sih.. Asalkan digunain dengan baik. :D

    Gudlak yoo.. Ewako Makassar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oalah ditunggu balik ke Makassarnya lagi kalau gitu, Rick. Haha. Yoi, menurut gue kita jangan takut tapi juga jangan bergantung sama teknologi, sederhana diseimbangkan gitu lah.

      Ewakooo....

      Delete
  2. Trans Studio emang keren nih..
    Kapan2 harus bisa mampir.

    btw, yg kasur paku itu, aku pernah liat juga di taman pintar Jogja :D
    kalo si Bolang ada di trans studio, masih ada juga di tipi gak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha, ada juga ya di sana?
      Kapan-kapan harus mampir ih..

      Kalau Bolang kayaknya masih ada deh, aku masih sering nonton meskipun ujung-ujungnya ketiduran soalnya mainnya pas siang udah gitu damai banget acaranya jadilah aku ketiduran haha.

      Delete
  3. kasur pakunya sudah coba belom,,, itu beneran apa nggak ya.. wah, kapan lagi ya dapat kesempatan ke TSM,,, ?

    ReplyDelete
  4. Hahahah ibu di simulator gempa jagoan abis. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Bro.. Jangan remehkan kekuatan ibu-ibu...

      Delete
  5. Duh maaf .. saya ngikik baca yang ini:

    Begitulah pertama kali saya ke Trans Studio, ditraktir oleh adik perempuan yang beda umur 9 tahun. Hina. Hina sekali.

    Hihihihi

    Adik yang baik .. mengajarkan kakaknya tentang kegigihan, menabung, dan kecerdasan finansial ;)

    Salam kenal yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, sampai itu adikku entah mau mengajari kakaknya ini atau malah menyinggung sebenarnya.

      Salam kenal, Kak :)

      Delete
  6. Btw terimakasih doa dukungannya, teman-teman.
    Postingan ini jadi salah satu postingan favorit. Belum bisa jadi juara tapi sudah senang sekali. Mohon doanya (lagi) biar bisa terus berkembang lebih baik lagi.

    Regards - Adityar.

    ReplyDelete