Alvidha, Gilanya Jangan Lama-Lama!

Kalau ada yang bilang setan dan iblis itu punya kekuatan yang dahsyat, saya mungkin percaya. Tapi kalau ada yang bilang bahwa ada kekuatan setan yang begitu kuat yang bisa merubah Alvidha Septianingrum menjadi perempuan yang feminim, butuh waktu 230 tahun bagi saya untuk belajar mempercayainya.

Okeh, kalau ada yang bilang saya berlebihan, biarkan foto-foto berikut yang menjadi bukti tidak terbantahkan.



Namun entah virus apa yang menggerogoti otaknya, kemarin pagi saat kuliah Dasar-dasar Teori Komunikasi, Alvidha Septianingrum datang dengan pakaian seperti ini.



Serius, mungkin sakit mata yang dideritanya pada hari itu telah menjalar hingga otak kirinya hingga ia tidak bisa lagi berpikir secara normal. Bahkan di sela-sela pemotretan (yang dilakukan di koridor fakultas) dia bahkan sempat bergaya-gaya ala Diana Rikasari





Untuk Alvidha, semoga lekas sembuh dan kita bisa bermain bersama lagi

10:10:10 Happy Birthday to Muhammad Chaerul

"Kita tak tahu kapan masa muda itu dimulai, kita hanya sadar ketika kita mengingat masa lalu", entah dari mana sahabat saya, Chaerul Muhammad a.k.a Utun menemukan kata ini, mungkin kalimat ini ia peroleh setelah bermeditasi di atas pohon mangga yang tumbuh subur di depan rumahnya, atau sehabis mengobrol dengan ikan tokek peliharaannya (alasan kedua lebih masuk akal). Yang jelas bagi saya, kalimat, "Kita tak tahu kapan masa muda itu dimulai, kita hanya sadar ketika kita mengingat masa lalu" adalah kalimat yang keren.

Saya dan Utun menyadari hal ini beberapa waktu lalu, waktu itu kami bertemu di depan fakultas Ekonomi Unhas. Kulihat dia termenung sendiri sambil melirik setiap laki-laki yang kebetulan sedang lari-lari di sore hari, akhirnya dia aku hampiri sebelum memutuskan untuk bunuh diri karena patah hati.

Waktu itu Utun baru saja memutuskan hubungan pribadi dengan seorang perempuan yang sudah berjalan selama lebih dari dua tahun jika saya tidak salah ingat. Waktu saya tanya alasannya, dia menunduk lalu menjawab mantap, "Ada banyak hal yang berbeda dari kami, kami beda sikap, dan yang paling parah: Kami beda jenis kelamin." Mendengar kalimat terakhir, saya menjauh. Canda homo-homo-an yang sudah dimulai sejak tahun-tahun silam.
Iya, sayang juga rasanya ketika hubungan pribadi yang sudah berjalan sekian tahun harus berakhir. Tapi inilah hidup, Kawan. Kita akan tahu seiring berjalannya waktu (meminjam tagline andalan kawan kami juga: Abid)

Kami mengobrol ngalur ngidul, waktu itu topiknya tentang menjalin hubungan pribadi dengan seorang perempuan. Kami sampai pada satu kesepakatan: Untuk saat ini ada satu fokus lain selain cinta : Cita-cita. Kami punya cita-cita yang tidak akan dibiarkan terkikis habis karena cinta yang entah apa namanya.
Selepasnya, kami bernostalgila tentang masa putih abu-abu kami dulu, meski sering bertemu, topik ini tidak pernah basi. Kami mengingat masa lalu, tanpa pernah sadar kapan masa muda itu dimulai.

Kalau belum saya ceritakan, Utun ini adalah teman satu sekolah saya dulu di SMUNEL: SMA Negeri 5 Makassar. Kami dipertemukan pada sebuah kelas di lantai dua, sebelah ujung, di sebelah kantin Sejahtera. Ah, kantin sejahtera itu, lombok ubi gorengnya enak sekali (loh?!). Back to topic, saya mengenal Utun di kelas 2 SMA. Kami duduk hampir berdekatan, kami sadar jika kami duduk terlalu dekat, mungkin frekuensi otak yang kami miliki akan membentuk gelombang dahsyat yang bisa menyebabkan naiknya permukaan air di lautan yang bisa mempercepat terjadinya pemanasan global. Ah, omongan saya malam ini abdsurd sekali.

Jangan salahkan jika omongan saya absurd, di kelas kami dulu: 2 IPS I, omongan yang normal adalah absurd. Omongan yang absurd itu adalah normal. Iya, kelas kami diisi oleh makhluk yang demikian indah pemikirannya, kalau bahasa familiarnya: Bodoh.

Oke, mari kita fokus pada Chaerul Muhammad yang baru saja berulang tahun yang ke-20.
Kami mulai berkenalan sangat baik pada saat menunaikan tugas bahasa Indonesia pada April 2007, sebuah tugas yang sangat jarang diberikan untuk anak SMA: Bikin Film Indie. Saya dan Utun sekelompok. Saya kebagian tugas memerankan Adi, dan Utun kebagian Tugas memerankan Joko, merangkap Kameraman, merangkap figuran, sekaligus tukang ojek.

Oke, daripada postingan ini semakin absurd, lebih baik saya ceritakan saja lewat gambar. Let's check this out!



Nah, tanggal 10 Oktober 2010 kemarin si Utun ulang tahun, saya yang diajak Tharie dan Ikha, teman sekelas kami juga di SMUNEL dulu berencana membuat survive (surprise kali'!). Nah, ini dia foto-fotonya.





Iya, setiap tahun, bagaimana pun kita mengingat atau merayakannya, setiap tahun bermula dari usia belasan hingga kini, puluhan. 20 tahun. Sekarang saatnya melihat dunia dengan lebih serius, kita sudah terlalu tua untuk bermain-main selayak kita sewaktu SMA dulu. Sekarang saatnya melihat dunia secara hitam atau putih, bukan lagi secara abu-abu seperti celana kita di sekolah menengah dulu.
Selamat ulang tahun, Muhammad Chaerul a.k.a Yuyun a.k.a Utun. Mari buat momen yang bisa kita ceritakan di masa tua kita nanti. Sekali lagi.

Selamat Ulang Tahun PMR Wismu 05 - 205 Makassar!


"Pagi petang siang malam, kemanusiaan berseru, "Tolonglah sesama mu dengan berpegangan pada prinsip-prinsip Palang Merah"

PMR-nya Wismu Lima tempat kita 'tuk berlatih,
Sgala keterampilan kemanusiaan.
PMR-nya Wismu Lima tempat kita 'tuk berlatih
Sgala keterampilan kemanusiaan"

Selamat ulang tahun, Palang Merah Remaja Wismu 05 - 205 Makassar ke 26. Terimakasih untuk tahun-tahun yang menyenangkan dan penuh pelajaran-pelajaran berharga yang akan dibawa oleh kami sampai kapanpun, untuk kawan-kawan yang luar biasa, untuk senior-senior yang luar biasa, untuk prestasi yang luar bisa. Terimakasih dan Selamat Ulang Tahun, PMR Wismu 05 - 205 Makassar. Saya bangga menjadi bagian darimu.

The Most Annoying Dialog On Facebook Chat

Teman: Halo
Andis: Hey!
Teman: Lagi di mana nih?
Andis: Warkop
Teman: Oooooo

Teman: Tyar!
Andis: Agang!
Teman: Di mana ko?
Andis: Warnet
Teman: Ough...

Teman: Andis
Andis: Hehe, halo
Teman: Nongkrong di mana nih?
Andis: Numpang online di rumah teman. Hehe
Teman: Ooochhh

Tapi serius, Kawan-kawan. "Ooooohhhh, Oughhhhh, Ooocchhh, dan oh oh lainnya" adalah dialog yang paling menjengkelkan susah direspon.