Noktah Sang Alvidha

Kingdom: Animalia - Ordo: Mamalia
Adapula Alvidha, kawanku dari Kingdom Animalia. Suatu pagi dia jatuh hati. Hatinya terjatuh pada seorang laki-laki, atau paling tidak dari luar dia seperti laki-laki. Dalamnya? Entahlah. Saya pun tidak mau memeriksanya. Saya merasa tidak berselera. Lelaki itu, lelaki berukuran panjang itu adalah angkatan Alvidha sendiri yang juga berarti teman angkatan ku juga. Cinta itu, Kawan, kadang dicari jauh-jauh ternyata ada di dekat kita, dekat sekali. Serupa hidung – dan upilnya.

Be wild or be forgotten
Terpikat dan terikatlah mereka berdua dalam ikatan cinta, tapi belum menikah. Aneh. Mereka berdua, di zamanku disebut pacaran. Zaman dulu pun disebut pacaran, pada zaman kau membaca tulisan ini, Kawan, mungkin istilahnya masih pacaran juga. Dan seperti setiap orang yang berpacaran, AC 2pk pun terasa masih terasa hangat. Hangat dari dalam hati masing-masing oleh cinta yang kadang berkembang lebih besar daripada ukuran hati itu sendiri.

Paling tidak itulah yang dirasakan Alvidha. Masa-masa indah. Seperti di SMA. Bedanya kali ini seragam putih abu-abu diganti dengan kemeja yang rapi, celana jins, dan sepatu yang anggun. Adapula pacarnya, gagah. Paling tidak itu yang dipikirkan Alvidha, karena menurut saya, pacarnya itu biasa-biasa saja! Serius! Tapi bukankah cinta yang menyebabkan cantik dan gagah?

Love can make you feel beautiful
Seperty Rianty
Namun seperti sungai yang berujung di muara, kadang kala sungainya kering terlebih dulu – sebelum bermuara. Begitupula hubungan abstrak semacam itu, ada kala bermuara pada nokta merah perkawinan, namun sering pula putus. Iya, putus cukup sampai di situ. Itulah yang dirasakan keduanya yang tidak bisa saling mempertahankan ke muaranya. Hubungan itu menguap dan kering. Tanpa sempat terisi kembali.

Kini Alvidha meringis bingas. Diisinya blog dan twitternya dengan keluhan tentang hati yang terpotong dua – padahal hati itu masih ada di dadanya berfungsi menetralisir racun dengan baik. Hanya perasaannya saja yang seperti itu. Kawan, tidak usahlah kuutarakan bagaimana perasaan Alvidha pada saat itu. Suatu saat kau akan mengerti seiring berjalannya waktu. Tunggu saja giliranmu. Ketika itu terjadi, Kawan. Pikiranmu sendirilah yang menuntun untuk bersikap apa.

Dan bagian manakah yang jelek? Kawan, banyak persahabatan yang berujung pada cinta – namun cinta jarang sekali berujung pada persahabatan. Katakan-lah, dua orang yang pernah berpacaran, ketika putus keduanya menjadi musuh besar. Sayangnya, Alvidha adalah orang yang berkesempatan merasakan itu.

Dua orang itu, Alvidha dan mantan kekasihnya itu. Masih kuliah, di satu jurusan yang sama. Jadi, mau atau tidak mau, setiap hari mereka bertemu entah di mata kuliah Dasar-dasar Jurnalistik hingga ke Bahasa Inggris II. Hati Alvidha perih, tapi itulah resikonya. Seharusnya dia memikirkan konsekuensi hubungan itu - pacaran dengan orang satu jurusan – sebelum dia memulainya. Setiap hari, hampir niscaya akan bertemu. Pahit dan manis biarlah momen yang menentukan.

Sesungguhnya saya pun adalah saksi, Alvidha yang semenjak semester satu menyukai sosok lelaki tinggi tidak kekar itu. Saya menjadi saksi betapa Alvidha mengaguminya karena Alvidha memang gemar bercurhat dengan saya baik pada saat kuliah di mata kuliah Sistem Hukum Indonesia maupun pada mata
kuliah lainnya. Oh, namun saya tidak paham apa yang dirasakannya. Toh, ketika jatuh cinta hanya kamu saja yang merasakannya. Saya hanya menjadi saksi betapa lama Alvidha menanti cintanya itu. Tapi sungguh, ini bukan tentang berapa lama kita menunggu, tapi sekuat apa kita mempertahankan.

Kini Alvidha bersedih, dan saya tidak suka Alvidha bersedih. Kalau bersedih dia kelihatan sangat jelek, seperti bakpao yang tidak masak. Beda halnya kalau tersenyum, meski masih seperti bakpao, dia kelihatan cantik. Iya, dan saya tidak bohong. Hingga saat inipun, saya akhirnya sampai pada suatu kesimpulan yang dramatis, jatuh cinta membuatmu cantik dan putus cinta – bisa membuatmu sebaliknya. Fabolous.
Selamat putus cinta, Alvidha. Sebenci apapun kamu dengan mantan lelaki mu itu, ingatlah. Lelaki itu, pernah-sekali-mengisi relung hatimu.

(Ditulis dalam rangka permintaan Alvidha Septianingrum, Pemilik Blog Kehidupan Alstrojo)

7 comments

  1. yang sabar yah Pipi..
    Cinta itu BUTA..
    :D :P

    ReplyDelete
  2. kodong, sabar kak alvidha :)

    kak tyar, nda' mauki bikinkanka juga postingan begini tntg saya dan Adly Fayruz ? :(

    ReplyDelete
  3. kodong, kakak astronot ku'. banyak ji kaos kakinya nunucumi kak bisa kita gigit2 kalo galau ki'.. hehe :D

    ReplyDelete
  4. yang ini mo saya : "Tapi bukankah cinta yang menyebabkan cantik dan gagah?" hahahahaha

    mantap tiar

    ReplyDelete
  5. mestinya gambar2nya di spoiler Thiar. Terutama gambar terakhir...

    *peace

    ReplyDelete