Apa itu Kreatifitas dan Kenapa Kita Salah Mengartikannya


Sampai sekarang, saya selalu iri sama orang yang bisa menggambar dan bisa desain grafis. Apalagi orang yang bisa keduanya. Saya juga iri sama orang yang jago fotografi dan videografi. Apalagi orang yang bisa keduanya.

Sampai sekarang, saya selalu iri sama orang yang punya akses cukup untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Sebut saja misalnya, orang yang suka desain grafis punya komputer yang mutakhir dan tablet wacom, atau orang yang suka fotografi dan videografi dihadiahi kamera oleh orangtuanya. Orang yang hobinya ngupil dihadiahi empat belas pasang lubang hidung penuh upil segar.

Sekarang, saya mau tanya sama Kamu. Pernahkah kamu merasa iri, misalnya kamu melihat orang yang hobinya sama denganmu dan dia punya akses dan media yang lebih lengkap darimu?
Atau pernahkah Kamu, misalnya merasa gatal melihat ABG yang dihadiahi kamera DSLR yang ujung-ujungnya dipake buat foto selfie (entah bagaimana caranya bisa selfie dengan kamera itu)?

Jujur saja, Saya, Kamu, pasti pernah jadi malas mengembangkan minat dan bakat karena tidak punya medianya, atau karena media yang terbatas. Coba nonton video ini dulu deh:

Ayo nonton dulu!
Saya tunggu!
Serius saya tunggu!
Sudah?
Ndak bohong? Kalau ndak nonton dulu nanti ndak bakal nyambung loh.

Gimana videonya? Lucu?
Itu film Uganda, judulnya Tebaatusasula (Entahlah, judulnya sudah benarkah?) produksi Wakaliwood & Ramon Film Productions. Mereka adalah filmaker pertama di Uganda. Film ini sendiri diproduksi kurang lebih tahun 2010.

Awalnya saya merasa lucu. Aduh kekonyolan macam apa ini? Ini film? INI SERIUS FILM? Sampai saya nonton video Behind The Scene-nya.


DANG!
Pas nonton video behind the scenenya berasa kayak ditampar, terus digampar, terus ditampar lagi.
Mereka hampir tidak punya apa-apa untuk bikin film. But guess what? They made it.
Sekarang saya merasa malu sama diri saya sendiri.

Selama ini sepertinya kita lebih fokus pada apa yang kita tidak punya dibanding apa yang sebenarnya kita sudah punya. Kalau saja kita fokus sama apa yang sudah kita punya, mungkin sudah bisa jadi sesuatu. Tidak usah pedulikan apa tanggapan orang lain dulu. Bikin saja dulu sebisa kita! Mau orang bilang konyol, lucu atau aneh.

Hasil Iseng sama Fith tahun 2011
Beberapa tahun yang lalu, saya dan Fith coba untuk iseng belajar fotografi, sayangnya kita berdua tidak punya kamera, tapi kita punya teman yang punya kamera. Di sinilah prinsip pertemanan nomor dua berlaku. Kamera itu kami pinjam. Lengkap dengan tripodnya.

Kalau menurut kalian sendiri, Kreatifitas itu apa?
Karya yang dibuat oleh orang dengan akses dan media lengkap (bahkan berlebih) atau karya yang dibuat oleh orang dengan media terbatas? Sama. Keduanya sama-sama kreatifitas. Bedanya, kalau orang yang punya media yang lengkap, terus mereka bikin sesuatu yang keren, itu wajar.

Nah kalau kita masih bisa berkarya di tengah-tengah keterbatasan seperti yang dilakukan oleh tim produksi film Tebaatusasula ini, itu baru luar biasa! Itu baru keren!



Mungkin kita cuma perlu fokus sama apa yang kita punya sekarang. Selama ada kemauan untuk terus belajar dan bikin karya, kayaknya kita tidak perlu khawatir berlebihan. Yang penting dari proses awal kreasi mungkin adalah ide itu sendiri dulu. Keterbatasan yang kita punyai? Belakangan!

Teman saya, Alvidha dan Titah pernah bilang kayak begini: Apapun karya yang kita bikin, pasti ada saja orang yang kerjanya mencela karya yang sudah kita bikin itu. Dan pada saat itulah mungkin kita harus tutup kuping dulu. Kalau kita terus mendengar ocehan mereka, lama-lama kita akan ciut juga dan pada akhirnya berhenti bikin sesuatu. Hiii. Serem.

Oh iya, seminggu yang lalu saya coba bikin video timelapse, lagi-lagi pakai kameranya teman. Tinggalkan komentar ya :)


7 comments

  1. pernah banget ngeluh gara-gara hobi gak ditunjang sama orang tua, alat-alatnya juga gak ada serba terbatas. Tapi setelah baca ini apalagi pas liat video produksi yang namanya ribet ini berasa malu jadinya.

    Setuju banget, gunakan apa yang ada sebisa mungkin dna tetep fokus pada apa yang menjadi hobi atau minat.

    Keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Men. Tebaatusasula!!! (Sampai sekarang juga gue nggak ngerti ini artinya apa).
      Gue pernah dengar kutipan kayak gini, "Jangan bandingkan permulaanmu dengan pertengahan orang lain".

      Delete
  2. Ah.. fakk bangke banget tampilan baru kamu bro... MANA HEADERNYA??? zzzz

    *komentar paling tidak sante di tahun 2014 pake Fakk Fakk :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muehehehe. Fakkk!!
      Iyo, Gang. Ndak bisa ki pake gadget header ini templateku. Lagi tunggu Om Fith ndak terlalu sibuk buat bikinkan header baru. Mihihiw ~

      Delete
  3. Bener banget soal kalimat 'fokus terhadap apa yang kita punya' terkadang kita terlalu bangga dengan orang lain sampai lupa bahwa kita bisa memaksimalkan apa yang kita miliki. Njir, keren banget kata-kata gue :))

    Eh, itu kalo bikin timelapse didiemin gitu aja ya kameranya? apa batrenya ndak abis? Btw, template barunya seger euy.TAPI IYA, KAGA ADA HEADERNYAA!! *ngikut ndak sante*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Ente udah bisa bikin buku motivasi tuh, ala-ala seleb tweet.

      Kalau bikin timelapse iya, didiemin. Kalau kameranya ada pergerakan dari satu titik ke titik lain namanya hyperlapse. Gue bikinnya kurang lebih 20 menit, batere kamera tinggal sebatang tapi masih kuat. Pastiin baterenya cukup aja.

      Iya nih, Dwi. Belum ada headernya, template bawaan ini nggak mendukung header yang bisa di-klik kayak headerku yang lama. Udah gue utak-atik tapi gabisa juga.

      Delete
  4. Gue ngga tahu cara balesnya jadi pake komen baru aja ya. Hehe. Itu yang divideo seriusan cuman 20 menit. Selama ini gue pikir seharian gitu kalo bikin timelapse. Ealah ternyata oh ternyata. Baiklah. Makasih, Dit. Btw, panggil Adi aja. Hoho.

    ReplyDelete