Beberapa Hal Penting di Akhir 2015 dan Awal 2016


Beberapa waktu yang lalu, terjadi gempa bumi kecil di Makassar. Kecil karena tidak sampai ada kerusakan apapun, bahkan ada beberapa orang yang tidak merasakan gempa sama sekali.

Beda sama saya, karena saya peka.

Saya ingin kalian tahu bahwa pada saat gempa itu terjadi, saya sedang berjongkok di kamar mandi siap-siap melaksanakan ritual pribadi. Celana sudah terlepas dan pertunjukan sudah hampir dimulai sampai akhirnya saya merasakan sebuah getaran berbeda. Jika biasanya getaran di kamar mandi itu disebabkan oleh reaksi kimia di dalam perut, malam itu tidak. Getaran malam itu eksternal, datang dari luar.

Saya langsung mengenakan celana dan berhambur keluar kamar mandi. Hidup saya malam itu selamat.
***
Bencana, berdasarkan waktu kejadiannya dapat dibedakan menjadi dua: bencana yang datang tiba-tiba, dan bencana yang datang secara perlahan. Bencana yang datang tiba-tiba itu tidak bisa kita perkirakan, misalnya seperti gempa bumi, sedangkan bencana yang datang perlahan-lahan umumnya bisa diperkirakan, kayak kekeringan sebagai contohnya.

Cinta pun begitu.

Cinta bisa datang tiba-tiba, juga bisa tumbuh secara perlahan-lahan. Kita bisa suka banget sama cewek waktu pertama kali kita liat dia senyum. Kita juga bisa pelan-pelan suka sama cewek semakin kita mengenal dia, padahal awalnya biasa saja.

Ngomong-ngomong soal cinta, di akhir tahun 2015 cukup banyak teman saya yang akhirnya memutuskan untuk menikah sama pacarnya. Dalam satu bulan, bahkan bisa ada 4 buah undangan. Ini bikin mamake jadi cerewet sendiri karena dalam sebulan itu, saya jadi rajin banget kondangan.

Kira-kira kecerewetan mamake itu bunyinya seperti ini:
"Mau kemana lagi pakai batik?"
"Mau ke nikahan teman SMA"
"Kenapa sering sekali menikah temanmu?", ditulis miring karena logatnya agak Makassar-Makassar gitu.

Ga sering juga sih, Ma. Mereka nikahnya gantian.

Di topik yang lain, belakangan ini saya jadi sering sekali berinteraksi sama calon istri orang. Mulai dari yang nanya-nanya soal pulau Lae-Lae untuk lokasi Pre-Wedding, yang minta tolong dibantu urus sound system untuk keperluan akad nikah besoknya, yang minta ketemuan untuk bantu cetak fotonya, sampai bantu membungkus erang-erang (baca: sesembahan, sejenis saling tukar kado untuk mempelai dalam tradisi Bugis Makassar), sampai (mantan) gebetan yang minta tolong difoto pre-wedding.

Saya hampir minum Autan di kasus yang terakhir. Saya sih mau saja sebenarnya, sayang waktu itu saya tidak memegang kamera jadi tidak bisa memenuhi permintaan doski. Bukan karena sakit hati yah, bukan. Saya memang tidak punya kamera. Suer.

Ngomong-ngomong soal prewed, saya, Titah, Widi, dan Chiko teman kuliah saya memang baru saja didaulat menjadi panitia prewedding Gina, salah seorang teman kami. Tentu kami senang, selain karena Gina adalah orang pertama yang menikah di angkatan kami, kami juga senang dikasih kepercayaan mengabadikan momen sekali seumur hidup itu. Rasanya senang reuni sama kamera lagi.

Salah satu foto Prewedding Gina & Suami
Titah jadi kameraman, Chiko jadi make-up artist yang setengah lima subuh sudah stand by di depan rumah Gina, Widi jadi pengarah gaya, dan saya menjadi property. Maksud saya, pembantu umum penyedia property.

We had such a blast working on something we love for someone we love. Happy Wedding, Gin.

Saya juga berhasil dijebak sama Kak Adi, kakak kelas saya di SMA dulu. Modusnya sih diajak jalan-jalan gitu, taunya minta difoto juga sama pacarnya, atau lebih tepatnya calon istrinya untuk prewedding di hutan Pinus Malino. Kali ini, saya tidak bisa menolak karena rupanya dia sudah menyediakan kamera sendiri. Konsepnya piknik-piknik gitu. Waktu ditanya butuh property apa, saya dengan mantap minta dibelikan sekeranjang buah. Saya cuma juga sedang ingin makan buah saja sebenarnya.

Menit-menit terakhir keranjang buah
Iya sih, masih banyak karya orang yang lebih bagus daripada karya saya, tapi saya tidak bisa bohong juga saya senang dipercaya untuk mengurusi keperluan foto prewed Kak Adi dari mulai perencanaan, property, motret, editing, sampai cetaknya. Mudah-mudahan mereka berdua suka. Saya senang sekaligus takut juga karena ini pertama kalinya saya motret prewedding.
***
Beberapa kejadian itu bikin saya sadar bahwa di tahun 2016, saya sudah memasuki bagian berikutnya dari kehidupan *ce'ileh bahasanya*. Kuliah sudah bukan lagi topik yang relevan kalau ketemu dengan orang-orang seumuran. Topik sekarang sudah berubah menjadi topik ribetnya kerjaan dan urusan kantor, topik tidak adilnya pembagian gaji, atau topik si anu (masukkan nama orang random) yang sudah melahirkan anak kedua.

Bahasan kampus dan sekolah, tanpa terasa sudah menjadi topik nostalgia.

Selamat tahun 2016, Aliens. Apa resolusimu di tahun ini?
***

8 comments

  1. ketawaka di part.. widi tiba2 nongol di rok -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Memang ini Widi misterius ki bisa muncul dari mana saja.

      Delete
  2. Gue juga tahun ini akhirnya dapet kebagian kondanganin temen. (kondanganin temen). (kondanganin temen) (kondanganin temen). :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Kalau begitu selamat menunaikan ibadah mengondangani temen :))
      (kondanganin: imbuhan macam apa itu?)

      Delete
  3. Setuju ... Inilah tahun-tahun dimana pertanyaan, "Kapan nikah?", ngga lagi mikin baper tapi bikin mikir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Kayaknya sudah pengalaman sekali, Yan?

      Delete
  4. Lumayan juga tuh dapet sekeranjang Buah seger hihih...

    ReplyDelete