Coto Paraikatte yang Mengundang Rindu dan Kenangan #Tsaaahhhh

Lapar yang bersamaan menyababkan saya dan Rahman, teman seposko saya di lokasi KKN sepakat untuk makan secara berjamaah juga. Jadilah kami berboncengan dengan sepeda motor menyusuri jalan di desa Salo Dua, suara knalpot sepeda motor berpadu dengan indah dengan suara lolongan anjing kepada kami menambah indah malam itu.

Tinggal di kampung yang jauh dari rumah berarti kita juga harus menyesuaikan diri dengan apapun yang ada di sana: lingkungannya, orang-orangnya, udaranya, cuacanya, dan pasti – makanannya. Sungguh perihal makanan ini telah menghantui pikiran saya jauh hari sebelum KKN dimulai. Saya adalah salah satu dari sekian banyak lelaki yang senang memilih-milih makanan, dan nafsu makan yang sering naik turun.

Sebagai orang yang lama tinggal di kota, menyesuaikan diri dengan makanan di desa bukanlah prahara yang mudah. Beberapa hari, nafsu makan saya turun. Barulah setelah beberapa hari kondisinya membaik. Syukurlah makanan di desa tempat tinggal sementara saya ini makanannya tidak terlalu buruk. Saya masih bisa makan banyak, meskipun  pilihan makanan di sini tidak se-variatif yang biasa kita temui di kota. Dan Oh, di kampung ini Cuma ada satu buah warung makan, itupun Cuma menyediakan bakso, gado-gado, dan nasi goreng.

 “Gado-gado masih ada, Mas?”, begitu sampai di warung yang dimaksud, saya langsung memesan. Lapar sudah tidak bisa lagi ditoleransi.
“Wah, gado-gado habis!”, Ah. Mas, Tahukah Kamu jawabanmu itu baru saja membuatku kecewa.
“Nasi goreng sajalah kalau begitu. Kamu, Rahman? Pesan apa?”
“Nasi goreng juga”. Gila, kami kompak sekali.

Nasi goreng datanglah juga. Setelah lama kami menunggu, setelah lama obrolan dan gosip yang lelaki. Kami makan juga akhirnya, nasi goreng yang harganya hampir dua kali lipat dari yang biasa kami makan di sekitaran kampus. Tapi, oh. Kami sedang lapar. Kami makan sampai kenyang, seungguhpun sejujurnya rasanya tidak terlalu istimewa, tapi kami harus tetap bayar. Mempertanggungjawabkan yang telah kami pesan.

“Mas, kok gado-gadonya cepat habis?”, saya protes seolah-olah pedagang yang dagangannya habis itu buruk.
“Iya, Mas. Hehehe”. Masnya senyum.
Saya serahkan uang pecahan lima puluh ribu rupiah, dikembalikannya sepecah dua puluh ribu dan sepecah lagi sepuluh ribu rupiah.
Kami pamit pulang.
Mas pedagang tidak melarang, sungguh lelaki yang ramah.
Kami pamit pulang. Sampai kembali ke posko dengan kenyang. Kenyang yang disengaja.

“Tyar, dari mana?!”, saya kenal suara itu, itu suara Cia, teman seposko saya juga. Perempuan dia, bisa dilihat dari rambutnya yang panjang lagi lurus.
“Habis makan, sama Rahman”. Saya jawab, pendek saja.
“Kenapa tidak bilang-bilang?”, Cia Protes. Aduhai, Cia, mengapa untuk mau makan saja, Kami harus bilang-bilang dulu? Kami harus bilang apa? Bilang “wow” gitu?!
“Kalau tahu mau makan tadi ‘kan kita bisa nitip!”. Aduhai, sekarang saya sadar, ternyata bukan Cuma saya dan Rahman saja yang tadi lapar, tetapi juga Cia, tapi juga teman-teman posko yang lain.
Jadi juga kami kembali ke warung makan tadi. Dengan maksud membelikan makan untuk mereka yang lapar di posko.
“Mas, kita balik lagi, Mas!”. Seandainya Kalian bisa melihat, bukan Cuma Mas Pemilik warung saja yang kaget, tapi juga orang yang tadi melihat kami makan di sana, dan masih ada di sana waktu kami kembali.
“Ini, Mas. Uang kembalian yang tadi Mas Kasih, nomor serinya kurang bagus!”, kata saya. Bermaksud ngawur. Rahman ketawa, Mas-nya tidak.
“Pesan dua bakso lagi, Mas. Dibungkus”. Sebab pembeli adalah raja, Mas-nya membuatkan pesanan saya.
“Kali ini nomor serinya harus bagus, Mas!” kata saya  sambil menyerahkan lagi selembar lima puluh ribuan. Dikembalikan dalam bentuk selembar lagi dua puluh ribu, dan selembarnya lagi sepuluh ribu rupiah. Saya cek dulu nomor serinya.
“Oh iya, sudah bagus, Mas ini nomor serinya. Makasih, Mas. Kami duluan!”. Akhirnya Mas-nya senyum. Kami pulang. Ke posko.
Kemudian kami pulang. Sepeda motor melaju dengan pelan. Melewati turunan, melewati lapangan sepakbola, melewati kantor desa, melewati puskesmas pembantu. Meskipun sudah kenyang, rasanya masih ada yang kurang. Saya sedang rindu makanan favorit saya, saya sedang rindu coto Makassar.
***
Sungguh makanan adalah sesuatu yang ajaib. Makanan telah ada sejak manusia pertama lahir, dan mengalami perkembangan jenis, bentuk, dan rasa yang sebegitu rupa. Makanan telah menjadi sebuah interpretasi budaya, kebiasaan, adat, religi, dan kepercayaan. Lain ladang, lain belalang, lain lubuk, lain makanannya. Ini saya ngomong apa sih?

Satu bulan di kampung orang membuat saya merindukan makanan favorit saya, coto Makassar. Sungguh. Aduhai coto Makassar itu, menurut saya adalah olahan daging yang paling enak dan sedap. Itu kuahnya yang kental, itu daun bawangnya, itu bawang gorengnya, itu perasan jeruk nipisnya, itu aroma yang menyeruak segala rupa rempah-rempah di dalamnya, itu potongan dagingnya yang empuk, itu semuanya.

Sampai Habis Dua Porsi
Makan coto bukanlah perihal main-main, makan coto adalah perihal makan-makan.  Saya lupa kapan kali pertama saya menikmati makanan berkuah ini, tapi saya akan selalu ingat rasa dan aromanya yang khas. Jika setiap laki-laki memiliki makanan favorit, milik saya adalah coto, dan jika setiap lelaki memilki warung makan langganan, maka milik saya adalah warung Coto Paraikatte.

Tidak usahlah saya jelaskan secara rinci perihal Warung Coto Paraikatte sebab saya juga tidak tahu menahu. Yang saya tahu soal Coto Paraikatte adalah mereka menyediakan coto Makassar yang menurut saya sangat enak rasanya. Dan oh, “Paraikatte” itu adalah bahasa Makassar, yang jika boleh sok tahu, artinya adalah “Kita Bersama”.

Untuk kalian yang ingin menikmati dan bingung menentukan mau makan di warung mana, saya rekomendasikan Warung Coto Paraikatte yang terletak di jalan A.P Pettarani, Makassar. Kalian boleh datang ke sana jika mau, boleh juga tidak. Sebab toh, ini hanya rekomendasi, tetapi oh, sayang sekali jika kalian bertandang ke Makassar namun tidak sempat bertandang ke sana. Ini, biar kalian tidak kesasar, bisa lihat peta yang dipersembahkan oleh streetdirectory. (Bisa juga dilihat di Widget Sebelah Kiri Blog Ini)


Untuk Kalian yang belum pernah makan coto Makassar, ini boleh saya kasih tips. Tips yang boleh kalian lakukan, boleh juga tidak, ‘toh ini hanya tips.
  1. Jangan kaget dengan porsinya. Coto Makassar biasanya disajikan dalam sebuah mangkok kecil, kurang lebih ukurannya setengah dari mangkok biasa. Jadi tidak jarang, jika ada orang yang bisa menghabiskan hingga tiga porsi. Saya sendiri biasanya menghabiskan satu porsi saja. Paling banyak dua.
  2. Jangan ragu waktu memilih. Di warung yang sudah jelas-jelas warung coto dan Cuma menyediakan coto, pelayannya masih akan tetap menanyakan, “Mau pesan apa?”. Jangan panik dan buru-buru kayang, maksudnya pelayan tersebut menanyakan coto yang bagaimana yang kita suka, dan bagian daging mana yang kita mau. Misalnya, “Campur (biasanya lengkap), campur tidak pakai hati, daging to’ (daging saja), paru, pipi (iya, pipi), lidah, lemak, dan jantung”. Saya pribadi senang bagian paru, pipi, dan jantung, rasanya empuk dan unik. Jangan ragu untuk memilih, misalnya “Lidah, jantung, daging” atau “daging sama paru”. Saya dan teman saya bahkan pernah memesan, “pantat sebelah kanan dan jempol”, yang tentu saja tidak ada. Dan Oh, juga jangan kecewa jika bagian yang kita pesan sudah habis. Oh, mafhum saja. Pelanggan tak Cuma kita.
  3. Panggil pelayannya jika kamu dicueki, apalagi jika sedang ramai. Biasanya karena sibuk melayani pengunjung, pelayan tidak sempat melihat pengunjung lain yang baru datang. Karena itu, jika dalam tiga menit Anda tidak dilayani, tidak usah telepon polisi, cukup panggil pelayannya.
  4. Jangan Ge’er. Iya, jangan Ge’er sama pelayan. Sebab itu pelayan akan memanggil kita dengan panggilan yang agak gombal. Misalnya, “Pesan apa, Cowok?”, atau “Sudah pesan, Cewek?”. Aduhai, karena yang datang dan pelanggan adalah kebanyakan orang Makassar, mereka biasanya tidak memanggil dengan “Mas” atau “Mbak”, melainkan “Cowok” atau “Cewek”.  Begitu pula saat memangggil pelayannya, pelayan yang cewek biasanya cukup dipanggil “cewek”, dan pelayan yang laki-laki biasanya dipanggil, “Bos”. Iya. “Bos”. Tidak ada alasan khusus untuk ini, Cuma memang dari dulu sudah seperti itu.
  5. Masih lapar? Nambah, soal poin ini, saya kira cukup jelas.
  6. Jangan makan pakai tangan, pakailah sendok. Ingat, coto adalah makanan berkuah. Kamu pasti tidak ingin terlihat bodoh jika memakannya dengan tangan.
  7. Jangan makan coto ketika sedang puasa. Minimal, tunggulah waktu berbuka.
  8. Jangan memakan coto milik pelanggan lain, apalagi pelanggan yang tidak dikenal.
  9. Makanlah dengan penuh “table manner” jika ingin enak, “table manner” yang paling sesuai ketika makan coto adalah, makan sambil kaki kanan diangkat naik ke kursi. Aih, dengan posisi makan seperti ini, tingkat kenikmatannya akan meningkat 17 derajat. Ini adalah “table manner” paling sesuai. Meski begitu, Jangan berlebihan mengangkat kakinya, misalnya kaki diangkat naik sampai ke meja pelanggan lain.
  10. Sebelum saya lupa, teman makan coto yang paling umum adalah ketupat. Tips khusus buat kalian, jika kalian masih lapar tapi tidak punya cukup uang, daripada menambah satu porsi lagi, cukup minta tambah kuah saja, kuahnya gratis. Lalu tambah ketupatnya. Lumayan untuk mengirit. Jika mau lebih irit lagi, cariah warung coto yang menggratiskan ketupatnya. Mau tahu di mana? Kontak saya saja, di twitter @planetyar (promosi, Bos?)
  11. Jangan khawatir soal harga. Harga coto sangat variatif tergantung tingkat popularitas warungnya, paling murah ada yang Rp 6,000,- paling mahal kalau tidak salah Rp. 12.000,-. Ketupatnya seribu rupiah sebiji.
  12. Jangan makan piringnya, selapar apapun kalian.
Aduh, daripada semakin kacau, ada baiknya tulisan ini saya sudahi saja. Yang pasti, Makanan itu magis, dari makanan bisa tumbuh kenangan. Makan di mana, dengan siapa, makan apa, kenangan apapun itu. Tidak sedikit dari kita yang mungkin pernah jadian sama pacar di warung makan (Ciyee... itu yang senyum itu kayaknya iya deh), kita juga mungkin pernah bertengkar di warung makan, punya kenangan sama mantan, sama isteri, sama keluarga, sama sahabat, sama teman SMA, sama teman SMP, sama teman SD, sama teman kampus, sampai paling extreme cinta lokasi sama pelayannya.

Kenangan itu akan terus muncul dan jelas. Di warung ini, di bangku urutan ini. Kita akan selalu melihat diri kita di sana, dengan tawa yang renyah dan mungkin air mata yang semakin jelas dan lahir kembali, lalu masuk ke dalam hati, bersamaan dengan sesendok makanan yang masuk ke dalam diri. Menjadi energi, lalu menunggu kita untuk pulang sekali lagi.

Ibho Net, Maroangin, Kabupaten Enrekang
Sejam sebelum buka puasa, 30 Juli 2012
Diikutkan dalam Lomba Menulis Artikel oleh Streetdirectory

8 comments

  1. Ah jadi semakin penasaran dengan rasa coto Makassar, saya belum pernah sekalipun makan coto :(, memang Indonesia penuh dengan ragam kuliner :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau belum coba coto Makassar mah rugiiii

      Delete
    2. Apakah sebegitu enaknya? jadi makin penasaran.

      Delete
  2. Berkunjung dan mengucapkan terimakasih banyak atas partispasi di Lounge Event Blogger Tempat Makan Favorit BPI .

    Tetap semangat, salam bahagia dan sukses selalu
    Info Pemenang Tempat Makan Favorit


    Salam
    Blogger Plus Indonesia (BPI)

    ReplyDelete
  3. tips makan coto nya bikin ngakak....

    ReplyDelete
  4. gaya bahasanya enak....

    ReplyDelete