Siapa yang Paling Indonesia?

"Siapa berani nyela Indonesia, nyari ribut sama gue" - Ian, "5cm" (Donny Dhirgantoro)

Saya sedang main video game dengan damai bersama laptop kesayangan ketika Cia, teman seposko saya di lokasi Kuliah Kerja Nyata meminta saya membeli beberapa potong gula merah. Untuk bikin kue katanya. Oh, Cia. Padahal saya sedang asyik bermain, kenapa Kamu begitu tega? Memangnya saya pernah begitu tega menyuruh kamu beli gula merah ketika sedang main game? Punya dendam apa Kamu sama saya, Cia? Bilang sekarang!
Katanya biar saya jadi rajin, biar tidak di rumah melulu.

Dengan lesu Saya ambil jaket akhirnya, mengambil kunci motor, tidak lupa meminjam motor yang tadi dikendarai sekretaris kecamatan yang kebetulan berkunjung ke posko kami hari itu. Sekedar berkunjung, menjalin silaturrahmi katanya. Dengan kemalasan menggerayangi kepala, saya meraih sepeda motor juga. Oh, tahukah Kamu, saya butuh lima menit untuk menyalakan mesinnya. Susah. Barangkali karena usia, saya susah menyalakan mesinnya. Maksud saya usia mesinnya, bukan usia saya.

Kalau saya belum cerita, saat ini saya bersama 700-an mahasiswa Universitas Hasanuddin lainnya sedang menjalani ritual (baca: ibadah) Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Enrekang. Saya kebagian lokasi di Desa Salo Dua. Kami tinggal di rumah Kepala Desa, yang oleh kami dan warga desa dipanggil Pak Desa. Barangkali biar lebih akrab begitu. Contoh kasus: Ketika datang seorang warga yang hendak bertemu dengan kepala desa, haruslah dia bilang dahulu kepada kami, “Maaf, Dek. Pak Desa ada?”. Itu menurut saya lucu, sebab jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, haruskan nama Pak Desa menjadi “Mr. Village?”. “Excuse me, is Mr. Village home?”. Oh. Menurut saya itu lucu, kalian kalau tidak sepakat sama saya – tidak apa-apa.

Jadi juga saya menelusuri jalan pedesaan yang masih berupa tanah yang sekarang masih dilanda musim kering. Saya ajak Milan, anak Pak Desa yang perempuan, yang masih kelas tiga SD untuk menemani, sekaligus menunjukkan saya warung tempat kami nantinya akan membeli gula merah, atau lebih lengkapnya, gula yang merah *apasih*. Tidak sampai dua jam akhirnya kami sampai juga, oh, maaf saya lebay, sesungguhnya cukup lima menit saja kami sudah sampai sebab dekat, Milan meminta saya berhenti di depan sebuah rumah. Motor saya parkir berdiri di depan rumah yang dimaksud, sambil dengan penuh kesoktahuan masuk ke halaman rumah panggung yang ditunjukkan Milan, menyusul dia yang sudah jalan duluan.

Pikiran saya mulai tidak enak ketika menyadari rumah yang ditunjukkan Milan sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kewarungan, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah sebuah warung, tidak memenuhi syarat sah dan rukun-rukun warung. Milan! Kamu berniat menipu saya yang sudah mengantar Kamu sejauh ini ya?!

Sejurus kemudian saya memutuskan untuk bertanya kepada dua orang anak gadis yang kebetulan sedang duduk di sana, di balai-balai kolong rumah. Kelihatannya sedikit lebih muda dari saya. Biar lebih menarik kalian membaca tulisan ini, saya bilang mereka cukup manis. Sungguh memang manis wajah mereka berdua, saya tidak bohong kali ini. Amboi, wajah mereka manisnya kompak sekali, kembar rupanya. Tetapi oh, mereka berdua yang waktu itu sedang asyik mengobrol satu sama lain berhenti mengobrol ketika saya yang asing bagi mereka ini masuk halaman, keduanya memandang saya penuh curiga dan waspada. Membuat saya merasa aneh sendiri.

“Misi (maksud saya permisi), Saya mau beli gula merah”, saya bilang ke mereka, sambil mendekat ke keduanya. Membuat wajah mereka terlihat lebih jelas di mata saya. Saat itu juga saya yakin bahwa keduanya memang berwajah manis. Manis yang alami. Manis buatan alam *halah*.
“Gula merah?”, ya ampun. Kalau kalian bisa melihat wajah mereka sewaktu mengucapkan itu, ada dua juta keheranan di sana, tidak mengerti dan syok barangkali, mendapati laki-laki yang agak kurus dengan gaya rambut yang agak-agak Korean Pop, pakai baju merah, tiba-tiba mendatangi mereka untuk bertanya perihal gula merah.
“Iya, gula merah”, saya mulai gugup sebab menyadari telah salah tempat.
“Gula merah di belakang! Bukan di sini!”, kata mereka sambil melukis senyum di wajah masing-masing. Senyum yang setengah tertawa yang ditahan. Kompak sekali bikin saya malu, bikin saya tersipu-sipu.
“Aduhai, perasaan saya mau beli gula merah, Mbak. Ini kenapa yang saya dapati kok gulali kayak kamu ya?”, saya bilang itu ke mereka, tapi mereka tidak menjawab sebab saya bilang itu Cuma dalam hati.
“Mari kalau begitu” saya pamit. Mengakhiri percakapan yang singkat dan aneh itu.
“Iya” kata mereka. Langkah kaki saya percepat.
Oh, Milan. Kamu sudah sukses bikin saya malu. Mari, kita lanjutkan perjalanan ini.

Perasaan saya semakin tidak enak ketika kami memasuki sebuah kebun yang ditumbuhi banyak tanaman liar. Beli gula merah kok begini-begini amat? Saya melihat ke kiri lalu ke kanan, tidak ada tanda-tanda warung di sana, bahkan tanda-tanda keberadaan rumah saja tidak ada! Yang ada Cuma rumput liar yang tumbuh selutut, dari jauh saya lihat ada kebun jeruk nipis juga, masih tidak ada rumah. Milan, kamu mau menculik saya ya? Jangan, Milan. Kita kan baru ketemu?

Sampai saya melihat ada sebuah gubug kecil yang dari jauh terlihat menyeramkan. Penampakannya samar-samar dari jauh, tingginya lebih kurang dua setengah meter, kayu bangunannya mulai kusam yang menambah kesan horor. Dari tungku keluar asap yang cukup tebal. Saya mulai takut. Benar! Saya akan diculik dan dijual kepada nenek sihir yang tinggal di gubug ini.

“Mau beli gula merah, Dek?”, itu suara yang muncul memecah lamunan nenek sihir saya yang agak paranoid dan berlebihan.
“Iya, Bu! Mau beli gula merah!”. Suara saya dibikin setenang mungkin, takut salah tempat lagi.
“Wah. Gulanya belum masak, Dek.”, katanya sambil menunjukkan sebuah tungku besar yang di atasnya ada semacam alat masak berbentuk sebuah wajan raksasa dengan adonan yang dimasak mendidih. Terlihat panas sekali. Semuanya mulai masuk akal sekarang. Ternyata Milan membawa saya langsung ke produsen gula merahnya, bukan ke warung seperti pemikiran saya sebelumnya. Maafkan saya, Milan. Tadi saya berpikir jelek sama kamu. Saya telah Su’udzon pada anak sekecil kamu.
“Kalau belum masak saya pulang dulu, Bu. Nanti balik ke sini lagi”
“Iya, Dek. Tapi di sini saja dulu. Makan sori!”
“Sori?”, di telinga saya terdengar seperti sebuah kata bahasa Inggris yang berarti maaf, “Makan sorry?” Oh, makanan apakah itu gerangan, Bu? Apakah itu makanan ketika kita memakannya, harus sambil minta maaf satu sama lain?
“Mari, Bu. Saya makan sori-nya, maafkan saya ya, Bu. Mohon maaf lahir batin.”
“Oh, iya, Dek. Saya juga minta maaf, Dek”
Kemudian kami saling menangis dan merangkul satu sama lain.
Begitukah makanan yang dimaksud sori itu? Saya jadi aneh sendiri.
“Iya. Makan sori.”, katanya sambil menimba adonan tipis dari wajan raksasanya, kemudian mencelupnya ke dalam seember air yang secara ajaib membuat adonan tadi berubah rupa, tidak lagi cair melainkan kenyal. Rasanya juga seperti permen karamel yang manis dan agak susah dikunyah sebab teksturnya yang lembut. Oh, ini ternyata yang dimaksud sori itu, karamel manis dari adonan gula merah.
“Tadi saya kira belinya di warung, Bu. Ternyata langsung sama yang bikin!”, kata saya yang menjadikan si ibu pembuat gula merah dan suaminya yang kebetulan ada di situ jadi senyum.
“Iya, Dek. Langsung Sama yang asli, yang alami”, si ibu menanggapi.

(By the way, saya menulis ini sambil jongkok di ruang tamu rumah pak Desa, itu Pak Desa ada di kursi depan saya, dekat sekali. Sesekali melihat saya, curiga barangkali, jangan sampai saya buang air besar di ruang tamunya)

“Bikinnya lama ya, Bu? Kita sih tahunya beli yang jadi kalau di kota”
“Bikinnya bisa sehari, Dek. Kalau yang kita bikin ini asli, beda sama yang di kota”
“Asli, Bu?”
“Iya, kalau yang dijual di kota itu biasanya sudah banyak dicampur air supaya jadi banyak”
Sungguh, ini kali pertama saya melihat langsung proses pembuatan gula merah yang ternyata ribet dan lama, adonan yang besar harus sering diaduk supaya tidak mengeras, sambil harus menahan panas yang terpapar dari tungku yang luar biasa ukurannya. Saya merasa beruntung. Beruntung bisa melihat proses yang bagi orang yang tinggal di kota pastilah langka ini. Gula merah yang asli Indonesia.

Saya berani bertaruh kalau di Amerika sana, pastilah tidak ada yang beginian. Jangankan proses yang asli begini, gula merah pun di sana pasti tidak ada. Oh, kasihan mereka yang tinggal di sana. Membuat saya jadi merasa beruntung. Merasa lega. Merasa senang. Oh, ini Indonesia, Bung. Dan gula merah ini baru satu dari sekian banyak budayanya, dari sekian banyak kekayaannya. Sayang waktu itu saya tidak bawa handphone jadi tidak sempat mengambil gambarnya.

Saya kemudian pamit pulang kepada sepasang suami isteri pembuat gula merah. Di jalan saya sempat bersyukur sekali lagi, untung saya cuma disuruh beli gula merah. Barangkali jika saya disuruh beli susu kental manis, jangan-jangan saya harus mengikuti keseluruhan prosesnya juga, mulai dari memeras susunya.

“Ya, Tuhan. Terima kasih saya lahir di Indonesia”.
Iya, sekali lagi ini Indonesia, Bung. Sebuah bangsa yang kekaguman kamu tidak akan habis padanya, sebuah bukti sebagaimana indah Tuhan bisa mencipta. Sebuah bangsa yang akan selalu mengundang decak kagum kepadanya. Sebuah negara yang memang sudah cantik dari sononya.

Saya kembali ke posko. Ke rumah Pak Desa. Rumah tinggal sementara kami, 235km jauhnya dari rumah kami yang sebenarnya di Makassar. Tiba-tiba saya kangen rumah.

Hari ini saya genap seminggu sudah di desa ini, di Kabupaten Enrekang yang banyak gunung dan bukit ini. Jadi mafhum saja jika akses signal handphone di desa ini agak susah. Untung saja signal Telkomsel di sini tetap ada, meskipun agak susah di rumah pak Desa sebab letaknya agak rendah dibandingkan rumah-rumah yang lain yang tempatnya lebih tinggi. Kadang-kadang untuk menelepon kami naik dulu ke daerah yang lebih tinggi tempatnya. Lucu juga rasanya.

(Sementara itu Pak Desa sudah beranjak ke luar, ke teras. Saya juga sudah tidak lagi jongkok)

Kalau kamu membaca postingan ini di rumah kamu, di Indonesia, tidak usahlah saya bahas panjang-panjang kalau negeri yang sedang kamu hirup udaranya ini adalah bangsa yang kekayaannya jangan ditanya. Meskipun entah kenapa sampai hari ini masih menjabat sebagai negara sedang berkembang, yang tidak tahu kapan majunya. Mafhum saja, korupsi kolusi dan nepotisme di pemerintahan negara ini memang besar sekali. Bukan rahasia lagi. Tidak usah kita tutup-tutupi. Menyebabkan masyarakatnya sering tidak percaya sama pemimpin sendiri. Ironis. Jadi sudah, harap dimaklumi jika tiap tahun di negeri ini selalu saja ada demonstrasi oleh mereka yang marah? (Ini tiba-tiba saya kok kedengaran serius begini ya?)

Tidak apa-apa, sebab memang begitulah adanya. Tidak apa-apa memang begitulah seharusnya, bukankah ketika kita marah itu manandakan kita peduli? Bukankah ketika kita kecewa itu berarti kita masih punya percaya? Sama ketika kita marahan sama pacar, bukankah itu menandakan bahwa kita masih peduli satu sama lain? Barangkali ketika nanti jika kita sudah berhenti saling marah, jangan-jangan kita memang sudah berhenti saling peduli. Barangkali kita marah karena kita memang masih punya harapan sama bangsa ini. Punya cita-cita-cita. Punya marah. Aduhai, perihal marah itu, biarlah. Sebab marah Cuma perasaan yang terlalu kecil untuk menghilangkan cinta, menghilangkan rindu. Justru ketika kita sering marah kepada suatu tempat namun tetap saja rindu dan pulang ke sana, barangkali memang di situlah rumah. Rumah yang sebagaimana kamu keluhkan, tapi tetap saja kamu pulang ke sana: Kapan saja kamu suka.

Kita Indonesia, kaya budaya, kita kaya sudah dari sononya. Tidak usahlah kita perdebatkan mana lebih bagus Jawa atau Bugis, Ambon atau Batak, sebab di mata Garuda Pancasila, kita adalah perbedaan dan kekayaan yang horizontal, saling sejajar satu sama lain. Melengkapi, bukan menggantikan.

Barangkali kita Cuma perlu meniru bapak dan ibu pembuat gula merah tadi yang tidak kehabisan harapan. Barangkali memang Cukup itu yang kita butuhkan, tidak usah besar-besar dulu. Cukup menjalankan peranan masing-masing. Pembuat gula merah, tetaplah membuat gula merah yang akan memaniskan dapur banyak keluarga, pemain sepakbola cukuplah tidak kehilangan semangat dan bikin bangga bangsa di mata dunia, yang pelajar tetaplah belajar dan berprestasi, yang guru tetaplah mengajar - tetap mencerdaskan kehidupan bangsa, Telkomsel tetaplah melayani inovasi komunikasi, menghubungkan kita yang jauh dari rumah, mendekatkan masing-masing kita yang rindu. Barangkali cukuplah seperti itu, kita akan menjadi Indonesia, menjadi yang Paling Indonesia. Kalau kita pengguna Telkomsel saja bisa begitu setia dan Telkomsel juga bisa begitu setia sama pelanggannya, mengapa tidak pada suatu Bangsa: Pada Indonesia.

Kemudian hujan pagi turun di desa Salo Dua. Membasahi rumput, membasahi tanah, membasahi yang sudah lama agak kering. Membasahi sebagian kecil Indonesia, menjadikan kolam ikan Pak Desa beriak-riak kecil. Menciptakan dingin bagi masing-masing raga. Membuat secangkir teh terasa semakin hangat. Sesekali disertai angin yang berhembus pelan-pelan. Sungguh, hujan pagi akan selalu indah bagi mereka yang menikmati. Kita memang tidak punya salju seperti di barat sana, tapi hujan seperti ini, rasanya barangkali sudah cukup.




Iya, selama kita tidak kehilangan cita-cita, Indonesia juga tidak akan kehilangan harapan. Barangkali memang cukup dengan begitu, kita akan tetap muda, tetap beda, tetap Paling Indonesia.




Enrekang, 30 Juni 2012
Diikutkan pada lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh Telkomsel dan Komunitas Blogger AngingMammiri

12 comments

  1. Tyar,.. tyar... sungguh, perihal gula merah ini harus dikomikkan. Tapi saya masih bertanya-tanya dalam hati, akankah saya bisa menjadi orang yg mengomikkannya?

    nice posting... *sebagai wujud rasa bersalahmu pada Milan, ajak dia beli gula merah di makassar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduhai, Ran. Kalau ada orang yang bisa mengkomikkan perihal gula merah ini, barangkali kamu itulah orangnya.

      Perihal Milan itu, kalau jauh-jauh kuajak ke Makassar cuma untuk beli gula merah, apalah nanti yang ada di pikirannya -____-

      Delete
  2. Dari dulu aku suka gaya tulisan Tyar yang begini, resmi2 asik, suka suka suka. :)
    Dan aku paling suka paragraf yang ini > Kita Indonesia, kaya budaya, kita kaya sudah dari sononya. Tidak usahlah kita perdebatkan mana lebih bagus Jawa atau Bugis, Ambon atau Batak, sebab di mata Garuda Pancasila, kita adalah perbedaan dan kekayaan yang horizontal, saling sejajar satu sama lain. Melengkapi, bukan menggantikan.
    MERDEKA!!!

    ReplyDelete
  3. sori itu kalo di bone disebut soddi

    nice post! *ngakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun sebutannya, minumnya teh botol Sosorrrrr

      Delete
  4. hahaha.. baruka mau tnya, dibayar berapa sama tsel? hehe :D hidup tyar! ceritanya cukup bikin perutkuu campur aduk pas baca... paling bisa memang ini anak. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Diikutkan lomba, Mbak Awa'. Hehe.
      Thanks yaa udah baca :D

      Delete
  5. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    ReplyDelete
  6. Semangat mengindonesiakan indonesia lewat Blog...
    semangat Indonesia!!
    salam anak negeri

    Blogwalking & Mengundang juga blogger Indonesia hadir di
    Lounge Event Tempat Makan Favorit Blogger+ Indonesia

    Salam Spirit Blogger Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih infonya, Kang Adang. Wah, baru sempat liat nih infonya :)

      Delete