Jas Merah

Yudisium
Kalau saya belum cerita, belakangan ini saya sok sibuk di kampus untuk menyelesaikan urusan ini. Urusan yang orang bilang ribet itu, padahal sebenarnya tidak terlalu mudah. Bingung? Sama.

Iya, kalau saya belum cerita, tanggal 11/12/13 kemarin, saya menghadapi ujian yang kami sebut ujian meja. Mungkin karena ujiannya di atas meja. Menurut saya istilah "ujian meja" ini kurang tepat, karena sebenarnya si meja yang dimaksud sama sekali tidak ikut ujian. Dia cuma diam dan pasrah. Semua pertanyaan, saya yang menjawabnya. Bikin repot.

Partner Ujian yang Setia Setiap Saat
Sampai akhirnya kemarin, hasil ujian kami diumumkan sekaligus dikukuhkan sebagai alumni jurusan Ilmu Komunikasi Unhas. Iya, Unhas yang sering Kalian lihat di TV-TV suka bikin rusuh dan demo. Unhas yang suka diblacklist di perusahaan-perusahaan luar Sulawesi, yang bikin alumninya jadi susah ketika merantau.




This Is Who?
Oke, sekarang apa?

A Planet Day Out: Mencari Bidadari

Punya kota yang berbatasan langsung dengan laut beginilah akibatnya. Panas. Seperti Makassar siang itu, panasnya sampai bikin kepala jadi pusing. Penat. Belum lagi ditambah urusan skripsiku yang belum kelar urusannya. Kalau dihitung, umur skripsiku sekarang sudah hampir enam bulan. Enam bulan jadi bayang-bayang yang menghantui, menggeluti, menggerayangi.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi pertanda ada SMS masuk, "Rani ajak ke jalan-jalan ke Rammang-rammang. Siap-siap ya.". Itu SMSnya dari Utari. Teman kelasku waktu SMA dulu. Teman kelasku waktu SMP juga.

Rani yang baru saja menyelesaikan kuliah di Bandung kini kembali pulang ke Makassar. Menjadikan dia seperti tokoh dalam lagu kangen band, "Kekasih yang dulu hilang. Kini dia t'lah kembali pulang." Rani, dan Andika kuduga memang cocok sekali. Rani mengajak jalan-jalan ke Rammang-rammang. Aku sendiri belum pernah ke sana, yang kudengar di sana ada sungai dan pegunungan karts (kapur), dan yang paling gila, menurut mitosnya di sana ada Telaga Bidadari.

Kami berkumpul pagi-pagi di rumah Rani. Di sana ada Rani tentu saja, Utari, Gusti, Nurul, dan Aya, teman Rani yang datang dari Jakarta, dan Fuad yang dilahirkan untuk menjadi supir pada hari itu. Perjalanan butuh waktu satu jam lebih, itu karena kami menyempatkan diri untuk kesasar dulu. Kami belum ada yang pernah ke sana. Setelah melalui perjalanan yang cukup meliuk-liuk, kami akhirnya sampai.

Tandanya Kita sudah dekat. Photo by @JieCess
Kita disambut sama gunung karts yang epic! Tapi kita tidak boleh kehilangan fokus! Tujuan kita ke sini sederhana, "Kita cari telaga bidadari itu, Kita sembunyikan selendang bidadarinya, kita nikahi bidadarinya!".

Perjalanan mencari telaga bidadari ternyata tidak semudah yang diperkirakan. Kami harus mendaki gunung dan lewati lembah dulu. Untungnya, mata kami yang tiap hari berhadapan dengan layar komputer ini disuguhi pemandangan-pemandangan yang iya, keren.

Photo by @jiecess

Petunjuk pertama kami temukan dari jembatan dan sungai yang membelah. Sungai=air. Telaga=air. Telaga bidadari itu, pasti ada di sekitar sini. Tapi yang paling penting dulu, kita butuh perahu. Aku dan Fuad didaulat untuk mencari perahu yang bisa disewa untuk mengarungi sungai ini. Syaratnya yang diberikan cukup sulit, perahunya harus yang kuat karena harus membawa 7 orang, harus aerodinamis melawan arus angin, harus fleksibel karena sungai yang meliuk-liuk, tapi yang paling penting di antara semuanya: harus murah.

Yes, It Is Photoshopped. Photo by @JieCess
Perahu yang kami temukan adalah sebuah perahu kecil bermesin motor. Kata yang punya, ini cukup untuk memuat 7 orang. Ditambah 3 pengendali perahunya berarti jadi 10 orang. Semoga perahu kecil ini memang kuat. Karena kalau tidak....

Perjalanan dimulai! Naikkan layar, Angkat jangkar. Perahu akan segera berangkat!

Kalian tanya aku di mana? Aku ada di belakang. Bukan, bukan yang pakai kacamata itu. Itu Aya. Aku ada di belakang Fuad yang ambil foto ini.
Iya, aku duduk di belakang. Di dekat mesin perahu yang berisiknya minta ampun. Ditambah lagi dengan cipratan air dari baling-baling mesinnya. Syahdu.

Kapten Jek Sparrow
Perjalanan mencari telaga bidadari ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kurang lebih 15 menit di atas perahu, akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang mewah. Daratan yang dikelilingi gunung karts yang mewah dan megah.

Karena tidak juga ada tanda-tanda tentang telaga bidadari dan dari tadi kita cuma berputar-putar di antara sungai dan gunung karts, aku memutuskan untuk menanyakannya pada alam. Dulu, nenek moyang kita ketika tidak tahu jalan mana yang harus dituju, mereka akan berkomunikasi dengan dewata. Dewata akan mengirimkan mereka petunjuk-petunjuk yang akan membawa mereka ke jalan yang mereka tuju. Aku mencoba untuk melakukan hal yang sama.

Berkomunikasi dengan dewata

Sementara yang lain sedang asyik menikmati pemandangan di sekitar, aku mencoba berkonsentrasi, mencari jawaban dari para dewata. Kurang lebih 4 bulan lamanya bermeditasi. aku akhirnya menemukan bisikan dari mereka. Bunyinya kurang lebih, "Tyar, Kamu harus breakdance".

Siluman
Setelah memenuhi permintaan dewata yang tidak biasa itu, secara ajaib aku menemukan sebuah petunjuk. Aku tersadar bahwa kita telah salah jalan. Seperti posisi kaki dan kepala yang terbalik pada foto di atas, sepertinya dewata ingin mengatakan bahwa rombongan kami sebenarnya salah jalan. Kami harus ke tempat semula. Kami telah salah jalan. Tapi apa daya, kami sudah di sini. Satu-satunya cara untuk menikmatinya adalah dengan menikmatinya saja.

No komen
Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar, barulah rombongan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari telaga bidadari yang misterius itu. Di kepalaku sudah terbayang bidadari-bidadari yang sedang mandi itu. Ah, pasti cantik sekali. Semoga bisa dibawa pulang satu.

Perjalanan berlanjut, kami kembali ke tempat semula. Bermodal petunjuk dari dewata dan banyak tanya jawab dengan warga sekitar, kami menemukan titik terang di mana telaga bidadari itu. Yang perlu kami lakukan hanya mengikuti bebatuan yang telah diatur secara teratur, melewati jembatan, genangan, dan sedikit memanjat, akhirnya kami belum sampai. Ah?


We did It! We found it! Photo by @jiecess
Kami menemukannya! Telaga bidadari yang kelihatan cantik dengan sentuhan photoshop! Sebuah telaga air jernih yang dijepit bebatuan kapur dan pepohonan. Tanpa menunggu waktu lagi, aku langsung melompat, melepas sepatu dan merendam kaki yang sudah lelah jalan dari pagi. Oh.

Semriwing
Tapi di mana bidadarinya? Di mana bidadari yang sedang mandi itu? Yang mau kita curi selendangnya itu? Yang akan kita nikahi itu? Di mana mereka? Apa mereka sudah selesai mandi karena kami kesiangan? Atau mereka tidak mandi di sini hari ini? Apa ini? Apa itu?

Ketek yang bersih adalah ketek yang menawan
Lalu kami pulang, kembali ke kehidupan kami masing-masing di kota. Bergabung dengan jutaan penghuni yang sibuk. Kesibukan yang juga sudah jadi kehidupan kami. Kehidupan kita semua.

Makassar, 26 Nopember 2013
Tadi hujan sekarang reda.

Di Sini, yang Datang Dilarang Dewasa

Kapan terakhir kali kalian bermain petak umpet? Kelereng (gundu)? Kejar-kejaran? Gobak sodor? Atau benteng-bentengan?
Iya, kalau kita seumuran, mungkin terakhir kali memainkan permainan-permainan ini boleh jadi 10 tahun yang lalu, boleh jadi lebih. Sebagai remaja yang senantiasa dituntut untuk berpenampilan gaul dan kece, kita diharuskan move-on dari permainan-permainan mengasyikkan ini menuju ke permainan hidup yang lebih dewasa dan realistis.

Di Makassar, kami menyebut petak umpet dengan sebutan main enggo'-enggo', dulu saya jago di permainan ini dan memiliki tempat persembunyian yang sangat strategis. Saking jagonya, kadang-kadang saya tidak bisa menemukan diri saya sendiri kalau sudah bersembunyi. Biasanya kami memainkan permainan ini selepas belajar mengaji di mesjid. Bermodalkan sarung, biasanya saya akan membuat sebuah tempat persembunyian di selokan yang kering, yang ditutupi dengan rumput-rumput. Saya baru mengenal permainan enggo'-enggo' ini ketika pindah ke Makassar. Di kampung saya, kami lebih suka bermain singkong. Kami akan bermain petak umpet sambil membawa singkong ke mana-mana. Ehm, bukan. Singkong di kampung saya persis sama dengan permainan petak umpet lain, bedanya benteng terbuat dari tiga batang kayu yang dibuat berdiri seperti piramid. Untuk menang, peserta yang bersembunyi harus berhasil menjatuhkan kayu-kayu ini tanpa ketahuan oleh si penjaga. Sebaliknya, si penjaga harus menjaga kayu-kayu ini agar tidak dijatuhkan oleh peserta lain.

O, good old memories.
Dulu saya kira menjadi dewasa adalah hal yang menyenangkan. Ketika dewasa, kamu boleh melakukan apa saja tanpa dimarahi, bahkan kamu bisa makan apa saja sepuasnya dengan uang sendiri. Bisa ini itu, bisa pulang malam tanpa dimarahi. Sampai suatu hari, kita akhirnya menyadari. Meninggalkan masa kanak-kanak menuju remaja adalah salah satu perpindahan paling menyedihkan yang pernah kita alami.

Don't Grow Up, It's A Trap (Dr. Robbins)
Menjadi dewasa memang menyenangkan, tapi jangan tergiur sebab ini memang jebakan. Menjadi dewasa berarti kamu harus siap menyimpan kelereng yang paling suka (di Makassar, kami menyebutnya patabba'). Menjadi dewasa mengharuskan kamu untuk gantung kelereng alias pensiun dari permainan anak-anakmu. Sampai kamu mungkin betul-betul lupa pernah suka memainkannya.

An adult is Just a Child Who Learn to Behave in Social Life
Tidak peduli kamu mahasiswa, pelajar, karyawan kantor, pengusaha jajanan yang semakin dituntut berpikir realistis tentang masa depan, jauh dari pelupuk mata, kamu adalah anak-anak yang tidak akan pernah lupa cara memainkan kelereng, cara bermain petak umpet, cara bermain boy, cara bermain gobak sodor (Makassar: Main Asing), cara bermain lompat tali, kita tidak akan pernah lupa cara bersenang-senang dengan permainan paling sederhana.

Di Somba Opu, Kami Punya Mesin Waktu

Kelereng, Gundu, Baguli', Maggoli'
Lompat Tali
Di Benteng tempat nenek moyang kami berjualan rempah-rempah pada abad ke-16, kami melepaskan kembali anak-anak kecil dalam tubuh orang dewasa ini untuk hidup sekali lagi. Melepas semua tugas kuliah, semua urusan kantor, tidak peduli kemarin baru saja dimarahi dosen, tidak peduli kemarin baru saja di-cek-cok-i atasan, kami datang untuk bermain. Iya, bermain.

Engrang (Bugis: Mallongga')
Di Makassar Traditional Games Festival. Atas racun yang diinisiasi oleh @jalan2seru_MKS inilah kami berkumpul di sana. Tujuannya sederhana, memainkan kembali permainan-permainan tradisional yang pernah kami mainkan dengan riang gembira (sebelum akhirnya pulang ke rumah lalu dimarahi ibu karena pulang kesorean dan baju penuh debu). Tidak sedikit yang membawa adik-adik bahkan anak-anaknya ikut festival ini. Memang itu sih tujuannya. Mengenalkan kembali.

Arief. Dengan pose yang dia rasa paling ganteng. Dipegangnya tongkat untuk bermain cangke'
Kejar Daku Kau Kutangkap. Yang kurang cuma Backsound Kuch-Kuch Hota Hai
Bule pun penasaran bermain Santo'
Kostum pesertanya juga unik-unik. Anak SD ini kabarnya sekarang sudah naik kelas 2 dan pintar membaca

Boyyyyyy
Permainan yang ini Saya Lupa Namanya
Tahun ini, Makassar Traditional Games Festival (#MTGF) diadakan kembali dengan persiapan yang kata panitianya lebih matang dari sebelumnya. Ayo yang mau jadi anak kecil lagi, datang ke Benteng Somba Opu, besok (Minggu, 27 Oktober 2013) mulai jam 10 pagi. Datang bawa adek? Boleh. Bawa anak? Lebih boleh lagi. Bawa anak orang? Jangan, nanti dibilang penculikan.

Tips untuk para moduser: Nangkringlah di Lapak Permaianan Lompat Tali. Cewek-cewek cantik berkumpul di sana mengadu kebolehan dalam lompat tali, siapa tahu saja ada yang berhasil melompati hati kamu, membawamu sampai ke puncak kerinduannya. Halah.

Sampai ketemu di sana! Kalau kita ketemu, sayanya disapalah. Saya anaknya sedikit pemalu.

Cara Instan Berpakaian Seperti Boyband

Tujuan dari postingan ini adalah untuk mengajari anda, laki-laki yang sering diremehkan dan dibandingkan dengan anak-anak boyband yang biasanya memang casing-nya lebih menarik.

Menjadi boyband bisa jadi adalah impian dari setiap anak laki-laki di seluruh Indonesia. Iya, tidak semua sih. Oke, siapa tidak mau jadi anak boyband? Sudah keren, cakep, dan yang paling penting: dikejar sama cewek-cewek. Ya, saya juga pernah sikejar cewek-cewek sih. Bukan sombong ya, waktu itu saya salah masuk WC *JokeJadul*

Disclaimer: Perlu kalian ketahui bahwa tulisan ini adalah hasil dari sebuah riset panjang yang disertai pengamatan yang mendalam dan holistik. Tim kami telah melalui penelitian, uji coba laboratorium, lalu penarikan kesimpulan, hasil penelitian ini akan kami bagikan kepada kalian. Gratis!
Dalam sesi kali ini, saya mengundang Fithrah.

Fithrah
Siapa dia? Sungguhpun kalau kalian ingin tahu, dia adalah pemerhati gaya hidup masa kini dengan fokus pengamatan pada gaya hidup boyband. Fithrah sendiri sebenarnya adalah seorang mantan anak boyband yang masih punya fans hingga saat ini.

Fithrah dengan salah satu Fans-nya. Miyako
Oke, tanpa banyak basa-basi lagi, kami persembahkan pada kalian: Cara Instan Berpakaian Seperti Boyband!


Mengapa berpakaian? Memangnya kalian tidak mau berpakaian?
Langkah pertama dalam menjadi boyband adalah memasukkan dalam mindset kita masing-masing: Afirmasi.  Afirmasi di sini menjadi penting. Pernah baca buku Mario Teguh atau motivator-motivator hebat lain? Kalau kalian mau menjadi bos, berpakaianlah seperti bos! Kalau kalian mau jadi boyband, berpakaianlah seperti mereka. Ini akan meyakinkan orang-orang di sekitar Anda.
Salam Super.

Contoh Cara Berpakaian yang Benar-benar SALAH!
Dalam usaha untuk tampil seperti anak boyband, Anda harus berani menembus batas-batas formal dan normal, namun tetap classy. Dibutuhkan usaha dan kreatifitas yang berimbang yang tidak boleh dihalangi oleh keterbatasan bahwa anda tidak punya baju-baju yang mahal misalnya. Apa yang Anda punya, itu yang harus Anda kenakan, dengan cara yang berbeda!



Berikut ini adalah beberapa contoh gaya yang harus Anda praktekkan dalam mendukung usaha Anda tampil ala khas anak boyband!

The Casual
Cukup dengan sarung yang semalam dipakai tidur dan masih bau apek, Anda sudah bisa memikat orang-orang di sekitar Anda. Sarung akan membuat daya tarik sensual anda keluar, kelebihan yang lainnya, setelah jalan-jalan di mall, Anda bisa langsung jalan-jalan di kompleks untuk ikut kegiatan siskamling.

The Sexy Red
Tidak punya syal? Jangan khawatir. Anda cukup mengambil satu celana training Anda, kalau bisa yang warnanya agak terang. Celana training yang biasanya melindungi alat gerak bawah Anda, juga bisa digunakan sebagai pengganti syal. Selain hangat, celana training ini juga berfungsi untuk melindungi jakun Anda yang berharga.

The Sexy Red With Square Styled Sarung
Intinya, dalam berpakaian ala boyband adalah menembus batas-batas fungsional pakaian itu sendiri. Jangan terpaku pada fungsi, tapi pada gaya dan kreatifitas Anda sendiri.

Penulisan tulisan hasil riset ini diharapkan dapat membantu Anda untuk memenuhi impian Anda untuk tampil seperti anak boyband yang keren dan berjiwa muda dan seksi. Kami benar-benar berharap yang kami tuliskan di sini dapat menginspirasi Anda. Apabila dalam tulisan ini ada yang kami lewatkan, tinggalkan komentar Anda. Boyband yang baik akan selalu mendengar umpan balik dari orang lain.

Salam boyband!

End of Planet Kertasium?

Iya, inilah blog itu. Blog Planet Kertasium yang biasa Kalian datangi dengan mengetik kertasium.blogpot.com terlebih dahulu di address bar sekarang sudah diganti jadi planetyar.com. Mengapa? Ah, Kalian ini kadang-kadang terlalu banyak tanya.

Iya, akhirnya saya, pemilik blog yang mengisi blognya pertama kali tahun 2008 ini memutuskan untuk mengganti alamat blog premium, karena yang pertamax masih mahal. Kau tahulah, BBM di negara kita kan mahal, belum lagi dollar naik, belum lagi BBM cuma bisa di-download di minimal android Jellybean sedangkan yang kupunya cuma Gingerbread yang jadul.

Oke, daripada semakin ngawur, saya persembahkan bagi kalian para Aliens yang sudah jauh-jauh datang ke planet ini entah apa tujuannya, toh blog ini tidak pernah berisi pencerahan seperti blog-blog intelek yang lain. Sejak awal blog ini dibikin karena nge-blog itu menyenangkan sebab memang begitu adanya. Dari blog ini saya jadi mengenal kalian yang akhirnya ketemu di dunia nyata (yang bukan berarti juga blog ini tidak nyata), maksudku bertatap muka. Bertemu mata. Romantis kan? Tidak? Ah, kamu.

Inilah blog Planet Kertasium itu yang kini namanya jadi alay. Itu karena alamat adityar.com sudah ada yang ambil, orang India, temannya Aamir Khan barangkali. Awalnya sih mau alamatnya adityarcaem.com tapi kepanjangan dan susah diingat. Mau adityarsayangkamu.com takutnya kalian geer. Mau tyarselaludisampingmu.com juga nanti dikira mau menyaingi malaikat Raqib sama Atid. Akhirnya jadi jugalah alamatnya di planetyar.com, yang entah juga apa musababnya.

Oh iya, yang mengurus alamatnya itu si Setia. Baik orangnya. Ganteng dan kudengar sedang jomblo dan tidak gondrong lagi.
Sudah ya, Makassar pagi ini sedang dingin sekali.
Iya, pokoknya terimakasih sudah mau mengunjung planet ini, my fellow aliens. I love you :)


Rara

Rara adalah junior sekaligus teman saya. Pertemuan kami dimulai ketika Rara masih anak SMP kelas 1 waktu itu, sedangkan saya masih anak SMA yang bibit ketampanannya sudah mulai terlihat. Bibit ketampanan yang dimaksud adalah jerawat yang tumbuh, biji demi biji.

Seiring berjalannya waktu, Rara mulai tumbuh dari seorang anak perempuan yang lugu menjadi perempuan yang beranjak dewasa waktu demi waktu. Seperti anak perempuan yang beranjak dewasa lainnya, Rara pun mulai mengenal cinta.

Kemarin, saya sudah minta izin kepada yang bersangkutan untuk menuliskan sesuatu tentang dia di blog ini. Dengan terpaksa, dia mengiyakan. Dia sepertinya tahu sesuatu yang buruk akan terjadi padanya setelah postingan ini diterbitkan.

Kita mulai dengan perkenalan. Saya akan menyebut anak perempuan ini dengan nama samaran Rara, nama aslinya Zela. Punya blog juga dia. Di sini.

Belakangan ini, Rara sering galau. Menurut teori Personality Plus, kepribadian melankolis memang rentan galau. Setiap melihat awan yang bergerak pelan-pelan, jadi galau. Setiap lihat ban mobil belakang yang berusaha mengejar ban depan tapi tidak berhasil, jadi galau. Setiap melihat baling-baling kipas angin yang tidak pernah bisa terbang, galau. Lihat iklan Curcuma Plus, galau (Oke, ini asli ngarang). Kegalauan ini tertuang dalam beberapa postingan terakhir di blognya. Oh.

Suatu hari kami sedang duduk di koridor sekolah. Itu adalah suatu sore yang cerah. Kami duduk mengobrol, dan tiba-tiba datanglah Hamjik menawarkan minuman kola dengan es batu.

"Ra, lebih dingin mana es batu ini atau LDR?"
"Ra, lebih dingin mana jauh karena jarak, atau dekat tapi tidak dianggap?"
"Ra, lebih dingin mana?"
***
Oh. Rara yang sering melakukan praktek Pertolongan Pertama (PP) kini tersangkut di PP dalam pengertian yang lain: Persoalan Perasaan. Rara yang biasa melakukan LDR (Lihat, Dengar, Rasakan) saat mempraktekkan pertolongan pertama pada korban tidak sadar, kini harus dihadapkan pada kondisi LDR dalam pengertian lain. Long Distance Relationship. Hubungan Jarak Jauh. Rara yang biasa melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) kini harus merasakan RJP dalam pengertian lain: Rindu berJarak Pulau. Rara yang biasa latihan melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kini harus menghadapi BHD dalam pengertian lain bersama seseorang: Bersama Hadapi Derita.
 ***
Bagi beberapa pasangan, LDR merupakan sesuatu yang harus dihadapi untuk melajutkan hubungan ke level yang lebih tinggi. Tidak jarang, LDR menjadi ujian tertinggi, tersulit, ibaratnya raja terakhir dalam permainan video game. Komunikasi menjadi penting. Masalahnya, bagaimana jika dalam kasus ini, tidak boleh ada komunikasi antarkeduanya dalam bentuk apapun?

Tiba-tiba, saya teringat sesuatu yang pernah saya tuliskan tahun 2012 yang lalu:
***
Seribu Hari
Bagaimana aku bisa melupakanmu sedangkan kita pernah punya janji untuk saling merindukan dan tidak menyalahkan jarak dan waktu? Bukankah rindu kita terlalu besar untuk diganggu oleh hal sekecil-kecil itu?
Dengar, Aku telah merindukanmu lebih dari seribu hari, dan aku siap merindukanmu lebih lama lagi!

Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sedangkan kita masih punya janji untuk saling mengisi dan tidak akan menyalahkan kilometer dan hari? Bukankah rasa kita terlalu dalam untuk ditenggelamkan oleh hal sedangkal itu?
Dengar, Aku telah merindukanmu lebih dari seribu hari, dan siap merindukanmu lebih lama lagi!

Bagaimana aku bisa tidak memedulikan sedangkan kita punya janji yang masih disimpan dan tidak pernah menyalahkan perpisahan? Bukankah dengan begini kita jadi bisa menikmati rindu lebih lama dan pertemuan akan jadi lebih istimewa?
Dengar, Aku telah merindukanmu lebih dari seribu hari, dan siap merindukanmu lebih lama lagi.

Apa kamu mau kita membunuh jarak dan waktu agar tetap dekat? Bukankah dengan begitu rindu tidak akan pernah terobati, malah akan mati dan tidak akan pernah tumbuh lagi.
Dengar, Barangkali kita cuma perlu menunggu sedikit lebih lama lagi, barangkali seribu hari.

Bagaimana kita bisa saling melupakan sedangkan masing-masing dari kita telah sepakat untuk memugar kenangan yang pernah kita ciptakan? Kita telah saling merindukan selama seribu hari, dan siap merindukan lebih lama lagi.

Tiba-tiba detak jam dinding di kamarku berhenti
***
Makassar, Agustus 2013
Semoga Rara Tidak Baca

Puasa di Negeri Mayoritas

Sudah puasa ke dua puluh satu bagi mereka yang puasanya kemarin sudah dua puluh (Sudah, baca saja! Saya sedang bingung cari kata pembuka yang baik dan indah). Untuk mereka yang tinggal dan hidup di negeri yang Indonesia, bulan puasa (bisa juga dibaca bulan Ramadhan) selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu. Bagi saya pribadi, di bulan ramadhan biasanya berarti banyak acara buka puasa bersama. Buka puasa bersama biasanya gratis. Alhamdulillah.

Puasa di Indonesia itu enak. Tidak seperti di Timbuktu. Kalau di Indonesia, tidak perlu lihat posisi bulan kalau mau tahu Ramadhan sudah dekat. Kamu tinggal setel tivi. Kalau di sana kamu lihat tiba-tiba iklan Anang tiba-tiba jadi iklan islami, iklan mie instan jadi iklan islami, iklan sabun jadi iklan islami, atau iklan kopi jadi iklan islami, terus iklan islami jadi apa? Jadi banyak.
Kalau kondisi periklanan sudah setema seperti ini, biasanya Ramadhan memang sudah dekat.

Atau kamu tahu Ramadhan di negeri mayoritas ini sudah dekat atau malah sudah tiba, kalau di tivi-tivi dan portal-portal berita sudah marak berita organisasi masyarakat yang sweeping warung-warung dan tempat hiburan yang tetap buka pada bulan puasa. Biasanya sih kamu akan langsung tahu, sebab biasanya sweeping ini akan ramai, apalagi kalau ada bumbu-bumbu bentroknya.

Ramadhan di negeri mayoritas memang indah. Biasanya, setiap sore di poros-poros jalan, akan berbaris penjajah makanan ringan yang muncul secara misterius entah dari mana. Mereka akan menyiksa, merampok, dan mengeksploitasi makanan secara keji dan tanpa ampun. Oke, maksud saya pejaja makanan, bukan penjajah. Ya, kamu tahulah penjaja itu, yang suka jualan dengan harapan kamu memutuskan untuk beli. Oh, pokoknya penjaja makanan ini akan ramai menyajikan menu buka puasa yang beragam, kamu bisa memilih yang mana kamu suka. Karena terlalu banyaknya pilihan, ini bisa jadi bahaya untuk orang-orang yang rentan galau. Biasanya, yang rentan galau kan susah memilih anaknya?

Ramadhan di negeri mayoritas memang indah. Kita bisa memaksa orang yang tidak ikut puasa untuk lebih menghargai kita. Kita bisa memarahi dia kalau misalnya dia makan atau minum siang-siang. Ramadhan di negeri mayoritas memang indah. Kita bisa memaksa warung-warung untuk tutup di siang hari. Boleh buka kalau sudah buka.

Ramadhan di negeri yang Indonesia ini memang indah. Yang bikin susah adalah menjalankannya di negeri yang dominan ini, tanpa perlu mendominasi.

Makassar, 30 Juli 2013
Sudah Sahur-Sebelum Imsak.

We Did It! 7 Besar Se-Indonesia.


You did it. Kalian berhasil masuk ke Grand Final Nasional. Kita mungkin belum bisa membawa pulang piala juara 1 yang kita mimpikan sama-sama, tapi kita membawa pulang hal yang lebih: Kebanggaan dan Pembuktian. Kita sudah membuktikan kalau kita dari Makassar bisa tonji.

Mewakili tim pelatih, Saya mengucapkanTerimakasih sudah melakukan yang terbaik. Sudah sabar setiap dimarahi. Sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk belajar dan menghapal materi. Mungkin tugas kami memang cukup mengantar kalian, adik kami sampai ke titik ini. Mungkin selanjutnya adalah tugas Kalian untuk mengantar adik-adik kalian sendiri ke titik yang lebih jauh, lebih tinggi, yang mungkin untuk sekarang masih ada di sini, di mimpi kita sendiri.


Makassar, Juli 2013
Untuk Rosaria Ashari dan Harista Suwahyuni

Beberapa Ekor Kucing di Plafon Rumah

Tadi pagi saya masih di bumi. Secara misterius saya masih ada di kamar, kipas angin masih menyala. Maksudnya berputar, maksudnya baling-balingnya saja yang berputar, bukan keseluruhan unitnya. Ah, Kamu pahamlah maksudku.

Sebagai anak laki-laki yang masih juga betah (dibetah--betahkan) jadi mahasiswa, pagi ini masih berisi rutinitas yang menurut saya mahasiswa banget: Bangun siang, buka laptop, browsing internet, baca-baca tweet lengkap dengan tidak mandi hingga menjelang siang. Handphone lalu bergetar.

Mama'mu, Nak Calling

Oh, itu mama saya yang menelepon. Minta dijemput di sekolah tempat dia mengajar. Motor saya ambil lalu berangkat ke sana, ke sekolah tempat ia mengabdi sebagai tenaga pengajar. Sepulang ke rumah, dari dalam terdengar suara-suara anak kucing. Kami tidak pernah memelihara kucing. Kucing itu secara misterius berada di ruang tamu. Entah sejak kapan, plafon rumah kami menjadi tempat tinggal kucing yang bahkan hampir tidak pernah kami lihat rupanya. Di sana mereka menumpang dan beberapa kali melahirkan dan kami tidak pernah tahu berapa anaknya dan siapa ayahnya. Kucing ini pasti jatuh dari plafon. Kasihan.

Saya membawa anak kucing itu keluar. Warnanya krem dengan belang hitam di kulitnya. Jinak dia. Tidak seperti harimau.

Suara anak-anak kucing di plafon semakin keras, pasti ramai di sana. Kalau dibuang kasihan juga. Saya putuskan mengupdate tweet perihal ini. Siapa tahu ada yang mau mengadopsinya.
Satu tweet kemudian, ternyata benar ada yang berminat. Dia minta foto anak kucing yang saya maksud. Saya kemudian keluar kamar, mencari-cari kucing yang tadi. Hasilnya nihil. Dia tidak ada. Mama saya juga tidak melihatnya. Tanpa saya sadari suara-suara anak kucing yang tadi ramai juga sudah hilang. Saya mencari-cari dengan mengintip di sela plafon. Sama: Mereka semua sudah tidak ada. Pergi.

Makassar, 18 Juli 2013
Postingan pertama di umur 23

Setelah Beberapa Foto di Instagramkan

Beberapa hari ini saya suka upload foto ke instagram. Itu karena saya pernah punya instagram, lalu diuninstall lagi. Sayangnya, setelah beberapa lama saya uninstall, ada banyak teman yang protes sebab rupanya telah mem-follow saya, lalu tidak saya follow balik. Saya jadi terkesan jahat. Ya sudah, saya install lagi itu instagram, lalu saya follow balik mereka satu-satu. Akhirnya jadilah kini, beberapa foto saya unggah ke sana. Berharap dapat komentar yang bagus-bagus, malah dapat komentar yang begini bunyinya:




No komen.

Pulang dari Makassar International Writers Festival

Aku kira tidak ada yang lebih menyiksa ketimbang kebelet yang ditahan-tahan, dan tak ada yang lebih indah ketimbang kebelet yang terbayarkan.
(Adityar - 2013)

Sore sudah mau berganti jadi Maghrib sewaktu aku memutuskan meninggalkan lokasi perkemahan di SMAN 10 Makassar lalu ke sana, ke tempat bernama Fort Rotterdam, benteng peninggalan zaman perang Belanda.

Aku tahu zaman perang sudah lama selesai. Aku ke sana bukan untuk mengangkat senjata melainkan untuk bergabung dengan warga Makassar lain untuk mengikuti Makassar International Writers Festival. Sebuah kegiatan yang mempertemukan penulis-penulis nasional dan internasional dengan kita, makhluk pribumi yang biasa. Di sana, mereka akan berbagi seputar dunia kepenulisan dan kalau kau beruntung, kau akan berkesempatan melihat mereka membacakan puisi-puisinya. Aku tidak seberuntung itu.

Sejak kali pertama diadakan, kemarin adalah kesempatan pertamaku untuk mengikuti kegiatan keren ini. Pun, aku cuma dapat event penutupan.
"Tak apalah", batinku. "Siapa tahu di sana ketemu cewek cakep"

Aku berangkat dengan sebuah sepeda motor yang sudah lama tidak dicuci. Lumpur dan debu turut menghiasi badannya, berdebu bak bahu lelaki yang sudah lama tidak disandari. Mesin motor kupacu, aku ingin cepat meninggalkan gedung sekolah ini menuju Rotterdam, aku benar-benar tidak ingin terlambat. Lagipula aku sedang kebelet dan di sekolah ini WC-nya sedang ramai.

Kebelet buang air kecil adalah sebuah siksaan yang Tuhan sengaja ciptakan untuk mengerjai Makhluk-Nya. Ketika kau kebelet, darah akan mengalir naik ke ubun-ubun, menjadikan kepalamu panas, lalu pori-porimu akan melebar semua, tanganmu bergetar, dan kandung kemihmu, sadar ataupun tidak sadar akan melakukan kerja yang lebih keras ketimbang biasanya.

Di jalan, mataku menyisir dan menghitung kemungkinan tempat dan apapun yang dapat dijadikan tempat penyaluran hasrat kebelet ini. SPBU dan mesjid adalah tempat favorit. Apapun rumah warga, pohon, dan tanah lapang adalah alteratif terakhir.

Perihal kebelet ini, tak usahlah kalian tahu kelanjutannya. Tak usah kalian tahu kelanjutan bahwa aku sempat berheti di SPBU namun WC-nya sedang ditutup secara keji oleh orang tidak bertanggungjawab. Tak usah kalian tahu bahwa aku menahan kebelet dari SMAN 10 sampai ke Benteng Fort Rotterdam yang butuh satu jam perjalanan. Tak usah kalian lihat ekspresi saat kebelet itu akhirnya tersampaikan.

***

Makassar International Writers Festival, kalau Kalian mau tahu adalah event tahunan. Keren yang menahun. Di sana hadir penulis-penulis yang kerennya mengerikan: Aan Mansyur, Dewi "Dee" Lestrari, Bernard Batubara, Sapardi, Joko Pinurbo, dan aih, masih banyak lagi. Pokoknya: Makassar International Writers Festival adalah surga kecil untuk para pecinta literasi. Ah, akhir Juni yang istimewa.

Akhirnya sampai juga aku di sana setelah dua tahun tidak bisa menghadirinya. Aku berangkat sendirian sebab yakin di sana pasti akan ketemu dengan orang-orang yang kukenal. Benar saja, di sana aku ketemu Nunuu, si pemilik blog Cumi-cumi itu. Aku juga ketemu Ran yang secara misterius sedang ada di Makassar. Aku juga berkesempatan kopi darat dengan Jihan, blogger yang kedalaman lesung pipinya menyamai dalamnya kerinduan.

Makassar International Writers Festival akan mengenalkan wajah Makassar yang berbeda dengan yang biasa kau lihat di televisi. Terlebih bagi kau pecinta literasi dan puisi. Aih, tahu apalah aku tentang puisi?

Lalu kami duduk di sana, bersila di atas karpet yang terbuat dari rumput dan atap yang terbuat dari langit. Hiasannya bintang pula. Menghadap panggung dipentaskannya puisi-puisi dan literasi. Di atas panggung dipentaskannya kerinduan pada sajak-sajak. Di atas panggung, kecintaan dan kerinduan pada bahasa didendangkan menjadi satu, sungguhpun, Makassar International Writers Festival adalah puisi, dan kita semua adalah bait di dalamnya.

Makassar, 1 Juli 2013

Dari Toko Buku

Harusnya kemarin cari bukunya Kottler yang Judulnya Social Marketing sama Marketing for non Profits, untuk suplemen skripsi ceritanya, tapi apa daya sudah keliling Makassar tapi tidak dapat juga. Akhirnya beli Marketing 3.0 sama Kreatif Sampai Mati-nya Wahyu Aditya. Entah kenapa juga saya beli


Everybody Likes dat new books smell

Absen. Awal Juni 2013.

Ini adalah postingan yang sedikit galau, tapi bukan galau yang mainstream. Ini galau yang anti mainstream. Galau yang tidak ikut arus.

Sejak entah kapan, saya memutuskan untuk tidak aktif di organisasi jurusan. HMJ orang biasa menyebutnya. Kenyataannya, saya tidak aktif di organisasi manapun di kampus, tidak di HMJ ataupun UKM. Satu-satunya keaktifan saya di kampus, itupun kalau organisasinya ada, adalah jadi anggota JKT48 Fans Club. Seksi dokumentasi kalau boleh.

Iya, sayang memang sih  tidak memanfaatkan waktu di kampus untuk belajar di organisasi. Siapapun boleh menilai, termasuk sebuah akun anonim di twitter yang adminnya anak himpunan-himpunan gitu kayaknya (tidak usah saya sebut nama akunnya) pernah bilang, "orang yang tidak aktif di kampus itu berpikiran sempit.", dari situ saya menyimpulkan, tidak semua orang yang aktif di kampus berpikiran luas.

Tetapi oh, kalian boleh bilang saya malas dan tidak peduli. Tetapi oh, memang kampus adalah tempat belajar yang sangat bagus, tapi bukan satu-satunya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas.

Waktu itu saya ikut musyawarah anggota salah satu organisasi yang saya sendiri tidak terlalu aktif, tapi selalu ngaku-ngaku anggota. Makanya datang. Ini enaknya jadi orang Indonesia, suka bermusyawarah. Termasuk organisasi-organisasi. Menjadikan kita orang yang mencintai proses pengambilan keputusan, di luar keputusan itu sendiri.

2010. Musyawarah Anggota.
Saya mengangkat tangan, bermaksud  memberikan usul perihal peliknya penentuan penerimaan atau penolakan LPJ pengurus. Oleh pimpinan musyawarah dibolehkan.
"Ada baiknya untuk memudahkan pengambilan keputusan, di papan tulis dituliskan indikator-indikator kenapa LPJ ini diterima, atau ditolak, biar jelas. Biar semua usulan tidak hilang begitu saja. Tidak mengambang."
Oleh pimpinan musyawarah tidak dipedulikan, usulan saya dilewati begitu saja.

Beberapa perdebatan kemudian, seorang yang tiga tahun lebih tua memberikan usul.
"Bagusnya kalau di papan tulis, dituliskan indikator-indikator kenapa LPJ ini ditolak supaya mudah pembahasan kita"
Salah satu pimpinan musyawarah langsung berdiri langsung mulai menulis di papan tulis. Usulan diterima.
Kalau saya tidak salah, usulan saya sama orang yang lebih tua tiga tahun itu sama.

2012. Musyawarah Anggota.
Saya cuma ikut musyawarah satu hari, itu juga cuma mau liat teman-teman saya memberikan LPJ. Pembahasan, seperti biasa panjang, dan seperti biasa pembicaraan dimayoritasi oleh anggota-anggota yang lebih tua.
Pimpinan musyawarah berkata kemudian, "Ayo coba ini anggota-anggota yang lebih muda juga terlibat aktif. Jangan yang itu-itu saja yang bicara. Kalian yang lebih muda yang seharusnya lebih banyak bicara!"
Beberapa perdebatan kemudian, seorang yang anggap saja lebih muda mengangkat tangan lalu memberikan usul. Waktu itu, saya ingat sekali perihal opsi penerimaan atau penolakan LPJ. Dan saya ingat sekali, belum selesai dia memberikan argumen, peserta musyawarah yang lain, yang lebih tua langsung berbicara dengan suara yang lebih tua menangkis usulan si peserta muda tadi, beramai-ramai. Diborongi.

Masih 2012. Masih Musyawarah Anggota.
Pembahasan LPJ sudah selesai, hasilnya diterima. Oh ye!
Sekarang permbahasan yang lain. Karena berbelit-belit, seorang anggota yang (lagi) lebih muda memberikan usul, "Saya usul bagaimana kalau kita adakan voting?"
Oleh pimpinan musyawarah dengan bijak, "Tidak bisa! Saya tidak suka voting!"
***
Kontra. Bukankah kalau kita mau semua orang lebih terlibat aktif dalam pembicaraan, kita juga harus terlibat aktif dalam mendengarkan dan menghargai pembicaraan saat mereka yang berbicara.

Sebab komunikasi itu bukan cuma soal bicara, tapi juga mendengar. CMIIW :)

Tentang Blogspot dan Penyatuan Layanan Google+

Entah sejak kapan, Blogspot melakukan pembenahan sana-sini perihal layanan blognya. Perubahan paling besar dan standar yang kelihatan adalah penyatuan seluruh layanan Google di dalamnya. Sudah liat gadget blogspot yang baru? Gadget followers kini diganti jadi Google+ followers. Akun google+ kini terhubung, bahkan bisa menggantikan profil blogger yang telah ada sejak zaman bahula, yang menurut beberapa orang, termasuk saya adalah sederhana dan sudah cukup.
 
 Ini mungkin adalah ambisi besar Google untuk mengintegrasi semua layanannya, menyatukan semuanya. Google sudah punya Blogspot, Youtube, Picasa, Google+ yang notabene memang sangat berhubungan erat dengan dunia pengeblogan (apa deh), jadi sebenarnya wajar saja sih mereka ingin menggabungkan semuanya. But really, people are not interested in any new facebook-like social media!

Yah, Dear Blogspot. Tolong pertimbangkan untuk tidak memaksakan ambisi besar kalian kepada pengguna setiamu, ibaratnya kamu adalah pasangan yang cukup egois dan ambisius bagi kami. Itu menyiksa, kayak pacar yang terlalu dominan dalam hubungan. Kalaupun memang harus dipaksakan, tolong dipertimbangkan sekali lagi. Paling tidak, dipertimbangkan.

Di-Follow Balik sama Pak Jusuf Kalla Itu...

"Tyar, please deh. Beginian aja sampai dipos di blog. Norak deh, Kamu"
"Namanya juga seneng"
"Seneng gitu?"
"Iya, seneng"
(Di dalam hati, aku sudah salto-salto sampai planet Venus dan berenang di kabutnya)

@planetyar di list following pak @JK_kita

Jadi Pak JK itu awalnya bikin tweet begitu, akan mengefollow balik buat yang bisa jawab kepanjangan dari PMI. Eh, tahunya beneran. Terimakasih, Pak Jusuf Kalla. Maju terus Palang Merah Indonesia. Maju terus Indonesia :)

Dua Lembar Foto dari Youth Peer Camp 2013

Beberapa hari yang lalu, aku ditelepon Eka, tapi tidak aku jawab. "5 missed-call", tertulis di layar handphone secara ajaib. Aku coba telepon balik tapi tidak nyambung. Aku pilih SMS tapi tidak dibalas. Aku telah di-PHP.

Handphone bunyi lagi. Bunyi karena ada speaker-nya.
"Halo, Kak! Maaf mengganggu"
"Iya, Eka."
Oh. Eka itu, kalau kalian mau tahu adalah junior saya dulu di-SMA, sampai sekarang masih sering ketemu sebab sekampus juga.
Selanjutnya itu jadi percakapan yang istimewa. Aku diminta sharing perihal Komunikasi di event Youth Peer Camp, sebuah kegiatan perkemahan dan pelatihan Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) bagi kader-kader Palang Merah Remaja se-Sulawesi Selatan. Langsung aku iya-kan.
Besoknya ku minta TIK-TIU, supaya apa yang akan aku share nantinya sejalan dengan kemauan panitia.

Kalian Keren :)


Pasukan CiBi. Maaf yang kepotong.

Aku jadi senang sebab pesertanya antusias semua. Jadi nostalgia sendiri waktu masih seumuran mereka, waktu SMA, waktu masih aktif di kegiatan Palang Merah. Aduhai, terimakasih Kalian Semua. Terimakasih juga Panitia.

Bonus:

Kayaknya Sudah Harus Cepat Selesai Biar Dapat Gelar Juga :|

Jadi Orang Lise, Begini Ceritanya

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.
 
Hari sedang cerah ketika saya sedang berjalan di koridor kampus yang biasanya ramai, namun hari itu sepi sebab masa perkuliahan belum dimulai. Cuma beberapa orang mahasiswa yang kelihatan mondar-mandir, mengurus Kartu Rencana Studi juga, sama seperti saya. Bedanya, saya sedikit lebih tampan *SisirPoni*

Maka datanglah saya ke ruang dosen yang biasanya diisi oleh dosen, kadang-kadang juga ada staff administrasi dan cleaning service, ada juga nyamuk. Saya sudah bikin janji dengan Penasehat Akademik perihal mata kuliah yang akan saya programkan semester berikutnya. Oh. PA saya itu Ustad. Kondang dia. Sering muncul di Celebes TV kalau sore.

"Kamu orang apa, Tyar?", Itu PA saya yang tanya.
"Bugis, Ustad. Bapak Bugis, Ibu juga Bugis".
"Bugis mana?"
"Sidrap, Tad"
"Sidrap kan luas, bagian mana?"
Lalu saya jawab dengan tidak lantang sebab yakin beliau tidak akan tahu daerah yang saya sebutkan sebab kampung saya itu memang agak kecil.
"Lise". Lalu PA saya tertawa. Saya diam. Ingin ikut tertawa tapi tidak jadi sebab saya tidak tahu apa yang lucu.
"Kenapa, Tad?"
"Tau Lise' ko pele'!", jawabnya dalam Bahasa Bugis yang artinya kurang lebih dalam Bahasa Indonesia, "Ternyata orang Lise'!"

Tidak sampai di situ saja, PA saya kemudian memanggil rekannya sesama dosen lalu berkata sambil tertawa, "Eh! Ada orang Lise'!". Lalu rekannya juga tertawa.
Saya semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Lise itu, Tyar. Terkenal. Terkenal orang-orangnya!", setelah puas tertawa barulah beliau menjelaskan. Mafhum, saya hanya tinggal di kampung saya itu cuma sampai kelas 3 SD. Selebihnya saya habiskan di Makassar, jadi kurang paham dengan kampung saya sendiri.
"Lise itu terkenal orang-orangnya cerdik dalam berkata-kata, sampai suka bikin bingung orang-orang yang sedang berbicara sama dia. Ada cerita, dulu ada orang yang tanya alamat sama orang Lise', si penanya bilang, "Kita lihat rumahnya La Beddu?". Nah, si orang Lise yang ditanya ini menjawab, "Tidak! Tidak kulihat!". Padahal si orang Lise yang ditanya ini tahu rumahnya si Beddu, tapi dia memang tidak melihatnya karena rumahnya si Beddu tepat di belakangnya si Orang Lise ini". Barulah saya ikut tertawa.

***
 
Seingat saya, setiap kali ada orang yang tahu saya ini orang Lise, pasti dia langsung tertawa, minimal tersenyum. Reaksi yang saya dapat berbeda-beda, ada yang bilang orang Lise itu cerdik dalam berbahasa, menjengkelkan, bahkan ada yang bilang picik. Macam-macamlah pokoknya. Lise, kampung saya itu terletak di Kabupaten Sidrap, Kecamatan Panca Lautang. Hampir seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan peternak ayam petelur.
Katanya, Orang Lise memang lihai dalam berbahasa, dalam budayanya, orang Lise terkenal dengan "ada tongeng", atau bahasa yang sebenarnya. Salah satu contohnya, kita yang biasanya memanggil pedagang bakso dengan teriak, "Bakso", atau pedagang es dengan panggilan, "es", menurut logikanya Orang Lise, ini salah sebab dengan memanggil, "es", atau "bakso", yang kita panggil adalah jualannya, bukan pedagangnya. Seharusnya mereka dipanggil dengan, "Pabbalu' Bakso", atau "Pabbalu' es", Oh iya. Pabbalu' dalam bahasa Bugis berarti pedagang.

Aduh, maaf saya tidak bisa cerita banyak sebab saya juga cuma tahu sedikit perihal adat ini. Selengkapnya cari sendiri di buku atau internet saja ya :)

Oh. Masih ada lagi yang saya suka dari kampung saya itu: RAME. Iya, ramai. Orang Lise itu, kalau berkumpul, biarpun yang berkumpul cuma lima orang, dari jauh kedengarannya seperti dua puluh lima orang. Saking ributnya. Mereka juga senang berkumpul dan bercerita, maka jika ada acara hajatan nikahan atau apapun, ibu-ibu sekampung biasanya akan datang untuk membantu mempersiapkan dengan membawa pisau masing-masing dari rumah. Ramailah pokoknya. Apalagi orang-orang kampung saya, suaranya terkenal keras, mungkin karena bawaan tinggal di rumah panggung dan jarak antarrumah memang tidak "mepet" seperti di kota yang menjadikan mereka sering berkomunikasi dengan tetangga sambil teriak. Maka kalau kalian sedang melihat ada dua orang Sidrap yang bercerita satu sama lain, siap-siap saja.

Bahkan teman-teman saya sering bercanda, mereka lebih senang dimarahi oleh orang Bone yang terkenal halus daripada diajak makan oleh orang Sidrap. Ada-ada saja.

Oh, sayangnya saya cuma tahu sedikit perihal kampung saya sendiri. Cuma itu yang bisa saya bagi dulu. Kalau tahu lebih banyak perihal kampung ini, bolehlah begitu saya diceritakan :))

Makassar, 20 April 2013.
Pagi-pagi.

#KisahKKN: Pemberangkatan

Kalau ada lelaki berumur 21 tahun yang belum terbiasa mengepak barang sebelum bepergian, maka saya itulah orangnya. Kawan, harap mafhum. Saya tidak terbiasa pergi jauh. Tidak terbiasa travelling seperti kebanyakan orang lain. Maka pada sehari sebelum keberangkatan itu, saya tidak tahu mau melakukan apa. Baju, celana, buku-buku, semuanya masih ada di lemari dan belum dipindahkan ke dalam koper. Dan oh, ini juga pertama kalinya saya bepergian dengan koper. Elite juga rasanya bepergian dengan koper.

Sehari sebelum keberangkatan mengikuti Kuliah Kerja Nyata itu, saya belum tahu mau melakukan apa. Teman-teman saya yang lain sudah pada sampai di poskonya masing-masing. Posko di Kabupaten Enrekang diberangkatkan terakhir, jadi tidak usah berharap banyak kalau besok ketika pemberangkatan, akan ada temanmu yang menemani dan mengantar, mereka semua sudah pergi duluan. Sudah sampai duluan di posko masing-masing.

Sampai matahari sudah kembali ke peraduan, saya sama sekali belum mengepak barang. Sehabis Isya saya malah menyempatkan diri dulu ke rumah teman SMA saya, si Ani yang mengundang datang ke rumahnya untuk syukuran wisuda. Ani itu teman saya di SMA, juga sama-sama anggota PMR, kecil badannya, cempreng suaranya.

Pukul sembilan malam, saya pamit pada Ani, dan kawan-kawan lain. Pamit pulang, dan pamit untuk berangkat KKN esok hari.

Sesampai di rumah betapa kagetnya, koper sudah tertutup rapi, baju-baju, pakaian, perlengkapan mandi, shalat, dan buku-buku sudah pindah semua ke dalamnya. Ajaib. Lebih ajaibnya lagi, di semua perlengkapan sudah tertulis nama saya di sana: TIAR.  Di semua perlengkapan dan pakaian, tanpa terkecuali.
"Supaya tidak tertukar", kata ibu. Oh, rupanya ibu yang mengepak.

Artefak KKN yang masih tersimpan rapi
***
Maka besok pagi kami sudah harus berangkat. Sebuah koper berukuran sedang dan ransel sudah dibawa serta. Saya pamit pada adik-adik, ayah, serta ibu. Sebuah pelukan tidak lupa diberikan pada ibu, sebuah pelukan yang sudah tidak saya berikan selama bertahun-tahun lamanya.
Saya diantar ayah ke kampus, ke lokasi pemberangkatan. Di sana sudah ada ratusan, bahkan mungkin ribuan peserta KKN lain yang diantar keluarga masing-masing. Mesin-mesin truk tentara sudah mulai dipanaskan. Matahari pelan-pelan meninggi. Kampus kami hari itu riuh bak terminal pemberangkatan. Saya sudah di dalam bak truk, duduk di tengah bersama mahasiswa-mahasiswa lain sebab bangku sudah penuh. Truk juga sudah penuh.

Di luar bapak-bapak tentara sedang apel dan berdoa, lalu satu persatu masuk dan duduk di bangku supir. Suara mesin truk semakin menderu, sebuah mobil tentara melesat ke depan memimpin iring-iringan, pelan-pelan ban truk mulai berputar. Truk menuju keluar. Keluarga-keluarga kami melambai riuh.

Beberapa Cerita (Yang Belum Sempat Diceritakan)

Pemuda-pemuda Desa Salo Dua


Ada beberapa cerita yang sampai sekarang masih disimpan jadi kenangan. Belum dimuntahkan jadi cerita. Jadi sesuatu yang bisa dinikmati bersama. Pelit betul. Pengalaman dua bulan di desa sewaktu menjalani KKN kemarin sama sekali belum dipost di Planet ini, padahal sudah sangat lama diniatkan.
Semoga stealah ini punya niat untuk menceritakannya di sini - cerita demi cerita.

Sudah, saya mau mandi dulu. Tidak usah ikut.

Ada Alien Ikut "The Big Blog Exchange"

"I am a college student in department of communication. I've been blogging as personal blogger since 2008. As a personal blogger, sharing stories is more than it seems, Sharing is about creating relations with others, creating bonds. I always have a dream that someday I could be a part of something big, something larger than myself, something extraordinary, something to tell to the world, that whoever we are, where ever we come from, we MUST have faith in our dream, and winning this unique opportunity is one of those dreams."
- Adityar, 23 Tahun, Grammar Pecah.

Pertama kali memulai aktifitas blogging, saya tidak tahu mau ngapain, yang ada di pikiran saya waktu itu adalah mencari pelarian, mencari tempat lain untuk bermain karena pada saat yang sama, jejaring sosial yang tergaul pada zamannya, Friendster.com sedang rentan maintenance. Jadilah saya bikin blog dengan nama "Planktonemon" yang terinspirasi oleh tokoh antagonis Sheldon J. Plankton  (a.k.a Plankton) dalam serial kartun Spongebob Squarepants. Bagi saya, Plankton adalah tokoh inspiratif dan sampai sekarang adalah tokoh antagonis favorit saya. Kami punya kesamaan: Kami sama-sama bertubuh kecil. Hingga pada suatu hari, saya memutuskan untuk mengganti nama blog menjadi Planet Kertasium yang kini kalian baca dari Planet Bumi.

Setiap blog adalah planet yang nyaman bagi blogger-nya, dan pengunjung blog adalah tamu yang selalu ditunggu kedatangannya. Sebagai seorang passionate/personal blogger yang blogging karena senang, kita tidak punya motivasi lain selain berbagi. Blogging memberikan kita kesempatan untuk berbagi cerita, menciptakan hubungan-hubungan dan ikatan-ikatan, menciptakan saling pengertian.
Adapun blog yang isinya cerita picisan sehari-hari ini, adalah sebuah pernyataan bahwa di sekeliling kita ada banyak sekali cerita, kita cuma perlu lebih memperhatikannya, lalu membaginya kepada orang lain. Hidup terlalu singkat untuk dinikmati sendiri, isn't it?

2011, Tempo Hari Menyebarkan Virus Blogging di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Sampai sekarang, saya belum pernah travelling, saya belum pernah meninggalkan negara saya, meninggalkan Indonesia. Faktanya bahkan saya belum pernah meninggalkan Sulawesi Selatan. Belum pernah naik pesawat, belum pernah naik kapal laut, satu-satunya "perjalanan" yang pernah saya lakukan adalah mengendarai Banana Boat di Tanjung Bayang tempo hari, jika itu bisa dihitung. Lalu mengapa saya sok-sok-an mendaftarkan diri ke kegiatan Blog Exchange ini? Kawan, Kita harus percaya bahwa di balik perbedaan-perbedaan budaya dan kebiasaan, kita punya lebih banyak kesamaan. Kita sama-sama percaya bahwa sebuah senyuman bisa menghangatkan, kita sama-sama percaya bahwa sebuah pelukan lebih menyenangkan ketimbang sebuah celaan tentang siapa lebih baik, tentang siapa lebih superior, dan lebih menyenangkan dari peperangan (Boy, that excalade quickly). Mungkin kita cuma perlu mencari persamaan-persamaan itu.
Kita percaya kekuatan "Sharing and Caring" bisa mengubah dunia. Kita percaya bahwa Blog bisa lebih dari sekedar tempat mencurahkan hati. Blog bisa membuat perubahan-perubahan berdampak besar. Kita cuma perlu memulainya dengan langkah-langkah sederhana, lebih banyak berbagi, mungkin lebih banyak memberi.

Di The Big Blog Exchange, 16 Bloggers terpilih dari seluruh dunia, akan "bertukar" kebudayaan. Bertukar kearifan-kearifan lokal. Bertukar kampung halaman untuk menemukan kesamaan-kesamaan kecil di balik keberagaman itu. Because We Do Believe, Exchanging Culture Can Prevent War. Blog Can Change The World
Jadi, Aliens. dengan segala kerendahan hati, saya ingin berbagi mimpi untuk bisa menjadi satu dari 16 Bloggers terpilih, untuk merasakan kesempatan langka ini. Caranya sederhana, saya butuh teman-teman untuk simply meng-klik link ini, lalu klik vote, masukkan alamat e-mail, kemudian mengecek e-mail untuk meng-klik link konfirmasi yang diberikan. Vote baru dihitung setelah kita meng-klik link verifikasi yang dikirimkan.

Sementara itu, terimakasih atas perhatian teman-teman yang masih bersedia menjadi tamu di Planet ini, semoga dengan lebih banyak berbagi, kita jadi lebih banyak mengerti. Terpilih atau tidak, semoga masing-masing kita tetap punya semangat untuk sama-sama berbagi dan mengerti.

Makassar, 7 Pebruari, 2013.
Panas, meskipun Hujan Baru Saja Turun