Aku Bukan Penculik


Suasana malam perkemahan selalu sama dari tahun ke tahun. Selalu yang terdengar adalah semilir angin lepas petang yang menggesek dedadunan, menyebabkan satu dua daunnya jatuh ke atas tenda lalu tergelincir ke tanah, kadang-kadang jatuh tepat di atas kening kami yang sedang tidur-tiduran di bawahnya.

Kadang pula yang terdengar adalah suara canda anak-anak yang bergurau mengelilingi api unggun. Atau gemercik kayu bakar yang pecah dimakan lidah api. Menyebabkan mereka kaget, lalu tertawa lagi. Begitu terus, begitu berulang-ulang. Suasana malam perkemahan memang selalu tenang.

Tapi tidak malam itu.

Suara riuh anak-anak peserta perkemahan yang kami dampingi memecah ketenangan. Mereka lari ke arah kami bersamaan.
"Kak, Cita, Kak!", salah seorang dari mereka melapor setengah berteriak.
"Iya Cita kenapa?", saya menimpali dengan suara tenang dibuat-buat.
"Cita ngambek mau pulang!!! Itu di pinggir jalan lagi nunggu angkot!", katanya sambil menunjuk seorang anak perempuan dengan ransel besar di bahunya.

"HA? JAM SEGINI? KOK BISA?", panik sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Waktu malam itu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Seorang anak perempuan kelas 1 SMP ngambek mau pulang sendiri naik angkot. Kalaupun tidak kenapa-kenapa di jalan, bagaimana nanti reaksi orangtuanya di rumah melihat anak perempuannya pulang sendirian dari lokasi perkemahan.

Kami para pendamping kontan berhambur. Berlari begitu kencang hingga akhirnya sampai ke Cita. Ada bekas air mata di pipinya.
"Cita mau ke mana?", kami basa basi.
Belum lagi terjawab, sebuah angkot berhenti tepat di depan kami. Tanpa bicara, Cita langsung naik ke angkot yang di dalamnya ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak. Gawat. Cita ngambeknya serius.

"Mat, ambil motor. Ikuti angkotnya dari belakang!", saya menyeru kepada Rahmat yang juga ada di situ. Dia bergerak cepat ke parkiran. Saya, dengan sok cekatannya langsung ikut naik ke angkot Cita. Saya tidak tahu, ada horor yang sedang mengintai.

Tepat ketika saya sudah duduk di kursi bagian belakang, Cita langsung nangis sejadi-jadinya. Iya, nangis! Iya, sejadi-jadinya!

"KAKAK KENAPA IKUT?!". Teriaknya. Lalu kau tahu, kakinya menghentak-hentak ke lantai angkot. Seluruh penumpang angkot, plus supirnya spontan memandangi saya dengan penuh rasa curiga. Seorang pemuda berambut panjang, sweater yang belum dicuci, dan jins berlumpur di pangkal kakinya sedang mengikuti anak kecil. Dan anak kecilnya menangis.

Saya makin panik, tidak bisa menyembunyikan tangan yang sudah gemetaran bak gempa bumi hebat baru saja menghentak dunia, yang sumber getarannya adalah badan saya.

Saya berusaha tenang sambil menelepon Rara, satu-satunya pendamping perempuan Cita selama di lokasi perkemahan untuk membantu mengatasi ke-ambek-an yang tidak jelas asal usulnya ini. Nihil, dia tidak bisa ke mana-mana malam ini karena harus mengajar privat matematika di rumah siswanya. Motor Rahmat juga tidak terlihat di belakang angkot. Saya benar-benar sendirian.

Sementara itu, Cita terus terisak-isak. Ia duduk di depan pintu angkot. Satu dua kali penumpang dan supir bergantian melihat saya yang terus mengawasi Cita.

Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Cita akhirnya menyetop angkot. Itu di jalan Abd. Dg. Sirua, di samping kanal aliran PAM, di dekat SMP 8 Makassar. Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih sedikit. Jalan raya tidak terlalu ramai. Di pinggir jalan ada satu mobil pick up milik penjual langsat (duku) yang terparkir.

Cita turun, saya ikut turun. Penumpang tidak, tapi saya bisa merasakan mata mereka tidak lepas dari langkah saya. Seusai membayar angkot, Cita berjalan cepat, seolah ingin kabur dari orang yang mengikutinya.

Tidak ada rencana di kepala saya kecuali  mengikuti saja Cita ke mana dia pergi. Saya berusaha menyeimbangi langkah cita yang semakin cepat. Dari jauh, kami terlihat seperti adegan video klip Menghapus Jejakmu, bedanya kali ini Dian Sastro sedang diintai oleh penculik yang berniat jahat.

Sejurus kemudian Cita berbalik ke saya. Dan dengan satu tarikan nafas panjang dia bilang, "KALAU KAKAK MASIH IKUT, AKU TERIAK!!!"

Gubrak.

Saya tertegun. Langkah kaki saya langsung bergenti. Keringat turun bercucuran. Seketika terbayang di kepala saya soal berita yang ramai di-share di Facebook tempo hari, tentang seorang pemuda yang hampir mati dikeroyok massa karena dikira penculik, padahal bukan.

"Ya Tuhan, beginikah caraMu memanggilku?"

Bapak penjual langsat rupanya terus mengawasi. Terbayang semua hal-hal indah yang pernah saya alami muncul bersamaan, seolah-olah memang itulah akhir dari semuanya. Bercampur dengan impian-impian yang belum bisa saya raih: menjadi sarjana, beli rumah, juga menyatakan cinta sama Jessica Vania JKT48.

"BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, SAYA BUKAN PENCULIK! SAYA PENDAMPING ANAK INI SELAMA DI LOKASI PERKEMAHAN, DIA TIBA-TIBA MAU PULANG TIDAK TAHU KENAPA. SAYA CUMA MAU MENGANTAR SAMPAI RUMAH!", skenario itu mulai tersusun kalau-kalau Cita jadi teriak dan massa jadi berkumpul mengepung.

Belum selesai skenario itu, Cita menyeberang jalan lalu naik lagi ke angkot. Semua berulang, saya ikut naik lagi. Dan iya, penumpang dan supir angkot baru itu lagi-lagi mencurigai saya. Berulang. Kecuali Cita sekarang diam.

Saya baru sadar kalau ini angkot dengan jurusan yang sama dengan yang tadi. Bedanya, ini trayek sebaliknya. Aduh Cita kamu mau ke mana sebenarnya?

Angkot berbelok ke arah Tello, lalu Perintis Kemerdekaan, masuk kampus Unhas yang sepi lagi gelap jika malam, lalu keluar lagi di Perintis. Kami kembali ke lokasi perkemahan di salah satu sekolah depan kampus.
"Kiri", Cita memberi instruksi kepada supir angkot untuk berhenti. Lalu turun dari angkot. Saya ikut. Tanpa kata, Cita kembali ke tenda.

***

Saya tidak lagi ketemu Cita dalam waktu dekat setelah itu. Beberapa bulan setelahnya, ketika datang lagi ke sekolahnya, saya melihat dia sedang latihan bikin tandu sama teman-temannya. Dia kelihatan ceria, sesekali tertawa. Saya pikir dia sudah melupakan kejadian tempo hari.

Sampai kemudian mata kami bertemu, dia menatap saya agak lama, lalu dengan suara yang pelan dia bilang, "Kakak mirip Lu Han".
Lalu dia pergi.

Makassar, menjelang akhir 2012.

13 comments

  1. Hwahahahaha sampe googlingka siapa itu Lu Han astagaa tyar ceritamuuu :")))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. True story, Sis. Bemana? Mirip ndak sama Lu Han?

      Delete
  2. Wkwkwkwk kak ty =))

    Cita, sini kakak ajar cara ngambek yang sempurna dan kaburnya menuju kampung halaman :') #pengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha itu sudah level ngambek kelas atas kalau sampe kampung halaman, Nu. Ayo bikin tutorial ngambeknya!

      Delete
  3. Lu Hn siapa anjir. :)))
    Rusuh banget sih kalo jadi lo tapi. Semuanya serba salah. Muahahaha. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lo ga tau Lu Han? Ih parah banget sama...
      Habis itu juga gue langsung googling siapa Lu Han, ga papa. Cowok emang selalu salah.

      Delete
  4. OMG cerita apa ini, bikin ngakak :')))

    Tapi untung kamu sabar ya, Kak. Sampe rela ikut masuk angkot. Kalo aku mesti berhadapan sama abg labil alay ngeselin kek gitu, ngga bakal aku kejer haha.

    Ngga ah, ngga mirip Lu Han. Tapi sama-sama cantik sih *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini emang cerita horor, Dhyn. Kamu pasti merinding kan pas baca?
      Yah mau ga diikutin bisa berabe masalahnya nanti, terpaksa deh mau ga mau hahaha.

      Makasih loh udah bilang aku cantik *kibasponi

      Delete
  5. baru landing di blog ini..
    arghh.... ngakak gue sob...
    keren :)

    salam kenal!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga landingnya selamat, mas. Selamat datang di blog ini hehe.
      Salam kenal juga...

      Delete
  6. ikutan gugling ka juga siapa itu LuHan huwaahahahahah..

    jadi sampai hari ini kita tidak tahu penyebab Cita ngambek?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana-gimana? Mirip ndak?

      Terjawab mi, ternyata waktu itu dia lagi sakit tapi dibilangi pura-pura sama temannya kodong. Jadi ngambek ki mau pulang :(

      Delete
  7. ahahaha ceritanya bikin ngakak ya ampun, ada acara ngambeuk-ngambeukan lagi.. :)

    ohh lu han yang idol kpop itu ya.. :)

    ReplyDelete