Oh, Mawar. Seharusnya jadi Pertemuan yang Biasa

Saya sedang asyik-asyiknya online di warnet ketika Mawar, perempuan yang beberapa kali saya ceritakan di Blog ini, secara tanpa pemberitahuan dulu mengirimi pesan singkat lewat handphone. Kita anak muda sering menyebutnya SMS. Save My Soul. Halah.

"Tyara lagi di mana? Ketemuan yuk?", Dia memanggil saya Tyara. Bukan karena saya habis berganti nama memutuskan berganti kelamin, saya masih laki-laki meski masih suka minum rasa-rasa. Tapi dialah yang iseng dengan mengganti nama secara panggilan saya secara sepihak. Tanpa konfirmasi, dan tanpa aqiqah.

"Di mana?", Lihatlah saya di sana. Membalas SMS-nya dengan malas-malasan.
"Di Warkop saja bagaimana? Sekarang ya!", Kurang lebih isi SMS-nya seperti itu. Hanya saja sedikit alay.
"Jangan di warkop. Di warkop tidak bisa makan. Saya lapar", Kurang lebih isi SMS saya juga seperti itu. Juga sedikit alay.
"Oke. Kebetulan saya lagi di depan warung Nike Ardila. Saya tunggu di sini ya?".

Warung Nike Ardila itu, kalau kalian belum tahu, adalah sebuah warung makan di BTP, BTP itu, kalau kalian belum tahu, adalah kompleks tempat tinggal saya. Warung itu dinamai Nike Ardila karena yang punya, ngefans sama Nike Ardila. Semacam warung makan ayam bakar, sekilas seperti warung makan Pak Dani kalau kalian tahu. Bedanya, aura Nike Ardila kental sekali di sini. Jumlah fotonya bisa dibilang hampir menyamai luas temboknya. Itu saya tidak bohong, saking banyaknya foto Nike di sana, sampai-sampai susah untuk sekedar melihat temboknya.

Harusnya itu jadi pertemuan yang biasa. Bukan kencan jika kalian cemburu. Dulu kami memang akrab. Dekat. Sekarang? Memang masih dekat. Tapi tidak sedekat dulu. Mungkin karena masing-masing dari kami sudah punya pacar. Dan lagi, saya mau datang ke sana karena dijanji mau ditraktir. Iya, saya laki-laki yang begitu senang jika ditraktir. Itu salah satu hobi saya. Kegemaran saya.

Lihatlah Mawar di sana. Menunggu saya di warung yang juga ada boneka yang mengenakan baju yang persis bajunya Nike Ardila juga. Dia sudah memesan minuman dan saya baru saja hendak berangkat. Akhirnya perempuan yang sebut saja Mawar itu menunggu. Dia SMS lagi.
"Kenapa lama sekali? Saya masih ada kerjaan habis ini! Mau kerja laporan!", Katanya. Lha terus kenapa dia mengajak ketemuan.
"Kalau memang masih ada kerjaan, ya sudah pulang saja.", Saya menanggapi. Dingin. Padahal saya sudah hampir sampai.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian saya sampai di depan warung bertajuk Nike Ardila itu.
Saya telepon Mawar.
Dia tolak. Mungkin marah.
Saya telepon lagi.
Dia tidak angkat. Mungkin memang marah.
Saya pulang. Pasti dia marah.

Lihatlah Mawar di sana. Mengajak ketemuan, saya sudah sampai di depan tempat yang dimaksud dan dia tidak menjawab telepon saya, mungkin karena hapenya Blackberry dan saya Nokia 6030, jadi dia gengsi. Kesimpulan yang aneh. Padahal saya sedang lapar-laparnya.
Saya sudah sampai di rumah ketika nama kontaknya terpampang di handphone saya. Sedang memanggil.
Saya tidak jawab. Karena saya terlambat. Karena Saya sedang di dapur, siap-siap masak.

Saya telepon Mawar lagi. Tidak tersambung. Mungkin karena jaringan yang sedang buruk. Akhirnya saya kirimi putuskan kirim SMS saja, kalau kirim uang takutnya malah jadi ribet.
"Saya sudah pulang. Tadi saya telepon tapi tidak dijawab", Kata saya, sambil menyiapkan penggorengan di atas kompor.
"Maaf. Tadi hape saya ketinggalan di motor", Katanya berkilah. Saya percaya.
Oh, lihatlah dia di sana. Ternyata hapenya ketinggalan di motor.
"Besok saja yah?". Katanya lagi.
"Besok saya tidak di rumah.". Kata saya. Saya bilang seperti bukan karena saya memang tidak di rumah. Tapi karena ada alasan lain. Alasan emosional.

Akhirnya saya tidak jadi makan di warung Nike Ardila. Tidak jadi makan gado-gadonya. Akhirnya jadi makan ikan bakar goreng, karena saya tidak suka ikan bakar, ikan bakar yang tadi dibeli ibu saya goreng saja. Supaya lebih garing dan hangat.

Makassar, 19 Juli 2011
Di Meja belajar dan Meja Kerja
Ditemani 3 Doors Down yang nanyi "Here Without You"
Karena saya sedang kangen sama Nurani Ardila

2 comments

  1. hahaha aku suka pemenggalan beberapa kalimatnya. kayak baca stacatto nya djenar maessa ayu. tapi ini bahasanya sederhana. dengan cerita yang sederhana. top markotop! :D

    ReplyDelete
  2. Wah, Djenar Maessa Ayu benar-benar terlalu tinggi. Terimakasih.

    Terimakasih sudah membaca. Saya juga suka tulisanmu. Beda.

    ReplyDelete