Tugas Mata Kuliah Penulisan Kreatif yang Saya Tulis. Agak Aneh Katanya

Begini bunyinya (kalau saya tulis bunyi, itu hanya konotasi karena tulisan ini memang tidak akan berbunyi)

Kawan, kalau Kau bertanya sedang apa empat puluh orang mahasiswa dan satu orang dosen di dalam ruangan FIS 3 tempo hari, akan saya jawab dengan jujur tanpa menutupi satu fakta pun: Kami sedang mengikuti kuliah. Luar biasa bukan? Ah. Tidak, Kawan. Itu biasa saja.

Kami sedang mengikuti mata kuliah Penulisan Kreatif. Saya duduk di bangku paling belakang. Kalau Kau mau tahu kenapa saya duduk paling belakang, itu karena saya memang suka duduk di bangku bagian tengah atau belakang, dan memang kami bebas memilih duduk di bagian mana saja, kecuali kalau pada suatu ketika dosen menginstruksikan kami untuk duduk berbaris berdasarkan ketampanan, saya akan tetap memilih untuk duduk di bagian tengah, bukan karena saya tidak tampan, tapi saya memang nyaman duduk di tengah.

Menurut saya, bagian tengah adalah tempat yang netral, tidak terlalu dekat dengan papan tulis sehingga jarak pandang menjadi lebih lebar, tidak juga terlalu jauh dari dosen sehingga suaranya masih bisa didengarkan dengan jelas. Lalu kenapa saya duduk paling belakang, bukan di bagian tengah? Itu karena saya tidak kebagian tempat duduk. Kenapa saya tidak kebagian tempat duduk? Kawan, Kau terlalu banyak tanya.

Hari itu perkuliahan diisi dengan games, games itu bahasa Inggris, Kawan. Bahasa internasional. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih “permainan”. Lalu kenapa kami bermain di tengah-tengah perkuliahan? Bukankah kita tidak boleh bermain-main ketika kuliah? Itulah hebatnya sistem perkuliahan saat ini, Kawan. Metodenya tidak itu-itu saja. Kali ini, kami boleh bahkan harus bermain. Bukankah itu menyenangkan?

Permainan apakah gerangan? Apakah sang dosen akan menghitung satu sampai dengan seratus lalu kami semua sebagai mahasiswa harus mencari tempat sembunyi agar tidak ketahuan? Tidak. Permainan petak umpet terlalu kekanakan dan tidak berhubungan dengan materi perkuliahan kali ini.

Permainannya seperti ini, ada Sembilan buah titik yang disusun menjadi tiga baris, setiap baris ada tiga titik, membuatnya terlihat seperti buah dadu yang bermata Sembilan. Peraturannya adalah, dengan menarik empat buah garis tanpa terputus, garis tersebut harus menyentuh semua titik. Sesederhana dan serumit itu.

Kami langsung mencari solusi, dengan metode masing-masing tentu saja, saya sendiri memulai dengan menarik satu garis dari sudut kiri ke sudut kanan, lalu ditarik ke sudut kanan bawah, lalu ke sudut kiri bawah, naik ke atas satu titik, dan STOP. Itu sudah empat garis dan masih ada satu titik yang belum tersentuh garis, percobaan pertama gagal. Saya mencoba cara lain.

Percobaan kedua hingga percobaan kesekian masih gagal, iya tapi saya belum berhenti. Sementara kawan-kawan yang lain satu persatu sudah selesai mengerjakannya. Saya semakin penasaran, saya mencoba lagi. Gagal. Coba lagi. Masih gagal. Hingga entah percobaan ke berapa, akhirnya saya selesai. Iya, Kawan. Saya selesai. Saya gameover, saya stucked, saya menyerah.

Saya tahu pertanyaan yang hendak kau ajukan, kenapa kawan-kawan saya berhasil dan saya tidak? Itu karena saya terlalu fokus dengan Sembilan titik dan tidak mencari jalan lain. Saya tidak menarik garis yang cukup panjang ke luar dari Sembilan titik tersebut, kalau sudah begitu, tinggal tarik lagi garis-garis sedemikian bentuk hingga semua titiknya tersentuh garis. Sesederhana itu, kalau tidak percaya, praktekkan saja sendiri.

Sekarang, apa itu kreatif, Kawan? Saya tidak akan mendefinisikan kreatif itu secara jelas dan tepat, karena memang saya bukan ahli dan memang bukan siapa-siapa, tapi itu juga sama sekali tidak berarti saya tidak boleh membahas kreatif itu apa. Karena kita semua, Kawan. Boleh memiliki definisi kreatif kita masing-masing. Boleh saja Kau mendefiniskan “kreatif sebagai berpikir out of the box” atau “kreatif adalah ketika kita menulis atau berkarya, karya kita mendapat apresiasi yang baik”. Sah-sah saja kita mendefinisikan seperti itu, tidak ada yang melarang dan memang tidak melanggar hukum.

Kalau saya memaknai kreatif sebagai “Into the box”. Iya, bukan “Out of the box”. Hei, tunggu! Bukankah itu justru tidak kreatif?
Itu adalah pemaknaan saya tentang “kreatif”. “Into the box” yang berarti “di dalam kotak”. Kenapa saya sampai pada pemaknaan seperti itu? Kreatif adalah memanfaatkan apa yang kita punya, apa pun itu, potensi atau peralatan apapun yang kita miliki untuk menghasilkan karya, karena itulah “box” kita. Sekarang terserah kita bagaimana memanfaatkan “box” itu. Dua orang penulis, satunya menggunakan perangkat komputer, dan yang satu lagi tidak memiliki komputer. Tergantung penggunaannya, akan sama saja ketika computernya ternyata sama sekali tidak dipergunakan untuk menulis, dan pulpen pun akan menghasilkan tulisan yang luar biasa jika dipergunakan. Manfaatkan segala isi dari “box” itu. Maximize potentions.

Paling tidak itulah definisi saya tentang kreatif, kalau Kau sendiri, Kawan. Apa definisimu tentang kreatif?
Perkuliahan hari itu berlanjut dengan diskusi. Atmosfer ilmu pengetahuan seolah-olah menjelma menjadi gradasi ungu dan memenuhi kampus merah kami, membuat kami merasa duduk di atas altar ilmu pengetahuan, merasa cerdas, pintar, jenius, kreatif. Luar biasa pendidikan itu, Kawan.

4 comments

  1. Luar biasa...
    saya tersihir oleh rangkai-rangkai katamu kawan..

    [Btw, menurut ane kreatif itu..
    BARU.]

    ReplyDelete
  2. waaaaahh,,,seru ya kl kuliah model kek gtuu,,jd ga bosan..:D

    ReplyDelete
  3. Saya berkomentar... Semoga saya diberi rejeki yg byk dan tentu saja, enteng jodoh...

    ReplyDelete
  4. Wah, makasih komentarnya abang-abang dan nona... nona cuma satu kan? hehe. yang komentar didoakan enteng rezeki dan gampang jodoh. aaminnn ~

    @Bang Radi: thanks, gan. silahkan berkreasi sesuai definisi masing-masing.

    @Iraz: hehe. iya seru dong. Iraz kuliah di mana memang?

    @daeng: iya, daeng. didoakan. hehe. ayo semuanya aminkan!

    ReplyDelete