Yang Terbaik di Tahun 2015


Sekitar November 2008 adalah kali pertama saya nge-blog. 7 tahun yang lalu. Dulu isinya puisi-puisi semua. Ketahuilah, waktu itu saya merasa bisa bikin puisi, nyatanya tulisan-tulisan yang saya tulis di blog tak ubahnya tulisan remaja tanggung yang dikit-dikit galau, tulisan remaja tanggung yang sedang bingung dengan identitasnya.

Salah satu momen besar pada tahun yang sama adalah lulus dari SMA dan berkesempatan melanjutkan pendidikan di Universitas Hasanuddin (Unhas) rame-rame sama geng sejak kelas 1 SMA: Ega, Omen, Dedi, Kelik, sama Fithrah. Senang? Tentu. Kami akan kuliah dengan damai dan tetap bisa ngumpul di sela-sela jam kuliah.

Semua berubah saat pengumuman ITB dan STAN menyerang.

Ega lulus ITB dan Fithrah lulus STAN. Artinya, mereka harus meninggalkan Makassar untuk kuliah di sana. Artinya lagi, tidak bakal ada ngumpul-ngumpul cantik lagi di rumahnya Kelik sambil makan gorengan sampai tengah malam. Tidak bakal ada obrolan-obrolan syahdu selama paling cepat tiga tahun.
Foto Studio Gaul Backgroundnya Harus Ungu Bubble-Bubble. Pulang Sekolah, 2008
People arrive and depart.

Menurut survei dari fundersandfounders.com, rata-rata kita berinteraksi dengan 80.000 orang dalam masa hidupnya. Jumlah yang menurut saya sangat banyak. Orang-orang ini akan kita temui di sekolah, di kampus, di kantor pada saat bekerja, di cafe, atau waktu nonton live tayangan musik pagi di mall-mall.

Untuk saling bercerita, kami memutuskan untuk bikin blog dan mengisinya dengan cerita-cerita keseharian. Ibaratnya tukaran diari secara online oleh enam orang yang semuanya laki-laki. Agak geli memang.

Kalau misalnya ada yang bertanya bagaimana sejarah awal blog ini, saya akan menjawabnya dengan tegas: Iya, segeli itu.

Sedikit-sedikit akhirnya saya belajar untuk menulis di blog, meski awalnya tulisannya kadang-kadang hurufnya besar kecil dan ada angka serta simbol di tengah-tengah tiap katanya. Sedikit-sedikit pula saya keasyikan ngeblog.

Setiap ada waktu luang, saya akan ke warung internet (warnet), mengetik di sana, mengeditnya di sana, lalu mengeposkannya ke blog saat itu juga. Saya akan bercerita tentang apa saja yang saya suka, tentang kehidupan di kampus, di rumah, atau tentang gebetan yang tidak ada kemajuan.

Memasuki dunia kampus, saya bertemu dengan orang-orang baru yang sama menyenangkannya. Mereka selalu tahu cara bikin suasana berasa rame. Atau lebih tepatnya bising sampai-sampai kami sering ditegur petugas ruang baca karena sering nongkrong sambil ketawa sampai salto.

Geng Kuliah di Tempat Nongkrong Andalan. Sebelum Pemberangkatan KKN, 2012
Yang Terbaik di Tahun 2015
Banyak yang berubah di tahun 2015 ini untuk kami semua. Untuk teman geng SMA atau teman geng kuliah. Untuk pertama kalinya setelah pisah tahun 2008, kami akhirnya ngumpul lengkap kembali berenam. Semuanya juga, sudah selesai kuliah. Bahkan Dedi dengan curangnya sudah menyelesaikan kuliah S2.

Cover Album Comeback 2015
Satu persatu teman SMA kami juga sudah menikah. Kebanyakan yang cewek-cewek. Jadi tenang, kami berenam semuanya masih tersedia. Pilih mana suka.

Adapun (ciyee adapun) untuk teman kuliah, baru-baru ini ada berita yang menggemparkan. Akhirnya, salah satu dari kami ada yang menikah. Setelah kurang lebih 2 tahun lulus kuliah, akhirnya ada yang menikah. Mitos kutukan angkatan pun pecah. Gina laku. Angkatan kami, ada yang bisa laku.

Resepsi Kita yang Pertama
Salah satu hal yang menyenangkan ketika berkumpul dengan teman lama adalah mendapati mereka masih orang yang sama ramenya, sama menyenangkannya.

Nge-blog Memanjangkan Ingatan
Di antara banyak perubahan-perubahan itu, masih ada satu yang belum berubah: Saya masih senang nge-blog. Yah, memang kadang-kadang ada rasa malas juga untuk mengisinya tapi kalau membaca lagi tulisan-tulisan lama, rasanya sayang betul jika kejadian-kejadian menyenangkan itu cuma jadi kenangan yang akhirnya dilupakan.

Sekarang saya tidak lagi menulis di warnet, tahun 2011, saya dihadiahi bapak dan mamak laptop Asus untuk mendukung tugas kuliah. Dengan laptop ini juga saya mengerjakan banyak hal: Belajar ngedit video, main video game, membantu tugas desa sewaktu KKN, hingga mengerjakan skripsi. Sampai sekarang di tahunnya yang keempat, laptop Asus hadiah dari bapak dan mamak ini masih setia dan belum pernah ada masalah berarti.

Di Makassar sekarang semakin banyak event-event gaul kekinian. Ada pesta komunitas, ada pesta permainan tradisional, ada pesta penulis, sampai pesta jalan-jalan gaul ke pulau-pulau dan daerah wisata yang sayang dilewatkan tanpa foto-foto cantik. Di sinilah masalah yang lain itu muncul: Saya tidak punya kamera untuk mengabadikan momen super itu, menjadikan saya harus pergi ke sana ke mari untuk pinjam kameranya teman.

Kita butuh pendamping blog yang mumpuni.

Memang sih, menghadiri event penting dan jalan-jalannya itu yang paling penting, tapi kan sayang kalau event dan jalan-jalan kece itu tidak ada fotonya? Akhirnya, sayapun memutuskan untuk menabung demi membeli kamera. Demi keberlangsungan kenangan dan eksistensi di social media. Sedikit demi sedikit tabungan terkumpul, sayangnya ketika terkumpul, tabungannya harus dipakai untuk hal yang lain. Habis.

Standar pun diturunkan, kenapa tidak beli kamera HP saja? Saya yang memang senang mengikuti tren teknologi begitu excited waktu dengar Asus memproduksi telepon genggam. Kualitasnya bagus dan harganya menggoda pula. Beberapa bulan yang lalu, saya membaca rumor kalau Asus akan mengeluarkan HP khusus untuk pecinta fotografi bernama Zenfone Laser. Membaca bocoran spesifikasinya, awalnya saya khawatir harganya pasti mahal di atas 3 jutaan.

Saya belum pernah sesalah itu.

Waktu jalan-jalan di pameran gadget tempo hari, saya mendapati produk HP yang dirumorkan tempo hari. Namanya Zenfone 2 Laser. Awalnya tidak ada niat membeli, namun setelah tanya-tanya sama mbak-mbak penjaga counter, saya mendapati spesifikasinya yang menggiurkan. Kamera belakang 8 MP dan depan 5 MP. Cukup untuk foto-foto cantik.

"Yang 8GB harganya 1.850.000 yang 16GB harganya 2.000.000". Mbak-mbaknya menjelaskan. Bukan 3 jutaan seperti perkiraan awal. Setelah googling dan banyak pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk menghabiskan honor jadi Event Organizer yang baru diterima semalam untuk beli HP ini.

"Ambil saja yang 16GB 1.950.000, Dek kalau mau". Kata penjaga counternya. Zenfone 2 Laser pun berpindah tangan.


Groupie Indoor Zenfone 2 Laser Terang dan Lebar Woohoo
Seperti anak kecil yang dapat mainan baru, saya mengutak-atik semua pengaturan, fitur, dan yang paling penting, kameranya. Nah, di bawah ini adalah fitur-fitur kekinian yang bikin paling saya suka.

1. Akses cepat ke kamera
Untuk menciptakan cerita yang mengikat, kita butuh foto pendukung yang menarik. Sayangnya, momen bagus tidak datang dua kali. Momen bagus kadang tidak menunggu kita mengeluarkan kamera dari dalam tas, menyalakannya, mengaturnya sedemikian rupa, tahu-tahunya momennya sudah lewat. Ini fitur Zenfone 2 Laser yang keren. Ketika HP dalam keadaan terkunci, kita cuma perlu menekan tombol volume dua kali atau mengucap layar membentuk pola "C", dan aplikasi kamera akan terbuka tanpa perlu membuka kunci terlebih dahulu.

2. Fotografi lebih cepat dengan Laser Auto Focus
Fokus Lebih Kencang dengan Teknologi Laser
Nah, dari sinilah embel-embel Laser itu berasal. Asus punya titik kecil di samping kamera yang fungsinya untuk mempercepat fokus pada pengambilan gambar. Selain fokusnya cepat, Zenfone 2 Laser juga dapat mengambil foto dengan cukup cepat sehingga membantu dalam mengikuti momen-momen berharga, atau sekedar foto-foto untuk Instagram.


Hasil Foto Zenfone 2 Laser. Kiri: Original. Kanan: Retouched. Diresize 1280 px

Salah satu kesulitan dalam memotret pakai HP adalah, kadang-kadang susah untuk memotret objek yang kecil dari dekat. Mencari fokusnya ituloh yang kadang-kadang menjengkelkan. Sayapun mencoba memotret tanaman yang baru tumbuh dengan HP ini dan harus bilang bahwa hasilnya cukup memuaskan.

Hasil Foto Zenfone 2 Laser dengan Objek Kecil. Kiri: Original. Kanan: Retouched.

Nah, sedikit tips dasar untuk lebih mudah dalam mencari fokus, maju mundurkan kamera dari objek sampai mendapatkan fokus yang pas sesuai keiginan.

3. Kualitas fotonya memuaskan

Kalau bicara HP untuk keperluan foto-foto, mungkin kita masih sering membicarakan brand lain yang sudah terkenal duluan. Tapi bagi saya pribadi, kualitas foto Zenfone 2 cukup keren dengan dukungan kamera belakang 8 MP, baik di dalam maupun di luar ruangan.

Hasil Foto Zenfone 2 Laser di Dalam Ruangan
Hasil Foto Zenfone 2 Laser di Luar Ruangan
Hasil Foto Zenfone 2 Laser Dengan Retouch
4. Mode kamera beragam sesuai kebutuhan

Pilihan Mode Kamera Zenfone 2 Laser. Saking banyaknya, layar tidak muat
5. Kamera Bisa Diatur Manual!


Zenfone 2 Laser menawarkan fotografi yang cepat dengan mode auto dan banyak mode lain. Nah, kadang-kadang kita mau mengatur semuanya sesuai selera dan kebutuhan. Mode manual biasanya banyak digunakan oleh fotografer profesional dengan kamera DSLR untuk keperluan editing lanjutan di komputer atau aplikasi editing lain di HP untuk mencapai hasil yang diinginkan.

6. Fitur favorit saya: Depth of Field
Hasil Foto Zenfone 2 Laser Mode Depth of Field
Hasil Foto Zenfone 2 Laser Mode Depth Of Field
Hasil Foto Zenfone 2 Laser Mode Depth Of Field

Kalau melihat foto-foto di atas, sekilas cukup sulit untuk percaya bahwa foto-foto tersebut diambil dengan kamera HP. Well, iya, foto dengan ruang tajam yang sempit ini diambil dengan kamera Zenfone 2 Laser dengan mode Depth of Field. Hm... DSLR punya saingan baru.

7. Suka foto arsitektur? Coba mode HDR dan Super Resolution

Hasil Foto Zenfone 2 Laser Mode HDR
Nah, satu lagi mode keren yang perlu dicoba dengan Zenfone 2 Laser: HDR dan Super Resolution. Buat pecinta fotografi arsitektur dan landscape, ini adalah mode yang begitu menyenangkan untuk dicoba. Pertahankan detail dengan mode Super Resolution hingga 31 MP. Ketika menggunakan mode ini, peganglah kamera dengan stabil saat kamera mengambil gambar hingga selesai.

8. Camcorder? Nggak usah, pakai Zenfone 2 Laser aja.
Fotografi dan Videografi mobile sedang naik daun. Selain senang mengabadikan momen melalui foto, saya juga senang merekam momen-momen membahagiakan atau momen-momen geje menjadi video. Di atas ada beberapa hasil foto dengan Zenfone 2 Laser yang saya ambil sendiri, itupun sudah diresize menjadi lebih kecil. Nah, bagaimana hasil video Zenfone 2 Laser? Untuk melengkapi ulasan ini, sila teman-teman lihat sendiri video yang saya ambil dengan Zenfone 2 Laser ini:


***
Kesimpulan:
Dengan harga yang cukup terjangkau, saya harus bilang Zenfone 2 Laser ini menjawab banyak kebutuhan, terutama dalam kebutuhan fotografi. Processor Quad core, layar HD, RAM 2 GB, internal storage cukup lapang, serta layar Corning Gorilla Glass 4, adalah pembelian yang cukup memuaskan dan totally worth it dengan harga Rp 1.900.000 - 2.000.000 rupiah dan menjadikannya gadget termurah untuk spesifikasi yang mumpuni.

Yah, Zenfone 2 Selfie sudah cukup memenuhi kebutuhan saya sebagai blogger dan penyuka aktivitas foto-foto. Kalau bisa sih, maunya punya Zenfone 2 Selfie yang punya kamera depan dan belakang 13 MP. Siapa tau saja pihak Asus mau ngasih kesempatan nyoba gadget impian itu hahahahahaa *ketawa ngarep*

Well, terima kasih sudah membaca postingan yang cukup panjang ini, Guys. Terima kasih sudah membaca blog ini, dan sampai jumpa lagi besok.

2 comments

  1. Wah mantep nih. Murah tapi kameranya cihuy. Buat anak masa kini cocok banget ya. Sayang itu tes videonya gak pake suara ya, jadi gak ketahuan gimana hasil rekamanannya, tapi videonya ngiler bok. Mantep. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Di. Sejak megang HP ini gue jadi ngerasa lebih gaul dan lebih ABG daripada ABG itu sendiri haha.
      Iya juga sih suaranya dikecilin biar musiknya bisa lebih kedengaran biar lebih dramatis <-- Tipe orang yang suka mendramatisir segala sesatu.

      Delete