Kekenyangan Sambal Pete

"Tyar, ada pete!", Yang bicara barusan itu adik saya yang perempuan, waktu saya masuk kamar dan ada dia di dalamnya, sedang main sama Selvi, laptop saya.
"Yah, saya habis makan! Baru saja", Saya jawab, sembari merasa menyesal makan asinan mangga kebanyakan tadi di kampus.
"Makan di mana?"
"Di kampus, ada yang ulangtahun!"
"Pasti ke dua puluh satu!", Dia menebak. Disangkanya semua teman saya yang ulangtahun, pastilah ke dua puluh satu. Mentang-mentang kemarin saya baru saja nambah umur jadi segitu.
"Bukan. Bukan teman. Tapi Komunikasi! Komunikasi yang ulangtahun". Yang saya maksud Komunikasi itu himpunan mahasiswa jurusan. Ah, kalian mengertilah

Adik saya lanjut nonton 3 Idiots, yang sudah entah berapa kali dia ulang-ulangi. Saya langsung istirahat di depan kamar, menggelar kasur, nonton Opera van Java bareng ibu. Sambil membicarakan tentang KKN. Tepatnya tentang teman-teman saya yang sudah pada KKN dan saya belum. Ibu saya pesan, kalau saya KKN nanti tahun 2012, usahakan di Makassar saja, jangan di daerah. Saya mengiyakan. Saya memang berniat untuk mengambil KKN profesi.

Di dalam Televisi, Sule sedang bertengkar dengan Opie Kumis. Tentang kumis. Lucu sekali

Kemudian adik saya sudah selesai dengan filmnya, berlalu menuju kamarnya sendiri. Belakangan ini dia memang sering main ke kamar saya. Untuk nonton film dan kalau beruntung saya pinjamkan voucher internetan gratis, untuk buka wikipedia.

Seperti biasa, saya menangkringkan diri di blogger, lalu di facebook, lalu di google plus, sejurus kemudian sudah di kaskus, berakhir di twitter. Main mention-mention-an yang sebenarnya lebih enak kalau lewat SMS. Tapi twitter lebih murah, dan lebih g4uL m3n.

Sebagaimana keasyikan, saya sampai lupa waktu. Saya tadi memang meniatkan diri untuk begadang, tujuannya supaya tengah malamnya lapar, supaya bisa makan sambal pete yang memang ada di meja makan. Sangat terorganisir rencana saya itu.

Tapi apa daya, karena makan kebanyakan di kampus, rasa lapar itu tidak datang juga. Namun tentu tidak ingin penantian saya sia-sia saja. Akhirnya saya putuskan makan sedikit. Satu piring nasi putih plus sambal pete. Satu piring saja, jangan kebanyakan.
Eh, kebablasan. Saya makan dua piring.

Sembari makan saya berdoa dan bersyukur. Bersyukur tinggal di Indonesia. Bagaimana tidak, kalau saya tinggal di Amerika sana, saya mungkin tidak akan pernah merasakan sambal pete yang rasanya gurih itu.
Saya juga berdoa, semoga isteri saya nanti, siapapun itu, jago masak sambal pete. Paling tidak, seenak buatan ibu saya.
Mereka yang keseringan mengeluhkan hidup, hendaknya coba makan sambal pete, supaya mereka tahu, hidup itu, indah sekali.

Makassar, 20 Juli 2011
Di depan meja belajar merangkap meja kerja
Dengan perut yang kekenyangan

No comments