(+Video) Kampung di Balik Gunung Kapur: Berlibur ke Rammang-Rammang



Malam pergantian tahun baru tempo hari, langit Indonesia identik oleh tiga hal: satu kembang api, dua hujan yang tidak kunjung berhenti, dan tiga - duka penonton setia Anak Jalanan yang telah ditinggal Boy.

Oh iya, bagaimana malam tahun baruan kalian?
Kalau saya, malam tahun baruan itu benar-benar meriah dan pecah hingga bikin lupa dunia. Saya menghabiskan malam pergantian tahun baru di... rumah.

Sama keluarga.

Kami berkumpul sambil menikmati opor ayam dan beberapa ikat buras. Iya, itu adalah perayaan tahun baruan rasa malam lebaran. Untung saja pagi itu saya tidak keterusan ke lapangan untuk gelar sajadah.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas pagi ketika kami sudah di perjalanan menuju tempat wisata Rammang-Rammang. Ini adalah kesempatan kedua saya yang pernah gagal menemukan bidadari di sana.

Baca: A Planet Day Out - Mencari Bidadari

Jika waktu pertama kali kami agak kesusahan menemukan Rammang-Rammang, hari itu sudah cukup mudah. Berbekal ingatan saya soal jalan dan arah yang lebih sering bermasalah serta papan petunjuk, tidak sulit bagi kami untuk menemukannya.

Dermaga 1 (Dermaga Perintis) Rammang-Rammang

Untuk sampai ke desa di balik gunung kapur itu, kami harus menyewa sebuah perahu sebab itu adalah satu-satunya akses ke sana. Awalnya, saya ingin membawa perahu sendiri supaya tidak perlu menyewa. Sayangnya, saya tidak punya.

Transportasi sekaligus wahana

Untuk menumpang perahu menuju desa itu, kita perlu menyewa perahu sekaligus pengemudinya seharga Rp. 200.000,- hingga Rp. 300.000,- bergantung dari jumlah penumpangnya.

Price List Terbaru Perahu Rammang-Rammang per Januari 2017

Rupanya, hari itu Rammang-Rammang sangat ramai oleh wisatawan. Wow, ternyata Rammang-Rammang sudah lebih populer dibandingkan yang dulu. Hm... Jangan-jangan mereka adalah rombongan pencari bidadari.

Mereka yang lapar
Rammang-Rammang memang selalu bisa jadi alternatif rehat dari bisingnya kota Makassar. Kampung yang hanya dihuni oleh belasan keluarga ini benar-benar asri, damai, dan hijau. Tetapi dari segala keindahan dan kedamaian itu, apakah mereka tahu kalau Indonesia baru saja kehilangan Boy?

Foto kalian bagus ya? Saya iya kodong siapa foto ka'?
Seperti biasa, saya didaulat jadi mamang-mamang foto. Hal itu berarti, teman-teman saya akan punya banyak foto, dan saya tidak. Sekian dan terima kasih.

Rammang-rammang sekarang ada cottagenya
Rupanya, sekarang Rammang-Rammang sudah jauh lebih gaul dan banyak fasilitasnya. Di dalamnya sudah ada cafe dan cottage.

Cafe Puncak Rammang-Rammang
Kami baru saja hendak melanjutkan foto-foto di cafe puncak, lalu turun hujan dengan indahnya. Padahal, kami sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh - ditambah saya hampir jatuh dengan elegan ke empang gara-gara diserempet mobil di pinggir jalan. Aduh, hati-hatilah dalam mengemudi. Seorang pemuda tampan ini hampir saja menjadi korban.

Berperahu menuju matahari terbenam
Sore sudah beranjak senja saat kami beranjak pulang. Meskipun sudah dua kali ke Rammang-Rammang, tetap saja saya excited.

Dan oh, di tengah perjalanan itu, saya sempat video ala-ala travel vlog sih, nonton yah. Namun saya mengingatkan karena suara narasi saya agak-agak syahdu dan mematikan.


Dan oh, ini adalah video travelling pertama saya dan semoga bukan yang terakhir, sebab sebenarnya sudah cukup lama juga saya ingin membuat konten-konten video untuk mendukung blog ini. Yang kayak beginian terhitung vlog atau bukan sih? Dan yang paling penting - apakah kalian suka? Let me know in the comment box below - jangan lupa like, comment, and subsribe. Behikkk...

Btw selamat tahun baru, Aliens. Apa resolusi kalian tahun ini?

1 comment

  1. cottages nya lucu kakaaaaaakkkk...
    Kenapa gasekalian liburannya mendaki gunung kapur biar lebih mantep kak? Heheheheh

    ReplyDelete