DING!



Di Makassar sekarang sedang jam empat pagi dan saya baru saja selesai menunaikan ritual mengalirkan air. Mafhum saja, air mengalir di perumahan ini memang kayak paket internet midnight alias baru mau mengalir lepas tengah malam. Barulah pada musim penghujan airnya melimpah, saking melimpahnya bisa sampai ke ruang tamu, bahkan kadang-kadang sampai ke dapur. Banjir paling parah adalah tahun 2012, tinggi air mencapai dada.

Lah ini kenapa jadi curhat?

Ya sudah, karena sudah diawali sama curhat. Saya mau lanjut curhat boleh ya?

Beberapa hari yang lalu, saya menegur si pacar gara-garanya doski selalu asyik Whatsapp-an sama teman-temannya. Kok bisa? Kok bisa saya punya pacar?!

Ehm.

Bukan! Bukan karena posesif, makanya dengar dulu! Teguran itu karena belakangan ini saya jadi merasa terganggu karena itu terjadi setiap kali kami ketemu. Kami cuma ketemu seminggu sekali, yaitu di akhir pekan ketika saya menjemput doski pulang dari kantor, singgah ke warung makan, lalu mengantarnya pulang ke rumah. Sejak doski pindah ke pekerjaan yang baru (yang kantornya cukup jauh bin lembur setiap hari) dan saya mulai disibukkan dengan prahara tugas akhir, intensitas pertemuan kami memang jadi menurun.

Masalahnya muncul gara-gara di pertemuan yang menurun itu, kualitasnya juga jadi tidak asyik gara-gara doski selalu sama hapenya sendiri, Whatsapp-an sama orang lain. Meninggalkan saya sendirian menghitung butir-butir nasi di piring. Frekuensi kami mengobrol dalam satu pertemuan bisa dihitung jari, itupun kalau kami sedang mengobrol dan hapenya berbunyi lagi, doski akan dengan lincah mengambil hapenya, lalu asyik sendiri lagi. Kadang-kadang juga ketika saya sedang asyik bercerita, doski sering tidak menanggapi gara-gara ternyata sedari tadi menunduk serius ke hapenya. Ditanggapi sih, tapi dengan pertanyaan, "Ngomong apa tadi?".
Berdua, tapi tidak benar-benar berdua.
Ini juga pasti pernah kalian alami dalam berbagai konteks hubungan. Dalam pertemanan misalnya, ketika nongkrong, yang ada di atas meja bukan cuma beberapa cangkir kopi dan camilan, tapi juga beberapa merek handphone. Bersiap ketika bunyi notifikasi itu datang. Atau ketika berkaraoke, sambil menunggu giliran nyanyi, biasanya masing-masing akan memainkan hapenya sendiri. Chatting dengan yang jauh, lupa sama yang dekat. Ga asyik ya? Satu notifikasi kecil berbunyi DING bisa mengganggu pertemuan yang sudah lama direncanakan.

Saya pribadi mulai membiasakan tidak mengeluarkan hape ketika sedang bersama orang lain. Toh kalau ada yang penting, yang bersangkutan juga pasti bakal nelpon. Itupun kalau ada yang nelpon, paling juga nomor yang salah sambung. Ga asyik banget pokoknya kalau sudah semangat keluar dari rumah niatnya mau melepas rindu sampe tumpah-tumpah, pada kenyataannya berakhir dengan hape di masing-masing tangan.

Sebagai introvert yang cepat lelah di keramaian, saya harus memastikan bahwa setiap pertemuan itu benar-benar bermakna.

Pada akhirnya, kita jadi merindukan pertemuan yang lepas dan berkualitas. Kita jadi merindukan 30 menit pembicaraan yang akrab dibanding 2 jam yang diam-diaman. Pada akhirnya pula kita setuju tatap muka dengan tawa yang menguap di udara jauh lebih menyenangkan daripada teks LOL, LMAO, ROTFL, wkwkwkwk, lengkap sama sticker-stickernya.

DING!

No comments