Ikhwal Kuliah Perdana di Prodi Public Relations. Hah!

Tadi pagi jam delapan menjelang lewat lima belas menit, saya sudah siap di kampus. Di kampus saya tentunya, di Unhas. Bukan di ITB karena jauh. Iya, pagi ini saya rajin sekali meskipun sengaja telat karena telah mengambil kesimpulan sepihak bahwa kuliah perdana semester lima ini, pastilah akan terlambat dimulai dan kenyataannya memang serupa itu.

Di sana saya ketemu Putra, bukan putra saya tentunya, itu nama teman saya yang hidung dan dagunya amat istimewa. Dia sudah di sana duluan, rapi dengan kemeja, celana jins, dan sepasang sepatu yang dikenakannya di kaki. Rapi sekali.

Kami kemudian memutuskan untuk naik dulu ke koridor lantai dua, tanpa diskusi kami memutuskan untuk naik lewat tangga, itu memang satu-satunya akses untuk naik ke sana, tidak ada elevator, elevatornya masih di mall. Kami naik dengan harapan yang sama, berharap di sana ada peserta kuliah yang lain, karena kami berdua, yaitu Putra dan saya yang lebih tampan darinya tidak tahu menahu ruangan kuliah dan siapa dosennya.

Tetapi apalah daya, maksud hati memeluk gunung, apa daya gunung tak ada, di sana belum ada peserta kuliah lain, di sana hanya ada mahasiswa baru yang kebanyakan kepalanya gundul karena dicukur atau mungkin juga karena pengaruh puasa, ah biarlah itu menjadi urusan mereka dengan kepalanya sendiri.

Menunggulah kami hingga jam sepuluh, iya, jam sepuluh karena ternyata jadwal mangalami metamorfosa, dari yang seharusnya jam delapan pagi, menjadi jam sepuluh pagi, dua jam. Dua jam yang berikutnya akan menjadi seratus dua puluh menit yang membosankan.

Menjelang pukul sepuluh kami berangkat ke ruang kuliah yang dimaksud, saya memilih duduk di bangku agak tengah, tepat di tengah-tengah Putra dan Ari yang kalau kalian lihat, akan sangat jelas sekali perbedaan tinggi badan kami. Jika Putra dan Ari diibaratkan jari tengah dan telunjuk, maka saya pun tak ubahnya sebuah jari telunjuk, jari telunjuk balita.

Karena takut bangun kesiangan, tadi sehabis sahur saya tidak langsung tidur, saya memilih main video game sambil menunggu datangnya pagi yang selalu datang tepat waktu. Karenanya itu saya agak ngantuk dan memutuskan untuk tidur dulu di bangku belakang, tidak mempedulikan teman-teman peserta kuliah lain yang asyik berfoto-foto keriangan. Sebelum tidur saya berpesan pada Ari untuk membangunkan saya jika dosen telah datang. Ari melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Saya berhasil bangun.

Lihatlah dosen itu baru masuk dan saya baru bangun, ketika berdiri saya langsung diminta dosen untuk menghapus papan tulis, maksudnya menghapus tulisan di papan tulis, bukan menghapus papannya sampai hilang. Saya bahkan belum sampai ke depan papan tulis yang warnanya selalu putih itu, sang dosen yang juga mengajar fotografi semester lalu itu langsung menegur.

"Baru bangun ya? Merah matamu!", sengaja saya tulis begitu supaya kalian tahu itu adalah dialek yang dengan Bahasa Indonesia dengan sedikit dialog Makassar.
"Iya, Pak!", saya jawab dalam hati, yang penting sudah niat.
"Habis begadang ya?!" Sang dosen bertanya lagi.
"Tidak, Pak!" Kali ini saya menjawab.
"Ah, apanya tidak, tali sepatumu saja belum terikat!" Katanya lagi dan jleb.

Saya melihat sepatu yang selalu saya kenakan di kaki itu dan benar saja, ternyata memang belum terikat. Oh, malunya.

Lihatlah saya di sana, mengikat tali sepatu dulu baru kemudian diminta turun oleh dosen, diminta TURUN, bukan karena ketahuan korupsi tapi karena ternyata tulisan yang seharusnya saya hapus tadi ternyata ditulis dengan tinta yang agak ajib, tidak bisa terhapus.
Saya melanjutkan mengikat tali sepatu.

Kuliah dilanjutkan. Dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat, dosen sesekali bertanya, mahasiswa menjawab sesekali juga.
Selanjutnya, atmosfer akademik semester lima terasa masuk dari jendela, dari jendela yang bernama ilmu pengetahuan. Dari ventilasi yang juga bernama ilmu pengetahuan. Dan kelas pagi itu terang sekali, dari lampu yang juga bernama ilmu pengetahuan.

Makassar, 22 Ramadhan 2011.
Tidak shalat tarawih.

3 comments

  1. kalau begadang kak bisma gak ikat tali sepatu yaah ?

    ReplyDelete
  2. satu kampus sama alvidha itu yah..hahah :D

    ReplyDelete
  3. @Nuu:
    Hahaha. Bukan, bukan begitu. Maksudnya karena kesadaran masih di level bawah, mengikat sepatu saja susah.

    @Uchank: Iya, Men. Kasihan ya?

    ReplyDelete