Bulukumba, Kota Sejuta Pantai - Part 1: Tebing Apparalang

Sudah sering sekali saya mendengar cerita orang tentang Pantai Bara, satu dari sekian banyak pantai di Kabupaten Bulukumba. Sayangnya di usia yang sudah lewat seperempat abad ini saya belum pernah ke sana. Maka, ketika ada ajakan untuk camping di sana oleh teman-teman, saya tanpa pikir panjang lagi langsung mengiyakan.

Kami berangkat meninggalkan Makassar pukul empat sore. Cukup kesorean memang, kami berangkat menuju Kabupaten yang lebih kurang berjarak 200 km dari Makassar itu dengan berboncengan motor. Selain karena gampang dan bebas macet, tentu saja karena lebih irit. Keluar kota dengan mengendarai sepeda motor memang memiliki sensasi tersendiri, cukup pastikan motor yang anda kendarai adalah motor yang diperoleh dengan cara yang sah sesuai hukum alias bukan curian.

Perjalanan hari itu lancar tanpa ada kendala, meski agak menyeramkan. Pasalnya, lewat jam delapan malam jalan antarkabupaten Jeneponto dengan Bantaeng yang kami lewati memang terkenal sepi dan gelap. Tidak ada satu pun lampu jalan, di kiri kanan hanya ada sawah dan satu dua gardu yang sudah ditinggal pulang pemiliknya. Gelap, sunyi, dan sepi kayak hati yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Saya yang berada pada posisi dibonceng tidak berhenti melihat ke belakang dan tidak mendapati ada satu pun kendaraan selain tiga sepeda motor rombongan kami.

Barulah ketika sampai di pintu gerbang Kabupaten Bantaeng kami mendapati peradaban. Kami memutuskan singgah ke pantai Seruni untuk beristirahat dan menjamak shalat Maghrib dan Isya. Itupun setelah berdebat mau shalat Maghrib dulu atau Isya dulu. Terima kasih, Google telah menjawab pertanyaan kami.

Kontras dengan perjalanan tadi yang gelap lagi sepi, Pantai Seruni saat malam adalah pemandangan yang berbeda. Lampu-lampu yang terang berpendar di permukaan laut yang tenang. Suara laut sesekali berganti dengan tawa anak-anak muda yang sedang nongkrong cantik. Ada satu dua kafe di sana, parkiran rapi, teratur, dan yang pasti gratis. Cantik, berkilau, dan bersih adalah tiga kata yang saya pilih untuk menggambarkan Pantai Seruni.

Swafoto di Pantai Seruni. Sorry tidak ada foto di pantai lantaran gelap
Hampir pukul sembilan malam baru kami meninggalkan Pantai Seruni melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul setengah sebelas, kami sampai di rumah keluarga Adit untuk bermalam. Pagi-pagi setelah mengisi perut dan semua perangkat elektronik, kami berangkat.

Tujuan pertama kami adalah Tebing Apparalang. Daerah wisata yang lebih kurang 45 menit perjalanan dari jalan besar. Bertempat di Desa Ara, Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Akses jalan yang kami lewati terbuat dari kebun yang dibuka kemudian ditutupi dengan kerikil dan paving block sehingga cukup mudah bagi sepeda motor maupun mobil untuk melaluinya. Ada satu dua tanjakan tapi masih mampu dilalui dengan mudah. Mau bawa delman juga gapapa, bebas. Dari pasir dan bebatuan di samping jalan, kami menyimpulkan bahwa jalanan ini masih dalam masa perbaikan.

Apparalang, Tebing yang Megah nan Jemawa
Harga Tiket: Rp. 5.000,- perorang
Biaya Parkir: Rp. 5000,- permotor
Biaya berkemah (boleh menginap): Rp. 25.000,- pertenda

Pintu Masuk Apparalang
Untuk masuk ke tebing Apparalang, kita melewati sebuah jembatan kecil yang dikelilingi oleh pepohonan bak gerbang alami. Pengunjung tinggal mengikuti jembatan dan jalan setapak untuk sampai ke tebing Apparalang: Tebing yang megah nan jumawa.

Sampai langsung cekrek
Tidak ada cara yang lebih mewah untuk menyambut kedatangan para pengunjung selain sajian langit biru dan cahaya matahari memantul di permukaan air laut yang jernih hingga ke dasarnya menciptakan gradasi warna hijau toska dan biru tua yang sempurna. Sungguh, tidak ada satupun yang mampu menahan godaan untuk segera mengeluarkan kamera lalu cekrek dan pamer ke social media ya ndak?

Megahnya Tebing Apparalang
Tebing Apparalang menjulang tinggi dari permukaan laut berwarna kehijauan di bawahnya yang memberi kesan megah, mewah, jemawa nan congkak. Ia seolah memamerkan semua keindahan yang ia punya untuk kita nikmati sepenuhnya.

Pembatas di sisi tebing
Namun Aliens tolong tetap waspada dan berhati-hati saat berada di pinggir tebing terutama saat mengambil foto, pasalnya pengaman di sisi tebing ini hanya pagar kayu untuk sekadar membatasi. Harap jangan teledor apalagi bersandar, dan yang membawa anak kecil untuk tetap memegang anaknya. Penting ya, untuk para orangtua untuk tidak teledor, alih-alih foto untuk dipamer ke socmed, keselamatan anak jadi terabaikan. Buat yang belum punya anak apalagi pasangan, ngapain ke Apparalang? Ke KUA woi!

Bikin stok foto Instagram dulu, sis
Untuk para jomblo yang sedang berusaha PDKT sama gebetan, ini adalah spot paling sempurna untuk menyatakan cinta. Selain tempatnya romantis, kamu juga akan diuntungkan dengan kondisi geografis dan struktur tebing. Skenarionya begini:

Kamu (yang sudah setahun di-friendzone): Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.
Dia (yang sering curhat soal gebetannya yang bukan kamu): Ngomong apa?
Kamu: Kita kan udah lama deket, sering jalan bareng, sering antar-jemput ke mana-mana tapi tidak pernah dibeliin bensin. Aku udah kenal kamu, kamu juga udah kenal aku.
Dia: (diam dia bergeming)
Kamu: (sambil mengeluarkan bunga yang sudah kamu siapkan sebelumnya) Kamu mau ga jadian sama aku? Kalau kamu mau, aku akan membahagiakan kamu. Kalau kamu ga mau, aku akan dorong kamu ke bawah.

Naluri bertahan hidupnya akan membuat dia menerima cintamu.

Puas menikmati tebing Apparalang dari atas, kami bergerak ke bawah untuk mengenalnya lebih dalam. Dengan pemandangan seindah ini, dijamin terik matahari sepanas apapun tidak akan menghilangkan sedikitpun semangatmu untuk meng-explore-nya lebih jauh.

Ada semacam dermaga untuk pengunjung yang ingin berenang
Ada sebuah apa ya namanya, pokoknya semacam dermaga kecil yang disiapkan untuk pengunjung yang ingin berenang. Sayangnya, saya tidak bisa berenang sehingga tidak bisa bersentuhan dengan air laut jernih berwarna toska ini huhu :(

Adit dan Rahmat berenang di jernihnya pantai Apparalang
Sebenarnya, di sana disediakan pelampung untuk para pengunjung yang tidak bisa - tapi mau berenang. Namun saya memilih untuk tetap kering saja hari itu, barulah sampai rumah saya menyesal. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Nah, untuk yang ingin sedikit menantang adrenalin. Di ujung dermaga kecil ini, ada papan untuk mereka yang ingin terjun bebas ke laut. Tidak terlalu tinggi, lebih kurang lima sampai sepuluh meterlah, tapi sudah cukup menantang.

Rahmat terjun bebas
Tingkat popularitas Apparalang mencapai puncaknya pada tahun 2015, thanks to social media. Hari itu, tidak satu dua pengunjung yang elo-gue sama teman-temannya yang berarti mereka adalah pengunjung dari luar Sulawesi. Beda sama kami yang saya-kita' (kata ganti orang kedua/anda dalam versi sopan dalam dialek Bugis Makassar) alias pengunjung interlokalan. Menurut kepala dusun yang juga merangkap sebagai pengelola lokasi wisata Apparalang ini, popularitas Apparalang memang sudah terdengar seantero negeri. Di beberapa kesempatan, beberapa artis papan atas biasa datang ke sini untuk berwisata.

Matahari sudah semakin meninggi tepat di atas kepala. Dengan berat hati kami meninggalkan keindahan Apparalang yang benar kata orang, adalah surga para pecinta pantai. Megah tebingnya, semilir anginnya, jernih airnya seolah menghipnotis para pengunjungnya untuk kembali lagi ke sana lain waktu. Nah, bagi kalian yang punya rencana ke Sulawesi Selatan, bolehlah Apparalang mengisi tujuan perjalanan.

Sampai jumpa lain waktu, Tebing Apparalang

12 comments

  1. Alhamdulillah saya sebagai artis papan atas sudah ke Appalarang juga tahun 2015. Sudah lama ya.. saking lamanya sekarang tumbuh mi tawwa kayu2 yang bisa kelihatan kokoh itu tapi tetap dak bisa diandalkan untuk bersandar. Sama dengan cowo yang keliatan gagah tapi ternyata na kasi ki saingan sesa... lalalalalalala.. nyebur aja deh dari papan. Mumpung saya artis papan atas. Sering bawa papan di bagasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha jadi kak vita ini sebenarnya artis papan atau bisnis meubel sebenarnya? Iya kodong baru ka' ke sana merasa kurang gaul akunya, kak.
      Hahaha hati-hati sama cowok gagah sekarang, kak. Biasanya jalannya dengan sesama cowok gagah. Tapi ini bagus untuk kami, saingan kami berkurang.

      Delete
  2. Masih mau foto-foto yg kereeen..ahhh gatal tanganku mau motret jg hiks ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa ayok jadwalkan jalan-jalan yuks moto-moto kece (baca: narsis)

      Delete
  3. dari awal muncul apparalang sampe sekarang, alhamdulillah belum pernah kesana. sedih sih gak tapi iri lihat foto-foto yang sudah datang kesana. fix saya bombe ki karena sudah pergi kesana tidak ajak-ajak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha maafkan aku, bim. Siapa suruh pergi makan burger nda ajak-ajak juga *masih dibahas*

      Delete
  4. Wah, skenario "kamu dan dia" sepertinya bisa dipraktikkan kak 😂
    Btw,saya orang Bululumba tapi baru sekali bisa ke sana hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus dipraktekkan, tapi risiko tanggung sendiri haha. Dehh enaknya punya kampung yang keren dan banyak pantainya :(

      Delete
  5. INI BLOG LO KOK JADI MAKIN KEREN! *iri tingkat dewa*

    Eh itu sumpah jernih gitu ya warnannay. Liat di ig aja udah ngiler. Hahaha. Cupu ih gak nyebur! *padahal ga bisa berenang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh harus keren doong
      *kibas poni*
      *kutu dan organisme lain beterbangan*

      Hahaha ngatain orang dia sendiri ga bisa berenang. Yaudah, renang di kolam baby yuk?

      Delete
  6. Mantap... Pantainya keren banget... Kapan ya aku bisa ke sono... Liat laut birunya yang bening langsung mupeng :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha mudah-mudahan ada kesempatan bisa main ke sini, bang :D

      Delete