Di Sini, yang Datang Dilarang Dewasa

Kapan terakhir kali kalian bermain petak umpet? Kelereng (gundu)? Kejar-kejaran? Gobak sodor? Atau benteng-bentengan?
Iya, kalau kita seumuran, mungkin terakhir kali memainkan permainan-permainan ini boleh jadi 10 tahun yang lalu, boleh jadi lebih. Sebagai remaja yang senantiasa dituntut untuk berpenampilan gaul dan kece, kita diharuskan move-on dari permainan-permainan mengasyikkan ini menuju ke permainan hidup yang lebih dewasa dan realistis.

Di Makassar, kami menyebut petak umpet dengan sebutan main enggo'-enggo', dulu saya jago di permainan ini dan memiliki tempat persembunyian yang sangat strategis. Saking jagonya, kadang-kadang saya tidak bisa menemukan diri saya sendiri kalau sudah bersembunyi. Biasanya kami memainkan permainan ini selepas belajar mengaji di mesjid. Bermodalkan sarung, biasanya saya akan membuat sebuah tempat persembunyian di selokan yang kering, yang ditutupi dengan rumput-rumput. Saya baru mengenal permainan enggo'-enggo' ini ketika pindah ke Makassar. Di kampung saya, kami lebih suka bermain singkong. Kami akan bermain petak umpet sambil membawa singkong ke mana-mana. Ehm, bukan. Singkong di kampung saya persis sama dengan permainan petak umpet lain, bedanya benteng terbuat dari tiga batang kayu yang dibuat berdiri seperti piramid. Untuk menang, peserta yang bersembunyi harus berhasil menjatuhkan kayu-kayu ini tanpa ketahuan oleh si penjaga. Sebaliknya, si penjaga harus menjaga kayu-kayu ini agar tidak dijatuhkan oleh peserta lain.

O, good old memories.
Dulu saya kira menjadi dewasa adalah hal yang menyenangkan. Ketika dewasa, kamu boleh melakukan apa saja tanpa dimarahi, bahkan kamu bisa makan apa saja sepuasnya dengan uang sendiri. Bisa ini itu, bisa pulang malam tanpa dimarahi. Sampai suatu hari, kita akhirnya menyadari. Meninggalkan masa kanak-kanak menuju remaja adalah salah satu perpindahan paling menyedihkan yang pernah kita alami.

Don't Grow Up, It's A Trap (Dr. Robbins)
Menjadi dewasa memang menyenangkan, tapi jangan tergiur sebab ini memang jebakan. Menjadi dewasa berarti kamu harus siap menyimpan kelereng yang paling suka (di Makassar, kami menyebutnya patabba'). Menjadi dewasa mengharuskan kamu untuk gantung kelereng alias pensiun dari permainan anak-anakmu. Sampai kamu mungkin betul-betul lupa pernah suka memainkannya.

An adult is Just a Child Who Learn to Behave in Social Life
Tidak peduli kamu mahasiswa, pelajar, karyawan kantor, pengusaha jajanan yang semakin dituntut berpikir realistis tentang masa depan, jauh dari pelupuk mata, kamu adalah anak-anak yang tidak akan pernah lupa cara memainkan kelereng, cara bermain petak umpet, cara bermain boy, cara bermain gobak sodor (Makassar: Main Asing), cara bermain lompat tali, kita tidak akan pernah lupa cara bersenang-senang dengan permainan paling sederhana.

Di Somba Opu, Kami Punya Mesin Waktu

Kelereng, Gundu, Baguli', Maggoli'
Lompat Tali
Di Benteng tempat nenek moyang kami berjualan rempah-rempah pada abad ke-16, kami melepaskan kembali anak-anak kecil dalam tubuh orang dewasa ini untuk hidup sekali lagi. Melepas semua tugas kuliah, semua urusan kantor, tidak peduli kemarin baru saja dimarahi dosen, tidak peduli kemarin baru saja di-cek-cok-i atasan, kami datang untuk bermain. Iya, bermain.

Engrang (Bugis: Mallongga')
Di Makassar Traditional Games Festival. Atas racun yang diinisiasi oleh @jalan2seru_MKS inilah kami berkumpul di sana. Tujuannya sederhana, memainkan kembali permainan-permainan tradisional yang pernah kami mainkan dengan riang gembira (sebelum akhirnya pulang ke rumah lalu dimarahi ibu karena pulang kesorean dan baju penuh debu). Tidak sedikit yang membawa adik-adik bahkan anak-anaknya ikut festival ini. Memang itu sih tujuannya. Mengenalkan kembali.

Arief. Dengan pose yang dia rasa paling ganteng. Dipegangnya tongkat untuk bermain cangke'
Kejar Daku Kau Kutangkap. Yang kurang cuma Backsound Kuch-Kuch Hota Hai
Bule pun penasaran bermain Santo'
Kostum pesertanya juga unik-unik. Anak SD ini kabarnya sekarang sudah naik kelas 2 dan pintar membaca

Boyyyyyy
Permainan yang ini Saya Lupa Namanya
Tahun ini, Makassar Traditional Games Festival (#MTGF) diadakan kembali dengan persiapan yang kata panitianya lebih matang dari sebelumnya. Ayo yang mau jadi anak kecil lagi, datang ke Benteng Somba Opu, besok (Minggu, 27 Oktober 2013) mulai jam 10 pagi. Datang bawa adek? Boleh. Bawa anak? Lebih boleh lagi. Bawa anak orang? Jangan, nanti dibilang penculikan.

Tips untuk para moduser: Nangkringlah di Lapak Permaianan Lompat Tali. Cewek-cewek cantik berkumpul di sana mengadu kebolehan dalam lompat tali, siapa tahu saja ada yang berhasil melompati hati kamu, membawamu sampai ke puncak kerinduannya. Halah.

Sampai ketemu di sana! Kalau kita ketemu, sayanya disapalah. Saya anaknya sedikit pemalu.

13 comments

  1. Waa, mau ka' ikut, kak. Bagaimana caranya ikut? Langsung-langsung jki datang ke sana? Atau mendaftar ki dulu? (--,)v

    ReplyDelete
  2. tolong carikan yang bisa meng-enggo' hatiku dong, kanda...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada ji beng besok datang. Tapi cari sendiri ko... Kan begitu cara mainnya?

      Delete
  3. waaah seru yaah.. kalo ada festival gini mah ngga malu lagi dong mainnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi. Soalnya yang datang kan rame gitu, jadi nggak ada yang jaim dan malu.

      Delete
  4. Anak2 (abdul toink dkk) juga kesana itu, ketemuji ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketemu dong. Sempat main boy satu malah, dan menang loh :D

      Delete
  5. Wah gimana acaranya kemaren? gue jadi rindu main-mainan yang kayak gitu. Lebih manusiawi ketimbang mainan sekarang. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih seru dooong. Hehe. Yo'i. Kita nggak bisa menahan laju zaman, Sob.

      Delete
  6. Mallogo itu yg pake kulit kelapa baru di su'bi :D

    ReplyDelete