Puasa di Negeri Mayoritas

Sudah puasa ke dua puluh satu bagi mereka yang puasanya kemarin sudah dua puluh (Sudah, baca saja! Saya sedang bingung cari kata pembuka yang baik dan indah). Untuk mereka yang tinggal dan hidup di negeri yang Indonesia, bulan puasa (bisa juga dibaca bulan Ramadhan) selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu. Bagi saya pribadi, di bulan ramadhan biasanya berarti banyak acara buka puasa bersama. Buka puasa bersama biasanya gratis. Alhamdulillah.

Puasa di Indonesia itu enak. Tidak seperti di Timbuktu. Kalau di Indonesia, tidak perlu lihat posisi bulan kalau mau tahu Ramadhan sudah dekat. Kamu tinggal setel tivi. Kalau di sana kamu lihat tiba-tiba iklan Anang tiba-tiba jadi iklan islami, iklan mie instan jadi iklan islami, iklan sabun jadi iklan islami, atau iklan kopi jadi iklan islami, terus iklan islami jadi apa? Jadi banyak.
Kalau kondisi periklanan sudah setema seperti ini, biasanya Ramadhan memang sudah dekat.

Atau kamu tahu Ramadhan di negeri mayoritas ini sudah dekat atau malah sudah tiba, kalau di tivi-tivi dan portal-portal berita sudah marak berita organisasi masyarakat yang sweeping warung-warung dan tempat hiburan yang tetap buka pada bulan puasa. Biasanya sih kamu akan langsung tahu, sebab biasanya sweeping ini akan ramai, apalagi kalau ada bumbu-bumbu bentroknya.

Ramadhan di negeri mayoritas memang indah. Biasanya, setiap sore di poros-poros jalan, akan berbaris penjajah makanan ringan yang muncul secara misterius entah dari mana. Mereka akan menyiksa, merampok, dan mengeksploitasi makanan secara keji dan tanpa ampun. Oke, maksud saya pejaja makanan, bukan penjajah. Ya, kamu tahulah penjaja itu, yang suka jualan dengan harapan kamu memutuskan untuk beli. Oh, pokoknya penjaja makanan ini akan ramai menyajikan menu buka puasa yang beragam, kamu bisa memilih yang mana kamu suka. Karena terlalu banyaknya pilihan, ini bisa jadi bahaya untuk orang-orang yang rentan galau. Biasanya, yang rentan galau kan susah memilih anaknya?

Ramadhan di negeri mayoritas memang indah. Kita bisa memaksa orang yang tidak ikut puasa untuk lebih menghargai kita. Kita bisa memarahi dia kalau misalnya dia makan atau minum siang-siang. Ramadhan di negeri mayoritas memang indah. Kita bisa memaksa warung-warung untuk tutup di siang hari. Boleh buka kalau sudah buka.

Ramadhan di negeri yang Indonesia ini memang indah. Yang bikin susah adalah menjalankannya di negeri yang dominan ini, tanpa perlu mendominasi.

Makassar, 30 Juli 2013
Sudah Sahur-Sebelum Imsak.

We Did It! 7 Besar Se-Indonesia.


You did it. Kalian berhasil masuk ke Grand Final Nasional. Kita mungkin belum bisa membawa pulang piala juara 1 yang kita mimpikan sama-sama, tapi kita membawa pulang hal yang lebih: Kebanggaan dan Pembuktian. Kita sudah membuktikan kalau kita dari Makassar bisa tonji.

Mewakili tim pelatih, Saya mengucapkanTerimakasih sudah melakukan yang terbaik. Sudah sabar setiap dimarahi. Sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk belajar dan menghapal materi. Mungkin tugas kami memang cukup mengantar kalian, adik kami sampai ke titik ini. Mungkin selanjutnya adalah tugas Kalian untuk mengantar adik-adik kalian sendiri ke titik yang lebih jauh, lebih tinggi, yang mungkin untuk sekarang masih ada di sini, di mimpi kita sendiri.


Makassar, Juli 2013
Untuk Rosaria Ashari dan Harista Suwahyuni

Beberapa Ekor Kucing di Plafon Rumah

Tadi pagi saya masih di bumi. Secara misterius saya masih ada di kamar, kipas angin masih menyala. Maksudnya berputar, maksudnya baling-balingnya saja yang berputar, bukan keseluruhan unitnya. Ah, Kamu pahamlah maksudku.

Sebagai anak laki-laki yang masih juga betah (dibetah--betahkan) jadi mahasiswa, pagi ini masih berisi rutinitas yang menurut saya mahasiswa banget: Bangun siang, buka laptop, browsing internet, baca-baca tweet lengkap dengan tidak mandi hingga menjelang siang. Handphone lalu bergetar.

Mama'mu, Nak Calling

Oh, itu mama saya yang menelepon. Minta dijemput di sekolah tempat dia mengajar. Motor saya ambil lalu berangkat ke sana, ke sekolah tempat ia mengabdi sebagai tenaga pengajar. Sepulang ke rumah, dari dalam terdengar suara-suara anak kucing. Kami tidak pernah memelihara kucing. Kucing itu secara misterius berada di ruang tamu. Entah sejak kapan, plafon rumah kami menjadi tempat tinggal kucing yang bahkan hampir tidak pernah kami lihat rupanya. Di sana mereka menumpang dan beberapa kali melahirkan dan kami tidak pernah tahu berapa anaknya dan siapa ayahnya. Kucing ini pasti jatuh dari plafon. Kasihan.

Saya membawa anak kucing itu keluar. Warnanya krem dengan belang hitam di kulitnya. Jinak dia. Tidak seperti harimau.

Suara anak-anak kucing di plafon semakin keras, pasti ramai di sana. Kalau dibuang kasihan juga. Saya putuskan mengupdate tweet perihal ini. Siapa tahu ada yang mau mengadopsinya.
Satu tweet kemudian, ternyata benar ada yang berminat. Dia minta foto anak kucing yang saya maksud. Saya kemudian keluar kamar, mencari-cari kucing yang tadi. Hasilnya nihil. Dia tidak ada. Mama saya juga tidak melihatnya. Tanpa saya sadari suara-suara anak kucing yang tadi ramai juga sudah hilang. Saya mencari-cari dengan mengintip di sela plafon. Sama: Mereka semua sudah tidak ada. Pergi.

Makassar, 18 Juli 2013
Postingan pertama di umur 23

Setelah Beberapa Foto di Instagramkan

Beberapa hari ini saya suka upload foto ke instagram. Itu karena saya pernah punya instagram, lalu diuninstall lagi. Sayangnya, setelah beberapa lama saya uninstall, ada banyak teman yang protes sebab rupanya telah mem-follow saya, lalu tidak saya follow balik. Saya jadi terkesan jahat. Ya sudah, saya install lagi itu instagram, lalu saya follow balik mereka satu-satu. Akhirnya jadilah kini, beberapa foto saya unggah ke sana. Berharap dapat komentar yang bagus-bagus, malah dapat komentar yang begini bunyinya:




No komen.

Pulang dari Makassar International Writers Festival

Aku kira tidak ada yang lebih menyiksa ketimbang kebelet yang ditahan-tahan, dan tak ada yang lebih indah ketimbang kebelet yang terbayarkan.
(Adityar - 2013)

Sore sudah mau berganti jadi Maghrib sewaktu aku memutuskan meninggalkan lokasi perkemahan di SMAN 10 Makassar lalu ke sana, ke tempat bernama Fort Rotterdam, benteng peninggalan zaman perang Belanda.

Aku tahu zaman perang sudah lama selesai. Aku ke sana bukan untuk mengangkat senjata melainkan untuk bergabung dengan warga Makassar lain untuk mengikuti Makassar International Writers Festival. Sebuah kegiatan yang mempertemukan penulis-penulis nasional dan internasional dengan kita, makhluk pribumi yang biasa. Di sana, mereka akan berbagi seputar dunia kepenulisan dan kalau kau beruntung, kau akan berkesempatan melihat mereka membacakan puisi-puisinya. Aku tidak seberuntung itu.

Sejak kali pertama diadakan, kemarin adalah kesempatan pertamaku untuk mengikuti kegiatan keren ini. Pun, aku cuma dapat event penutupan.
"Tak apalah", batinku. "Siapa tahu di sana ketemu cewek cakep"

Aku berangkat dengan sebuah sepeda motor yang sudah lama tidak dicuci. Lumpur dan debu turut menghiasi badannya, berdebu bak bahu lelaki yang sudah lama tidak disandari. Mesin motor kupacu, aku ingin cepat meninggalkan gedung sekolah ini menuju Rotterdam, aku benar-benar tidak ingin terlambat. Lagipula aku sedang kebelet dan di sekolah ini WC-nya sedang ramai.

Kebelet buang air kecil adalah sebuah siksaan yang Tuhan sengaja ciptakan untuk mengerjai Makhluk-Nya. Ketika kau kebelet, darah akan mengalir naik ke ubun-ubun, menjadikan kepalamu panas, lalu pori-porimu akan melebar semua, tanganmu bergetar, dan kandung kemihmu, sadar ataupun tidak sadar akan melakukan kerja yang lebih keras ketimbang biasanya.

Di jalan, mataku menyisir dan menghitung kemungkinan tempat dan apapun yang dapat dijadikan tempat penyaluran hasrat kebelet ini. SPBU dan mesjid adalah tempat favorit. Apapun rumah warga, pohon, dan tanah lapang adalah alteratif terakhir.

Perihal kebelet ini, tak usahlah kalian tahu kelanjutannya. Tak usah kalian tahu kelanjutan bahwa aku sempat berheti di SPBU namun WC-nya sedang ditutup secara keji oleh orang tidak bertanggungjawab. Tak usah kalian tahu bahwa aku menahan kebelet dari SMAN 10 sampai ke Benteng Fort Rotterdam yang butuh satu jam perjalanan. Tak usah kalian lihat ekspresi saat kebelet itu akhirnya tersampaikan.

***

Makassar International Writers Festival, kalau Kalian mau tahu adalah event tahunan. Keren yang menahun. Di sana hadir penulis-penulis yang kerennya mengerikan: Aan Mansyur, Dewi "Dee" Lestrari, Bernard Batubara, Sapardi, Joko Pinurbo, dan aih, masih banyak lagi. Pokoknya: Makassar International Writers Festival adalah surga kecil untuk para pecinta literasi. Ah, akhir Juni yang istimewa.

Akhirnya sampai juga aku di sana setelah dua tahun tidak bisa menghadirinya. Aku berangkat sendirian sebab yakin di sana pasti akan ketemu dengan orang-orang yang kukenal. Benar saja, di sana aku ketemu Nunuu, si pemilik blog Cumi-cumi itu. Aku juga ketemu Ran yang secara misterius sedang ada di Makassar. Aku juga berkesempatan kopi darat dengan Jihan, blogger yang kedalaman lesung pipinya menyamai dalamnya kerinduan.

Makassar International Writers Festival akan mengenalkan wajah Makassar yang berbeda dengan yang biasa kau lihat di televisi. Terlebih bagi kau pecinta literasi dan puisi. Aih, tahu apalah aku tentang puisi?

Lalu kami duduk di sana, bersila di atas karpet yang terbuat dari rumput dan atap yang terbuat dari langit. Hiasannya bintang pula. Menghadap panggung dipentaskannya puisi-puisi dan literasi. Di atas panggung dipentaskannya kerinduan pada sajak-sajak. Di atas panggung, kecintaan dan kerinduan pada bahasa didendangkan menjadi satu, sungguhpun, Makassar International Writers Festival adalah puisi, dan kita semua adalah bait di dalamnya.

Makassar, 1 Juli 2013