Selamat Tinggal Tugu Adipura Makassar

Tugu Adipura Makassar Dirubuhkan | Sumber
Titik Adipura Tallo adalah titik absolut macet, paling tidak begitu saya menyebutnya. Titik yang mempertemukan antara orang-orang dengan banyak tujuan dengan cara yang tidak romantis itu hampir selalu macet setiap kali melewatinya. Seingat saya, pernah satu kali titik itu bebas macet, yaitu ketika Ramadan beberapa bulan yang lalu. Entah kenapa.

Letak Tugu Adipura Makassar
Kalau melihat gambar peta di atas, sekiranya siapapun akan mafhum jika titik Adipura selalu macet. Lihat saja, tidak ada akses lain untuk menyeberangi sungai Tallo selain satu buah jembatan. Kalau mau agak ekstrim, boleh juga sih berenang menyeberang.

Masahal utamanya adalah, tugu Adipura yang dibangun di dekat sungai Tallo juga menjadi tempat bertemunya kendaraan-kendaaraan dari tiga arah: Daerah Sentral, Daya, dan Antang.

Bayangkan saja, warga dari Daya yang hendak ke Antang (dan sebaliknya), Daya hendak ke Sentral (dan sebaliknya), pasti bertemu di sini. Tidak ada jalan lain. Ada sih satu jalan dari arah Sentral ke Daya, tapi jalan Tol. Itu juga ujungnya jauh dari Daya. Hasilnya sudah pasti terjadi kemacetan dan penumpukan kendaraan (dan segala kejengkelan yang menghiasinya).

Dalam hati, saya sebagai pengguna jalan tentu merasa jengkel dan berharap Pemerintah Kota Makassar segera mengambil tindakan untuk mengatasi macet ini. Kabar baiknya, pemerintah telah mengambil tindakan. Kabar buruknya, mungkin tindakan ini tidak pernah dibayangkan: Tugu Adipura dirubuhkan.

Dari berbagai sumber, saya mengetahui bahwa tugu Adipura yang menjadi bukti sejarah bahwa Makassar dianggap telah berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan ini dibangun pada tahun 1997 di bawah kepemimpinan H. Malik B. Masry selaku walikota Makassar (saat itu kota Makassar masih bernama Ujung Pandang). Tugu tersebut telah dirubuhkan dan dibuat tugu yang baru di anjungan Pantai Losari.

Entahlah, tapi saya ragu solusi ini akan mengakhiri masalah kemacetan di sana. Tugu Adipura memang kerap menjadi titik kemacetan, namun bukan penyebabnya. Tugu Adipura dan kemacetan bukan hubungan sebab akibat. Kemacetan memang terjadi di tugu Adipura, tapi bukan karena Tugu Adipura. Maksud saya, masih ada solusi lain yang bisa diusahakan dan barangkali lebih efektif. Mengusahakan transportasi massal misalnya, pelebaran jalan atau menambah akses jalan besar mengingat jembatan Tallo adalah satu-satunya akses seperti yang saya tuliskan di atas misalnya? Masih ada solusi selain merubuhkan tugu yang telah berdiri di sana selama 17 tahun.

Tugu Adipura bagi saya adalah titik yang memorable. Saya ingat belasan tahun yang lalu ketika masih tinggal di Kabupaten Sidenreng Rappang, di perjalanan berlibur ke Makassar, tugu Adipura ini adalah titik yang saya tunggu-tunggu, selain bentuknya yang besar dan ukirannya yang bagus, tugu ini menunjukkan bahwa kami sudah dekat dengan tujuan.

Semakin dewasa, Tugu Adipura yang dulu selalu saya tunggu-tunggu menjadi titik yang selalu ingin saya hindari - karena kemacetannya.

Entahlah, tugu Adipura adalah bukti sejarah kota Makassar. Iya, saya mengerti tugu ini baru ada 17 tahun yang lalu, terlalu cepat untuk menjadi bukti sejarah dibandingkan Fort Rotterdam atau bangunan lain tapi ayolah, itu adalah Adipura pertama kita dan menjadi tugu sejarah perkembangan kota kita.

11 comments

  1. Wah, baru juga ya tugu itu. Sayang aja emang tempatnya ada di tengah-tengah pusat kemacetan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Di. Tugu baru tu kayaknya berada di tempat yang salah akhirnya jadi korban... Btw lo apa kabar?

      Delete
  2. aku belom pernah ke makassar sih, tapi dari tulisan kamu kok rasanya makassar nggak jauh beda macetnya dari surabaya :| ada titik-titik yang harus dihindari, sayang banget kalo yang harus dihindari itu tugu yang punya cerita :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata temen aku yang sekarang di Surabaya katanya sih ga jauh beda kondisinya sama Makassar, iya sayang banget sih sebenernya tapi mau gimana lagi udah hancur juga tugunya mudah-mudahan gak keulang lagi penghancuran tugu-tugu yang ikonik di kota ini...

      Delete
  3. maumi diapa kodonk, cuman itu ji jalan satu-satunya untuk mengurangi kemacetan. mau jalan diperlebar juga mesti ada sosialisasi pembebasan lahan dan ujung2nya demo ji pasti warga. Maudibuatkan fly over tidak cukup ki ruangnya. Tapi adami penggantinya tugu adipura di pantai losari meskipun tidak seperti yang dulu bentuknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Bro. Paling tidak sekarang di sana macetnya sudah tidak separah dulu sebelum dirubuhkan. Semoga perubuhan tugu kita itu tidak sia-sia...

      Delete
  4. Wah, problem kemacetan dan untuk mengurainya dipindah ke dekat Pantai Losari yah, mas. semoga ada dampak siknifikan. Kabupaten Sumenep malah mesang tugu adipura baru, mas. beberapa minggu lalu baru rampung. tugu itu ada dekat pertigaan (sebelum lampu merah utara).

    ReplyDelete