#KonsultanAntiMoveON Menjawab Curhat: Kenapa Mantanmu Tidak Bisa Move On?


Selamat datang di terbitan pertama Konsultan Anti Move ON Menjawab Curhat atau yang lebih gampang disingkat KAMOMC. Kasus yang akan dibedah kali ini adalah menanggapi pertanyaan, "Kenapa mantanmu tidak bisa move on?" dan bagaimana cara bijak menanggapinya.

Isi curhatannya kurang lebih kayak begini:

Halo, Kak Tyar tampan! Aku mau curhat nih. Aku sama mantan aku ceritanya lagi LDR nih (heh?), meskipun status kami sekarang adalah mantanan, kami masih berusaha untuk me-maintain komunikasi. Jadi gini, sekarang aku lagi jomblo, tapi jomblo-jomblo gini sebenernya aku banyak cowok yang PDKT-in (aku cewek by the way). Mantan aku juga katanya juga lagi deket sama seseorang. Kenapa aku bisa tau? Karena aku pernah masang alat penyadap suara dan kamera pengintai di jaketnya dia. Ihik, Becanda ding. Tadi aku bilang kalau kami masih sering komunikasi kan? Nah, aku tau kalau dia lagi deket sama gebetannya dari dia (mantanku) sendiri. Pokoknya, kalau dia punya gebetan baru, dia pasti kasih tau aku. Aku sih fine aja, menurut aku ga masalah toh itu haknya dia, kami udah ga ada hubungan apa-apa lagi. Masa' aku mau ngelarang dia deket sama cewek lain? Masalahnya, mantan aku tuh sering cerita kalau dia susah deket sama gebetannya yang sekarang karena masih sering kebayang sama aku. Gimana dong, Kak? Aku jadi bingung ambil sikap.

by Indah cewek paling manis (kata ibunya), 20 tahun, Makassar.

Dear Indah yang manis dan kawan-kawan pejuang cinta yang budiman, kalau kalian merasa senang mantan kalian susah move on dari kalian, lebih baik jangan baca tulisan ini. Isi tulisan ini tidak seindah yang kalian kira.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "mantan" berarti bekas pemangku jabatan (kedudukan). Kalau dibawa ke ranah berpacaran, maka kata "mantan" akan berarti orang yang pernah memangku jabatan sebagai pacar kita. Dicatat: Pernah.

Konsultan Anti Move ON melihat dua kemungkinan mantan kamu tidak bisa move ON.

1. Dia sadar betapa istimewanya kamu
Kemungkinan yang pertama adalah dia telah sadar betapa istimewanya kamu setelah dia kehilangan kamu. Mungkin kamu juga berpikiran seperti ini, bahkan bisa jadi di dalam hati kalian sudah ketawa-ketawi sambil mengumpat, "Mampus lo, siapa suruh dulu nyia-nyiain cinta gue!". Dia sadar sekarang tidak akan bisa menemukan orang seperti kamu meskipun dia setiap hari sejak kalian putus, Adele sudah serak-serak parau gara-gara nyanyi Someone Like You setiap jam, setiap menit, setiap detik di playlist hapenya dia.

*Sumpah pas nulis ini, tiba-tiba kedengaran Adele - Someone Like You dari TV*

2. Dia sedang main aman
Kemungkinan yang ke dua, dia tidak benar-benar bisa move on dari kamu. Lebih tepatnya, dia belum mau move on dari kamu dengan berbagai alasan yang mungkin tidak pernah kamu pikirkan. Berbagai alasan yang mungkin dia punya adalah:

a. Gebetannya yang sekarang tidak suka sama dia - She doesn't love him back
Boleh jadi cewek yang dia suka sekarang ternyata tidak memiliki perasaan yang sama atau bahasa kerennya, cintanya bertepuk sebelah tangan.

b. Gebetannya yang sekarang susah didekati - She's not an easy one
Tenang, tenang. Konsultan Anti Move On tidak bilang kamu dulu gampang didekati. Maksudnya di sini adalah dia sedang kesusahan menarik perhatian gebetan dia yang sekarang salah satunya mungkin karena mereka terlalu banyak perbedaan atau mantan kamu merasa kesusahan memulai lagi dari awal. Boleh jadi mereka sebenarnya saling suka tapi gebetannya yang sekarang merasa belum yakin membuka hati karena mantan kamu belum menunjukkan keseriusannya.

c. Ada saingan - There's a rival
Mantan kamu bukan satu-satunya cowok yang sedang berusaha mendekati gebetannya yang sekarang.

Inti dari kemungkinan yang ke dua ini apapun alasannya adalah, ketika dia gagal mendekati gebetannya dia yang baru - dia bisa balik lagi ke kamu. Main aman. Dia bilang tidak bisa pindah dari kamu ke gebetannya yang sekarang untuk kasih tahu kamu kalau dia, yang sekarang sudah jadi mantanmu masih punya rasa sama kamu. Hasilnya kamu jadi simpati sama dia, dan lebih mudah untuk menerima dia kembali - ketika gagal mendapatkan gebetannya yang sekarang.

Dear Indah yang manis (kata ibunya), kamu adalah cewek yang baik dan kuat. Tidak semua orang yang pernah berpacaran masih bisa menjalin hubungan yang baik dengan mantannya. Jangan sampai kebaikan kamu malah dimanfaatkan sama dia. Mudah-mudahan ini tidak sedang terjadi sama kamu, mudah-mudahan mantan kamu tidak bisa move on dari kamu karena sadar betapa istimewanya kamu dan menyesal pernah menyia-nyiakan keberadaan kamu di sampingnya. Mudah-mudahan bukan karena dia tidak ingin kamu memberikan ruang bagi orang yang baru untuk kepentingan dia sendiri.

Baru-baru ini presiden republik Indonesia periode 2009-2014 telah turun jabatan. Orang yang baru telah muncul menggantikan beliau dengan niat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang muncul di periode sebelumnya dan membawa negeri mencapai mimpi yang lebih indah lagi.

Seperti sebuah jabatan yang pernah diisi oleh seseorang yang cepat atau lambat akan digantikan oleh orang baru, barangkali sudah saatnya juga bagi kamu untuk membuka kembali ruang di hati kamu itu.

Atau kalau mau menjabat dua periode atau kamu mau fokus sekolah, kuliah, atau kerja dulu itu terserah kamu. Bukan urusan orang lain. Ahai, Pemirsa.
 ***
Mau curhatan kamu dibalas dengan semaunya oleh Konsultan Anti Move ON? Kirim email ke planetyar@gmail.com dengan subjek, "Konsultan Anti Move ON".

Selamat Tinggal Tugu Adipura Makassar

Tugu Adipura Makassar Dirubuhkan | Sumber
Titik Adipura Tallo adalah titik absolut macet, paling tidak begitu saya menyebutnya. Titik yang mempertemukan antara orang-orang dengan banyak tujuan dengan cara yang tidak romantis itu hampir selalu macet setiap kali melewatinya. Seingat saya, pernah satu kali titik itu bebas macet, yaitu ketika Ramadan beberapa bulan yang lalu. Entah kenapa.

Letak Tugu Adipura Makassar
Kalau melihat gambar peta di atas, sekiranya siapapun akan mafhum jika titik Adipura selalu macet. Lihat saja, tidak ada akses lain untuk menyeberangi sungai Tallo selain satu buah jembatan. Kalau mau agak ekstrim, boleh juga sih berenang menyeberang.

Masahal utamanya adalah, tugu Adipura yang dibangun di dekat sungai Tallo juga menjadi tempat bertemunya kendaraan-kendaaraan dari tiga arah: Daerah Sentral, Daya, dan Antang.

Bayangkan saja, warga dari Daya yang hendak ke Antang (dan sebaliknya), Daya hendak ke Sentral (dan sebaliknya), pasti bertemu di sini. Tidak ada jalan lain. Ada sih satu jalan dari arah Sentral ke Daya, tapi jalan Tol. Itu juga ujungnya jauh dari Daya. Hasilnya sudah pasti terjadi kemacetan dan penumpukan kendaraan (dan segala kejengkelan yang menghiasinya).

Dalam hati, saya sebagai pengguna jalan tentu merasa jengkel dan berharap Pemerintah Kota Makassar segera mengambil tindakan untuk mengatasi macet ini. Kabar baiknya, pemerintah telah mengambil tindakan. Kabar buruknya, mungkin tindakan ini tidak pernah dibayangkan: Tugu Adipura dirubuhkan.

Dari berbagai sumber, saya mengetahui bahwa tugu Adipura yang menjadi bukti sejarah bahwa Makassar dianggap telah berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan ini dibangun pada tahun 1997 di bawah kepemimpinan H. Malik B. Masry selaku walikota Makassar (saat itu kota Makassar masih bernama Ujung Pandang). Tugu tersebut telah dirubuhkan dan dibuat tugu yang baru di anjungan Pantai Losari.

Entahlah, tapi saya ragu solusi ini akan mengakhiri masalah kemacetan di sana. Tugu Adipura memang kerap menjadi titik kemacetan, namun bukan penyebabnya. Tugu Adipura dan kemacetan bukan hubungan sebab akibat. Kemacetan memang terjadi di tugu Adipura, tapi bukan karena Tugu Adipura. Maksud saya, masih ada solusi lain yang bisa diusahakan dan barangkali lebih efektif. Mengusahakan transportasi massal misalnya, pelebaran jalan atau menambah akses jalan besar mengingat jembatan Tallo adalah satu-satunya akses seperti yang saya tuliskan di atas misalnya? Masih ada solusi selain merubuhkan tugu yang telah berdiri di sana selama 17 tahun.

Tugu Adipura bagi saya adalah titik yang memorable. Saya ingat belasan tahun yang lalu ketika masih tinggal di Kabupaten Sidenreng Rappang, di perjalanan berlibur ke Makassar, tugu Adipura ini adalah titik yang saya tunggu-tunggu, selain bentuknya yang besar dan ukirannya yang bagus, tugu ini menunjukkan bahwa kami sudah dekat dengan tujuan.

Semakin dewasa, Tugu Adipura yang dulu selalu saya tunggu-tunggu menjadi titik yang selalu ingin saya hindari - karena kemacetannya.

Entahlah, tugu Adipura adalah bukti sejarah kota Makassar. Iya, saya mengerti tugu ini baru ada 17 tahun yang lalu, terlalu cepat untuk menjadi bukti sejarah dibandingkan Fort Rotterdam atau bangunan lain tapi ayolah, itu adalah Adipura pertama kita dan menjadi tugu sejarah perkembangan kota kita.

Main ke Trans Studio! Terhubung dan Tumbuh Bersama Makassar

Ada dua tempat yang saya selalu suka datangi. Yang pertama sekolah tempat saya belajar dulu, dan yang ke dua taman bermain. Ada semacam nostalgia yang kekanak-kanakan di sana.
***
Belasan tahun yang lalu, sehabis hari menerima rapor, ayah dan ibu saya akan mengajak saya dan adik laki-laki saya untuk ke taman bermain. Fashion Park adalah tempat favorit kami. Saya tidak bisa mengingat dengan penuh seperti apa Fashion Park pada waktu itu, yang saya ingat saya akan melihat bapak menggandeng tangan adik saya, sedangkan saya dan mamak akan berjalan di belakangnya. Mula-mula, kami akan melihat binatang-binatang, lalu ke arena permainan outdoor semacam permainan di taman kanak-kanak, lalu terakhir ke Game Zone. Hari-hari yang menyenangkan.

Bapak dan mamak juga tidak absen mengajak kami jika di dekat rumah ada penyelenggaraan pasar malam. Biasanya, rombongan pasar malam ini akan membawa pula  permainan-permainan seperti komidi putar, ombak-ombak, mandi bola, dan bianglala. Bianglala adalah wahana yang paling saya suka. Lampu-lampu terang dan nyala bergantian, tempat duduk yang menyerupai lonceng warna-warni, lalu pada saat berada paling atas, kita bisa melihat semua wahana dan pengunjung dari sana.

Sayangnya, sejak saya masuk SMP, kami tidak lagi pernah lagi ke taman bermain. Tapi apabila di dekat rumah diadakan pasar malam, saya akan ke sana sendiri meski hanya sekedar melihat-lihat. Memasuki masa SMA, entah apa yang terjadi rombongan pasar malam itu tidak pernah datang lagi. Untung saja, di antara absennya saya dari kehidupan taman bermain dan pasar malam selama bertahun-tahun itu, sesuatu yang besar rupanya sedang terjadi. Pada tahun 2009, sebuah taman bermain indoor terbesar di Indonesia selesai dibangun. Trans Studio Makassar dibuka untuk umum.

Awalnya, saya tidak begitu antusias – meskipun sebenarnya penasaran melihat isinya. Beberapa bulan setelah dibuka, saya belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Sudahlah, lagipula saya sudah terlalu tua untuk ke taman bermain.
Sialnya, ternyata adik saya yang perempuan rupanya diam-diam penasaran sama Trans Studio.

Diam-diam pula dia mengumpulkan tabungan supaya bisa main ke sana. Suatu hari setelah tabungannya cukup, dia minta ke mamak untuk dibolehkan main ke Trans Studio. Mamak ketuk palu mengizinkan dengan syarat saya harus menemaninya. Sebagai mahasiswa yang lebih sering bokek daripada beruang awalnya saya menolak, namun dengan penuh keyakinan, adik saya yang waktu itu baru saja lulus SD rupanya telah menabung untuk beli 2 lembar tiket. Begitulah pertama kali saya ke Trans Studio, ditraktir oleh adik perempuan yang beda umur 9 tahun. Hina. Hina sekali.

Sesampai di Trans Studio, kami masuk melalui pintu otomatis yang akan terbuka dengan sendirinya. Belum apa-apa, saya sudah kaget duluan. Ditemani rasa penasaran dan antusias pada saat yang bersamaan, saya tidak tahu bahwa hari itu saya akan belajar banyak.

Kami disambut oleh kakak-kakak yang ramah dan ceria. Saya tidak ingin terlihat lebay tapi begitu masuk ke Trans Studio Theme Park, rasanya masuk ke kota kecil yang ajaib. Pohon-pohon yang dihiasi lampu warna-warni menyala bergantian, rasanya langsung lupa jika pada saat itu kami masih di Makassar, melainkan di sebuah kota moderen dan ajaib di San Francisco (meskipun saya juga belum pernah ke San Francisco sebenarnya). Belum berhenti mata saya menyisir satu persatu isi di bagian depan Trans Studio Theme Park itu, tiba-tiba saya tersentak. Sebuah wahana rupanya telah bersiap menyambut kami, sebuah wahana raksasa dengan lampu-lampu menyala terang bergantian dan bilik yang menyerupai lonceng warna-warni. Bianglala. Sebuah bianglala raksasa dengan logo Trans Studio di tengahnya.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengajak adik saya ke sana, mengantri. Di depan kami mengantri sepasang pemuda dan pemudi, barangkali berpacaran. Seperti kami dan pengunjung lain, mereka berdua juga terlihat senang dan ceria. Semakin dekat antrian kami, tentu kami semakin senang. Sesekali saya memperhatikan sepasang kekasih tadi, si cowok terlihat antusias sedangkan di cewek justru terlihat takut. Saya menduga si cewek tadi takut sama ketinggian sedangkan si cowok sebaliknya. Dengan tenang, si cowok coba meyakinkan pacarnya itu untuk tidak perlu takut. Setelah tidak terlalu lama mengantri, tibalah giliran mereka. Si cowok naik duluan, dengan senyum ia mengajak pacarnya untuk naik dan bersikap tenang, mungkin berharap senyum dan ketenangannya bisa menular.

Bianglala mulai berputar, adik saya kegirangan, bersamaan dengan mulainya kami berputar ke atas, semua kenangan di Fashion Park dan pasar malam bersama bapak dan mamak juga terlintas kembali. Kami berputar menikmati pemandangan Trans Studio Theme Park dari atas. Dari Bianglala terbesar yang pernah saya naiki. Sementara itu, si cewek dan pacarnya tadi sudah mulai tenang. Mereka sudah mulai mengobrol meskipun sesekali ceweknya akan menutup mata setiap melihat ke bawah.

Di wahana JELAJAH, kami menaiki semacam perahu yang berbentuk batang kayu. Perahu batang kayu mulai bergerak pelan membawa kami masuk ke hutan belantara, hutan mistis yang dihuni oleh suku pedalaman. Perahu berjalan santai dan tenang, kami berdua tidak berhenti melihat sekeliling seraya terkagum-kagum dengan detail hutan yang diciptakan, sesekali terdengar suara-suara burung dan binatang-binatang menambah kesan "hilang" di tengah hutan. Tiba-tiba, perahu yang tadi bergerak pelan mulai bergerak naik seperti mobil yang melalui jalan menanjak. Lalu berjalan datar kembali. Saking seriusnya melihat ke sekeliling, saya lupa melihat ke depan, perahu kami menuju air terjun dan meluncur kencang sekali ke bawah. Kami berteriak kencang. Rasa takut, kaget, dan senang bercampur jadi satu lalu, "Byurrr!". Perahu kami menabrak air yang menciptakan cipratan yang cukup untuk membasahi. Kami tertawa sampai ujung penjelajahan.

Sebenarnya waktu itu kami ingin menikmati semua wahana, namun karena uang yang kami bawa terbatas, kami hanya mampu menikmati beberapa wahana. Mafhum saja, waktu itu, untuk menikmati wahana besar seperti Jelajah, Roller Coaster, Dragon's Tower, Dunia Lain, Studio 4D, dikenakan biaya tambahan. Roller Coaster adalah wahana yang kami pilih berikutnya. Menyenangkan meski belum berkesempatan menikmati semua wahana. Sungguh, Trans Studio begitu hari itu begitu menyenangkan. Belum pernah saya lihat adik saya seceria itu, rasanya tidak ada yang mau pulang. Suatu hari, saya harus bayar utang membawa adik saya kembali ke Trans Studio dan menikmati semua wahana.
***
5 tahun kemudian, tepatnya bulan Agustus lalu, saya kembali ke Trans Studio Theme Park, namun kali ini tidak bersama adik. Waktu itu kami dapat promo bulan Agustus, beli 1 tiket gratis 1 tiket untuk yang berulang tahun bulan Agustus. Tidak seperti terakhir kali ke sana, kali ini hanya dengan satu kali beli tiket, sudah bisa bermain di semua wahana. Asyik? Ini sih bukan asyik lagi namanya! Tapi super ultra great wonderful asyik! (Tyar norak deh).

Ada Alien Nyasar
Tidak banyak yang berubah selama 5 tahun ini, Trans Studio tetap menjadi taman bermain paling menyenangkan dan semakin menyenangkan. Sewaktu masuk, kakak-kakak yang menyambut dengan ceria persis seperti di awal-awal pembukaan Trans Studio sampai saat ini masih siap menyambut kami dengan ucapan selamat datang, dengan sama cerianya.

Susah untuk jadi tidak norak jika masuk Trans Studio. Maunya selalu mau mencoba semua hal yang baru maupun lama. Sebagai pemanasan, wahana boom-boom car menjadi pilihan pertama. Karena tadi saya sudah bilang susah untuk jadi tidak norak di Trans Studio, hal lain yang juga sulit adalah untuk ingat umur dan tidak jaim.

Seandainya kalian ada di sana, kalian bisa melihat cerianya orang-orang yang bermain boom-boom car, anak muda, mahasiswa, anak SMA, sampai pasangan yang sudah menikah mungkin belasan atau puluhan tahun dengan cerianya bermain boom-boom car. Berlomba memacu mobil dan saling menabrak satu sama lain. Suara mesin wahana rasanya tenggelam oleh suara tawa para pengunjung. Begitu permainan selesai, suara tawa masih terdengar.

Sayangnya boom-boom car tidak bisa dibawa pulang. Padahal mobil-mobilannya bagus, lumayan dipakai jalan-jalan di sekitar kompleks dan antar mamak ke pasar.

Target berikutnya: Jelajah. Lia, partner in crime saya hari itu sebenarnya takut main di wahana Jelajah karena takut menghadapi seluncuran terakhir itu. Dia takut sama yang tinggi-tinggi, untungnya, saya tidak tinggi *eh. Karena dia takut, maka saya suruh dia duduk di depan, supaya saya bisa melihat dan mendengar ekspresi ketakutannya dengan lebih jelas. Muehehe *ketawa alien*.

Orang di belakang itu sepertinya akan menemukan kru Trans yang hilang. Wajahnya serius begitu.
Karena Lia masih mengumpulkan nafasnya yang sempat hilang beberapa tarikan di wahana ini, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Baru juga satu wahana -____-"
Akhirnya kami memilih ke dunia sains, wahana yang sebenarnya lebih diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin bermain sambil belajar. Tapi dasar karena susah ingat umur, masuklah kami ke sana. Di dalamnya ternyata banyak hal-hal yang menarik.

Teori Evolusi Darwis: Tyar, Monyet, dan Seterusnya
Salah satu yang menarik adalah ruangan simulasi gempa bumi. Di dalamnya ada ibu-ibu yang istirahat santai sambil menunggu anaknya bermain. Saat itu sebenarnya di ruang simulator sedang terjadi gempa tapi beberapa ibu rumah tangga ini terlihat santai sampai ada yang main hape. Mungkin karena sudah terbiasa naik angkot, guncangan simulator gempa ini menjadi tidak ada apa-apanya.


Sekeluarnya dari dunia sains, kami melanjutkan perjalanan ke barat mencari kitab suci. Ehm, melanjutkan permainan di wahana selanjutnya: Dunia Lain alias rumah hantu. Dengan sok tahu dan sok berani, saya jalan di depan padahal sebenarnya juga takut. Yang paling menyeramkan di wahana ini adalah jalan masuk antriannya. Kita harus berjalan kaki terlebih dahulu beberapa saat sampai ke pintu antrian sambil ditemani lukisan-lukisan tua serta pernk-pernik antik ditambah lampu berwarna merah. Hampir saja saya pingsan sebelum mengantri.

Seusai mengantri, kami naik ke kereta tua dan menyeramkan. Jugijagijugijagijug - Kereta berangkat. Gerbang dunia lain terbuka dengan sendirinya lalu masuklah kereta ke sana. Untuk yang satu ini, saya tidak ingin membocorkan pada kalian ada apa di dalamnya supaya tetap menjadi kejutan. Yang pasti, jangan masuk ke wahana ini sendirian. Nanti penghuni dunia lain ini bukannya menakuti malah prihatin padamu yang datang sendiri.

Sulit pose sangar di background seunyu ini
Perjalanan di lanjutkan ke Dragon's Tower. Itu, permainan yang kita akan dinaikkan ke puncak menara lalu tiba-tiba dijatuhkan ke bawah dengan kecepatan tinggi. Iya, kurang lebih rasanya kayak di-PHP, eh taunya pas menyatakan cinta malah ditolak.

Dari bawah, saya melihat towernya tidak terlalu tinggi. Maka, dengan sok tahu saya mengajak Lia ke sana.

Di dalam, tepat di sebelah saya duduk seorang kakak yang membawa adiknya. Sulit menebak umurnya karena suasana di dalam tower yang gelap, namun mudah mendengar percakapan mereka waktu itu. Kau tahulah, tidak dibutuhkan cahaya untuk sekedar berbicara dan mendengar. Si adik yang perempuan rupanya takut dan menolak main wahana ini. Dengan santainya, si kakak mencoba meyakinkan adiknya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Awalnya adiknya merengek tidak mau. Saya? Saya diam saja di sebelahnya karena juga takut. Saya juga ingin dibujuk sih sebenarnya tapi malu. Kalau kalian ada di sana, kalian akan melihat si kakak dengan sabar meyakinkan adiknya itu, pelan-pelan dan hati-hati ia menaikkan adiknya ke kursi, memasangkan pengaman dan menenangkannya dengan mengatakan bahwa ini akan jadi pengalaman yang mengasyikkan. Adiknya diam kini. Mengangguk ia. Berpegangan kuat.

Jesh. Jesh. Jesh. Wahana mulai bergerak. Kakak di sebelah saya masih sibuk menenangkan adiknya. Dalam sejurus kami sudah berada paling atas, ya ampun orang di bawah kelihatan kecil sekali. Di tengah ketakutan kami itu, muncullah seorang penyihir di atas awan lewat TV menambah kesan mistis. Lalu syuuuuutttttt, wahana meluncur dengan bebas ke bawah. Aaa... Semua penumpang wahana berteriak dengan lantangnya, termasuk kakak dan adik yang duduk di samping saya. Saya? Saya cuma bisa melotot dan merapatkan gigi, dan dahi berkenyit. Tidak mampu berteriak. Serius.

Setelah turun dari wahana, semua tertawa dengan riangnya. Sementara itu si adik sudah tersenyum. Tugas kakaknya sudah selesai. Sedangkan pada saat bersamaan, isi perut saya belum benar-benar kembali ke posisinya semula, barangkali letak usus besar dan lambung sudah tertukar karena dijatuhkan dengan kecepatan tinggi.

Dragon's Tower. Apapun yang kalian pikirkan, saya tidak sedang menangis
Hari sudah siang, pertunjukkan bioskop 4 dimensi sudah akan dimulai. Buru-buru kami ke sana. Hari itu, kami kebagian film Avengers, film pendek dengan efek 4 dimensi. Kursi yang bergerak-gerak ditambah efek air yang nyata. Sayangnya di pemutaran pertama, kami belum bisa menonton karena rupanya kursi yang kami pilih sedang bermasalah. Tidak rusak, hanya saja guncangannya tidak penuh. Kakak petugas sudah meminta dengan ramah penonton lain untuk berbagi kursi, mengisi kursi yang masih sebenarnya masih kosong namun orang yang diminta tidak mau pindah. Akhirnya kami mengalah untuk tidak menonton dulu di pemutaran pertama ini. Marah? Tidak. kamu tidak bisa marah di tempat seceria Trans Studio. Toh masih ada pemutaran selanjutnya.

Captain Amerika Bagian Barat dan Thor. Impian jadi superhero sebentar lagi terwujud
Sungguh, tidak lengkap rasanya main ke Trans Studio jika kamu tidak menonton drama musikalnya. Pertunjukan kali ini berjudul I Basse Goes To Bollywood. Tentang seorang perempuan Makassar yang bertemu kembali dengan kekasihnya di negeri India. Sungguh, pertunjukan ini mengubah pandangan saya pada Trans Studio selamanya. Iyah, lebaynya Tyar mulai lagi.

Berpose gaya standar
Trans Studio mungkin sebuah taman bermain yang menyenangkan bagi semua orang dengan segala wahana moderennya. Di pertunjukan ini saya melihat anak-anak muda Makassar menari, bernyanyi, dan beratraksi dengan warna Bollywood campur Makassar. Di pertunjukan ini, saya tidak hanya melihat anak-anak muda yang kreatif dan ceria tapi juga merasa begitu terhubung dengan budayanya. Sesekali terdengar candaan dengan bahasa dan dialek Makassar yang membuat kami terpingkal-pingkal.

Performernya yang mana?
Saya masih terkagum-kagum bahkan setelah keluar dari ruang pertunjukan. Selama ini saya mengira Trans Studio adalah tempat yang moderen dan hedonis, rupanya di dalamnya ada integrasi moderenisme dan budaya tradisional yang lekat. Tidak sampai situ seakan memang sengaja untuk menantang pikiran itu, tiba-tiba panggung tengah mendadak ramai.

Sebuah pertunjukan bertemakan petualangan Si Bolang membawa pengunjung berkeliling nusantara lewat tarian tradisional akan segera berlangsung. Mula-mula dibawanya kami ke Sumatera, lalu ke Kalimantan, Ke Jawa, Bali, mampir sebentar di Sulawesi dengan baju bodo yang merah menyala dan gerobak pisang epe', lalu terakhir ke ujung timur negeri ini di tanah Papua. Tarian-tarian dengan gerak dan musik yang mistik berpadu dengan warna-warni lampu dan keceriaan. Duar! Kurang keren apa coba'?

Dua pertunjukan tadi benar-benar menghubungkan bukan hanya antara satu pengunjung dengan pengunjung lain, atau antara performer dengan pengunjung, bahkan menghubungkan kami semua dengan budaya, baik pengunjung dari Makassar atau luar Makassar. Kebudayaan, hal yang menurut banyak orang sudah mulai terlupakan ternyata mendapat tempat yang istimewa di Trans Studio. Hal ini sekaligus memberi angin segar dan optimisme. Suatu hari, mungkin suatu hari jika seluruh perusahaan besar memberi ruang yang besar bagi kebudayaan tradisional seperti yang dilakukan oleh Trans Studio, anak-anak muda Makassar tidak akan melupakan budayanya. Makassar mungkin saja menjadi kota kreatif berikutnya.

Bisa saja waktu itu tidak akan lama lagi, belakangan ini Makassar ramai oleh kegiatan komunitas-komunitas kreatif. Terakhir kali saya mengecek terdapat paling sedikit 75 komunitas di Makassar. Tumbuhnya komunitas kreatif ini tidak lepas dari peranan media sosial di internet yang menghubungkan kecintaan mereka pada dasar komunitas masing-masing. Sebut saja komunitas Makassar Berkebun atau Komunitas Blogger Anging Mammiri. Harapan lain kepada Trans Studio memberikan ruang yang besar pula terhadap komunitas-komunitas ini. Main ke Trans Studio semakin ramai semakin seru. Promo diskon komunitas bolehlah. Bukan tidak mungkin suatu hari akan ada komunitas Fans Trans Studio. Toh siapa tahu, Trans Studio bisa tumbuh lebih besar lagi bersama Komunitas Makassar sendiri.

Melihat peran Trans Studio menghubungkan moderenisme, pengunjung, dan budayanya, saya jadi ingat dulu waktu kuliah saya menulis tugas akhir bentuk integrasi antara moderenitas teknologi informasi dengan budaya tradisional yang dilakukan komunitas Lontara Project. Apa? Kalian kaget? Kalian kaget kalau saya juga pernah kuliah? Teknologi informasi dan komunikasi akan terus bergerak maju, bukan sebaliknya. Apabila digunakan dengan baik, hal ini sebenarnya menjadi potensi untuk menghubungkan jangankan orang dengan orang, bahkan juga menghubungkan orang-orang dengan budayanya, bukan hanya menjauhkan anak-anak muda dari budayanya seperti yang selama ini kita takutkan.

Ngomong-ngomong soal media sosial, sampai sekarang, saya masih sering berhubungan dengan teman-teman yang saya temui melalui Friendster.com pada tahun 2008 lalu. Apabila dipergunakan dengan baik, teknologi informasi akan menghubungkan kita dengan cara yang mungkin tidak pernah kita kira sebelumnya. Promo beli 1 tiket gratis 1 tiket di Trans Studio ini pun kami temukan lewat media sosial di internet. Lumayan kan?

Dunia semakin sempit, mereka yang menguasai teknologi informasi akan maju selangkah. Tidak hanya komunitas yang menjamur dan semakin tumbuh besar berkat teknologi. Usaha-usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga mengalami pertumbuhan yang sama. Berhubungan dengan konsumen di manapun berada tidak pernah semudah ini. Langkah Trans Studio menyelenggarakan lomba blog ini juga keren dan patut diacungi jempol. Dengan banyaknya blog yang membahas Trans Studio Makassar dan Trans Studio Mall, calon pengunjung akan lebih mudah mendapatkan informasi dan terhubung dengan Trans Studio.

Kita jangan takut, teknologi informasi dan komunikasi tidak selalu berakibat buruk, namun juga jangan bergantung padanya. Bagaimanapun juga, teknologi memang dibuat untuk memudahkan. Meski begitu, ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Secanggih apapun dalam menghubungkan, teknologi tidak akan menggantikan peran seorang pacar yang menenangkan untuk naik bianglala, atau saling menenangkan ketika main wahana dunia lain yang menyeramkan, juga tidak akan menggantikan kesenangan nyata bersama suami atau isteri yang berboncengan dengan boom boom car, saling tabrak menabrak dengan bahagia melupakan umur dan masalah masing-masing, teknologi tidak akan menggantikan seorang kakak yang menenangkan adiknya ketika ingin main di wahana Dragon's Tower, tidak akan menggantikannya untuk menaikkannya ke kursi, mengancingkan pengaman, dan berteriak keras dan lepas bersama ketika wahana melesat turun dengan kencang lalu naik kembali. Teknologi, sampai kapanpun tidak akan menggantikan genggaman tangan bapak dan mamak dengan tangan kecil putra-putrinya yang ingin terus berlarian mencoba semua wahana di taman bermain. Trans Studio, sadar atau tidak telah menjadi penghubung yang begitu menyenangkan bagi semua hal itu.

Trans Studio bagi saya bukan hanya sekedar wahana bermain, lebih dari itu Trans Studio telah menjadi penghungung bagi banyak hal. Trans Studio benar-benar menghubungkan saya dan adik yang waktu itu tidak begitu dekat. Mafhum, sejak adik perempuan saya itu lahir, kami tidak lagi pernah ke taman bermain. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya hingga tulisan ini diterbitkan, saya dan adik berkunjung ke taman bermain. Trans Studio juga menghubungkan kami dengan pengunjung lain yang tidak saling kenal namun tetap bersenang-senang bersama, penghubung antara masyarakat Makassar dan luar Makassar, penghubung masyarakat dengan budayanya, dan yang paling menyenangkan bagi diri saya sebagai penghubung antara saya dan kenangan masa kecil bersama bapak dan mamak yang sudah tidak mungkin bisa diulang lagi. Nostalgia bianglala - Nostalgia yang kekanak-kanakan. Hubungan yang telah naik tingkat menjadi ikatan.

Secara pribadi, saya berharap Trans Studio terus hidup dan berkembang bersama Makassar. Trans Studio telah menjadi ikon kebanggaan bersama dan semoga tetap seperti itu. Terimakasih, Trans Studio Mall dan Trans Studio Theme Park Makassar.

Ada dua tempat yang selalu saya senang datangi. Bangunan sekolah dan taman bermain.
***
Tulisan ini diikutserakan pada lomba Blog "Connected" Trans Studio Makassar dan Komunitas Blogger Anging Mammiri.


Salam dari Bianglala dan Juara Moto GP :)

(Tech) Jaga-jaga Kalau File Hilang

Sewaktu KKN dulu, saya mendengar cerita teman seposko tentang temannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kami bergosip. Tapi bukan, kami tidak menggosipkan yang macam-macam, misalnya apakah temannya itu adalah simpanan tante-tante atau apakah sebenarnya temannya itu sebenarnya adalah serigala berwujud manusia.

Supaya kalian tidak bertanya, maka akan saya ceritakan kembali pada kalian apa yang kami ceritakan waktu itu. Sebut saja namanya Mindi.

Mindi adalah mahasiswa yang rajin, cukup pintar, dan melek teknologi. Jika punya kumis, mungkin Mindi akan ditawari menjadi menteri karena bisa install ulang windows. Mindi yang rajin, cukup pintar, dan melek teknologi, serta bisa install ulang windows suatu kali mendapati dosennya kesulitan dengan laptopnya. Laptopnya lalot, kata dosennya yang professor itu. Mungkin butuh diinstall ulang.

Mindi yang rajin, cukup pintar, dan melek teknologi, serta bisa install ulang windows itu ternyata juga baik hatinya. Ia tawarkan kepada dosennya itu untuk menginstall ulang windowsnya. Dosennya setuju dan senang. Laptop dosennya, Mindi bawa pulang.

Namun, niat Mindi yang rajin, cukup pintar, dan melek teknologi serta bisa ulang windows itu rupanya tidak berbanding lurus dengan keberuntungannya. Tidak ada yang salah dengan proses install ulang yang ia lakukan terhadap laptop dosennya. Di luar kuasa Mindi, seluruh data di laptop dosennya itu hilang. Puft.

Mindi panik. Berbagai macam software telah ia coba untuk me-recover data yang hilang namun hasilnya nihil. Mindi stress berhari-hari. Ditambah lagi dosennya yang sudah mulai mencari laptopnya karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Mindi yang rajin, cukup pintar, dan melek teknologi serta bisa intall ulang windows kini putus asa.

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya dengan putus asa ia menceritakan hal tersebut pada dosennya. Bahwa seluruh data yang ada di laptop itu hilang. Penelitian, bahan ajar, termasuk sebuah draft buku yang akan diterbitkan hilang begitu saja. Mari kita sudahi kisah memilukan ini sampai sini saja.

Hal yang menimpa Mindi dapat kita temukan pada kasus lain, seorang mahasiswa semester akhir bisa terlambat ujian karena draft skripsi di komputernya hilang karena virus, atau pengurus organisasi yang tidak bisa memberikan LPJ di musyawarah karena data LPJ di komputer hilang entah ke mana. Atau pada kasus komputer yang hardwarenya rusak bahkan hilang.

Mari sejenak kita menundukkan kepala untuk mendoakan orang-orang yang pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan ini.

Belajar dari itu, sewaktu mengerjakan skripsi saya selalu mem-backup draft saya secara berkala di cloud/online storage. Dalam bahasa sederhananya, di-upload ke internet. Istilah ini secara populer disebut juga dengan cloud computing atau cloud storage? Apa itu cloud computing? Apa itu cloud storage?

Secara harfiah, cloud computing berarti komputasi awan. Awan dalam hal ini adalah metafor dari internet (sumber: wiki). Cloud computing atau cloud storage secara sederhana adalah mengakses data-data di internet. Lebih sederhana lagi, ibaratnya kita punya hardisk tambahan di internet.

Apa manfaat cloud computing dan cloud storage?
Supaya apa yang terjadi pada Mindi dan orang-orang yang kehilangan data tidak terjadi pada kita. Selain itu, kita tidak pernah tahu kapan kita butuh data yang penting dan kita tidak bisa membawa laptop ke mana-mana, 24 jam. Saya sendiri menggunakan cloud storage untuk menyimpan data-data skripsi. Saya juga menggunakannya untuk menyimpan teks pelantikan anggota baru di organisasi saya, jaga-jaga jika suatu kali pengurus lupa di mana menyimpan teks aslinya - dan itu sudah beberapa kali terjadi. Selama ada koneksi internet, kita bisa mengakses data itu kapan dan di mana saja.

Ilustrasi perkembangan storage device. Sumber: 1a20.com
Siapa yang sebaiknya menggunakan cloud computing dan cloud storage?
Pelajar dan mahasiswa untuk menyimpan tugas, penulis untuk menyimpan draft, tim kreatif untuk berbagi ide dan file, guru dan dosen untuk menyimpan bahan ajar, para personal maupun profesional, siapa saja.
 
Bagaimana cara menggunakan cloud computing dan cloud storage?
Barangkali bersamaan dengan semakin majunya teknologi mobile computing, teknologi cloud semakin gampang diakses. Ada banyak penyedia layanan cloud yang gratisan dengan kapasitas yang cukup besar. Sebut saja Google Drive (belakangan sudah satu paket sama Android), iCloud untuk produk Apple, Microsoft, Asus Web Storage untuk pengguna Asus, dan lain-lain.

Kalau saya pakai Google Drive (www.drive.google.com). Selain gratis, penggunaannya juga cukup mudah. Cukup bikin e-mail di Google, secara otomatis kita juga akan dapat layanan ini secara gratis. Kalau sudah punya akun Gmail, berarti kita juga sudah punya akun Google Drive. Kapasitas yang disediakan 15GB untuk semua jenis file. Kurang lebih, sudah lebih dari cukup.

Tampilan Google Drive setelah sign-in
Selain itu, Google Drive juga punya fitur sinkronisasi. Kita bisa mengalokasikan satu folder di komputer kita sebagai folder untuk Google Drive. Apabila tersambung dengan internet, kita bisa mengakses semua data di cloud seperti data di folder-folder kita yang lain seolah data itu memang ada di komputer kita. Aktifitas semacam upload atau download dapat dilakukan semudah copy + paste. Masih ada yang lebih mudah lagi?

Nah, semoga postingan ini berguna. Ingat, kita bisa mengupload file apa saja - teks, foto, video, dan lain-lain namun ingat, semua sistem pasti punya kekurangan. Hal-hal yang bersifat pribadi dan untuk tujuan personal sebaiknya jangan pernah di-upload ke internet. Data hilang, rusak, atau dibutuhkan tiba-tiba, sekarang bisa diakses kapan dan di mana saja selama ada akses internet.

Ini adalah contoh penggunaan sederhana dari cloud computing dan cloud storage, jika ingin tahu lebih banyak bisa langsung tanya sama om Google.

Di kesempatan yang lain mungkin saya akan berbagi pengalaman cara mengembalikan file yang hilang karena tidak sengaja terformat. Terimakasih sudah baca, ingat tinggalkan komentar :)

Blogger Energy - 9 Agustus 2012 sampai Kapan?

Saya mencoba mengingat-ingat kembali kapan kali pertama dan dari mana saya menemukan grup Blogger Energy tapi gagal. Yang jelas, kalau tidak salah pada bulan-bulan seperti ini di tahun 2012.

Kalau tahunnya saya ingat, karena waktu itu saya bergabung di grup Blogger Energy bersamaan dengan bergabungnya saya di grup blogger yang lain. Sayangnya, karena saya pada saat itu juga sedang disibukkan dengan aktifitas magang dari kampus, saya jadi tidak bisa aktif benar dalam blogging sampai saya di-kick dari grup itu. Saya bahkan sempat was-was akan di-kick juga dari Blogger Energy.

Saya juga ingin membawa kalian ke tahun itu, tahun ketika saya tidak yakin suatu saat grup Blogger Energy akan sebesar ini. Awalnya, saya mengira grup ini akan bernasib sama dengan grup-grup blogger yang sudah saya temui sebelumnya - mati. Tergeser oleh budaya pop dunia internet berbentuk social media. Atau berakhir seperti entah berapa grup-grup blogger sebagai tempat member berpromosi link secara tidak beraturan di wall-nya sampai menumpuk kayak catatan kuliah anak Kedokteran.

Sebelum Blogger Energy, saya mengenal RumahBlogger.com, komunitas blog berbasis forum yang diinisiasi Benazio Rizki (benablog.com). Grup blog yang menyenangkan dan hidup namun kini kosong ditinggal penghuni-penghuninya - entah ke mana.

Untungnya perkiraan itu salah. Blogger Energy tumbuh seperti benih pohon. Memang tidak langsung besar, namun tumbuh. Blogger Energy terus tumbuh pelan-pelan, ditopang oleh member-member yang komitmen dan konsisten di akar, dari akar tumbuh batang dan daun yang lebar hingga kini berbuah - Sebuah naskah bertajuk Asem Manis Cinta atas nama Blogger Energy diterbitkan penerbit mayor dan sudah bisa diperoleh di Gramedia seluruh Indonesia.

Gambar sampul Buku Asem Manis Cinta (BloggerEnergy.com)
Setiap tanggal 9, Blogger Energy akan menerima member baru yang berarti, setiap tanggal 9, (((keluarga))) Blogger Energy menjadi semakin besar. Nama-nama baru bermunculan memberi warna yang lebih banyak dan semakin banyak. Sampai tulisan ini dibuat, tercatat sudah ada 332 orang anggota.

Di Blogger Energy, ada semacam budaya yang sudah dipahami bersama oleh member-membernya, semacam budaya promosi postingan setiap hari di topik yang disediakan oleh Rangers, sebutan untuk para admin yang cowok semua. Tidak boleh berpromosi selain di topik yang telah disediakan. Tanpa dikomando, member-member ini akan saling mengunjungi dan meninggalkan komentar di masing-masing blog. Musibah tenggelamnya tren Blogwalking belum mewabahi Blogger Energy.

Di tengah populasi blogger yang semakin tergeser oleh pengguna Facebook, Twitter, Instagram dan Path, Blogger Energy berdiri mantap seolah menantang dan berkata, "Kami masih akan terus hidup". *lalu angin bertiup membelai rambut member-membernya*
(Oh, by the way, Rangers yang membaca tulisan ini, saya belum di-invite ke grup Whatsapp yang ramai kalian bicarakan di grup).

Blogger Energy mungkin tidak se-hectic (seramai) grup Blogger lain, tapi kadang-kadang kita memang tidak butuh terlalu banyak orang untuk bisa merasa senang. Kadang-kadang kita cuma butuh beberapa orang yang mau mendengar satu sama lain. Grup Blogger Energy akan terus menyenangkan jika orang-orang di dalamnya bergabung bukan untuk meningkatkan popularitas dan ingin terkenal, melainkan karena memang senang melakukannya - senang blogging. Buat apa banyak teman kalau tidak ada kualitas hubungan? Iya kan? Iya aja deh!

Salah satu harapan saya soal Blogger Energy adalah suatu saat nanti kita bisa berinteraksi lebih banyak di luar Facebook. Mungkin lebih banyak berinteraksi di webnya sendiri, di BloggerEnergy.com - Toh bagaimanapun juga ini adalah grupnya para blogger, bukankah dengan begitu web BloggerEnergy.com juga akan semakin hidup?

Salah satu rubrik di BloggerEnergy.com yang membahas populasi siluman di Indonesia.
Khawatirnya, suatu saat facebook akan bernasib sama seperti Friendster dan MySpace yang ditinggal user-nya dan kita tidak terbiasa berinteraksi di luar Facebook. Oh iya, soal gambar potongan artikel yang kalian baca di atas adalah salah satu rubrik bertajuk Ngobrol Unyu yang memperkenalkan member-member Blogger Energy yang sampai saat ini saya masih merasa terjebak kenapa profil saya yang pertama kali dimuat -___-"

Dan oh sebelum saya lupa, saya punya teman yang (dulu) member Blogger Energy tapi sekarang memutuskan untuk meninggalkan grup. Katanya kepada saya, grup Blogger Energy terlalu Rangers-centered. Entahlah, mungkin menurut dia grup ini sebaiknya tidak terlalu berfokus sama Rangers-nya saja tetapi lebih members-centered. Yah, mari kita jadikan pelajaran untuk membawa grup ini lebih maju ke depannya.

Saya pernah bilang teman di yang ditemui di blog selalu lebih istimewa daripada di media sosial lainnya. Ada semacam perasaan, "kami adalah teman lama dan sudah kenal dari dulu" yang entah datang dari mana. Begitu juga Blogger Energy, hampir setahun yang lalu untuk kali pertama kami melaksanakan kopi darat. Semua gara-gara Kukuh dan Wawal yang datang dari luar pulau ke Makassar. Lucunya, saya benar-benar merasa mereka bukan orang-orang yang baru saya temui. Perasaan itu sekali lagi, entah datang dari mana. Di Kopdar Blogger Energy, kami tidak perlu menjadi orang lain untuk diterima.

Suatu hari di Kopdar Blogger Energy Makassar
 Jangan khawatir kalau kalian mau bergabung, di grup ini, member lama dan member baru tidak dibeda-bedakan. Ibaratnya, kalau kamu sudah masuk ke grup, kamu sudah seperti member-member lainnya - setop sampai situ.

Jangan khawatir kalau grup Blogger Energy akan menjadi seperti komunitas lain yang mungkin pernah kalian temui di luar - yang kalian ingin akrab dengan anggota lain tapi tidak bisa menembus batas pertemanan antaranggota yang sudah tercipta duluan, sebelum kalian datang.



Lewat tulisan ini juga saya ingin minta maaf jika saya jarang aktif di grup Facebook. Saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke grup kok, dan buat anggota-anggota Blogger Energy yang belum saya follow blognya, tinggalkan komentar di postingan ini saja ya, nanti saya follow.

Pada akhirnya hidup atau tidaknya suatu komunitas akan bergantung pada orang-orang di dalamnya. Jika Blogger Energy bisa tetap menjadi rumah yang menyenangkan, (((keluarga))) Blogger Energy tidak akan pernah lupa jalan pulang.

Makassar yang sedang cerah, 2nd Anniversary Blogger Energy,
Agustus 2014.
***
Baca rubrik Ngobrol Unyu bersama @planetyar di BloggerEnergy.com - Klik di sini

(Tips Blogging) Memilih Warna Blog

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.

Sejak kecil, kita sudah akrab dengan warna favorit dari hal-hal yang sederhana. Misalnya waktu masih SD dulu, kalau anak-anak cowok biasanya punya Power Rangers favorit. Atau minimal - Anggota Teletubbies Favorit.

Mencoba Googling "Tubbies Rangers" - Tidak kecewa. Sumber
Hal yang sama juga berlaku buat cewek. Mereka juga sudah pasti akrab dengan yang namanya warna favorit. Tentu saja saya tidak bisa memberikan contoh seperti apa mainan cewek yang akrab dengan warna-warni karena saya cowok yang macho. Saya tidak tahu apa itu mainan bongkar pasang, yang berbentuk dua dimensi dicetak di atas kertas bergambar tokoh cewek atau cowok lengkap dengan baju-bajunya yang bisa diganti-ganti sesuka hati. Yang paling populer tokohnya tentu saja Barbie.

Nah, perihal warna favorit inilah yang biasanya diterapkan setiap blogger di blognya masing-masing. Bagi blogger, persoalan warna adalah persoalan sensitif. Warna bukan cuma menjadi pernyataan, "ini loh warna favorit aku", melainkan bisa jadi warna yang dipilih adalah representasi (perwakilan) dari kepribadian blogger itu sendiri.

Terutama bagi para blogger personal yang sudah menganggap blog sebagai kamarnya sendiri. Sebisa mungkin, tampilan blog disesuakan dengan personality masing-masing. Inilah salah satu hal yang membuat blog sebagai salah satu media sosial lebih menarik daripada media sosial seperti Facebook dan Twitter yang begitu-begitu saja. Maksimal ganti foto cover.

Sayangnya, tidak semua warna cocok menjadi warna tema blog. Ada beberapa warna yang alih-alih bikin blog jadi lebih cantik, yang ada malah bikin pengunjung sakit mata. Misalnya aja warna merah, jingga, kuning, atau hijau yang memang warna-warna ceria dan menyala.

Contoh Warna yang bikin sakit mata
Iya, sayangnya warna-warna yang tidak nyaman di mata itu adalah warna-warna yang justru populer. Namun sekarang ada kabar gembira untuk kita semua! Kulit manggis kini ada... Ah, sudahlah.

Sejak rilisnya windows 8 ke publik, terjadi tren yang cukup populer di kalangan desainer dan netizen yaitu populernya flat icon dan metro design. Apa itu metro design? Kalian bisa membacanya lebih lengkap di halaman wikipedia di sini.

User Interface Windows 8. Sumber: Wikipedia
Meskipun pada awal rilisnya Windows 8 mendapay kritik yang tidak menyenangkan, desain yang mereka hadirkan justru memengaruhi dunia desain, tidak terkecuali dunia desain web (dan blog). Lalu apa hubungannya desain gaya metro dengan tips memilih warna blog? Desain gaya metro ini prinsipnya adalah mengedepankan kontennya sendiri. Desain yang berwarna lembut dan eye catchy akan membuat konten menjadi lebih hidup.

Contoh penerapan warna (klik untuk lihat lebih jelas)
Dari tiga contoh gambar tersebut, teman-teman mungkin sudah dapat gambaran pilihan warna yang lebih nyaman di mata dan yang membuat tulisan lebih gampang dibaca. Untuk memberikan gambaran penerapan warna metro di tulisan, teman-teman bisa melihat contoh berikut:

(Kuning) Pada hari apa kuturut siapa ke mana. Naik apa istimewa kududuk di mana. Kududuk samping siapa yang sedang mengapa. Mengendali apa supaya baik apanya.

(Kuning Metro) Pada hari apa kuturut siapa ke mana. Naik apa istimewa kududuk di mana. Kududuk samping siapa yang sedang mengapa. Mengendali apa supaya baik apanya.

Nah, bagaimana? Sudah lebih jelas lagi kan perbedaannya?

Untuk mengaplikasikan warna-warna metro ini ke blog, kalian bisa mengunjungi web ini (sila atuh di klik). Tinggal pilih warna yang diinginkan, lalu ganti warna lama di blog kalian dengan kode HEX yang kalian dapati di web tadi ke kode HTML kalian.

Oke, segitu dulu, Aliens. Semoga tips singkat ini bisa membantu kalian dalam memilih tampilan blog dan tentu saja lebih semangat lagi di dunia blogging.

Terimakasih sudah membaca. Selamat menunaikan ibadah puasa :)

 Disclaimer: Gambar thumbnail diambil dari instagram @fith101 dengan izin. Klik http://instagram.com/fith101 untuk gambar-gambar keren lainnya.

(Special Review) Surat Cinta dari Berbagai Negara

Itu adalah lepas subuh yang cerah ketika aku memutuskan untuk menemani panitia persiapan Hari Lahir 30 PMR Wismu 05 untuk berjualan di pantai dalam rangka pencarian dana. Garage sale istilah kerennya. Bertempat di Pantai Losari, pukul 06.00 WITA. Oke, mengapa mendadak jadi seperti undangan begini?

Minggu pagi di Pantai Losari
Tak apalah, pikirku. Mumpung itu juga hari Minggu dan aku juga tidak ada kegiatan. Akhirnya ikut juga aku ke sana sama mereka, berjualan baju dan celana luaran yang layak pakai. Kami sampai di sana kurang lebih belum pukul enam pagi. Dengan lincahnya, anak-anak panitia ini langsung mencari tempat yang dirasa pas untuk berjualan.

Kami memilih tempat di pinggir jalan, ya kau tahulah, karena berjualan di tengah jalan itu berbahaya. Kami berjualan di pinggir, lebih aman.

Satu demi satu pengunjung mendatangi lapak kami, ada yang melihat-lihat tanpa membeli, ada juga yang membeli tanpa melihat. Bahkan ada juga, yang tidak melihat dan tidak juga membeli, yaitu orang-orang yang waktu itu masih tidur.

Ada yang unik di jalan sekitar pantai Losari tiap pagi di akhir pekan. Biasanya memang ramai oleh warga yang entah apa urusannya. Entah mencari sarapan, entah mencari pemandangan, atau mencari jodoh.

Ihsan dan jualannya yang belum laku
Jika di ujian semester posisi menentukan nilai, maka di garage sale posisi menentukan jumlah penjualan. Cukup lama kami di sana sampai ada pembeli yang datang sekedar bertanya harga - lalu pergi. Sekarang aku tahu perasaan penjual yang biasa aku tanya harga - lalu pergi.

Untungnya, tepat di sebelah lapak kami ada lapak yang menjual buku. Buku yang dijual ada bermacam-macam, kebanyakan di antaranya buku-buku agama dan buku resep awet pernikahan. Iya, kau harusnya tahu seperti apa isi buku itu tanpa harus aku jelaskan lagi.

Abaikan orang ini
Dari semua buku agama dan resep awet pernikahan itu, ada satu judul buku yang menarik perhatianku. Sebuah buku tipis - tidak terlalu tebal, tidak mencolok tapi begitu menarik perhatian. Sebuah buku berjudul Surat Cinta dari Berbagai Negara karya Yoyok WS. Kalau melihat dari ciri-ciri sampulnya, sepertinya buku ini seangkatan dengan buku Indahnya Surga yang biasa dijual di depan sekolah dasar.

Tanpa pikir panjang, aku langsung meraih buku itu, meski harganya cukup mahal: dua belas ribu rupiah yang itupun masih dikasih potongan karena sang penjual tidak punya uang kecil jadi sepuluh ribu rupiah. Oh, Surat Cinta dari Berbagai Negara, Jangan-jangan kita memang jodoh.

Sampul Epik
Kalau ada yang bilang buku dan tulisan adalah mesin waktu paling sederhana, aku akan mengangguk setuju. Membaca buku ini, kamu akan dibawa ke masa ayah dan ibumu mungkin baru saling berpacaran, atau lebih jauh lagi - PDKT.

Ini buku ajaib. Di dalamnya akan kamu temukan diksi (pilihan kata) yang tidak biasa kamu temui, bahkan di film-film lama Warkop DKI. Baru membaca kata pengantarnya saja, aku sudah berdecak-decak kagum dan tertawa. Beginikah muda-mudi saling berinteraksi dulu? Supaya kamu tidak penasaran, ini aku tuliskan kata pengantar dari buku yang tidak biasa ini.

Dari berbagai perkenalan yang menimbulkan percintaan bagi muda-mudi akan meramu timbulnya kisah-kisah percintaan. Sejuta kisah yang melahirkan gebyar bunga-bunga bunga-bunga hati, namun tak jarang pula harus mengakhirinya dengan rasa pahit. Bunga-bunga asmara yang begitu warna-warni ternyata dapat dijadikan sebagai memori kehidupan dan dapat dijadikan cerita untuk anak cucu.

Surat-surat cinta adalah memori dan sebagai tanda bukti yang historis. Maka layaklah bila berkas-berkas percintaan masa remaja tersusun rapi.

Kamu jangan terpaku oleh kisah yang akan diketahui oleh anak cucumu. Tetapi yang terpenting bagaimana kamu menurunkan susunan surat yang baik untuk ditiru. Surat yang indah tak perlu harus disembunyikan walau datang dari seberang lautan atau mancanegara. Ini adalah kisah menawan.

Hai remaja, ukirlah coretan penamu serapi, sebaik, seindah, dan sesopan mungkin. Baik itu untuk teman dalam negeri maupun teman di luar negeri. Kiranya apa yang kamu tulis akan menunjukkan sebagian kepribadianmu.

Berhati-hatilah. . . . .

Penyusun

Buku ini berisi surat-berbalas-surat dari dua orang sahabat - atau gebetan - atau sepasang kekasih yang sedang LDR. Waktu itu pasti belum banyak yang memiliki handphone apalagi e-mail. Menilik isinya, akan kau temui diksi yang tidak biasa seperti yang aku tuliskan di atas tadi seperti "gebyar bunga-bunga hati", "jawa dwipa", "wartaku", "salam manisku", sampai mungkin, diksi yang tidak kamu bayangkan ada dalam KBBI! (Oke, ini lebay)

Seperti surat dari Susiawan K. untuk Ida F. berjudul, "Dari Kasih di Amerika" ini:

Sayangku... Bagaimana infomu di Jawa Dwipa ini? Lama banget kamu tak kirim info kepadaku, apa sudah lupa ya? Eee... Bagaimana kamu ini, jangan begitu ah! Ditinggal tujuh bulan saja kok sudah tak setia begitu, awas ya entar kujitak tujuh kali bila aku sudah kembali. Don't forget me!

Surat mas Susiawan lalu dibalas oleh Ida dalam surat yang berjudul, "Balasan dari Tanah Air". Untuk mas Susiawan di Pengasingan.

Salam manisku,
Info yang kau kirim telah aku terima dengan baik. Demikian pula dengan warta orangnya, semua lagi fit.
Sebelumnya sorry Mas, karena kurang cepatnya kabar yang kukirimkan. Bukannya aku lupa oleh situasi baru di bumi Nusantara. Namun karena beberapa faktor yang tak memungkinkan aku melayangkan secarik kertas padamu....
...Terus terang saja, Mas. Aku tak bisa mengusir rasa kesepianku setelah ditinggal Mas ke Amerika. Banyak sudah tempat-tempat hiburan yang kudatangi untuk membuang kesepian dan menghibur diri agar tetap ceria, namun usaha ini hanya menghabiskan uang saja dan hasilnya nihil....

Bagaimana? Manis sekali kan? Masih mau lagi?

Baiklah, ini potongan surat dari Najib Ahmed di Kuwait untuk Nur Laila di Garden Flower.

Di sela-sela tugasku di kilang minyak Kuwait ini kusempatkan kirim informasi untuk Lailaku. Aku hanya bisa berharap serta berdo'a agar ente dapat karunia Allah sehingga masih dalam keadaan sehat wal afiat. Amien.....
...
Lain dari itu, gelegak rindu rasanya tak dapat kubendung lagi. Ibarat bom, hanya tinggal waktu kapan rindu ini akan diledakkan. Namun aku hanya ingin mengirimkan bom-bom rindu yang berskala kecil saja, saya takut ente tak tahan akan goncangannya...

Seperti tadi, surat ini akan dibalas juga oleh Nur Laila kepada Najib Ahmed. "Balasan ke Negeri Minyak" judulnya.

...
Pujaan hatiku... Dirimu yang jauh tak membuatku menyurutkan dian cinta. Meskipun ada sesuatu yang kurasakan hilang dariku, namun aku berusaha teguh. Tentu saja lain jika sang doi berada di sampingnya dengan doi yang jauh di seberang lautan. Ya... Kelainan ini hanya kebiasaannya saja, tetapi hatinya kan tetap, iya kan?

Satu lagi ya. Judulnya, "Memadukan Hari untuk Sahabat Lama dari Ujung Pandang".

Buat:
Sahabat Anis Marselina
di Wisma Bidadari

Salam hangat-hangat selalu,
Dik Anis yang caem... Gue sampein met ngelamun aja! Rupanya lu tak bosan-bosan menggambar di udara, apa lu tak takut nyasar ke alam gaib? Entar lu jadi astronot di dalam maya! Akh... ini hanya mainan/intermeso aja lho, Dik! Tapi, masih lebih mending ngelamun daripada terlalu banyak ngambek. Kalau terlalu banyak ngambek entar caemnya luntur kayak kain sarung yang lagi kecuci, pucat!

Terus terang aja deh. Kemarin ketika gue datang ke rumah lu, kenapa kok cemberut aja? Tapi tak apalah, makin cemberut makin... Cuantik rasanya. Gue juga senang lho ngeliatin gadis cantik yang lagi gituan. Jika lu nggak marah sebentar saja, gue malah jadi kangen banget dan akan mencari-cari kapan kamu bisa begitu. Kalau lu marah rasanya tambah manis banget, Tapi, betapa lebih cantiknya kalau lu suka tersenyum. Lagi pula banyak senyum ibarat buah banyak zat gulanya, tambah manis bukan? Nah, apakah lu nggak kepingin seperti itu? Gue aja yang cowok gini ingin selalu tersenyum, apalagi cewek manis semacam lu. Entar gue akan datang, senyum dikit dooooong! Gitu lho, asyiik!

Dik Anis yang amboi... Bolak-balik gue datang ke rumah lu. Hampir-hampir gue hafal jumlah kerikil di halaman rumah lu. Wajah lu pun makin terasa melekat di hati gue, rasanya lengket kena lem. Apa lu juga merasakan itu?! Apakah lu juga mau menempeli hati gue dengan potret wajah lu yang imut-imut itu? Andai saja "ya" betapa indahnya dunia ini. Aku pun merasa bangga.

Di dalam surat berjudul, "Untuk Cowok dari Jawa Barat", dik Anis yang manis dan imut-imut membalas:

Yang Top:
Bang Hendrawan
di tempat

Dengan hormat,
Menerika kontak surat kamu yang ceplas-ceplos tapi menyenangkan ini aku betul-betul merasa happy banget. Ini bukan berarti lampu hijau buat kamu, jangan merasa GR dulu, Ya... Biasa-biasalah. Andaikan ini sebuah buku, pembukaan semacam ini baru pada tahap pengantar atau pendahuluan saja. Untuk itu kamu perlu meyimaknya dan menbacanya secara rinci, teliti, dan memahaminya hingga bagian akhir. Makanya duduk yang apik, santai, dan serius.

Sebelum aku menyampaikan pandanganku, eh... Kayak anggota DPR saja...
Sebenarnya aku agak malu pakai surat-suratan, kayak anak muda aja, ha ha ha... Eh ngapain sih tidak langsung aja di hadapanku, mau ya? Kalau mungkin sebaiknya langsung face to face saja. Jangan-jangan orang mengira kamu kurang jantan. Tentu kurang enak kan?
...
 Maafin aku kalau apa yang kau inginkan melalui kertas ini tidak menjadi kenyataan. Namun lewat daratanlah kamu akan memperoleh jawaban. Untuk itu kehadiranmu di rumahku selalu kutunggu. Met Jumpa ama aku...

Bagaimana? Sudah terbayang epiknya buku ini? Aku tidak bisa menulis banyak-banyak soal pandangan tentang buku yang tidak tahu kapan terbitnya ini. Bahkan di google aku coba mencari info soal buku ini, tidak ada satu petunjuk pun. Masih banyak keepikan lain di dalam buku ini. Tepat di saat aku kira buku ini sudah habis, ternyata ada halaman ekstra berisi nasehat untuk muda-mudi yang sedang dilanda badai cinta dan asmara agar bunga-bunga kerinduan bersama si doi itu bersemi senantiasa:

Nasehat Muda-mudi:
  1. Jangan egois.
  2. Bersikap dewasa
  3. Berusaha Mandiri
  4. Saling percaya dan mengerti
  5. Tidak memperbesar persoalan
  6. Sabar

Begitulah. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka. Sekarang jika LDR, kita tinggal suka skype, kita sudah bisa video call. Bahkan hampir semua aplikasi chat di smartphone sudah mendukung video call. Kita dapat saling melihat saat itu juga. Tidak perlu menulis panjang-panjang untuk doi, dan tidak usah menunggu lama untuk dapat surat balasan, bahkan tidak perlu khawatir surat itu nyangkut di pagar orang seperti kekhawatiran dik Anis dalam suratnya.

Atau mungkin justru mereka yang senang dengan keadaan seperti itu? Apa mereka yang senang menunggu datangnya balasan surat dengan kekhawatiran terlebih dahulu: Apakah surat yang kau kirimkan sudah dia terima dan dia baca? Atau sudah dia baca, namun tidak ingin membalasnya?

Tyar di Makassar, 5 Juli 2014

(Late Post) Makassar International Writers Festival 2014

Susah untuk jadi tidak norak kalau mengikuti event keren ini. Tahun lalu, saya cuma dapat event penutupan dan itu adalah satu-satunya rangkaian Makassar International Writers Festival (MIWF) yang saya ikuti setelah empat tahun dilaksanakan di kota ini. Tahun ini saya membuat lompatan peningkatan yang cukup signifikan: Ikut acara pembukaan.

Lihatlah saya waktu itu, dengan penuh percaya diri mengambil kursi paling depan yang menyebabkan saya langsung ditegur oleh panitia karena rupanya kursi paling depan itu sudah direparasi. Apa sih itu istilahnya? Yang sudah dipesan itu, apa namanya? Renovasi? Ah. Itulah pokoknya *serius lupa*.

Oh iya, untuk kalian yang belum tahu, Event ini bernama Makassar International Writers Festival. Sebuah perayaan tahunan, sebuah festival untuk merasakan sastra, puisi, dan berbagai macam literasi. Festival tahunan yang menghadirkan penulis-penulis nasional dan internasional untuk merayakan dan berbagi.

Susah untuk tidak jadi norak karena akhirya saya bisa ikut acara pembukaan. Panggungnya megah sungguh, dengan tiga buah layar besar dan lampu yang terang benderang nyala bergantian, ditambah dengan musik tradisional dari pakkacapi (semacam gitar kecil tradisional) dan gendang, aih. Pokoknya malam itu, Benteng Fort Rotterdam meriah sekali.

Acara dibuka dengan penampilan tarian adat Toraja yang namanya saya lupa. Tarian ini diperagakan oleh penari yang tergabung di komunitas atau asosiasi yang saya juga tidak tahu namanya. Lalu apa yang saya tahu? Aku cuma tahu cara merindukanmu. Yang jelas, tarian itu diperagakan lincah sekali, padahal yang memperagakannya itu orang-orang dari 11 negara berbeda. Ada dari Jepang dan Swiss kalau saya tidak salah ingat.

Malam ke dua diisi dengan pembacaan dramatik kisah Pangeran Diponegoro yang apik sekali oleh rombongan Landung Simatupang. Pertunjukan yang bertajuk, "Aku Dipenegoro" ini adalah gambaran biografi Pangeran Diponegoro. Diiringi tarian, nyanyian, musik, pembacaan dramatik makin terasa magis dari adegan ke adegan. Terutama sewaktu Landung Simatupang menunjuk ke salah satu ruangan Fort Rotterdam ketika pembacaan sampai pada pengasingan Pangeran Diponegoro ke benteng ini.

"Di sinilah rumahku, di Fort Rotterdam
Di sinilah rumahku, di Makassar"

Bait itu menutup pembacaan dramatik ini. Persis ketika saya mengira pementasan sudah bubar, tiba-tiba seseorang berbaju putih melangkah ke panggung dengan memegang tongkat yang diikat pita berwarna merah putih. Dengan langkah perlahan ia mengetuk-ngetuk panggung serupa seorang buta yang sedang memeriksa jalan. Ia mengangkat tongkatnya, memukulkan ke depan, mengayunkan ke kiri lalu ke kanan memeragakan gerakan perkelahian.

Sejurus kemudian pukulan-pukulan dari tongkatnya semakin banyak dan cepat. Semakin keras, sesekali ia berhenti sejenak lalu memukul lagi, semakin ia memukul, semakin dramatis pertunjukan itu. Gerakannya makin lincah, kini ia tidak lagi memukul, ia berguling, berbaring, lalu berguling lagi. Pukulannya semakin keras namun tiba-tiba ia menjatuhkan diri, ia coba berdiri namun kakinya bergetar, pandangan matanya yang tadi garang kini takut, dipegangnya kuat-kuat tongkat untuk berdiri dengan susah payah.

"Oh, dia sedang berperang dan kalah!", kataku dalam hati. Aku sepakat dengan diriku sendiri  bahwa adegan itu adalah adegan ketika Pangeran Diponegoro kalah lalu ditangkap oleh pihak VOC (Belanda).

Foto dulu sama @ndigun supaya eksis
"Punggungmu jalan setapak
dan aku tak mengenakan sepatu.
Kakiku tertusuk ranting
peninggalan masa lalumu.
Lalu luka ialah pepohonan
yang tiba-tiba tumbuh
di halaman dadaku.
Rindang sekali.

O, ada sungai di matamu

aku tak bisa berenang"
- Andi Gunawan

Hari terakhir, saya mengikuti sesi puisi dan peluncuran buku puisi Hap-nya Andi Gunawan. Sesi ini diisi oleh tentu saja penulisnya, Ndigun dan Aan Mansyur yang juga dikenal sebagai hurufkecil. Saya duduk di belakang karena terlambat.

Ada satu perihal soal puisi Andi Gunawan yang membuat saya suka. Pilihan katanya, menurut saya begitu sederhana tapi ngena, termasuk salah satu puisinya berjudul Pergi Berbelanja yang ia bacakan di pada saat penutupan. Puisinya begitu dalam lalu di bait-bait terakhir kau akan tertawa perihal ular tangga. Puisinya bisa kalian baca di sini.

Penutupan berlangsung meriah, meskipun sempat terpotong beberapa kali karena hujan yang tiba-tiba datang.

Dibikinkan gambar di Instagram segala sama si Fitrah Amalina
Apalagi yang menyenangkan? Oh, tentu saja yang paling menyenangkan adalah akhirnya bisa bertemu dengan beberapa teman-teman blog, akhirnya bisa ketemu meskipun cuma sebentar sama si Awal Hidayat sama si Fitrah Amalina setelah kenalan lewat blog.

Di sini juga ketemu sama si Nunu Cumi yang datang sama Amma Nasir yang nantinya menyebabkan pula saya akhirnya ketemu dengan salah satu blogger favorit yang tulisannya selalu keren, si Azure Azalea itu.



Ada siapa lagi? Oh, ada si Isma Ariyani. Si penyuka senja yang baru datang selepas senja menjelang petang. Katanya sudah ingin datang dari siang tapi baru kesampaian jam segitu.

Narsis sama Isma
Aduh, menyenangkan sekali. Saya sampai tidak tahu bagaimana menutup postingan ini.

Begitulah, kegiatan penutupan berlangsung meriah. Lampu-lampu dari panggung seolah ingin ingin memerdekakan langit dari hujan yang bisa turun sewaktu-waktu kembali. Memotong perayaan itu untuk dilanjutkan lagi, dipotong lagi, lalu dilanjutkan lagi. Menjadikan kursi-kursi basah sehingga harus dibalik ketika hujan turun tetes demi tetes.

Hujan saja permainkan ki', apalagi... (Kata si Azure yang sampai kedengaran ke kursiku). Ah, sudahlah.

Kunjungi blog Fitrah Amalina - di sini
Kunjungi blog Awal Hidayat - di sini
Kunjungi blog Isma Ariyani - di sini
Kunjungi blog Rahma Nasir - di sini
Kunjungi blog Azure Azalea - di sini

Date In Heritage?


Seminggu sebelumnya, yaitu saat aku, Utun, dan Rani sedang menjadi panitia lomba mewarnai anak TK dan SD, maksudku lomba mewarnai yang diikuti oleh anak TK dan SD, sudah janji sama Rani bahwa kami akan membantunya jadi panitia kegiatan bertajuk Date In Heritage. Itu, kalau Kalian mau tahu adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan peninggalan dan hal-hal lain tentang Makassar dan kerajaan Gowa yang dibungkus dengan tema kencan.
Peserta yang sudah mendaftar akan dibuat saling berpasangan, satu orang cowok dan satu lagi perempuan. Mudah-mudahan mereka belum saling kenal. Kemudian mereka akan ditugaskan memecahkan teka-teki yang membawa mereka ke sebuah lokasi (kami menyebutnya pos). Ketika sampai di pos, mereka akan diberikan pertanyaan dan mereka boleh menjawabnya jika mau dapat hadiah.

Aku datang setelah sebelumnya SMS-an sama Utun yang tidak jadi ikut. Makan dulu biar tidak lapar. Lalu berangkat ke sana, ke Balla Lompoa yang letaknya di luar kota Makassar, di Kabupaten Gowa. Balla Lompoa, yang saya tahu diambil dari kata bahasa Makassar, Balla yang berarti rumah dan Lompo yang berarti besar. Di dalam bahasa Makassar, jika ada akhiran "a" pada setiap kata, biasanya berarti "yang", jadi secara harfiah Balla Lompoa berati rumah yang besar.
(Percayalah, itu adalah rumah terbesar yang pernah aku lihat)

Sesampai di sana, aku sadar aku salah kostum. Aku pakai baju merah yang ternyata sudah disepakai bahwa peserta diharuskan mengenakan baju merah. Untungnya hari itu aku bawa baju ganti. Pantas saja sebelum berangkat, Rani SMS, "Kamu tidak pakai baju merah kan?". Ternyata itu maksudnya. Hampir saja aku dikira peserta.

Peserta Date In Heritage
Ada lima pos yang dibagikan, sesuai kesepakatan, pos ini dirahasiakan kepada peserta. Biar nanti mereka cari sendiri sesuai petunjuk. Pos itu antara lain makam Sultan Hasanuddin, mesjid tua Katangka, Makam Syech Yusuf, Makam Karaeng Patingalloang, dan Balla Lompoa sendiri. Aku kebagian di posko Makam Karaeng Patingalloang. Berdua di sana. Sama cowok. Iya, sama cowok.

Ketika aba-aba mulai sudah dimulai(?), kami panitia juga langsung bergegas ke posko masing-masing. Para peserta sudah dibagi menjadi delapan pasangan.

Makam Karaeng Patingalloang terletak di kompleks makam Arung Palakka. Aku ingin kalian tahu bahwa itu adalah pertama kali aku mendatangi makam tokoh-tokoh yang cuma aku kenal nama. Aku sempatkan berziarah ke makam Arung Palakka terlebih dulu. Di dalamnya ada bekas lilin berwarna merah. Dingin juga karena makamnya terbuat dari batu yang tidak saya tahu batu apa.

Dan oh, kalau kalian tanya siapa itu Arung Palakka, saya tidak bisa menjawab banyak cari saja di Google. Google baik dan banyak tahu.

Saya merasa asing dengan semua tokoh yang ada di makam itu, kecuali Karaeng Patingalloang yang secara acak menjadi posku untuk bertugas. Kawanku, Ahlul selalu bercerita banyak tentang tokoh ini. Biar kuceritakan sedikit padamu juga. Karaeng Patingalloang adalah seorang cendekiawan asal kerajaan Gowa. Ia menguasai banyak bahasa asing, termasuk di antaranya bahasa Perancis, Yunani, Belanda, Arab, dan lain-lain. Kalau tidak salah, ia menguasai 17 bahasa! Kata Ahlul lagi, Karaeng Patingalloang adalah Galileo-nya Makassar. Kabarnya, dia punya teropong yang dibuat oleh Galileo!

Cukup lama saya berduaan sama kawan baruku itu, yang ditugaskan sama-sama menjaga pos Karaeng Patingalloang, sampai akhirnya pasangan pertama datang.

"Selamat datang, Teman-teman. Kalian pasangan pertama yang tiba di pos ini!", kataku menyambut mereka. Di depan makam.
"YEAH!", mereka semangat. Aku juga.
"Saya akan  memberikan kalian pertanyaan yang harus kalian jawab untuk maju ke pos berikutnya. Kalian boleh menggunakan media apa saja untuk mencari jawabannya. Boleh tanya ke pengelola, atau tanya ke google, atau kalau punya ilmu lebih bisa tanya ke penghuni-penghuni kompleks makam ini", kataku ke mereka. Pertanyaanpun aku kirimkan lewat LINE, karena begitulah ketentuannya. Lumayan untuk menambah teman juga.


Awas jangan diganggu! Mereka lagi double date!
Begitulah kurang lebih selama delapan kali. Menyenangkan kecuali peserta belum datang. Aku jadi mengkhayal sendiri di kompleks makam itu sambil sesekali melihat ke arah Gedung Miring Phinishi Universitas Negeri Makassar yang bisa terlihat dari situ.

Senang? Iya. Aku senang. Menemui orang-orang baru di makam bukan pengalaman yang bisa aku rasakan setiap hari. Juga senang karena pengetahuanku tentang Makassar dan sejarahnya jadi bertambah. Tentang Karaeng Patingalloang, sang cendekiawan sejak muda itu. Aku senang meskipun di kompleks makam itu tidak ada wi-fi seperti yang kami harapkan sejak awal supaya hemat kuota, senang meskipun cuma sebentar.

Mudah-mudahan kegiatan seru seperti ini bisa lebih dikenal daripada tawurannya. Beginilah Makassar, beginilah kota kami, yang di TV sering diberitakan kalau bukan demo ya tawuran. Tidak apa-apa kalau kamu juga mengira Makassar seperti itu. Kalau kalian mau, datanglah. Nanti kutemani makan coto atau konro, jalan-jalan sambil nge-sunset di pantai Losari kalau mau, cari oleh-oleh di jalan Somba Opu kalau mau, atau kalau kamu sedang di Makassar, besok kita ke Makassar International Writers Festival di Benteng Fort Rotterdam. Ada banyak penulis yang akan datang ke sana.

(Kegalauan Blogger) Antara Aku, Gue, dan Saya


Beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali memulai blogging, saya selalu bingung untuk memilih kata subjek yang tepat untuk menggantikan subjek dari orang pertama, dan kayaknya ini adalah hal yang juga membingungkan untuk semua orang. Termasuk Kamu barangkali. Termasuk aja ya? Biar kita kompak. Biar kita jodoh.

Belakangan ini, saya lebih sering menggunakan kata, "saya", karena menurut saya, "saya" itu bersifat lebih netral. Tidak terlalu asam namun juga tidak terlalu basa. Kadang-kadang kalau lagi mau, saya pakai "aku", yang lebih formal tapi kesannya tetap gaul. Soalnya biasanya yang pakai aku-kamu itu kan dua orang yang saling suka satu sama lain. Kayak aku sama kamu.

Pernah. Pernah saya menggunakan kata, "gue" karena rupanya itu terdengar gaul dan lebih universal di Indonesia. (Etapi Universal-nya di Indonesia doang mah bukan universal ya?). Lanjut! Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menggunakan kata "gue" di postingan karena menurut saya, itu cukup maksa. Salah satu alasannya karena saya orang Bugis-Makassar. Jadi rasanya agak aneh kalau saya menggunakan kata "gue" yang ke-Indonesia Bagian Barat-an. Saya baru menggunakan kata "gue" kalau balas komentar atau meninggalkan komentar di blog orang. Soalnya kata banyak orang, kata "gue" itu lebih bisa diterima sama banyak orang. Katanya, "saya" itu terdengar terlalu formal dan bikin orang merasa segan. Keseganan adalah salah satu kendala dalam membangun komunikasi dengan orang lain. Itu saya pelajari di ruang kuliah. Mengagetkan ya? Saya pernah kuliah.

Nah kalau ada yang tanya mana yang lebih baik antara "saya", "aku", atau "gue", itu jawabannya akan balik ke bloggernya masing-masing. Mau menciptakan kesan yang seperti apa sama pembacanya. Di kalangan teman-teman saya di blogger personal, biasanya mereka menggunakan kata "gue" karena di blog personal mereka lebih bernuansa komedi, dan kata "gue" adalah yang dirasa paling dekat sama komedi.

Iya, kadang-kadang saya juga menulis postingan dengan menyisipkan humor. Humor itu bagus. Bergizi dan disukai kalangan muda-mudi maupun orangtua. Menurut saya sih sederhana, untuk menulis komedi, kita tidak selalu perlu untuk menyalahi kaidah bahasa Indonesia yang benar. Mudah-mudahan sih begitu.

Nah, saya akan menuliskan dua paragraf pendek dengan tiga subjek berbeda. Meskipun intinya sama, kesan yang ditangkap bisa berbeda tergantung dari pandangan dan pengalaman audiensnya. Ini kisah waktu semalam saya memecahkan gelas di meja makan. Enjoy :)

***
Apa yang bikin rumah ramai tadi selepas maghrib? Itu karena aku yang mendorong baki makanan tanpa melihat ke sisi sebelah meja. Satu buah gelas ikut terdorong lalu jatuh ke lantai. Pecah. Aku harap tadi Dian Sastro benar-benar datang. Sayangnya tidak. Dian Sastro tidak benar-benar datang. Mungkin karena sedang berlari ke hutan. Apa apa dengan cinta?

Mungkin karena Aku bukan Rangga, dia tidak datang, yang ada malah Aku yang jadi sibuk mengumpulkan pecahan-pecahan gelas supaya tidak melukai kaki siapapun yang lewat nanti di sana. Seperti aku mengumpulkan pecahan-pecahan alasan aku suka padamu supaya tidak melukaimu yang selalu bertanya kenapa.

 ***
Apa yang bikin rumah ramai tadi selepas maghrib? Itu karena saya yang mendorong baki makanan tanpa melihat ke sisi sebelah meja. Satu buah gelas ikut terdorong lalu jatuh ke lantai. Pecah. Saya harap tadi Dian Sastro benar-benar datang. Sayangnya tidak. Dian Sastro tidak benar-benar datang. Mungkin karena sedang berlari ke hutan. Apa apa dengan cinta?

Mungkin karena Saya bukan Rangga, dia tidak datang, yang ada malah saya yang jadi sibuk mengumpulkan pecahan-pecahan gelas supaya tidak melukai kaki siapapun yang lewat nanti di sana. Seperti saya mengumpulkan pecahan-pecahan alasan saya suka padamu supaya tidak melukaimu yang selalu bertanya kenapa.

***
Apa yang bikin rumah ramai tadi selepas maghrib? Itu karena gue yang mendorong baki makanan tanpa melihat ke sisi sebelah meja. Satu buah gelas ikut terdorong lalu jatuh ke lantai. Pecah. Gue harap tadi Dian Sastro benar-benar datang. Sayangnya tidak. Dian Sastro tidak benar-benar datang. Mungkin karena sedang berlari ke hutan. Apa apa dengan cinta?

Mungkin karena gue bukan Rangga, dia tidak datang, yang ada malah gue yang jadi repot mengumpulkan pecahan-pecahan gelas supaya tidak melukai kaki siapapun yang lewat nanti di sana. Seperti gue mengumpulkan pecahan-pecahan alasan gue suka sama dia supaya tidak melukai dia yang selalu bertanya kenapa.

***

Bemana? Sudah memutuskan mau pakai yang mana? Kamu sepakat sama saya? Atau Kamu ada pandangan lain? Tulis di komentar ya :)