Semoga Ada

Sebagai blogger, saya merasa gagal. Berbulan-bulan blog ini saya biarkan kosong. Maafkan saya.

Ada macam-macam gambaran yang muncul di kepala ketika menghadiri sebuah acara pernikahan. Itu lihat! Ada sepasang mempelai yang berdiri di atas panggung menyalami satu per satu tamu. Ada sepasang senyum yang susah lepas dari keduanya. Sepasang senyuman yang malu-malu ku kira. Sepasang senyuman yang sudah lama bersarang tapi baru saja bisa terbang selepas itu, memenuhi seisi ruangan.

Di sana ada saya, di sudut kiri gedung aula resepsi pernikahan. Ini, saya dibangunkan tadi pagi oleh ibu saya, minta ditemani ke acara resepsi keluarga katanya. Saya bisa saja menolak, tapi urusannya akan panjang. Jadi saya jadi saja ke sana, pakai batik cokelat, pakai motor juga. Ibu saya bonceng di belakang. Hampir kecelakaan sewaktu di perjalanan. Itu karena ada sepasang perempuan yang tidak melihat-lihat sewaktu keluar dari belokan ke jalan raya.

Jika ada remaja stadium akhir yang masih tidak mengenal banyak anggota keluarga besar dan kerabat, maka saya akan menjadi salah satunya. Sampai di gedung, saya cuma celingak-celinguk cari kursi, lalu duduk, lalu buka handphone, lalu main game. Sementara ibu saya sudah berkeliling gedung, berukumpul dengan kerabat. Bagi saya, bertemu dengan orang baru selalu jadi mimpi buruk, biarpun itu keluarga sendiri. Alhasil salah tingkah sudah bukan lagi hal yang aneh, misalnya sewaktu dikenalkan sama orang yang lebih tua, saya punya kebiasaan sendiri, salami, cium tangannya. Siapapun itu.

"Tyar, ini Om"
Senyum. Cium tangan om.
"Tyar, ini Tente"
Senyum. Cium tangan tante.
"Tyar, silahkan makan"
Senyum. Cium tangan resepsionis.
Selalu begitu.

Tetapi oh, pernikahan itu selalu magis. Apalagi makanannya. Apalagi hidangannya.

Itu saya, sudah berjalan ke arah parkiran. Ada dua anak kecil di sana. Satunya laki-laki, satunya lagi perempuan. Kurang lebih umurnya 7 atau 8 tahun.

"Kak, motornya yang mana?", si anak perempuan bertanya. Oh, mereka jaga parkiran rupanya. Mata saya tertegun melihat kedua anak yang baru saya lihat rupanya ini.
"Yang itu!", kata saya seraya menunjuk sebuah motor besar agak tua yang diparkir paling tengah, padahal itu bukan motor saya.
"Ha?! Tidak mungkin, Kak!", tertawa dia.
"Tidak mungkin bagaimana?"
"Itu bukan motornya kakak! Yang punya itu orangtua, tadi saya lihat waktu diparkir", tawanya makin keras.
"Kalau begitu yang ini saja!", sekali lagi menunjuk motor orang.
"Kak! Yang benar! Masa' boleh dipilih begitu?", katanya. Sambil senyum saya dipukulinya di lengan. Senyumnya manis sekali.
"Yang ini saya kalau begitu" Kali ini benar, motor saya.

Kemudian saya pulang, meninggalkan mereka berdua, meninggalkan mereka berdua. Mereka berdua malam ini tidur di mana? Ada rumahkah? Ada kakak laki-laki untuk ditemani bercanda kah? Ada ayah ibu yang menyelimuti kalau dinginkah?

Pulang


Rumah adalah ketika kamu mendapati banyak tempat yang menyenangkan di luar, namun kamu masih senang pulang ke satu tempat.

Selamat ulangtahun ke 30, Keluarga Kedua, Ibu kita Palang Merah Remaja Wira SMAN 5 Makassar. Sebab keluarga lebih dekat dari sekedar ikatan darah.

Saya banyak belajar di tempat ini, dan semoga tempat ini akan terus menjadi tempat belajar yang keren. Untuk dulu, sekarang, dan selamanya.
Jaya Selalu Wismu Lima!


Pintu Semester

"Assalamualaikum, Ustad", saya bukan sedang memanggil handphone saya dengan gelar ustad. Saya sedang berbicara di telepon genggam yang waktu itu tidak saya genggam, melainkan ditempatkan di bibir jendela. Supaya dapat sinyal, cara ini adalah salah satu cara yang hampir ampuh untuk menangkap sinyal untuk sekedar menelepon, mafhum saja, sinyal di posko KKN memang tidak begitu bagus.

"Waalaikumsalam. Kenapa, Tyar?"
"Ini, Ustad. Saya mau tanya-tanya soal KRS"
"Iya, mau ambil berapa mata kuliah semester depan?"
"Tiga, Ustad. Tinggal tiga"
"Jadi? Sudah mau skripsi?"
"Kalau boleh"
"Jangan diambil dululah, urus magang saja dulu, biarpun yakin bisa bagi waktu, magang sama skripsi itu sama-sama berat. Nanti malah tidak jalan dua-duanya, kalau memang mau, Kamu magang, skripsi tidak usah diprogram dulu, kalau memang mau, nanti sambil magang, bisa bikin judul sampai latar belakang, biar semester depan langsung ujian proposal."
"Okelah kalau begitu, Tad. Terimakasih, nanti kalau saya ke Makassar baru saya telepon lagi untuk urus KRS. Saya masih di Enrekang, masih KKN. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Tut tut tut"

Ada semacam perasaan yang tidak biasa waktu saya menelepon, atmosfer kabupaten Enrekang yang biasanya dingin mendadak lembab. Pandangan saya kosong. Saya baru saja menelepon Penasehat Akademik dan membicarakan skripsi. Akhirnya masa itu tiba.

Perubahan. Hidup adalah tentang perubahan dan perjalanan. Semester tujuh sudah di pintu depan, saya dan teman-teman lain sudah harus magang dan mempersiapkan skripsi. Waktu tidak akan peduli seberapa banyak masalah kita, seberapa besar gundah kita, waktu akan tetap berjalan dan membawa perubahan. Kita boleh ikut, boleh juga tetap tinggal di belakang. Menyaksikan hidup berpindah, dari satu titik, ke titik yang lain.

Dan oh, ngomong-ngomong, Penasehat Akademik saya, Ustad Das'ad Latief sudah diganti awal semester. Hufh.
Makassar, 24 September 2012
Sedang banyak masalah. Rupanya sedang dirindu Allah. Amin :)

Setelah Seminar Akhir KKN Gelombang 82

"Sekarang tiba saatnya untuk memenuhi janji sama diri sendiri untuk saling rindu satu sama lain"

Catatan yang saya tulis di buku catatan Nova tanpa sepengetahuan dia. Di hari seminar evaluasi Kuliah Kerja Nyata gelombang 82.

See you Around, peserta KKN Gelombang 82 posko Desa Salo Dua. Satu setengah bulan tinggal serumah dengan kalian di desa adalah satu setengah bulan yang paling lama yang pernah saya rasakan.

Banyak kisah yang pasti akan saya ceritakan di blog ini. Blog yang jarang, dan mungkin tidak pernah kalian baca.

Tertanda, teman posko kalian yang tampan, yang mungil, yang malas bangun pagi, yang lama di kamar mandi, Tyar.

Dan oh, cepatlah sembuh, Ana :)

Kiri Ke Kanan: Nur, Ana, Nova, Cia, Abu, Rahman, Gafur, Chia, Tyar

10 September 2012. Selamat Ulangtahun, Ceng

Oh, 10 September lagi. Sepuluh September keberapa sejak kamu lahir, Ceng? Ke tiga belas? Ya ampun. Ya sudah, selamat ulang tahun lagi ya. Semoga semakin dewasa dan membanggakan, dan semoga kakakmu semakin tampan. *numpang doa

Pada akhirnya, Happy birthday - selamat ulangtahun, My Dear little sister Sri Annisa Sahuri :)

Saya tunggu traktirannya XD

Selamat. Cukup Selamat Saja - Dan Doa

Gambar oleh @fithhh

Postingan kali ini istimewa. Untuk teman saya, Alvidha Septianingrum a.k.a Pyonk a.k.a Alstrojo. Selamat ulang tahun. Oh, Pi (begitu saya sering memanggil dia: Pi), coba kamu lihat ke langit-langit. Di sana ada mimpi-mimpi kamu, yang makin dekat dengan kamu. Di sana, tidak ke mana-mana. Semakin dekat seiring bertambahnya usia.

Selamat ulangtahun, Tetaplah keren! Tetaplah berkarya di manapun berada.


Tantangan @nulisbuku #FF2in1

Selamat pagi, kembali lagi bersama saya, Adityar yang kian hari kian tampan saja. Baiklah, hari ini saya membawa sebuah kabar bahwa semalam, saya secara tidak sengaja mendapati tweet dari @nulisbuku, isinya tentang tantangan yang bertajuk, "#FF2in1". Apa itu? Sederhana, #FF2in1 adalah sebuah tantangan menulis dua buah flash fiction dalam satu jam, masing-masing flash fiction cuma punya deadline selama setengah jam. Iya, setengah jam. 30 menit. Ngomong-ngomong, flash fiction sendiri adalah sebuah cerita sangat pendek, biasanya terdiri dari kurang lima ratus kata.

Tentu saja, sebagai lelaki yang juga punya impian untuk jadi penulis, saya merasa tertantang. Bayangkan, kita diminta menuliskan sebuah cerita yang kita sendiri belum tahu temanya! Temana baru diumumkan pukul 21.00 WIB, dan harus selesai diposkan di blog pukul 21.30 WIB. Iya, sesingkat itu. Begitu sudah masuk pukul 21.30 WIB, tulisan tema pertama sudah harus masuk, bersamaan dengan itu juga, tema untuk tulisan kedua langsung diumumkan dan sudah dimulai di detik yang sama. Asem.

(By the way, dua menit sebelum tantangan dimulai, di rumah saya sempat mati lampu, untungnya cuma sebentar)

Seketika saya merasa seperti menjadi peserta Masterchef, saya merasa admin @nulisbuku tiba-tiba menjelma menjadi Chef Juna yang bertato. Saya merasakan pandangannya yang sinis, bergantian dengan Chef Marinka mengingatkan, "Lima belas menit lagi". Adrenalin meningkat. Tulis, edit, tuli, tulis, tulis, edit lagi. Tulisan pertama selesai.

Kalau saya belum bilang, tema dari tantangan #FF2in1 ini diambil dari lagu. Tema pertama diambil dari lagu Sheila on7 - Waktu yang Tepat 'tuk Berpisah. Lagunya bisa kita dengar di Youtube. Koneksi internet yang memang melambat kalau sudah malam menyebabkan saya tidak sempat untuk menunggu buffer. Untungnya, saya kenal lagu ini dan memang hafal sebagian liriknya. Tanpa pikir panjang, Wush... Keyboard saya permainkan sebegitu rupa. "Tuk-tik-tak-tik-tuk-tik-tak-tik-tuk-tik-tak-tik-tuk", begitu bunyinya. Serupa bunyi sepatu kuda.

Tema kedua justru lebih menantang lagi, saya tidak tahu lagu yang ditemakan sama sekali. Akhirnya, dengan cukup membaca tema dan membaca judul lagi, saya menulis. Saya menulis dan hampir tidak tahu apa yang sedang saya tulis. Pokoknya cuma menulis, idenya cuma tentang seorang yang ditinggalkan pacarnya. Satu kalimat, dua kalimat, jadi satu paragraf, jadi dua paragraf, tiga menit terakhir, jadi sebuah flash fiction. Saya kegirangan. Saya berhasil. Saya senang, senyum, kipas angin meniup-niup rambut saya.

Itu adalah satu jam paling singkat dalam hidup saya. Wow. Sebuah tantangan yang sebegitu menegangkan sekaligus menyenangkan.
Oh iya, dear Aliens yang mau baca flash fiction saya, bisa baca di:
Flash fiction tema 1, klik di sini
Flash fiction tema 2, klik di sini

Pada akhirnya, semoga kalian suka. Kalau mau ikut, sila cek timeline twitter @nulisbuku. Oh iya, flash fiction terbaik akan mendapatkan hadiah sebuah buku. Mohon doanya ya :) *cium follower satu-satu

Sebentar lagi Jum'atan.
Makassar, 7 September 2012

RIP Galeri Sakit Hati

Pada masanya segala sesuatu akan mencapai akhirnya masing-masing - dan menjadi awal bagi masing-masing yang lain.
Blog saya, blog yang saya kelola sejak zaman Friendster, galerisakithati.blogspot.com akhirnya saya ganti jadi http://alientampan.blogspot.com/. Tidak ada alasan khusus, dan setelah mengalami perombakan di layoutnya yang kian berantakan, akhirnya sekarang jadi jugalah. Jadi kacau.

Oh, untuk kalian yang suka main ke blog ini, ke blog Planet Kertasium ini, bolehlah juga main ke sana.
Ke blog http://alientampan.blogspot.com/


See You At The Top
(Biar berasa kayak motivator gitu)
Selamat Siang, Makassar sudah mau Jum'atan

Surat Cinta untuk Modem

Dear Modem
Aku ingat saat pertama kali melihat kamu. Kamu manis dalam balutan boks warna biru putih itu. Iya, di depan Politeknik Negeri Ujung Pandang kita bertemu. Aku tersenyum. Kamu diam. Tiba-tiba Kamu sudah ada di dekat ku. Dekat. Sampai bisa aku genggam. Kamu masih diam.

Dear Modem
Sebab dengan adanya kamu aku tidak lagi perlu ke warung kopi untuk berburu hostspot gratis. Iya, aku tak lagi perlu pulang tengah malam sebab tahukah? Aku sering lupa waktu jika ketemu internet. Aku senang sebab dengan adanya kamu, aku tinggal duduk di kamar dan bisa berinternet setiap harinya, setiap aku mau. Modem, kenapa kamu diam?

Dear Modem
Tahukah kamu sewaktu berangkat KKN dua bulan yang lalu aku kecewa. Aku kecewa perihal di posko rupanya kau tak dapat sinyal yang berarti kamu tidak bisa digunakan. Ya ampun. Jadilah kamu menganggur di dalam ranselku yang dingin sendirian selama sebulan. Tapi tidak, jangan merasa tidak berguna. Aku merindukan kamu selama satu bulan yang panjang itu. Tapi kamu masih diam.

Dear Modem
Tahukah kamu, gara-gara kamu juga, adikku yang perempuan itu juga sekarang punya blog. Iya, dia minta aku mengajarinya dan jadilah dia punya blog juga sekarang. Ah, kamu pasti tahulah. Kamu ada di sana, di dalam kamarku waktu aku mengajarinya. Aku harap kamu senang, sebab kamu memang telah membuat adikku juga jadi senang. Dia berharap bisa punya modem juga suatu hari nanti. Modem yang seperti kamu mungkin. Modem yang pendiam.

Dear Modem
Kemarin aku sempat khawatir sama kamu. Aku di-SMS providermu. Katanya waktu aktifmu akan selesai dalam sebulan. Aku cemas. Sudah cukuplah sebulan kemarin kamu menganggur. Aku tidak lagi akan membiarkan kamu menganggur lebih lama. Demi kamu, tabungan aku ambil juga, jumlah yang besar, yang lima puluh ribu rupiah. Supaya kamu tidak diam. Tapi ah, kamu selalu diam.
Tetapi tahukah kamu pulsa itu tidak jadi aku pakai? Iya, jadi sebelum sempat aku isi pulsanya, rupanya masa aktifmu telah diperpanjang secara otomatis, entah kenapa bisa. Aku juga heran. Kamu? Kamu pastilah tidak heran sebab kamu sudah tahu. Akhirnya aku tidak jadi mengisi pulsamu, aku jadi ke kamar mandi karena kebelet. Aku serius. Kamu diam.

*Ke kamar mandi*
*Selesai*

Dear Modem
Aku harap kisah kita satu kisah yang panjang. Untuk diceritakan. Untuk dikisahkan pada orang-orang. Aku ingin mereka cemburu sama kita. Sama kamu. Sama kedekatan kita. Sama kemesraan kita yang selalu ditemani hembusan dari kipas angin di tombol nomer satu. Aku selalu kepanasan, kamu selalu diam.

Kalau ada yang tanya siapa namamu, aku bilang dengan bangga: "Namanya Huawei EC156. Flexi kartunya. Boksnya warna biru putih yang ceria seperti anak sekolah menengah pertama yang pendiam. Selamat malam.

Makassar, Kamar yang panas di kipas angin Sekai nomor 1.
29 Agustus 2012
Lewat Tengah Malam.

Kode Verifikasi Komentar Banting Meja (Sebuah Keluhan)

Kode Verifikasi Bikin Naik Darah


"Jika kegiatan blogging adalah adalah tanaman, maka komentar adalah pupuk kandangnya" - Adityar (22 tahun, mahasiswa, tampan)

Begitulah kira-kira saya mendefinisikan bagaimana menggambarkan pentingnya sebuah komentar di blog. Iya, postingan baru itu ibaratnya surat cinta yang dikonsep semacam rupa. Dibikin biar menarik hati, dibikin biar sampai dari mata turun ke hati, sedangkan komentar adalah tanggapannya. Adalah jawabannya yang selalu bisa membuat kita deg-degan antusias tidak jelas.

Saya senang belakangan ini selalu ada komentar di setiap postingan. Belakangan ini saya juga rajin meninggalkan komentar dan follow banyak blog baru. Alasannya sederhana, yang punya blog pada cantik-cantik #DigamparGitaGutawa

Kembali perihal komentar di blog. Saya kadang-kadang jengkel sama blog yang menyertakan kode verifikasi CAPTCHA (semoga penulisannya benar, dan untuk kepentingan kemudahan penulisan, izinkan saya menggunakan kata Capcay untuk menggantikan kata CAPTCHA. "Iya, Tyar! Silahkan!". "Terima kasih").

Iya, menurut saya, kode verifikasi Capcay itu merepotkan. Belum lagi jika kodenya tidak manusiawi, tidak bisa terbaca, rasanya ingin salto sampai ke Hongkong dan menetap di sana.

Tidak, saya tidak melarang orang-orang menggunakan kode verifikasi Capcay di komentar blognya yang bertujuan untuk menghidari spam yang biasanya memang marak, tapi sejak entah berapa lama, deteksi Spam oleh pihak Blogger sudah semakin canggih, sehingga komentar spam hampir tidak mungkin lagi bisa tembus ke blog kita.

Deteksi SPAM Blogger sudah semakin baik


Jadi, saya, Satu-satunya penghuni Planet ini menghimbau kepada seluruh warga blogger untuk menghilangkan sajalah kode verifikasi Capcay di komentar blognya, agar kegiatan komen-mengomen bisa menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Apabila imbauan ini tidak dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka tidaklah apa-apa.

Nah, untuk yang bertanya bagaimana cara menghilangkan kode verifikasi CAPTCHA di blog, bisa mengikuti langkah sederhana berikut:
Blogger Baru (Updated Blogger Interface):

1. Masuk ke "Dashboard"
2. Pilih "Settings" (Ada di dropdown menu "More Option"
3. Pilih "Posts and Comments"
4. Cari "Show word verification" set ke "No"
5. Save Setting

Untuk lebih jelasnya, ini saya kasih gambarnya karena saya baik hati


Sedangkan untuk blogger lama, caranya kurang lebih sama
1. Masuk ke "Dashboard"
2. Pilih "Settings"
3. Pilih "Comments"
4. Cari "Show word verification" set ke "No"
5. Save Setting

Ini Contoh Gambarnya


Pada akhirnya, mengadakan atau menghilangkan kode verifikasi CAPTCHA di komentar blog adalah pilihan masing-masing. Toh, Blogmu, Planetmu, aturanmu. Selamat siang.

Sabtu, 25 Agustus 2012
Di kamar yang panas dengan kipas angin di tombol nomor 3

Chatting dengan Robot Pintar Sim Simi

HELLO, ALIENS!

Akhirnya, setelah hampir dua bulan menjalankan ibadah Kuliah Kerja Nyata di daerah pedesaan, saya sudah kembali ke kota. Semoga ada, satu saja di antara Kalian yang kangen sama saya. *ngarep *meluk pembaca satu-satu

Sekembali dari desa, saya sempat kaget liat kemacetan, sempat kaget liat Alfamart, liat Indomaret, liat mobil, liat mall, liat lift di dalam mall, oh.

Siapa Sim Simi yang ada di judul postingan ini? SIAPA TYAR? SIAPA? Sabar. Nanti akan saya jelaskan. Jadi, Sim Simi adalah nama elang yang dikendarai Arya Kamandanu sewaktu mengejar Arya Dwipangga yang merebut kekasihnya. *kacau

Jadi serius, Sim Simi adalah (seorang/sebuah) advance-chatting robot yang bisa kita ajak ngobrol, jawabannya juga lucu dan unyu, cocok sekali untuk kaum jomblo. Responnya juga cerdas dan hampir selalu cocok dengan yang kita ketikkan. Tidak percaya? Ini screenshot dari websitenya.

Cerdas (dan genit) kan?

Tidak heran kalau Simi begitu terkenal, Simi bisa mengerti banyak bahasa meskipun juga kadang nggak nyambung karena responnya masih terbatas, tapi uniknya bisa kita ajari Simi merespon sebuah kalimat/pertanyaan pada menu "Teach", jadi semakin banyak respon yang diajarkan, Simi akan jadi semakin pintar. *tepoktangan

Saya kenal Simi beberapa malam yang lalu. Gara-gara @lhyawaliah yang mengenalkan dengan begitu bersemangat. Akhirnya, dengan penuh kesoktahuan, saya ajaklah Simi mengobrol untuk pertama kali.

Terjemahan dan Gambar yang lebih jelas ada di bawah
Baru bertanya satu kali sudah digombali


Karena makin penasaran, saya coba nanya lagi dengan pertanyaan yang agak iseng (dan ngarep)


Jawabannya terlalu jujur
Aduhai Simi, kamu sudah bikin saya malu pada pertemuan kita yang pertama, untung saja kamu lucu jadi saya tidak perlu marah. Oh iya, kalian yang mau ngobrol sama Simi bisa langsung ke websitenya saja di http://www.simsimi.com/talk.htm. (Ada aplikasi buat mobilenya juga loh)

Tyar yang habis potong rambut, Malam Takbiran 2012


SEGENAP KRU PLANET KERTASIUM MENGUCAPKAN
 


Gambar-gambar:
http://data.whicdn.com/images/30788085/Happy-oh-stop-it-you-l_large.png
http://api.ning.com/files/egnsmhweqVMKj1ukAUWEMMzuJubYr5Wkf9g1fFmelJEXG25A-0r2WTkbYsuK8QTE-w*n2gto7SpA6NlNnImzWbTD3V37x9DH/SimSimia.jpg
http://www.hitintrend.com/wp-content/uploads/2012/02/simsimi-01.png
http://hariansumutpos.com/wp-content/uploads/2010/05/tyas-mirasih.jpg
Derpina - http://i0.kym-cdn.com/entries/icons/original/000/007/835/der%5Boma.png
Derp - http://www.logotypes101.com/logos/964/2C2AFAC623AAD94F7443C42A06026E1D/derp.png
Okay - http://i1.kym-cdn.com/photos/images/newsfeed/000/082/456/Okay.png
Stickman - http://www.wpclipart.com/signs_symbol/assorted/assorted_6/stickman.png

Perjalanan (2)

Perjalanan itu magis. Ia membawamu kembali ke tempat yang semula kamu jauh.
Sambil membawamu pergi dari tempat yang awalnya kamu dekat.
Menciptakan rindu yang sama sekali baru.
Rindu yang haru.

Sudah Pulang dari Ibadah Kuliah Kerja Nyata Gelombang 82
Abaikan foto ini.

Ya Ampun! Aku Ada Tumblr

Iya, akhirnya saya memutuskan untuk juga punya tumblr. Untuk apa sebenarnya saya punya itu? Untuk saya tulisi juga dengan isi yang berbeda dengan blog ini. Saya tidak memaksa kalian mengunjunginya, tapi Ah! Kalian yang gemar memaksa. Kalau begitu, kuberi juga alamatnya di alientampan.tumblr.com. Semoga Kalian tidak teracuni pikirannya setelah membaca perihal tumblr tersebut. Bolehlah kalian kunjungi sekarang.

Sedang memikirkan nama domain premium untuk blog kertasium.blogspot.com
15 Agustus 2012

Coto Paraikatte yang Mengundang Rindu dan Kenangan #Tsaaahhhh

Lapar yang bersamaan menyababkan saya dan Rahman, teman seposko saya di lokasi KKN sepakat untuk makan secara berjamaah juga. Jadilah kami berboncengan dengan sepeda motor menyusuri jalan di desa Salo Dua, suara knalpot sepeda motor berpadu dengan indah dengan suara lolongan anjing kepada kami menambah indah malam itu.

Tinggal di kampung yang jauh dari rumah berarti kita juga harus menyesuaikan diri dengan apapun yang ada di sana: lingkungannya, orang-orangnya, udaranya, cuacanya, dan pasti – makanannya. Sungguh perihal makanan ini telah menghantui pikiran saya jauh hari sebelum KKN dimulai. Saya adalah salah satu dari sekian banyak lelaki yang senang memilih-milih makanan, dan nafsu makan yang sering naik turun.

Sebagai orang yang lama tinggal di kota, menyesuaikan diri dengan makanan di desa bukanlah prahara yang mudah. Beberapa hari, nafsu makan saya turun. Barulah setelah beberapa hari kondisinya membaik. Syukurlah makanan di desa tempat tinggal sementara saya ini makanannya tidak terlalu buruk. Saya masih bisa makan banyak, meskipun  pilihan makanan di sini tidak se-variatif yang biasa kita temui di kota. Dan Oh, di kampung ini Cuma ada satu buah warung makan, itupun Cuma menyediakan bakso, gado-gado, dan nasi goreng.

 “Gado-gado masih ada, Mas?”, begitu sampai di warung yang dimaksud, saya langsung memesan. Lapar sudah tidak bisa lagi ditoleransi.
“Wah, gado-gado habis!”, Ah. Mas, Tahukah Kamu jawabanmu itu baru saja membuatku kecewa.
“Nasi goreng sajalah kalau begitu. Kamu, Rahman? Pesan apa?”
“Nasi goreng juga”. Gila, kami kompak sekali.

Nasi goreng datanglah juga. Setelah lama kami menunggu, setelah lama obrolan dan gosip yang lelaki. Kami makan juga akhirnya, nasi goreng yang harganya hampir dua kali lipat dari yang biasa kami makan di sekitaran kampus. Tapi, oh. Kami sedang lapar. Kami makan sampai kenyang, seungguhpun sejujurnya rasanya tidak terlalu istimewa, tapi kami harus tetap bayar. Mempertanggungjawabkan yang telah kami pesan.

“Mas, kok gado-gadonya cepat habis?”, saya protes seolah-olah pedagang yang dagangannya habis itu buruk.
“Iya, Mas. Hehehe”. Masnya senyum.
Saya serahkan uang pecahan lima puluh ribu rupiah, dikembalikannya sepecah dua puluh ribu dan sepecah lagi sepuluh ribu rupiah.
Kami pamit pulang.
Mas pedagang tidak melarang, sungguh lelaki yang ramah.
Kami pamit pulang. Sampai kembali ke posko dengan kenyang. Kenyang yang disengaja.

“Tyar, dari mana?!”, saya kenal suara itu, itu suara Cia, teman seposko saya juga. Perempuan dia, bisa dilihat dari rambutnya yang panjang lagi lurus.
“Habis makan, sama Rahman”. Saya jawab, pendek saja.
“Kenapa tidak bilang-bilang?”, Cia Protes. Aduhai, Cia, mengapa untuk mau makan saja, Kami harus bilang-bilang dulu? Kami harus bilang apa? Bilang “wow” gitu?!
“Kalau tahu mau makan tadi ‘kan kita bisa nitip!”. Aduhai, sekarang saya sadar, ternyata bukan Cuma saya dan Rahman saja yang tadi lapar, tetapi juga Cia, tapi juga teman-teman posko yang lain.
Jadi juga kami kembali ke warung makan tadi. Dengan maksud membelikan makan untuk mereka yang lapar di posko.
“Mas, kita balik lagi, Mas!”. Seandainya Kalian bisa melihat, bukan Cuma Mas Pemilik warung saja yang kaget, tapi juga orang yang tadi melihat kami makan di sana, dan masih ada di sana waktu kami kembali.
“Ini, Mas. Uang kembalian yang tadi Mas Kasih, nomor serinya kurang bagus!”, kata saya. Bermaksud ngawur. Rahman ketawa, Mas-nya tidak.
“Pesan dua bakso lagi, Mas. Dibungkus”. Sebab pembeli adalah raja, Mas-nya membuatkan pesanan saya.
“Kali ini nomor serinya harus bagus, Mas!” kata saya  sambil menyerahkan lagi selembar lima puluh ribuan. Dikembalikan dalam bentuk selembar lagi dua puluh ribu, dan selembarnya lagi sepuluh ribu rupiah. Saya cek dulu nomor serinya.
“Oh iya, sudah bagus, Mas ini nomor serinya. Makasih, Mas. Kami duluan!”. Akhirnya Mas-nya senyum. Kami pulang. Ke posko.
Kemudian kami pulang. Sepeda motor melaju dengan pelan. Melewati turunan, melewati lapangan sepakbola, melewati kantor desa, melewati puskesmas pembantu. Meskipun sudah kenyang, rasanya masih ada yang kurang. Saya sedang rindu makanan favorit saya, saya sedang rindu coto Makassar.
***
Sungguh makanan adalah sesuatu yang ajaib. Makanan telah ada sejak manusia pertama lahir, dan mengalami perkembangan jenis, bentuk, dan rasa yang sebegitu rupa. Makanan telah menjadi sebuah interpretasi budaya, kebiasaan, adat, religi, dan kepercayaan. Lain ladang, lain belalang, lain lubuk, lain makanannya. Ini saya ngomong apa sih?

Satu bulan di kampung orang membuat saya merindukan makanan favorit saya, coto Makassar. Sungguh. Aduhai coto Makassar itu, menurut saya adalah olahan daging yang paling enak dan sedap. Itu kuahnya yang kental, itu daun bawangnya, itu bawang gorengnya, itu perasan jeruk nipisnya, itu aroma yang menyeruak segala rupa rempah-rempah di dalamnya, itu potongan dagingnya yang empuk, itu semuanya.

Sampai Habis Dua Porsi
Makan coto bukanlah perihal main-main, makan coto adalah perihal makan-makan.  Saya lupa kapan kali pertama saya menikmati makanan berkuah ini, tapi saya akan selalu ingat rasa dan aromanya yang khas. Jika setiap laki-laki memiliki makanan favorit, milik saya adalah coto, dan jika setiap lelaki memilki warung makan langganan, maka milik saya adalah warung Coto Paraikatte.

Tidak usahlah saya jelaskan secara rinci perihal Warung Coto Paraikatte sebab saya juga tidak tahu menahu. Yang saya tahu soal Coto Paraikatte adalah mereka menyediakan coto Makassar yang menurut saya sangat enak rasanya. Dan oh, “Paraikatte” itu adalah bahasa Makassar, yang jika boleh sok tahu, artinya adalah “Kita Bersama”.

Untuk kalian yang ingin menikmati dan bingung menentukan mau makan di warung mana, saya rekomendasikan Warung Coto Paraikatte yang terletak di jalan A.P Pettarani, Makassar. Kalian boleh datang ke sana jika mau, boleh juga tidak. Sebab toh, ini hanya rekomendasi, tetapi oh, sayang sekali jika kalian bertandang ke Makassar namun tidak sempat bertandang ke sana. Ini, biar kalian tidak kesasar, bisa lihat peta yang dipersembahkan oleh streetdirectory. (Bisa juga dilihat di Widget Sebelah Kiri Blog Ini)


Untuk Kalian yang belum pernah makan coto Makassar, ini boleh saya kasih tips. Tips yang boleh kalian lakukan, boleh juga tidak, ‘toh ini hanya tips.
  1. Jangan kaget dengan porsinya. Coto Makassar biasanya disajikan dalam sebuah mangkok kecil, kurang lebih ukurannya setengah dari mangkok biasa. Jadi tidak jarang, jika ada orang yang bisa menghabiskan hingga tiga porsi. Saya sendiri biasanya menghabiskan satu porsi saja. Paling banyak dua.
  2. Jangan ragu waktu memilih. Di warung yang sudah jelas-jelas warung coto dan Cuma menyediakan coto, pelayannya masih akan tetap menanyakan, “Mau pesan apa?”. Jangan panik dan buru-buru kayang, maksudnya pelayan tersebut menanyakan coto yang bagaimana yang kita suka, dan bagian daging mana yang kita mau. Misalnya, “Campur (biasanya lengkap), campur tidak pakai hati, daging to’ (daging saja), paru, pipi (iya, pipi), lidah, lemak, dan jantung”. Saya pribadi senang bagian paru, pipi, dan jantung, rasanya empuk dan unik. Jangan ragu untuk memilih, misalnya “Lidah, jantung, daging” atau “daging sama paru”. Saya dan teman saya bahkan pernah memesan, “pantat sebelah kanan dan jempol”, yang tentu saja tidak ada. Dan Oh, juga jangan kecewa jika bagian yang kita pesan sudah habis. Oh, mafhum saja. Pelanggan tak Cuma kita.
  3. Panggil pelayannya jika kamu dicueki, apalagi jika sedang ramai. Biasanya karena sibuk melayani pengunjung, pelayan tidak sempat melihat pengunjung lain yang baru datang. Karena itu, jika dalam tiga menit Anda tidak dilayani, tidak usah telepon polisi, cukup panggil pelayannya.
  4. Jangan Ge’er. Iya, jangan Ge’er sama pelayan. Sebab itu pelayan akan memanggil kita dengan panggilan yang agak gombal. Misalnya, “Pesan apa, Cowok?”, atau “Sudah pesan, Cewek?”. Aduhai, karena yang datang dan pelanggan adalah kebanyakan orang Makassar, mereka biasanya tidak memanggil dengan “Mas” atau “Mbak”, melainkan “Cowok” atau “Cewek”.  Begitu pula saat memangggil pelayannya, pelayan yang cewek biasanya cukup dipanggil “cewek”, dan pelayan yang laki-laki biasanya dipanggil, “Bos”. Iya. “Bos”. Tidak ada alasan khusus untuk ini, Cuma memang dari dulu sudah seperti itu.
  5. Masih lapar? Nambah, soal poin ini, saya kira cukup jelas.
  6. Jangan makan pakai tangan, pakailah sendok. Ingat, coto adalah makanan berkuah. Kamu pasti tidak ingin terlihat bodoh jika memakannya dengan tangan.
  7. Jangan makan coto ketika sedang puasa. Minimal, tunggulah waktu berbuka.
  8. Jangan memakan coto milik pelanggan lain, apalagi pelanggan yang tidak dikenal.
  9. Makanlah dengan penuh “table manner” jika ingin enak, “table manner” yang paling sesuai ketika makan coto adalah, makan sambil kaki kanan diangkat naik ke kursi. Aih, dengan posisi makan seperti ini, tingkat kenikmatannya akan meningkat 17 derajat. Ini adalah “table manner” paling sesuai. Meski begitu, Jangan berlebihan mengangkat kakinya, misalnya kaki diangkat naik sampai ke meja pelanggan lain.
  10. Sebelum saya lupa, teman makan coto yang paling umum adalah ketupat. Tips khusus buat kalian, jika kalian masih lapar tapi tidak punya cukup uang, daripada menambah satu porsi lagi, cukup minta tambah kuah saja, kuahnya gratis. Lalu tambah ketupatnya. Lumayan untuk mengirit. Jika mau lebih irit lagi, cariah warung coto yang menggratiskan ketupatnya. Mau tahu di mana? Kontak saya saja, di twitter @planetyar (promosi, Bos?)
  11. Jangan khawatir soal harga. Harga coto sangat variatif tergantung tingkat popularitas warungnya, paling murah ada yang Rp 6,000,- paling mahal kalau tidak salah Rp. 12.000,-. Ketupatnya seribu rupiah sebiji.
  12. Jangan makan piringnya, selapar apapun kalian.
Aduh, daripada semakin kacau, ada baiknya tulisan ini saya sudahi saja. Yang pasti, Makanan itu magis, dari makanan bisa tumbuh kenangan. Makan di mana, dengan siapa, makan apa, kenangan apapun itu. Tidak sedikit dari kita yang mungkin pernah jadian sama pacar di warung makan (Ciyee... itu yang senyum itu kayaknya iya deh), kita juga mungkin pernah bertengkar di warung makan, punya kenangan sama mantan, sama isteri, sama keluarga, sama sahabat, sama teman SMA, sama teman SMP, sama teman SD, sama teman kampus, sampai paling extreme cinta lokasi sama pelayannya.

Kenangan itu akan terus muncul dan jelas. Di warung ini, di bangku urutan ini. Kita akan selalu melihat diri kita di sana, dengan tawa yang renyah dan mungkin air mata yang semakin jelas dan lahir kembali, lalu masuk ke dalam hati, bersamaan dengan sesendok makanan yang masuk ke dalam diri. Menjadi energi, lalu menunggu kita untuk pulang sekali lagi.

Ibho Net, Maroangin, Kabupaten Enrekang
Sejam sebelum buka puasa, 30 Juli 2012
Diikutkan dalam Lomba Menulis Artikel oleh Streetdirectory

Siapa yang Paling Indonesia?

"Siapa berani nyela Indonesia, nyari ribut sama gue" - Ian, "5cm" (Donny Dhirgantoro)

Saya sedang main video game dengan damai bersama laptop kesayangan ketika Cia, teman seposko saya di lokasi Kuliah Kerja Nyata meminta saya membeli beberapa potong gula merah. Untuk bikin kue katanya. Oh, Cia. Padahal saya sedang asyik bermain, kenapa Kamu begitu tega? Memangnya saya pernah begitu tega menyuruh kamu beli gula merah ketika sedang main game? Punya dendam apa Kamu sama saya, Cia? Bilang sekarang!
Katanya biar saya jadi rajin, biar tidak di rumah melulu.

Dengan lesu Saya ambil jaket akhirnya, mengambil kunci motor, tidak lupa meminjam motor yang tadi dikendarai sekretaris kecamatan yang kebetulan berkunjung ke posko kami hari itu. Sekedar berkunjung, menjalin silaturrahmi katanya. Dengan kemalasan menggerayangi kepala, saya meraih sepeda motor juga. Oh, tahukah Kamu, saya butuh lima menit untuk menyalakan mesinnya. Susah. Barangkali karena usia, saya susah menyalakan mesinnya. Maksud saya usia mesinnya, bukan usia saya.

Kalau saya belum cerita, saat ini saya bersama 700-an mahasiswa Universitas Hasanuddin lainnya sedang menjalani ritual (baca: ibadah) Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Enrekang. Saya kebagian lokasi di Desa Salo Dua. Kami tinggal di rumah Kepala Desa, yang oleh kami dan warga desa dipanggil Pak Desa. Barangkali biar lebih akrab begitu. Contoh kasus: Ketika datang seorang warga yang hendak bertemu dengan kepala desa, haruslah dia bilang dahulu kepada kami, “Maaf, Dek. Pak Desa ada?”. Itu menurut saya lucu, sebab jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, haruskan nama Pak Desa menjadi “Mr. Village?”. “Excuse me, is Mr. Village home?”. Oh. Menurut saya itu lucu, kalian kalau tidak sepakat sama saya – tidak apa-apa.

Jadi juga saya menelusuri jalan pedesaan yang masih berupa tanah yang sekarang masih dilanda musim kering. Saya ajak Milan, anak Pak Desa yang perempuan, yang masih kelas tiga SD untuk menemani, sekaligus menunjukkan saya warung tempat kami nantinya akan membeli gula merah, atau lebih lengkapnya, gula yang merah *apasih*. Tidak sampai dua jam akhirnya kami sampai juga, oh, maaf saya lebay, sesungguhnya cukup lima menit saja kami sudah sampai sebab dekat, Milan meminta saya berhenti di depan sebuah rumah. Motor saya parkir berdiri di depan rumah yang dimaksud, sambil dengan penuh kesoktahuan masuk ke halaman rumah panggung yang ditunjukkan Milan, menyusul dia yang sudah jalan duluan.

Pikiran saya mulai tidak enak ketika menyadari rumah yang ditunjukkan Milan sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kewarungan, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah sebuah warung, tidak memenuhi syarat sah dan rukun-rukun warung. Milan! Kamu berniat menipu saya yang sudah mengantar Kamu sejauh ini ya?!

Sejurus kemudian saya memutuskan untuk bertanya kepada dua orang anak gadis yang kebetulan sedang duduk di sana, di balai-balai kolong rumah. Kelihatannya sedikit lebih muda dari saya. Biar lebih menarik kalian membaca tulisan ini, saya bilang mereka cukup manis. Sungguh memang manis wajah mereka berdua, saya tidak bohong kali ini. Amboi, wajah mereka manisnya kompak sekali, kembar rupanya. Tetapi oh, mereka berdua yang waktu itu sedang asyik mengobrol satu sama lain berhenti mengobrol ketika saya yang asing bagi mereka ini masuk halaman, keduanya memandang saya penuh curiga dan waspada. Membuat saya merasa aneh sendiri.

“Misi (maksud saya permisi), Saya mau beli gula merah”, saya bilang ke mereka, sambil mendekat ke keduanya. Membuat wajah mereka terlihat lebih jelas di mata saya. Saat itu juga saya yakin bahwa keduanya memang berwajah manis. Manis yang alami. Manis buatan alam *halah*.
“Gula merah?”, ya ampun. Kalau kalian bisa melihat wajah mereka sewaktu mengucapkan itu, ada dua juta keheranan di sana, tidak mengerti dan syok barangkali, mendapati laki-laki yang agak kurus dengan gaya rambut yang agak-agak Korean Pop, pakai baju merah, tiba-tiba mendatangi mereka untuk bertanya perihal gula merah.
“Iya, gula merah”, saya mulai gugup sebab menyadari telah salah tempat.
“Gula merah di belakang! Bukan di sini!”, kata mereka sambil melukis senyum di wajah masing-masing. Senyum yang setengah tertawa yang ditahan. Kompak sekali bikin saya malu, bikin saya tersipu-sipu.
“Aduhai, perasaan saya mau beli gula merah, Mbak. Ini kenapa yang saya dapati kok gulali kayak kamu ya?”, saya bilang itu ke mereka, tapi mereka tidak menjawab sebab saya bilang itu Cuma dalam hati.
“Mari kalau begitu” saya pamit. Mengakhiri percakapan yang singkat dan aneh itu.
“Iya” kata mereka. Langkah kaki saya percepat.
Oh, Milan. Kamu sudah sukses bikin saya malu. Mari, kita lanjutkan perjalanan ini.

Perasaan saya semakin tidak enak ketika kami memasuki sebuah kebun yang ditumbuhi banyak tanaman liar. Beli gula merah kok begini-begini amat? Saya melihat ke kiri lalu ke kanan, tidak ada tanda-tanda warung di sana, bahkan tanda-tanda keberadaan rumah saja tidak ada! Yang ada Cuma rumput liar yang tumbuh selutut, dari jauh saya lihat ada kebun jeruk nipis juga, masih tidak ada rumah. Milan, kamu mau menculik saya ya? Jangan, Milan. Kita kan baru ketemu?

Sampai saya melihat ada sebuah gubug kecil yang dari jauh terlihat menyeramkan. Penampakannya samar-samar dari jauh, tingginya lebih kurang dua setengah meter, kayu bangunannya mulai kusam yang menambah kesan horor. Dari tungku keluar asap yang cukup tebal. Saya mulai takut. Benar! Saya akan diculik dan dijual kepada nenek sihir yang tinggal di gubug ini.

“Mau beli gula merah, Dek?”, itu suara yang muncul memecah lamunan nenek sihir saya yang agak paranoid dan berlebihan.
“Iya, Bu! Mau beli gula merah!”. Suara saya dibikin setenang mungkin, takut salah tempat lagi.
“Wah. Gulanya belum masak, Dek.”, katanya sambil menunjukkan sebuah tungku besar yang di atasnya ada semacam alat masak berbentuk sebuah wajan raksasa dengan adonan yang dimasak mendidih. Terlihat panas sekali. Semuanya mulai masuk akal sekarang. Ternyata Milan membawa saya langsung ke produsen gula merahnya, bukan ke warung seperti pemikiran saya sebelumnya. Maafkan saya, Milan. Tadi saya berpikir jelek sama kamu. Saya telah Su’udzon pada anak sekecil kamu.
“Kalau belum masak saya pulang dulu, Bu. Nanti balik ke sini lagi”
“Iya, Dek. Tapi di sini saja dulu. Makan sori!”
“Sori?”, di telinga saya terdengar seperti sebuah kata bahasa Inggris yang berarti maaf, “Makan sorry?” Oh, makanan apakah itu gerangan, Bu? Apakah itu makanan ketika kita memakannya, harus sambil minta maaf satu sama lain?
“Mari, Bu. Saya makan sori-nya, maafkan saya ya, Bu. Mohon maaf lahir batin.”
“Oh, iya, Dek. Saya juga minta maaf, Dek”
Kemudian kami saling menangis dan merangkul satu sama lain.
Begitukah makanan yang dimaksud sori itu? Saya jadi aneh sendiri.
“Iya. Makan sori.”, katanya sambil menimba adonan tipis dari wajan raksasanya, kemudian mencelupnya ke dalam seember air yang secara ajaib membuat adonan tadi berubah rupa, tidak lagi cair melainkan kenyal. Rasanya juga seperti permen karamel yang manis dan agak susah dikunyah sebab teksturnya yang lembut. Oh, ini ternyata yang dimaksud sori itu, karamel manis dari adonan gula merah.
“Tadi saya kira belinya di warung, Bu. Ternyata langsung sama yang bikin!”, kata saya yang menjadikan si ibu pembuat gula merah dan suaminya yang kebetulan ada di situ jadi senyum.
“Iya, Dek. Langsung Sama yang asli, yang alami”, si ibu menanggapi.

(By the way, saya menulis ini sambil jongkok di ruang tamu rumah pak Desa, itu Pak Desa ada di kursi depan saya, dekat sekali. Sesekali melihat saya, curiga barangkali, jangan sampai saya buang air besar di ruang tamunya)

“Bikinnya lama ya, Bu? Kita sih tahunya beli yang jadi kalau di kota”
“Bikinnya bisa sehari, Dek. Kalau yang kita bikin ini asli, beda sama yang di kota”
“Asli, Bu?”
“Iya, kalau yang dijual di kota itu biasanya sudah banyak dicampur air supaya jadi banyak”
Sungguh, ini kali pertama saya melihat langsung proses pembuatan gula merah yang ternyata ribet dan lama, adonan yang besar harus sering diaduk supaya tidak mengeras, sambil harus menahan panas yang terpapar dari tungku yang luar biasa ukurannya. Saya merasa beruntung. Beruntung bisa melihat proses yang bagi orang yang tinggal di kota pastilah langka ini. Gula merah yang asli Indonesia.

Saya berani bertaruh kalau di Amerika sana, pastilah tidak ada yang beginian. Jangankan proses yang asli begini, gula merah pun di sana pasti tidak ada. Oh, kasihan mereka yang tinggal di sana. Membuat saya jadi merasa beruntung. Merasa lega. Merasa senang. Oh, ini Indonesia, Bung. Dan gula merah ini baru satu dari sekian banyak budayanya, dari sekian banyak kekayaannya. Sayang waktu itu saya tidak bawa handphone jadi tidak sempat mengambil gambarnya.

Saya kemudian pamit pulang kepada sepasang suami isteri pembuat gula merah. Di jalan saya sempat bersyukur sekali lagi, untung saya cuma disuruh beli gula merah. Barangkali jika saya disuruh beli susu kental manis, jangan-jangan saya harus mengikuti keseluruhan prosesnya juga, mulai dari memeras susunya.

“Ya, Tuhan. Terima kasih saya lahir di Indonesia”.
Iya, sekali lagi ini Indonesia, Bung. Sebuah bangsa yang kekaguman kamu tidak akan habis padanya, sebuah bukti sebagaimana indah Tuhan bisa mencipta. Sebuah bangsa yang akan selalu mengundang decak kagum kepadanya. Sebuah negara yang memang sudah cantik dari sononya.

Saya kembali ke posko. Ke rumah Pak Desa. Rumah tinggal sementara kami, 235km jauhnya dari rumah kami yang sebenarnya di Makassar. Tiba-tiba saya kangen rumah.

Hari ini saya genap seminggu sudah di desa ini, di Kabupaten Enrekang yang banyak gunung dan bukit ini. Jadi mafhum saja jika akses signal handphone di desa ini agak susah. Untung saja signal Telkomsel di sini tetap ada, meskipun agak susah di rumah pak Desa sebab letaknya agak rendah dibandingkan rumah-rumah yang lain yang tempatnya lebih tinggi. Kadang-kadang untuk menelepon kami naik dulu ke daerah yang lebih tinggi tempatnya. Lucu juga rasanya.

(Sementara itu Pak Desa sudah beranjak ke luar, ke teras. Saya juga sudah tidak lagi jongkok)

Kalau kamu membaca postingan ini di rumah kamu, di Indonesia, tidak usahlah saya bahas panjang-panjang kalau negeri yang sedang kamu hirup udaranya ini adalah bangsa yang kekayaannya jangan ditanya. Meskipun entah kenapa sampai hari ini masih menjabat sebagai negara sedang berkembang, yang tidak tahu kapan majunya. Mafhum saja, korupsi kolusi dan nepotisme di pemerintahan negara ini memang besar sekali. Bukan rahasia lagi. Tidak usah kita tutup-tutupi. Menyebabkan masyarakatnya sering tidak percaya sama pemimpin sendiri. Ironis. Jadi sudah, harap dimaklumi jika tiap tahun di negeri ini selalu saja ada demonstrasi oleh mereka yang marah? (Ini tiba-tiba saya kok kedengaran serius begini ya?)

Tidak apa-apa, sebab memang begitulah adanya. Tidak apa-apa memang begitulah seharusnya, bukankah ketika kita marah itu manandakan kita peduli? Bukankah ketika kita kecewa itu berarti kita masih punya percaya? Sama ketika kita marahan sama pacar, bukankah itu menandakan bahwa kita masih peduli satu sama lain? Barangkali ketika nanti jika kita sudah berhenti saling marah, jangan-jangan kita memang sudah berhenti saling peduli. Barangkali kita marah karena kita memang masih punya harapan sama bangsa ini. Punya cita-cita-cita. Punya marah. Aduhai, perihal marah itu, biarlah. Sebab marah Cuma perasaan yang terlalu kecil untuk menghilangkan cinta, menghilangkan rindu. Justru ketika kita sering marah kepada suatu tempat namun tetap saja rindu dan pulang ke sana, barangkali memang di situlah rumah. Rumah yang sebagaimana kamu keluhkan, tapi tetap saja kamu pulang ke sana: Kapan saja kamu suka.

Kita Indonesia, kaya budaya, kita kaya sudah dari sononya. Tidak usahlah kita perdebatkan mana lebih bagus Jawa atau Bugis, Ambon atau Batak, sebab di mata Garuda Pancasila, kita adalah perbedaan dan kekayaan yang horizontal, saling sejajar satu sama lain. Melengkapi, bukan menggantikan.

Barangkali kita Cuma perlu meniru bapak dan ibu pembuat gula merah tadi yang tidak kehabisan harapan. Barangkali memang Cukup itu yang kita butuhkan, tidak usah besar-besar dulu. Cukup menjalankan peranan masing-masing. Pembuat gula merah, tetaplah membuat gula merah yang akan memaniskan dapur banyak keluarga, pemain sepakbola cukuplah tidak kehilangan semangat dan bikin bangga bangsa di mata dunia, yang pelajar tetaplah belajar dan berprestasi, yang guru tetaplah mengajar - tetap mencerdaskan kehidupan bangsa, Telkomsel tetaplah melayani inovasi komunikasi, menghubungkan kita yang jauh dari rumah, mendekatkan masing-masing kita yang rindu. Barangkali cukuplah seperti itu, kita akan menjadi Indonesia, menjadi yang Paling Indonesia. Kalau kita pengguna Telkomsel saja bisa begitu setia dan Telkomsel juga bisa begitu setia sama pelanggannya, mengapa tidak pada suatu Bangsa: Pada Indonesia.

Kemudian hujan pagi turun di desa Salo Dua. Membasahi rumput, membasahi tanah, membasahi yang sudah lama agak kering. Membasahi sebagian kecil Indonesia, menjadikan kolam ikan Pak Desa beriak-riak kecil. Menciptakan dingin bagi masing-masing raga. Membuat secangkir teh terasa semakin hangat. Sesekali disertai angin yang berhembus pelan-pelan. Sungguh, hujan pagi akan selalu indah bagi mereka yang menikmati. Kita memang tidak punya salju seperti di barat sana, tapi hujan seperti ini, rasanya barangkali sudah cukup.




Iya, selama kita tidak kehilangan cita-cita, Indonesia juga tidak akan kehilangan harapan. Barangkali memang cukup dengan begitu, kita akan tetap muda, tetap beda, tetap Paling Indonesia.




Enrekang, 30 Juni 2012
Diikutkan pada lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh Telkomsel dan Komunitas Blogger AngingMammiri

Hitung Mundur Hari Pemberangkatan KKN

Matahari masih juga belum bosan terbit tiap pagi. Terbit selalu dari timur, menerangkan secara harfiah, menandakan sudah waktunya dewi bulan untuk istirahat setelah menemani langit yang kelam, seolah-olah mereka berdua berpacaran, menunggu siang untuk menabung kerinduan. Untuk semata bertemu lagi nanti malam. #Apasih?!

Iya, seharusnya hari ini saya sudah berangkat ke lokasi KKN, seharusnya sekarang pantat saya sudah duduk di dalam bis (atau mungkin truk) tentara, bukan untuk mengikuti wajib militer seperti para boyband Korea itu, melainkan semata-mata untuk ber-KKN ria, berkuliah kerja nyata panjangnya. Kami yang kebagian lokasi di Kabupaten Enrekang yang oh, 235km jauhnya dari kota Makassar ditunda keberangkatannya sebab kami memang terlalu banyak, jadi diberangkatkan terakhir. Hari Jum'at.

Tadi pagi setelah mengantar adik saya pergi ke sekolah #Pencitraan, saya menyempatkan diri masuk ke kampus meskipun belum mandi dan sikat gigi untuk mengintip pemberangkatan, mencuri-curi pandang, di sana ada banyak sekali peserta dengan barang bawaan masing-masing, ada yang bawa koper, bawa ransel, ransel buat naik gunung juga, satu dua orang teman angkatan saya di Komunikasi juga ada di sana.

Kita baru akan merindukan ketika sadar akan saling meninggalkan
Sekilas seperti Karyawan McD

Iya, mendadak saya galau, kita seangkatan akan pisah selama kurang lebih dua bulan. Mendadak saya galau (diulang biar dramatis), saya ambil handphone kemudian mengirim SMS ke beberapa orang, isinya, "Titip salam buat kelelawar pertama yang kalian temui", sebab mereka akan ke Kabupaten Soppeng yang terkenal dengan kawanan kelelawar yang gemar beterbangan di jalan raya. Meskipun pada akhirnya SMS saya tidak terkirim, sebab pulsa saya habis rupanya.

Makassar,  18 Juni 2012.
Kamar yang panas sebab tidak ada jendela
Tapi ada kipas angin
Berdoa yang terbaik untuk kita yang akan ber-KKN maupun tidak.

Mohon (Doa dan Restunya)

Bukan! Bukan! Bukan untuk acara kawinan, tapi untuk sesuatu yang lebih besar lagi! (Memangnya ada yang lebih besar dari perkawinan? Ada. Apa? Entahlah. Okeh, garing. Skip)

Melalui postingan yang diterbitkan menjelang pukul tiga pagi ini, saya, saya yang begitu tampan ini, yang sebentar lagi melaksanakan Kuliah Kerja Nyata ini, dengan segala kerendahan hati memohon doa restu pada para Aliens pembaca setia blog ini, semoga kami, kami yang sudah tiga bulan mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa 2012 ini diberikan kesempatan untuk lolos seleksi menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXV di UMY bulan Juli 2012 nanti.

Narsis bareng Pak Walikota Makassar
Mengapa harus lolos? Oh, kawan. Tahun ini genap saya tiga tahun menjadi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Unhas, dan kalau boleh jujur belum memiliki prestasi yang bisa dibanggakan. Iya, kita sangat berharap semoga di usia kami yang InsyaAllah tinggal kurang lebih satu tahun di Unhas ini, kami bisa memberikan prestasi yang membanggakan bagi kampus, almamater kami yang SPP-nya akan diturunkan tahun ini, untuk orang tua kami, untuk diri kami sendiri. Tidak perlu jadi juara dulu, cukup menginjakkan kaki sebagai peserta PIMNAS XXV, dan saya akan puas, sepuas-puasnya ketika harus meninggalkan almamater yang kata televisi sering rusuh ini (padahal mah adem-adem saja).

Ide kami sederhana, kami mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan, dengan usaha bernama Multitechnomedia, yang bergerak di penyediaan jasa desain grafis dan dokumentasi (foto dan video). Selama tiga bulan ini kami sudah menyelesaikan dua proyek, salah satunya simposium internasional bertemakan gizi yang sempat dihadiri oleh Prof. Ali Gufron, wakil menteri kesehatan, dan Ilham Arif Siradjuddin, walikota Makassar.

Narsis bareng ketua Panitia Workshop Total Nutrition Theraphy
Kru - di Hotel Horizon Makassar. Narsis dulu bolehlah.
Beberapa menit sebelum monitoring dan evaluasi
Aduh, sungguh besar sekali harapan kami, harapan kita bersama bisa membawa nama Unhas ke ajang nasional, tidak usah juara dulu, cukup lolos sebagai finalis, kami sudah sangat puas sekali. Mohon doanya, Aliens. Mohon doa dan restunya. Pengumuman finalisnya akan diumumkan hari ini. Big day today.

Sebab salah satu hari yang paling besar dalam hidup kamu, yang akan kamu ingat sepanjang hidup kamu, yang akan kamu ceritakan pada kawan-kawan lamamu, pada isteri dan anakmu nanti, adalah pada saat mimpimu tercapai. Dan ini, mengenakan jas almamater kami di arena PIMNAS XXV nanti, adalah salah satu dari hari besar itu, mimpi itu.

Makassar, 14 Juni 2012
Ditulis dengan penuh pengharapan.

The Biggest Lie Blogger.com Told Us

Notifikasi itu sudah ada sejak bulan April



Iya, memang sudah hampir setahun yang lalu blogger.com memberikan update interface terbaru untuk para penggiat blog, sayangnya, tidak semua blogger suka dengan update interface terbarunya.

Meski tampilannya memang bisa dibilang lebih fresh, namun tetap saja, ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan di interface baru blogger sekarang, salah satunya kode tombol spoiler yang tidak bisa dipakai, padahal saya senang sekali menggunakan tombol spoiler untuk menyembunyikan gambar.

Oh iya, untuk yang belum lihat tampilan blogger yang baru, silahkan baca di sini

Iya, tidak gampang bagi kita untuk serta merta beralih ke tampilan baru itu, kita sudah nyaman di sini, nyaman di interface blogger yang lama. Sejujurnya saya mengharapkan google menciptakan software blogger dashboard untuk PC, minimal blogger editor seperti yang sudah diciptakan untuk Andoroid. Dengan begitu mengepos postingan akan lebih gampang, seperti tumblweed untuk tumblr, dan semacamnya.

Iya, barangkali kita memang akan lebih lama di tampilan blog yang kuno ini, sebab di sinilah segala hal yang kami suka, dan itu, mungkin sudah cukup untuk sekarang.

Galau KKN. KKN Menggalaukan

Siap Menarik Perhatian Kembang Desa
Akan tiba masanya kamu harus ke sana, ke gerbang Kuliah Kerja Nyata. Sebuah perihal yang menandakan usiamu di kampus sudah semakin tua. Semakin mendekati garis akhirnya, semakin... Ah sudahlah.

Sebagai mahasiswa Unhas, KKN adalah kewajiban. Fardhu ain. Tidak KKN berarti tidak sah untuk jadi sarjana, tidak pantas untuk menggunakan gelar Drs di depan namanya nanti (Ini tahun berapa sih?!). Pokoknya, saya sedang galau KKN dan kalian semua harus tahu. Oh, saya belum pernah segalau ini.

Bahkan bukan cuma saya yang galau KKN, itu ibu saya yang galaunya 200 juta kali lebih galau dari saya. Pasalnya, selama dua bulan nanti saya akan keluar Makassar untuk menunaikan ibadah ini. Oh, artinya saya akan menghabiskan 86.400 menit di daerahnya orang, 200 km jauhnya dari kota Makassar yang setengah hati saya sudah nempel di dalamnya. Oh, Makassar. Akankah kamu juga merindukan saya nanti jika saya sudah meninggalkan kamu? Akankah patung ayam kamu nanti menangisi langkah-langkah saya? Oh, Patung Ayam, Jangan dijawab!

Ibu saya belakangan ini makin ganas menanyai ini itu. Dapat posko di mana? Daerahnya di mana? Di sana makanannya apa saja? Bisakah mengurus diri sendiri nanti sana? Di sana mau makan apa? Mau dibelikan koper tidak? Bajunya cukup tidak? Ini itu cukup tidak? Mau dibelikan apa?
Oh, mafhum saja, sebab dalam 22 tahun saya berkarir di keluarga ini, ini akan jadi kali pertamanya saya jauh dari mereka untuk jangka waktu yang sangat lama, dan 'toh untuk beberapa ibu, anaknya akan selalu jadi anaknya yang selalu dibawa khawatir. Oh, Ibu. Saya pun khawatir nanti mau ngapain di sana.

Sebenarnya ada KKN profesi, yang lebih mirip magang sebenarnya. KKN profesi, yang semacam magang ini kita bisa memilih mau KKN di mana. Sejak memulai karir menjadi mahasiswa baru, saya sudah menarget-nargetkan akan ikut itu saja. Tapi oh, apa daya. Mulai tahun ini KKN profesi di Fisip tidak lagi diadakan. Padahal teman saya yang jerawatnya menawan, si Utun sudah menawarkan untuk KKN profesi bareng di perusahaan Semen Tonasa di kabupaten Pangkep. Oh, seandainya ada, Tun. Seandainya ada KKN profesi.

Bukan saya sombong tidak mau KKN reguler, bukan saya tidak mau berbaur dengan masyarakat di sana. Sungguh, saya tipe laki-laki murahan, maksud saya rumahan. Saya merasa menemukan diri saya di sini, di antara gedung-gedung tinggi, di antara rimbun pepohonan kota. #swing #ApaSih.


Pembekalan KKN sudah dimulai. Sebenarnya saya firasat baik soal KKN nanti. Semuanya bermula saat negara api menyerang pembekalan umum kemarin, teman-teman kelas saya waktu SMA juga ikut KKN gelombang kali ini. Bahkan, waktu pembekalan umum kemarin sudah jadi semacam mini reunion alumni Smunel. Lagi, hampir semua teman angkatan saya di Komunikasi juga ikut KKN gelombang kali ini, jadi sepertinya KKN kali ini akan ramai.



Sekarang, setiap kali mendengar kata KKN saya galau. Mendengar kata Pembekalan, Galau. Mendengar kata Gelombang, Galau. Lihat awan yang gerak pelan-pelan, Galau.

Tetapi oh, Makassar. Hari-hari jelang KKN sudah semakin dekat. Saya semakin rentan galau. Semoga di posko KKN nanti jaringan Telkomsel dan Telkom Flexi lancar, sehingga kita tetap terhubungkan lewat internet, sehingga Blog ini akan selalu terisi. Semoga di sana ada pohon durian, pohon kelapa yang buahnya segar-segar, ada kembang desa, ada janda kembang, ada kembang sepatu.

Kemudian Matahari di Makassar semakin meninggi. Menghangatkan mereka yang belum mandi. Menghangatkan hati mereka yang dirundung mendung, dengan rindu di setiap pecah-pecah sinarnya. Oh, KKN. Galauku mulai lagi.

Makassar, H - 9 Pemberangkatan KKN
Belum ada persiapan sebab masih dirundung galau.

@Photopost Cuma Kacamata



Another random day at Kampus

Faith in Humanity Restored: Sedekah Rombongan

 

Oke, kali ini saya ingin posting tentang sesuatu yang benar (Yah, postingan sebelumnya memang juga benar, tapi postingan ini lebih benar lagi. Postingan yang benar-benar-benar!)

Dulu, sewaktu masih tinggal di desa, saya mendengar banyak sekali kabar-kabar tentang orang kota, yang katanya individualis, yang materialistis, yang egois, dan sebagai-sebagainya. Dan oh, beruntung sekali setelah saya pindah ke kota (yang waktu itu namanya masih Ujung Pandang), ternyata tidak sama sekali. Tidak semua orang yang tidak tinggal di pedesaan itu materialistis, tidak. Nyatanya, saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa dengan jiwa sosial yang tinggi (mafhum saja, sewaktu SMA saya sempat bergabung dengan organisasi Kemanusiaan Palang Merah Remaja (keren amat ya?)).

Nah, dari situ saya ketemu dengan orang-orang yang luar biasa. Dari orang ini ketemu saya orang ini, dari orang ini ketemu sama orang ini. Hingga, dari seorang kakak saya, Trijaka Perkasa, ketemulah saya lewat jejaring sosial Twitter dengan sebuah komunitas keren bernama Komunitas Sedekah Rombongan (@SRBergerak)

Lho, Komunitas apa itu, Tyar?
Tunggu! Tunggu! Sabar! Biar saya jelaskan dulu. Komunitas ini adalah sebuah komunitas yang lahir atas provokasi mas Saptuari. Idenya adalah, bersedekah secara keroyokan, rombongan, secara sama-sama, beramai-ramai! Secara Brutal!

Kenapa harus beramai-ramai?

Idenya adalah, begini: 2+2 = 4; 2+3=4;  Semakin banyak orang yang ikut sama Gerakan #SedekahRombongan, semakin banyak sedekah yang bisa terkumpul dan tersalurkan ke orang-orang yang membutuhkan.

Bukankah itu namanya riya' (mengumbar-ngumbar kebaikan?)
Riya' atau nggak mah, itu biar jadi urusannya Gusti Allah. 'Toh yang jadi sponsor utamanya Dia kok.

 Gua mau ikut. Caranya gimana?
 Nah, kalau yang ini mah monggo saja langsung ke twitternya Sedekah Rombongan atau ke Saptuari.
Atau kalau mau, langsung sajalah ke websitenya di www.sedekahrombongan.com

Tyar, masih kurang jelas nih. Jelasin lagi dong!
Ini, biar gambar-gambar ini yang menjelaskan:








  Jadi, buat Aliens yang tertarik buat bergabung silahkan, apapun latar belakangnya: Orang kaya, siswa, mahasiswa, pelajar SMA, pengusaha, dosen, gemuk, tampan, tampan sekali, TIDAK ADA BATASAN untuk berguna bagi orang lain.

*Standing applause untuk tim SEDEKAH ROMBONGAN*

Gambar nyomot dari
Situs resmi SedekahRombongan.com
http://i1.kym-cdn.com/photos/images/newsfeed/000/240/470/646.jpg

Morning photo: Levitate

Diajari foto Levitasi sama Dhila Nahrifa Hanafi yang merangkap model, adik kelas saya sewaktu SMA dulu. Beginilah jadinya.


Un-Live Report Futsal

Saya jarang berolahraga. Jujur saja, sejak lulus dari SMA sekitar dua bulan (baca: tiga tahun) yang lalu, saya tidak lagi ruitn berolahraga. Waktu SMA, saya memang rutin berolahraga tiap minggu, itupun memang karena ada jadwal pelajaran olahraga. Oh, Kawan. Ketahuilah - Dulu saya suka mata pelajaran olagraga terutama dalam bidang atletik: lari, lompat, dan lempar. Kalau lari kita tinggal lari, lompat tinggal lompat, dan melempar tinggallah melempar. Tidak butuh skill khusus yang bagaimana-bagaimana. Yang paling susah Loncat Harimau. Saya pikir cuma siswa dengan bakat pemain sirkus saja yang bisa melakukan gerakan dahsyat ini.

Tadi malam teman-teman saya sesama alumni PMR SMAN 5 mengajak main futsal. Sebenarnya dulu saya sangat suka bermain sepakbola, tapi itu dulu. Dulu sekali waktu saya masih di bangku Sekolah Rakyat, eh Sekolah Dasar. Awalnya saya malas, tapi karena sudah lama sekali tidak berolahraga, saya akhirnya mengiyakan juga. Saya akan ikut main futsal, apapun resikonya.

Tiba-tiba saja saya sudah ada di lapangan futsal, jujur saja saya tidak tahu mau ngapain, menonton sepakbola saja malas, ini malah disuruh main. Oh, Kawan, padahal di extended family saya sebenarnya banyak sekali pemain bola yang hebat. Paman dan sepupu saya pernah bahkan sering membawa tim sepakbola kampungnya kami di kejuaraan yang antar kampung juga dan sering menang. Bapak saya pun penggila sepakbola yang sangat berbakat. Berbakat jadi reporter. Iya, bapak saya dulu waktu masih tinggal di kampung adalah reporter sepakbola yang terkenal - di kampung juga. Jangan heran, waktu pertandingan Malaysia melawan Indonesia beberapa waktu lalu, bapak saya tidak mengomentari pertandingannya, malah mengomentari reporter dan komentatornya.

Lihat! Saya ada di tengah lapangan futsal berkostum paling necis: Kaos coklat, celana jeans, dan bersepatu. Tanpa babibu, saya langsung mengambil posisi paling strategis: Penjaga Gawang alias kiper. Oke, ada dua alasan mengapa saya memilih menjadi kiper:
  1. Tugasnya jelas.
  2. Saya tidak tahu mau ngapain lagi.
Tugas kiper itu jelas, mengamankan bola jangan sampai masuk ke gawang, bagaimanapun caranya. Kalau perlu, pasang beton di depan gawang! Yang paling penting dari menjadi seorang penjaga gawang adalah, kita harus tetap tenang bagaimanapun kondisinya, siapapun yang menguasai bola, dan bagaimana kerenpun penyerang yang mencoba merobek jala yang kamu jaga, seganteng apapun dia. Tapi alasan sebenarnya saya memilih menjadi penjaga gawang adalah penjaga gawang itu punya zonanya sendiri, kotak penalti namanya, ibaratnya itu kamar, jadi kita tetap punya privasi dan berhak ngapain saja di sana. Di dalam kotak penalti saya merasa nyaman, tenang, dan damai *Musik merdu terdengar perlahan*

Akhirnya saya sudah berdiri di sana, sebagai penjaga gawang. Kalau saya yang berdiri di sana, gawang kelihatan menjadi sedikit lebih besar dikarenakan postur saya, lapangan futsal juga jadi kelihatan lebih besar, bola kelihatan jadi lebih besar, pemain cadangan juga jadi kelihatan lebih besar, pemilik lapangan futsal jadi lebih besar, semuanya!

Permainan dimulai. Dengan cepat bola beralih dari kaki ke kaki, dari hati ke hati, dari pinggir ke tengah, sekali keluar lapangan, masuk lagi, tiba-tiba sudah ada di depan gawang yang sedang saya jaga, saya maju, bolanya juga, bolanya melesat, dengan tenang lewat bawah kedua kaki saya, OH! Kebobolan.

Kick off dimulai lagi, saya lebih fokus lagi. Kali ini tidak boleh kebobolan lagi. Sesekali saya bergerak ke sana kemari, biar dibilang tidak makan gaji buta. Ke kiri - ke kanan, tim kami menyerang, saya semangat. Dipatahkan, serangan balik, Gawat! Saya memperbaiki posisi, berdoa, saya ingin shalat tahajjud lebih dulu tapi tidak mungkin, bolanya semakin dekat, saya maju lagi, bolanya juga maju, dan sungguh memalukan, bolanya masuk lagi dengan cara yang sama. Saya dibuat bertelur! Sial. Sebuah permainan yang cepat. Kalau melihat aksi saya pada malam itu, Kalian akan teringat pada anak-anak SD yang mencoba menangkap ikan di selokan dengan menggunakan baki yang dicuri dari dapur. Tim kami diganti karena sudah kebobolan dua kali.

Permainan kedua dimulai, saya kembali ke gawang. Kali ini saya harus lebih fokus lagi, kali ini tim kami bisa bertahan lebih lama, gawang saya tidak kebobolan untuk waktu yang lama. Bukan karena saya yang makin jago, tapi karena pemain belakang yang pada bekerja ekstra. Hingga pada akhirnya kami kebobolan karena pemain belakang tim saya yang terlalu besar sehingga menghalangi pandangan. Bola masuk dengan sangat tenang dari atas.

Permainan baru jalan seimbang di permainan ketiga, akhirnya saya berhasil melakukan beberapa penyelamatan yang tidak gemilang. Sebab dalam tim apapun itu tidak ada tugas yang remeh. Every man for his team. Jika ingin tim berhasil, cukup memastikan tanggung jawab masing-masing telah dilaksanakan dengan baik, kepercayaan terhadap tim menjadi mutlak. (Ngomong apa saya barusan?).

Oh, saya tidak tahu bagaimana cara menutup postingan ini. Oh iya, postingan saya sebelum ini. (klik di sini kalau mau baca/pengumuman di sini) ditetapkan sebagai  juara favorit. Saya senang, bahkan senang sekali akhirnya setelah hampir empat tahun nge-blog, blog ini bisa berprestasi juga akhirnya.

Dan oh, rencananya saya juga akan bikin lomba blog dalam waktu dekat ini. Ini sedang mencari hadiah yang cocok, anggap saja sebagai bentuk terimakasih dan pemantik semangat bagi diri sendiri lewat orang lain. Hehehe *tertawa syahdu*. Pada ikutan ya?!
"Iya, Tyar!"

Makassar, 25 April 2012
Sambil sesekali menonton Jungkir Balik Dunia Sissy di SCTV
Senang Putri Titian. Ingin kenalan.

Sulawesi Selatan mengajakmu Jalan-jalan

Adalah malam yang Indah pada waktu itu, ketika saya sedang mengendarai sepeda motor yang rodanya selalu ada dua itu demi menunaikan keinginan untuk membeli sate ayam. Jadilah saya ke sana, ke sebuah gerobak yang sudah melanggan saya,maksudnya saya sudah jadi langganannya karena sering beli di situ, karena enak, potongan daging ayamnya kecil-kecil lagi empuk.

“Sate ayamnya, Mas! Dua puluh ribu”, saya bilang ke Mas yang jualan.
“Oke, Mas!”, dia mengiyakan. Barangkali dia mengiyakan itu karena takut sama saya. Takut saya makan.

Makassar masa itu sedang musim hujan, kalau malam seperti, bulan dan bintangnya sering malu-malu. Senang sembunyi di belakang awan yang mendung. Seperti sekarang ini, awan-awan mendung siap mengguyur kota yang sering masuk TV karena berita kekerasannya ini, kota yang sering masuk TV karena aksi vandalisme mahasiswanya ketika berdemo ini.
Saya lalu duduk di sana, di bangku yang sengaja disiapkan untuk pembeli yang makan di tempat atau sekedar menunggu pesanan.

Sekitar lima menit saya duduk di sana, bertumpu pada pantat yang selalu setia berada di bawah ketika kita duduk. Hujan sudah mengguyur jalan yang sudah mulai sepi, menyebabkan basah, menyebabkan pejalan kaki berlari-lari, menyebabkan saya berteduh tidak beranjak dari tempat saya duduk.

“Hujan, Mas!”, kata Mas Sate memperingatkan. Barangkali dia kira saya tidak tahu kalau sedang hujan.
“Iya. Saya numpang berteduh, Mas!”, dia mengiyakan lagi. Barangkali memang takut sama saya.
“Udah lama tinggal di sini sini, Mas? Di Makassar.”, Saya tanya sebab saya tahu dia orang Madura. Itu, tertulis di gerobaknya.
“Iya, Mas! Udah lama, bertahun-tahun!”
“Betah nggak?”
“Iya, Mas! Betah! Rejekinya enak!”
“Masa’? Enakan mana sama kampungnya Mas?”
“Enakan di sini, Mas”, dia bilang sambil senyum
“Loh. Masa’?”
“Yah, maksud saya kerja di sini enak, Mas. Kalau di kampung saya, sate kan banyak, jadi yang beli sedikit. Kalau di sini, yang beli banyak!”
“Ohhh... Sama Makassarnya, seneng nggak?”
“Seneng saya tinggal di sini. Betah, Mas. Enak lah pokoknya”
“Kalau saya sering baca-baca itu, Mas. Di internet, soal pendapatnya orang-orang di luar Makassar. Katanya Makassar Rawan konflik, sering kacau, nggak aman, yah pokoknya begitulah!”, saya curhat ke Mas-nya.
“Itu karena mereka nggak tahu, Mas!” Dia bilang, kemudian duduk di samping saya. “Justru di sini lebih aman! Lebih nyaman! Kalau kacau itu kan Cuma sekali-sekali. Kalau di luar, hampir tiap hari ada pembunuhan, perampokan, sama pencurian. Lebih ngeri mana coba’! Lagian Makassar sama Sulawesi Selatan cantik banget, Mas! Mas pernah ke daerah Pare-pare? Di sana itu, Mas! Sebelah kanan gunung, sebelah kiri laut! Keren!”

Jadilah kami mengobrol, obrolannya jauh, dari Pantai Losari hingga Tanjung Bira, dari Pare-pare hingga kabupaten Takalar, sampai hujan bosan dan berhenti dengan sendirinya. Kemudian satenya saya bayar, motor saya nyalakan biar bisa membawa saya pulang untuk menikmati sate ayam yang sudah mulai dingin, semoga tetap enak.

Malam yang indah, yang membuat saya sekali lagi senang dan bersyukur tinggal di Makassar, di Sulawesi Selatan. Aduhai, South Celebes. I Love You.

Mereka yang sering bilang Makassar adalah kota yang buruk citranya, yang kasar orang-orangnya, yang bodoh mahasiswanya, pastilah belum pernah ke Makassar. Cobalah jalan-jalan ke sini, di Provinsi Sulawesi Selatan, di tanah kelahiran Sultan Hasanuddin dan BJ Habibie. Aduhai, janganlah khawatir soal tempat wisata, tempat wisata di sini banyak sekali dan menyenangkan. Belum percaya? Iya, izinkan saya pada postingan kali ini berbagi tentang provinsi yang sudah saya minum air darinya selama dua puluh satu tahun ini.

Daerah Wisata
Pantai Losari





Ini pastilah sering kalian lihat di televisi. Pantai losari itu seperti taman kota kalau saya boleh bilang, sebab pantai ini memang ada di kota. Setiap akhir pekan, pagi atau sore selalu ramai oleh orang-orang yang ingin olahraga, memotret, atau duduk-duduk di bawah pohon palm sekedar untuk menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi sambil menikmati cahaya matahari yang datang dari belakang ketika pagi, dan berenang tenggelam tepat di depan ketika sore yang menjadikan lautnya menjingga.

Tanjung
Pantai Losari itu serupa pintu. Kalau belum tahu, di Pantai Losari itu tidak ada pasirnya, bangunannya berbatasan langsung dengan laut, barangkali memang sengaja dibangun seperti itu. Kalau ingin menikmati pasir, masuklah ke dalam lagi, di sana, di rentetan tanjung dengan berbagai nama untuk menikmati laut, pasir, ombak, dan matahari terbenam lebih dekat lagi.

Trans Studio Theme Park
Sangat dekat dari Pantai Losari dan Tanjung, barangkali sudah sering lihat di TV tentang theme park indoor terbesar di dunia ini. Saya sendiri sih baru satu kali main ke sana, aduhai, hal-hal yang menyenangkan tentang theme park ini bukan mitos. Waktu itu saya menyempatkan diri main di wahana roller coaster dan apa itu namanya, perahu yang meluncur kencang sekali, menyebabkan kemeja saya jadi agak basah waktu itu. Oh, jika ada kesempatan, saya sangat ingin main ke sana lagi, dan kalau boleh – gratis.

Fort Rotterdam
Ada Danbo di depan Fort Rotterdam :)
Masih berdiri dengan kokoh sejak zaman Balanda hingga kini. Saksi sejarah dan perjuangan kota Makassar yang kini dibuka untuk umum. Memasuki benteng ini, rasanya seperti kembali ke zaman Belanda dulu, arsitektur yang klasik dikelilingi oleh benteng tinggi, dingin, dan kokoh. Di tengahnya ada sebuah panggung yang dikelilingi taman. Cocok untuk jalan-jalan wisata sejarah atau sekedar foto-foto narsis hingga pemotretan serius. Jika haus, di luar benteng Fort Rotterdam berjejer pedagang es kelapa muda yang segar lagi murah. Cukup tujuh ribu rupiah saja, dan kita bisa memilih kelapanya disajikan di gelas atau utuh dengan bijinya. Saya lebih senang utuh, alami rasanya. Kalau sudah selesai minum, boleh minta dibelahkan untuk menikmati daging buahnya yang tipis-tipis.








Bantimurung

Bantimurung: A Natural Runaway


Narsis dulu di blog sendiri. Gak mau kalah keren sama sungai
Salah satu tempat wisata favorit saya. Berlokasi di kota Maros, sekitar dua jam perjalanan dari kota Makassar. Ada apa di sana? Ah, bukanlah apa-apa. Hanya pegunungan kapur (kartz) yang menempati urutan terindah nomor dua di dunia, hanya situs purbakala yang menjadi bukti kehidupan manusia zaman dulu sekali sejak manusia belum mengenal tulisan. Hanya air terjun yang lebar sekali yang membentuk sungai yang membelah dua gunung kapur yang tinggi dan dingin. Dan hanya gua kapur yang bisa dijelajahi dengan bebas dan gratis. Jangan lupa bawa lampu senter. Masih ada apa lagi? Bukan apa-apa, hanya museum kupu-kupu dengan varietas yang banyak sekali. Untuk oleh-oleh, gantungan kunci menjadi oleh-oleh paling terkenal di sini. Gantungan kunci yang di dalamnya ada kupu-kupu dan serangga beragam warna.


Tanjung Bira






Tanjung Bira: Langit Biru, Laut Biru, Pasir Putih


Ah. Ini sengaja saya simpan terakhir sebab paling jauh. 200km jauhnya dari kota Makassar. Butuh kurang lebih empat jam perjalanan dari kota Makassar yang melelahkan, tapi percayalah, sampai di sana, lelahmu akan hilang. Hilang bersama deburan ombak kecil-kecil dan tenang lagi jernih yang bergantian menyapu pasir putihnya yang seakan-akan memanggilmu, mengajakmu bermain melupakan usia, melupakan urusan kerja dan kantor, menyatu bersama alam, keluarga dan sahabat. Mengadu tawa dengan laut dan langit.
Oh, belum cukup sampai di situ, jika ingin, kita bisa menyewa sebuah speedboat untuk bermain agak ke tengah laut menikmati biota-biota bawah lautnya yang (serius) bisa dibikmati dari permukaan air. Tidak percaya?

Aduh, itu baru enam dari sekian banyak. Saya belum bercerita tentang Malino, belum daerah Takalar, belum Taka Bonerate, oh nantilah jika saya sempat ke sana, akan saya ceritakan lagi di blog ini.

Kuliner
Fith, teman saya yang baru saja lulus dari STAN Jakarta berulang kali cerita, teman-temannya di sana banyak yang bilang kalau kuliner khas Makassar itu pada enak-enak, bahkan ada yang bilang kuliner Makassar adalah kuliner paling enak yang pernah dinikmatinya. Ah, itu tidaklah berlebihan kalau boleh saya bilang. Jika kau tanya apa yang bisa dinikmati di sini. Berikut ini adalah kuliner khas yang paling saya gemari:

Coto Makassar
Makanan tradisional yang paling saya gemari dan selalu saya sempatkan untuk nikmati minimal sekali seminggu (Sebelum postingan ini diterbitkan, saya sempatkan makan coto dulu biar total). Apa itu coto? Apa bedanya dengan soto? Nah, Coto adalah masakan berkuah agak kental berisi daging sapi dan bagian-bagian selain daging: Lemak, jantung, hati, paru, lidah, dan pipi. Iya, banyak ya? Banyak dan mungkin terdengar aneh. Tapi cobalah sekali. Rasakan potongan dagingnya yang lembut disiram oleh kuah yang kaya rempah. Oh, satu mangkoknya yang kecil memang selalu terasa kurang. Harganya? Rata-rata hanya delapan ribuan saja.

Pisang Epe’
Pisang mentah yang dibakar lalu dipipihkan. Dilumeri gula merah dan jika suka, bisa minta ditambahkan keju dan coklat. Saya sendiri biasanya menghabiskan dua pisang epe’, soalnya kalau kebanyakan bisa eneg karena begitu manis. Pisang epe’ keju favorit saya.


Pisang Ijo
Ah, kalau yang satu ini sudah ke mana-mana, kalian pastilah tahu pisang ijo ini yang bagaimana bentuknya, yang bagaimana rasanya.

Ah, pokoknya Makassar adalah surga bagi para penikmat kuliner, jika ingin jajanan tradisional lebih variatif lagi, datanglah di bulan Ramadhan, dijamin di pinggir jalan akan bertebaran penjual jajanan khas Sulawesi Selatan, mulai dari pisang ijo, jalangkote’(pastel), roti panada, putu, bingka’, pallu butung, ah pokoknya banyak jika mau diuraikan satu per satu!

***

Iya, itu sedikit tentang Makassar dan Sulawesi Selatan dengan beberapa tujuan wisata dan kulinernya. Barangkali yang terkenal memang baru Pantai Losari dan Trans Studio. Padahal masih banyak sekali potensi wisata yang indah sekali.

Bagaimana mempromosikannya?
Misalnya begini, ketika kita punya restoran, meskipun masakan dari katering kita yang paling enak, tidak lantaslah restoran kita menjadi ramai. Maksudnya? Iya, dibutuhkan promosi yang tepat untuk menjadikan restoran kita ramai pelanggan. Barangkali begitu pula Sulawesi Selatan sekarang. Lihat sendiri dong tadi, objek wisata dan kuliner yang saya tuliskan di atas. Nah! Sekarang tinggal bagaimana mempromosikannya? Well, saya sih berani bilang, promosinya tidak usah besar-besaran. Sederhana saja, cukuplah langkah-langkah kecil yang penting konsisten dan kontinyu. Kalau boleh memberi saran, izinkan saya menyampaikannya:

LUPAKAN TELEVISI!
Iya, LUPAKAN TELEVISI! Saya ulang sekali lagi biar jelas: LUPAKAN TELEVISI! Kenapa? Oh, begini. Selain mahal, promosi lewat televisi tidak bisa sering-sering. Cuma sekali-sekali saja. Alternatifnya? INTERNET! Hey! Tunggu! Jangan buru-buru close halaman ini dulu, saya punya alasan kenapa harus memanfaatkan internet. Berbeda dengan televisi, internet yang bisa diakses dari mana saja dan perputaran informasinya sangat-sangat cepat. Coba saja bayangkan (membayangkannya sambil minum teh atau kopi akan lebih khusyuk), ada seorang wisatawan yang ingin mencari informasi soal daerah tujuan wisata di Sulawesi Selatan, tidak mungkinlah dia menghabiskan sepanjang harinya menunggu tayangan wisata yang dibutuhkannya di televisi. Sampai anak cucunya sudah pada sarjana, barangkali informasi yang ditunggunya belum tayang juga. Berbeda dengan internet: Satu klik saja dan JRENG! Muncullah informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber! Untuk mendukung itu, sebaiknya untuk setiap kawasan wisata perlu dibuatkan situs web yang menampilkan foto dan layanan-layanan di dalamnya. Dibuat dengan tampilan yang menarik. Oh, jangan lupa tampilkan foto dan testimonial pengunjung, terutama wisatawan asing yang tentu saja akan meningkatkan nilai jual daerah wisata yang dimaksud. Sehingga dengan begitu, calon pengunjung dapat lebih dahulu "melihat-lihat" sebelum akhirnya "mengalami"-nya :)


Gandeng dan Libatkan komunitas lokal
Komunitas lokal serupa Komunitas Blog Angingmammiri, DaengKops, LevitasiHore Makassar, komunitas fotografer Performa, dan komunitas-komunitas lain adalah komunitas yang yakin saja, memiliki antusias untuk turut serta dalam mempromosikan daerah wisata Makassar dan Sulawesi Selatan.

Berdayakan Blogger (penggiat blog) dan Penggiat Twitter
Blog dan Twitter bukan lagi menjadi barang asing bagi masyarakat Indonesia. Para penggiat blog dan twitter berkualitas pun sangat banyak bertebaran di jagat internet. Sebut saja akun @hurufkecil dan @supirpete2, penggiat twitter asal Makassar yang sudah dikenal luas. Blogger pun banyak, para Blogger AngingMammiri juga banyak yang berkualitas (semoga saya juga termasuk di dalamnya). Kenapa tidak melibatkan para penggiat ini? Caranya banyak sekali, mengadakan lomba semacam ini adalah salah satunya. Hingga tulisan ini dibuat, sudah ada lebih dari lima puluh peserta lain yang sudah mendaftarkan postingannya terlebih dahulu. Promosi yang cukup lumayan.
Cara selain lomba? Oh, jika boleh saya sarankan, berikan kesempatan kepada para penggiat blog dan twitter yang trafficnya tinggi, Hadiahi mereka paket wisata gratis! Iya, HADIAHKAN MEREKA PAKET WISATA GRATIS! Saya ulangi sekali lagi: GRATIS, jika perlu, berikan uang jajan.
Gratis? Ah! Bukankah itu boros?!” Ah, jangan pelit begitu! Sebagai gantinya, minta saja mereka mengeposkan pengalaman mereka berwisata nanti pada blog dan twitter. Uang yang dikeluarkan akan sebanding dengan promosi yang nantinya akan mereka lakukan, nanti biarkan followers-followers mereka membacanya dan merekomendasikan ke teman-temannya, dan biarkan internet menjalankan "magic"-nya.

Cukup sederhana dan efektif bukan? Jika promosi sudah digalakkan, kita imbangi dengan perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang dan BOOM: Welcome To South Celebes :)

Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Konten Blog “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan” oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulawesi Selatan. Doakan menang yaaaa #Kiss