Ikhwal Kuliah Pekan ke Enam Public Relations

Lihatlah saya di sana, berjalan dengan kaki menyentuh permukaan tanah, di koridor Fisip Unhas yang pagi itu lengang, sepi sekali. Sepi karena tidak ada gajah atau mobil ambulans.

Maka saya yang kemarin datang kepagian menunggu kuliah sendirian saja, teman-teman yang lain belum pada datang. Mungkin masih pada mandi, pada makan, pada buang air besar, pada sibuk dengan urusan masing-masing. Saya tidak.

Penantian yang lama.
Masih menanti.
Dosen datang.
Ke ruang kuliah.
Saya ikut.

Saya duduk di bangku paling belakang karena saya pemalu. Dosen tidak mau tahu, saya disuruh ke depan, hampir di dekatnya, alasannya karena saya yang ketua kelas. Harus selalu terdepan mungkin. Maka saya, berjalan ke sana, ke dekatnya.

"Kenapa pakai baju begitu?" Ini dosen yang mengajak bicara. Setengah senyum.
Saya bingung dan oh, sejurus kemudian sadar, saya lupa mengenakan kemeja.
"Kamu keluar dulu, cari kemeja! Kalau sudah dapat baru masuk!" Kata dosen, sambil tertawa. Saya senyum. Lalu keluar tapi pamitan dulu.
"Saya keluar dulu, Pak". Dosen tidak menjawab.

Jadi saya bingung mau cari kemeja di mana. Ke distrokah? Oh, jangan. Di sana harus beli, tidak boleh pinjam. Maka saya mencari keliling-keliling Fisip sambil asik kebingungan.
Lalu di sana ada Gery, yang namanya mirip merek wafer coklat. Mendatangi saya, meminta tanda tangan, namun bukan karena dia ngefans, tapi karena perintah seniornya untuk mengumpulkan tanda tangan senior-senior yang ada di sana. Gery pakai kemeja, namun beberapa menit kemudian tidak.
Kemejanya sudah melekat erat di badan saya.

Maka saya yang sudah dapat kemeja sekarang senang, tapi juga tidak karena tidak bikin tugas. Jadilah saya mengirimkan pesan singkat, yang anak muda sering menyebutnya SMS kepada beberapa orang teman, tujuannya untuk sekedar tahu, kalau-kalau tugasnya diminta dosen, saya tidak udah masuk. Nanti malah disuruh keluar lagi.

Tapi kalau kalian ada di sana, kalian akan marah-marah sendiri karena jaringan, sinyal, atau apapun kalian menyebutnya seperti mahal sekali. SMS saya tidak bisa terkirim. Jadinya saya menunggu di sana disertai harap-harap cemas, seperti bapak yang menunggu isterinya - melahirkan.
Lalu penantian saya sia-sia. SMS itu tidak juga terkirim.

Akhirnya saya memutuskan masuk kembali ke kelas, mengenakan kemeja. Tampan, tampan sekali. Rapi, rapi sekali. Tapi yang tampan dan rapi itu bukan saya, tapi senior yang juga kebetulan berjalan di samping saya ikut masuk ke dalam kelas, memanggil dosen, untuk menguji di ujian meja. Saya senang. Mahasiswa yang lain juga senang, yang sebentar lagi ujian meja tidak.

Adityar
Makassar, 4 Oktober 2011
Habis makan Indomie.

2 comments

  1. hha.. luar biasa skali mmg ini temanku satu..
    tapi ndag terlalu ngemerka sebenarnya akhir kisahnya...

    "tampan..tampan...skali...rapi..rapi skalii...tapi bukan saya ! *gubrak*!

    ReplyDelete