Dari Toko Buku

Harusnya kemarin cari bukunya Kottler yang Judulnya Social Marketing sama Marketing for non Profits, untuk suplemen skripsi ceritanya, tapi apa daya sudah keliling Makassar tapi tidak dapat juga. Akhirnya beli Marketing 3.0 sama Kreatif Sampai Mati-nya Wahyu Aditya. Entah kenapa juga saya beli


Everybody Likes dat new books smell

Absen. Awal Juni 2013.

Ini adalah postingan yang sedikit galau, tapi bukan galau yang mainstream. Ini galau yang anti mainstream. Galau yang tidak ikut arus.

Sejak entah kapan, saya memutuskan untuk tidak aktif di organisasi jurusan. HMJ orang biasa menyebutnya. Kenyataannya, saya tidak aktif di organisasi manapun di kampus, tidak di HMJ ataupun UKM. Satu-satunya keaktifan saya di kampus, itupun kalau organisasinya ada, adalah jadi anggota JKT48 Fans Club. Seksi dokumentasi kalau boleh.

Iya, sayang memang sih  tidak memanfaatkan waktu di kampus untuk belajar di organisasi. Siapapun boleh menilai, termasuk sebuah akun anonim di twitter yang adminnya anak himpunan-himpunan gitu kayaknya (tidak usah saya sebut nama akunnya) pernah bilang, "orang yang tidak aktif di kampus itu berpikiran sempit.", dari situ saya menyimpulkan, tidak semua orang yang aktif di kampus berpikiran luas.

Tetapi oh, kalian boleh bilang saya malas dan tidak peduli. Tetapi oh, memang kampus adalah tempat belajar yang sangat bagus, tapi bukan satu-satunya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas.

Waktu itu saya ikut musyawarah anggota salah satu organisasi yang saya sendiri tidak terlalu aktif, tapi selalu ngaku-ngaku anggota. Makanya datang. Ini enaknya jadi orang Indonesia, suka bermusyawarah. Termasuk organisasi-organisasi. Menjadikan kita orang yang mencintai proses pengambilan keputusan, di luar keputusan itu sendiri.

2010. Musyawarah Anggota.
Saya mengangkat tangan, bermaksud  memberikan usul perihal peliknya penentuan penerimaan atau penolakan LPJ pengurus. Oleh pimpinan musyawarah dibolehkan.
"Ada baiknya untuk memudahkan pengambilan keputusan, di papan tulis dituliskan indikator-indikator kenapa LPJ ini diterima, atau ditolak, biar jelas. Biar semua usulan tidak hilang begitu saja. Tidak mengambang."
Oleh pimpinan musyawarah tidak dipedulikan, usulan saya dilewati begitu saja.

Beberapa perdebatan kemudian, seorang yang tiga tahun lebih tua memberikan usul.
"Bagusnya kalau di papan tulis, dituliskan indikator-indikator kenapa LPJ ini ditolak supaya mudah pembahasan kita"
Salah satu pimpinan musyawarah langsung berdiri langsung mulai menulis di papan tulis. Usulan diterima.
Kalau saya tidak salah, usulan saya sama orang yang lebih tua tiga tahun itu sama.

2012. Musyawarah Anggota.
Saya cuma ikut musyawarah satu hari, itu juga cuma mau liat teman-teman saya memberikan LPJ. Pembahasan, seperti biasa panjang, dan seperti biasa pembicaraan dimayoritasi oleh anggota-anggota yang lebih tua.
Pimpinan musyawarah berkata kemudian, "Ayo coba ini anggota-anggota yang lebih muda juga terlibat aktif. Jangan yang itu-itu saja yang bicara. Kalian yang lebih muda yang seharusnya lebih banyak bicara!"
Beberapa perdebatan kemudian, seorang yang anggap saja lebih muda mengangkat tangan lalu memberikan usul. Waktu itu, saya ingat sekali perihal opsi penerimaan atau penolakan LPJ. Dan saya ingat sekali, belum selesai dia memberikan argumen, peserta musyawarah yang lain, yang lebih tua langsung berbicara dengan suara yang lebih tua menangkis usulan si peserta muda tadi, beramai-ramai. Diborongi.

Masih 2012. Masih Musyawarah Anggota.
Pembahasan LPJ sudah selesai, hasilnya diterima. Oh ye!
Sekarang permbahasan yang lain. Karena berbelit-belit, seorang anggota yang (lagi) lebih muda memberikan usul, "Saya usul bagaimana kalau kita adakan voting?"
Oleh pimpinan musyawarah dengan bijak, "Tidak bisa! Saya tidak suka voting!"
***
Kontra. Bukankah kalau kita mau semua orang lebih terlibat aktif dalam pembicaraan, kita juga harus terlibat aktif dalam mendengarkan dan menghargai pembicaraan saat mereka yang berbicara.

Sebab komunikasi itu bukan cuma soal bicara, tapi juga mendengar. CMIIW :)

Tentang Blogspot dan Penyatuan Layanan Google+

Entah sejak kapan, Blogspot melakukan pembenahan sana-sini perihal layanan blognya. Perubahan paling besar dan standar yang kelihatan adalah penyatuan seluruh layanan Google di dalamnya. Sudah liat gadget blogspot yang baru? Gadget followers kini diganti jadi Google+ followers. Akun google+ kini terhubung, bahkan bisa menggantikan profil blogger yang telah ada sejak zaman bahula, yang menurut beberapa orang, termasuk saya adalah sederhana dan sudah cukup.
 
 Ini mungkin adalah ambisi besar Google untuk mengintegrasi semua layanannya, menyatukan semuanya. Google sudah punya Blogspot, Youtube, Picasa, Google+ yang notabene memang sangat berhubungan erat dengan dunia pengeblogan (apa deh), jadi sebenarnya wajar saja sih mereka ingin menggabungkan semuanya. But really, people are not interested in any new facebook-like social media!

Yah, Dear Blogspot. Tolong pertimbangkan untuk tidak memaksakan ambisi besar kalian kepada pengguna setiamu, ibaratnya kamu adalah pasangan yang cukup egois dan ambisius bagi kami. Itu menyiksa, kayak pacar yang terlalu dominan dalam hubungan. Kalaupun memang harus dipaksakan, tolong dipertimbangkan sekali lagi. Paling tidak, dipertimbangkan.