10:10:10 Happy Birthday to Muhammad Chaerul

"Kita tak tahu kapan masa muda itu dimulai, kita hanya sadar ketika kita mengingat masa lalu", entah dari mana sahabat saya, Chaerul Muhammad a.k.a Utun menemukan kata ini, mungkin kalimat ini ia peroleh setelah bermeditasi di atas pohon mangga yang tumbuh subur di depan rumahnya, atau sehabis mengobrol dengan ikan tokek peliharaannya (alasan kedua lebih masuk akal). Yang jelas bagi saya, kalimat, "Kita tak tahu kapan masa muda itu dimulai, kita hanya sadar ketika kita mengingat masa lalu" adalah kalimat yang keren.

Saya dan Utun menyadari hal ini beberapa waktu lalu, waktu itu kami bertemu di depan fakultas Ekonomi Unhas. Kulihat dia termenung sendiri sambil melirik setiap laki-laki yang kebetulan sedang lari-lari di sore hari, akhirnya dia aku hampiri sebelum memutuskan untuk bunuh diri karena patah hati.

Waktu itu Utun baru saja memutuskan hubungan pribadi dengan seorang perempuan yang sudah berjalan selama lebih dari dua tahun jika saya tidak salah ingat. Waktu saya tanya alasannya, dia menunduk lalu menjawab mantap, "Ada banyak hal yang berbeda dari kami, kami beda sikap, dan yang paling parah: Kami beda jenis kelamin." Mendengar kalimat terakhir, saya menjauh. Canda homo-homo-an yang sudah dimulai sejak tahun-tahun silam.
Iya, sayang juga rasanya ketika hubungan pribadi yang sudah berjalan sekian tahun harus berakhir. Tapi inilah hidup, Kawan. Kita akan tahu seiring berjalannya waktu (meminjam tagline andalan kawan kami juga: Abid)

Kami mengobrol ngalur ngidul, waktu itu topiknya tentang menjalin hubungan pribadi dengan seorang perempuan. Kami sampai pada satu kesepakatan: Untuk saat ini ada satu fokus lain selain cinta : Cita-cita. Kami punya cita-cita yang tidak akan dibiarkan terkikis habis karena cinta yang entah apa namanya.
Selepasnya, kami bernostalgila tentang masa putih abu-abu kami dulu, meski sering bertemu, topik ini tidak pernah basi. Kami mengingat masa lalu, tanpa pernah sadar kapan masa muda itu dimulai.

Kalau belum saya ceritakan, Utun ini adalah teman satu sekolah saya dulu di SMUNEL: SMA Negeri 5 Makassar. Kami dipertemukan pada sebuah kelas di lantai dua, sebelah ujung, di sebelah kantin Sejahtera. Ah, kantin sejahtera itu, lombok ubi gorengnya enak sekali (loh?!). Back to topic, saya mengenal Utun di kelas 2 SMA. Kami duduk hampir berdekatan, kami sadar jika kami duduk terlalu dekat, mungkin frekuensi otak yang kami miliki akan membentuk gelombang dahsyat yang bisa menyebabkan naiknya permukaan air di lautan yang bisa mempercepat terjadinya pemanasan global. Ah, omongan saya malam ini abdsurd sekali.

Jangan salahkan jika omongan saya absurd, di kelas kami dulu: 2 IPS I, omongan yang normal adalah absurd. Omongan yang absurd itu adalah normal. Iya, kelas kami diisi oleh makhluk yang demikian indah pemikirannya, kalau bahasa familiarnya: Bodoh.

Oke, mari kita fokus pada Chaerul Muhammad yang baru saja berulang tahun yang ke-20.
Kami mulai berkenalan sangat baik pada saat menunaikan tugas bahasa Indonesia pada April 2007, sebuah tugas yang sangat jarang diberikan untuk anak SMA: Bikin Film Indie. Saya dan Utun sekelompok. Saya kebagian tugas memerankan Adi, dan Utun kebagian Tugas memerankan Joko, merangkap Kameraman, merangkap figuran, sekaligus tukang ojek.

Oke, daripada postingan ini semakin absurd, lebih baik saya ceritakan saja lewat gambar. Let's check this out!



Nah, tanggal 10 Oktober 2010 kemarin si Utun ulang tahun, saya yang diajak Tharie dan Ikha, teman sekelas kami juga di SMUNEL dulu berencana membuat survive (surprise kali'!). Nah, ini dia foto-fotonya.





Iya, setiap tahun, bagaimana pun kita mengingat atau merayakannya, setiap tahun bermula dari usia belasan hingga kini, puluhan. 20 tahun. Sekarang saatnya melihat dunia dengan lebih serius, kita sudah terlalu tua untuk bermain-main selayak kita sewaktu SMA dulu. Sekarang saatnya melihat dunia secara hitam atau putih, bukan lagi secara abu-abu seperti celana kita di sekolah menengah dulu.
Selamat ulang tahun, Muhammad Chaerul a.k.a Yuyun a.k.a Utun. Mari buat momen yang bisa kita ceritakan di masa tua kita nanti. Sekali lagi.

No comments