Jadi Orang Lise, Begini Ceritanya

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.
 
Hari sedang cerah ketika saya sedang berjalan di koridor kampus yang biasanya ramai, namun hari itu sepi sebab masa perkuliahan belum dimulai. Cuma beberapa orang mahasiswa yang kelihatan mondar-mandir, mengurus Kartu Rencana Studi juga, sama seperti saya. Bedanya, saya sedikit lebih tampan *SisirPoni*

Maka datanglah saya ke ruang dosen yang biasanya diisi oleh dosen, kadang-kadang juga ada staff administrasi dan cleaning service, ada juga nyamuk. Saya sudah bikin janji dengan Penasehat Akademik perihal mata kuliah yang akan saya programkan semester berikutnya. Oh. PA saya itu Ustad. Kondang dia. Sering muncul di Celebes TV kalau sore.

"Kamu orang apa, Tyar?", Itu PA saya yang tanya.
"Bugis, Ustad. Bapak Bugis, Ibu juga Bugis".
"Bugis mana?"
"Sidrap, Tad"
"Sidrap kan luas, bagian mana?"
Lalu saya jawab dengan tidak lantang sebab yakin beliau tidak akan tahu daerah yang saya sebutkan sebab kampung saya itu memang agak kecil.
"Lise". Lalu PA saya tertawa. Saya diam. Ingin ikut tertawa tapi tidak jadi sebab saya tidak tahu apa yang lucu.
"Kenapa, Tad?"
"Tau Lise' ko pele'!", jawabnya dalam Bahasa Bugis yang artinya kurang lebih dalam Bahasa Indonesia, "Ternyata orang Lise'!"

Tidak sampai di situ saja, PA saya kemudian memanggil rekannya sesama dosen lalu berkata sambil tertawa, "Eh! Ada orang Lise'!". Lalu rekannya juga tertawa.
Saya semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Lise itu, Tyar. Terkenal. Terkenal orang-orangnya!", setelah puas tertawa barulah beliau menjelaskan. Mafhum, saya hanya tinggal di kampung saya itu cuma sampai kelas 3 SD. Selebihnya saya habiskan di Makassar, jadi kurang paham dengan kampung saya sendiri.
"Lise itu terkenal orang-orangnya cerdik dalam berkata-kata, sampai suka bikin bingung orang-orang yang sedang berbicara sama dia. Ada cerita, dulu ada orang yang tanya alamat sama orang Lise', si penanya bilang, "Kita lihat rumahnya La Beddu?". Nah, si orang Lise yang ditanya ini menjawab, "Tidak! Tidak kulihat!". Padahal si orang Lise yang ditanya ini tahu rumahnya si Beddu, tapi dia memang tidak melihatnya karena rumahnya si Beddu tepat di belakangnya si Orang Lise ini". Barulah saya ikut tertawa.

***
 
Seingat saya, setiap kali ada orang yang tahu saya ini orang Lise, pasti dia langsung tertawa, minimal tersenyum. Reaksi yang saya dapat berbeda-beda, ada yang bilang orang Lise itu cerdik dalam berbahasa, menjengkelkan, bahkan ada yang bilang picik. Macam-macamlah pokoknya. Lise, kampung saya itu terletak di Kabupaten Sidrap, Kecamatan Panca Lautang. Hampir seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan peternak ayam petelur.
Katanya, Orang Lise memang lihai dalam berbahasa, dalam budayanya, orang Lise terkenal dengan "ada tongeng", atau bahasa yang sebenarnya. Salah satu contohnya, kita yang biasanya memanggil pedagang bakso dengan teriak, "Bakso", atau pedagang es dengan panggilan, "es", menurut logikanya Orang Lise, ini salah sebab dengan memanggil, "es", atau "bakso", yang kita panggil adalah jualannya, bukan pedagangnya. Seharusnya mereka dipanggil dengan, "Pabbalu' Bakso", atau "Pabbalu' es", Oh iya. Pabbalu' dalam bahasa Bugis berarti pedagang.

Aduh, maaf saya tidak bisa cerita banyak sebab saya juga cuma tahu sedikit perihal adat ini. Selengkapnya cari sendiri di buku atau internet saja ya :)

Oh. Masih ada lagi yang saya suka dari kampung saya itu: RAME. Iya, ramai. Orang Lise itu, kalau berkumpul, biarpun yang berkumpul cuma lima orang, dari jauh kedengarannya seperti dua puluh lima orang. Saking ributnya. Mereka juga senang berkumpul dan bercerita, maka jika ada acara hajatan nikahan atau apapun, ibu-ibu sekampung biasanya akan datang untuk membantu mempersiapkan dengan membawa pisau masing-masing dari rumah. Ramailah pokoknya. Apalagi orang-orang kampung saya, suaranya terkenal keras, mungkin karena bawaan tinggal di rumah panggung dan jarak antarrumah memang tidak "mepet" seperti di kota yang menjadikan mereka sering berkomunikasi dengan tetangga sambil teriak. Maka kalau kalian sedang melihat ada dua orang Sidrap yang bercerita satu sama lain, siap-siap saja.

Bahkan teman-teman saya sering bercanda, mereka lebih senang dimarahi oleh orang Bone yang terkenal halus daripada diajak makan oleh orang Sidrap. Ada-ada saja.

Oh, sayangnya saya cuma tahu sedikit perihal kampung saya sendiri. Cuma itu yang bisa saya bagi dulu. Kalau tahu lebih banyak perihal kampung ini, bolehlah begitu saya diceritakan :))

Makassar, 20 April 2013.
Pagi-pagi.

5 comments

  1. tau lise' ki pale tyar...heheh...

    *baru ka juga tau ada pale daerah lise' di sidrap -.-"
    LUCU tyar :p

    ReplyDelete
  2. Kok jahat ya orang Indonesia. Belum apa-apa udah diketawain. Gue sih, pribadi, agak kurang suka sama mentalitas kayak gitu. Kecuali memang lucu / bercandaan.

    ReplyDelete
  3. naappanna engka sedding sikampongku loruntu okko internet ee.. hahha

    ReplyDelete
  4. kenro tujunna bola ta?

    ReplyDelete