Ada Tongeng - Kebiasaan Komunikasi Denotatif Orang Lise



Hey, Aliens. Postingan ini akan sangat berbeda dengan postingan yang biasanya ditulis di blog ini. Sebenarnya ditulis sebagai tugas mata kuliah Komunikasi Antarbudaya tempo hari. Diposting di sini karena saya juga berpikir untuk menulis hal-hal yang berbau culture di blog ini.

Disclaimer:
Informasi yang saya bagikan adalah berdasarkan pengalaman pribadi sehingga bisa saja salah.
***
ADA TONGENG - KEBIASAAN KOMUNIKASI DENOTATIF ORANG LISE
Tentang Saya
Nama saya Tyar. Saya datang dari Desa Lise di Kabupaten Sidenreng Rappang, sebuah desa yang berjarak lebih kurang 190 km dari kota Makassar. Desa ini dapat dengan mudah diakses dengan melalui 5 jam perjalanan darat dari Makassar, sebab letaknya cukup dekat dengan jalan poros menuju Kabupaten Soppeng didukung akses aspal yang baik.
Ibu saya mengajar sebagai guru SD di pagi hingga siang hari lalu merangkap bertani di siang hingga sore hari. Ayah saya seorang Sarjana Ekonomi yang juga bekerja sebagai petani. Desa yang dihuni oleh 800 – 900 kepala keluarga ini memang sebagian besar menggantungkan hidupnya sebagai petani beras atau peternak ayam petelur.

Rumah Orang Lise
Saya dibesarkan di tengah masyarakat Bugis beragama Islam. Rumah kami di kampung adalah sebuah rumah panggung yang secara umum terdiri dari 3 bagian (tingkatan). Tingkatan terbawah bernama rebbang, sebuah kolong di bawah rumah yang umumnya difungsikan sebagai gudang tempat menyimpan barang-barang pendukung aktifitas ekonomi seperti peralatan pertanian, pupuk, kandang ayam dan bebek, kendaraan, serta traktor pembajak sawah.

Tingkatan kedua adalah tingkatan tengah rumah. Bisa dibilang, di tingkatan inilah seluruh aktifitas keluarga berpusat. Di badan rumah ini, kami menerima tamu, menonton televisi di ruang keluarga, memasak, makan, dan tidur. Di belakang ruang keluarga ada dapur dan ruang makan dengan meja kecil setinggi lutut yang difungsikan sebagai meja makan tanpa kursi. Di desa ini, penduduknya terbiasa makan dengan duduk di lantai mengelilingi meja kecil atau nampan.

Di ruang makan, ada sebuah tangga yang membawa ke bagian teratas (loteng) rumah. Rakkeyang orang di kampung kami menyebutnya. Di sana, kami biasa menyimpan padi hasil panen. Saat mengerjakan skripsi tahun 2013 lalu, saya baru tahu bahwa rakkeyang ini dianggap sebagai singgasana Sangiang Serri, dewi padi yang mengatur kesuburan tanah dan panen dalam tradisi lisan La Galigo.

Tiga tingkatan rumah ini menjadi semacam blueprint arsitektur rumah di kampung kami. Struktur rumah tiga tingkatan ini mengingatkan saya dengan dengan tiga struktur dunia penyusun makrokosmos dalam epos La Galigo yaitu dunia bawah atau dunia laut (Buri’ Liu’) dihuni dewa-dewa dunia bawah yang dipimpin oleh Guru Ri Selle’ bersama isterinya Sinau’ Toja, dunia tengah (Alé lino/Alé kawa’) yang dihuni oleh manusia, dan dunia atas (Botting langi’) dihuni oleh dewa-dewa di kerajaan langit yang dipimpin oleh dewa tertinggi Datu Patoto’é bersama isterinya Datu Palinge.

Struktur Rumah Orang Bugis pada Umumnya
Dalam tradisi lisan La Galigo, orang-orang Bugis kuno memercayai bahwa kebahagiaan dan ketenangan dapat dicapai apabila manusia dapat menjaga keseimbangan antara 3 tingkatan dunia yang menyusun makrokosmos.

Kebiasaan Berkomunikasi Orang Lise
Barangkali kisah yang paling terkenal soal kebiasaan komunikasi orang Lise adalah kisah antara seorang pendatang dan seorang petani Lise. Suatu ketika, seseorang dari desa sebelah hendak menuju Desa Lise, karena ia tidak tahu arah yang harus dituju, ia memutuskan untuk bertanya kepada seorang petani yang kebetulan ditemuinya. Petani tersebut sedang mengeluarkan air dari sawahnya dengan menggunakan pallimpa, alat semacam ember.

“Hai, Pallimpa. Di manakah jalan menuju Desa Lise?”, tanya pendatang tersebut kepada si petani. Di luar ekspektasi penanya, si petani yang ditanya tidak merespon pertanyaannya dan melanjutkan aktifitas mallimpa-nya.

“Hai, Pallimpa. Di manakah jalan menuju Desa Lise?”, si pendatang mengulang pertanyaannya, kali ini dengan suara yang lebih keras. Nihil. Petani yang ditanyai masih tidak menanggapi pertanyaannya dan terus mallimpa.

Akibatnya, si penanya marah dan memaki pallimpa. Melihat si penanya ini marah, petani pun akhirnya merespon dengan marah pula. Anehnya, ia tidak marah kepada si penanya, melainkan kepada ember yang digunakannya. Ia membanting ember yang digunakan sembari memaki, “Dasar pallimpa (ember), kenapa diam? Gara-gara kau diam saja, jadi saya yang dimarahi!”.

Sebenarnya, jawaban yang diberikan oleh petani Lise sebenarnya tidak salah. Si penanya memang secara tekstual bertanya kepada pallimpa, yang dalam pengetahuan orang Lise, adalah ember yang digunakannya, bukan padanya.

Hal ini mengingatkan saya sewaktu sepupu saya datang dari Makassar ke Lise. Suatu hari, ia mendengar bunyi lenting dari mangkok tanda penjual bakso keliling. Dengan bersemangat, ia berteriak memanggil, “Bakso!” yang ditujukan kepada penjual bakso agar penjual bakso keliling tersebut berhenti. Teman-teman saya yang kebetulan berada di sana kontan tertawa. Menurut pemahaman mereka, sepupu saya baru saja memanggil bakso yang dijual, mana mungkin bakso yang benda mati ini bisa membalas sahutan?

Menurut pemahaman orang Lise, cara yang benar untuk memanggil penjual bakso adalah dengan panggilan, “pabbalu’ basso” yang berarti penjual bakso. Hal ini terulang kembali ketika sepupu saya ini memanggil penjual es manis keliling dengan panggilan, “Es”. Menurut orang Lise, hal ini juga keliru sebab yang dipanggil adalah “es”-nya, bukan penjual es-nya.

Hal ini menjadi hambatan ketika saya baru beradaptasi di Makassar dan masih begitu terpengaruh dengan frame of reference saya sebagai orang Lise. Salah satunya adalah ketika teman saya bertanya, “Apa kamu lihat di mana rumahnya Budi?”.
Dengan refleks, saya menjawab, “Tidak”. Maksud saya, saya memang tidak melihat rumah Budi. Tapi saya tahu persis letak rumah Budi tapi saya tidak melihatnya dari sana.
“Tidak kuliat rumahnya Budi, tapi ku tau ji tempatnya”. Jawab saya waktu itu, lengkap.

Secara pasti, saya tidak tahu dari mana kebiasaan tersebut muncul. Kebiasaan berkomunikasi itu muncul begitu saja dan sudah menjadi semacam stereotip terhadap orang Lise. Yang menjadi hambatan adalah ketika prejudice tersebut membuat orang-orang menjadi takut berinteraksi dengan orang Lise, takut diperdaya lebih tepatnya.

Pertiwi Ningsih (2000) menuliskan pola komunikasi orang Lise sebagai Ada Tongeng – yakni, menggunakan bahasa/kata sesuai dengan makna aslinya. Nama Desa Lise sendiri pun diyakini berasal dari bahasa Bugis Malise, yang artinya berisi, yang biasa pula digunakan untuk menggambarkan penduduknya sebagai orang-orang berisi, berisi dalam berbahasa lebih spesifiknya. Orang Lise terbiasa mempergunakan bahasa sesuai dengan arti sebenarnya dari kata/kalimat tersebut. Dapat diasumsikan bahwa orang-orang Lise begitu teliti pada komunikasi yang tekstual.
***
REFERENSI
Pertiwiningsih, Esti. 2000. Fungsi Ada Tongeng Analisis Wacana Lisan To Lise. Tesis Pascasarjana Unhas. Makassar.

12 comments

  1. Alhamdulillah tulisan yang sangat berfaedah ya akhi.. Kau tampak sangat berbeda di tulisan ini.. kaukah ituuu~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mmmmm anu, mmmm postingan ini pake jasa ghost writer hahaha

      Delete
  2. Menarik untuk mempelajari tentang arsitektur rumah bugis ini, termasuk falsafah jumlah tiang dan tanpa menggunakan paku.
    Mungkin nenek moyang orang Lise seorang ahli bahasa. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iye, kak arsitektur rumah orang Bugis memang menarik dipelajari. Hahaha iye ini nenek moyangnya orang Lise harus dicari dan dimintai penjelasannya kenapa na begitu semua orang-orangnya :D

      Delete
  3. Oow.. makkoro tongeng pale tau lise' di'.. nappaku iya' pahang i..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iye, puang makkoro kurang lebih

      Delete
  4. Rumah temenku di makassar juga masih ada yang kaya gini. Dulu jaman tinggal ke Makassar aku masih kuper jarang traveluing ke desa2. Yang udah pernah kukunjungi paling ya Malino sama Pare-Pare doang. Kangenku dehhh sama Makassar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah kak Rahmi sayangnya cuma sempat jalan-jalan ke sana padahal kalau di Makassar bisa ke beberapa tempat wisata (ya meskipun berjauhan sih di luar kota semua). Etapi pare-pare dan malino juga kerenlah. Semoga ada kesempatan buat jalan-jalan ke Makassar lagi, kak :)

      Delete
  5. Bukan ji endorse pariwisata ke Desa Lise ini, kak? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha pigi mi ke sana liat sawah nda ada lain yang bisa di-endorse-kan

      Delete
  6. Sidrap itu yang dekat Soppeng kan? Rumahnya nenekku di soppeng, rata-rata rumah panggung. Adem liat rumah begituan, tapi ntah kenapa walau sudah berapa kali berkunjung kesana, kakiku tetap gemetaran tiap naik tangganya rumah-rumah panggung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iyaa, yang berbatasan sama Soppeng.

      Iya nah, pasti bergetar kalau melangkah naik ke tangga rumah panggung :D

      Delete