(Jejeng) Terperangah Di Komputer City

Tadi saya (Tyar. Red. *masa' afgan?!* J-A-Y-U-S) jalan-jalan ke toko Computer City loh! Dan karena terbilang baru dua kali dalam dua puluh tahun belakangan saya ke sana, alhasil saya tidak tahu kita musti parkir di mana. Yup, I'm a kind of kampungan. Akhirnya saya numpang parkir di depan kantor polisi trus cabut ke dalam Toko (saya menyebutnya toko, bukan kota sebagaimana namanya Computer City)

Okeh, (karena I'm a kind of kampungan like i said) saya tidak tahu di mana tempat barang yang saya cari. Oh iya, saya lagi nyari gamepad buat mengisi liburan dengan main game. But sometimes reality is just too far away from your wish. Di dalam saya kaget, ternyata agak ramai. Jalan sedikit saja sudah ditawari bergantian, "Cari apa ki'?!", "Cari apa, Mas?!", "Cari apa, Dek?!" yang membuat saya tidak nyaman. Risih. Bukan, mereka tidak salah. Saya yang salah tidak menyukai. Dengan langkah yang dipercepat saya meninggalkan para penjaga toko yang berusaha ramah tersebut.

Pas nemu barang barang yang saya cari, saya juga tidak jadi beli. Selain karena harganya yang cukup mahal (untuk mahasiswa yang belum perpenghasilan sendiri), juga karena keadaan counter yang cukup ramai yang membuat saya merasa ingin cepat-cepat beranjak dari sana. Yup again, I'm a kind of kampungan and I don't like crowd so much. Sebenarnya di sana tidak terlalu ramai, biasa saja dengan orang-orang berpakaian stylish sambil duduk nongkrong di pinggir counter dan pinggir koridor (atau apalah namanya). Jadi otomatis kalau jalan, saya akan lewat persis di tengah-tengah seperti tamu yang disambut pagar ayu dan pagar bagus. Risih.

Ngomong-ngomong soal keramaian, sebenarnya saya tidak membenci keramaian. Saya bisa saja menikmatinya selama tidak ada orang tidak dikenal yang mengajak saya bicara dan membiarkan saya melakukan apa saja yang saya suka (yang tentu saja tidak mengganggu mereka juga). Just leave me alone and thank you.

Mungkin hanya selama sepuluh menit saya berada di dalam. Setelah itu kabur sambil berkata dalam hati, "I wish i can be a little bit sanguinic. Haha"

Untuk penjaga counter yang berusaha ramah, maaf saya bahkan tidak melihat mata kalian dan membalas senyuman kalian.

No comments