Takut, Saya Takut

Sudah setahun lebih saya menjalani kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Unhas. Hampir semuanya menyenangkan (hampir semua, kecuali WC-nya yang masih jauh dari standar kebersihan nasional, apalagi internasional). Percayalah, kebelet di kampus ini bukanlah hal yang bagus untuk dirasakan.

Back to topic, Iya saya takut. Saya menghadapai mata kuliah yang telah menjadi musuh bebuyutan saya sejak kelas 1 SMP: Matematika. Seperti kebanyakan orang-orang jurusan sosial lainnya, saya benci matematika. Namun sebesar apapun kebencian itu, entah kenapa Matematika masih saja betah terus memburu saya sampai kuliah di jurusan yang nantinya saya akan memilih program study Public Relation atau jika memungkinkan Komunikasi Bisnis ini. Matematika, I Hate You More.

Nama mata kuliahnya Pengantar Statistik Sosial, di dalamnya kami berhadapan dengan data, diagram, dan embel-embelnya. Saya suka grafik dan diagram, tapi rumus? Apalagi rumus matematika? Mikir-mikir dulu.

How I Tell I Love You

Entah siapa yang memulai ritual memberi bunga mawar kepada orang yang dicintai. Di film-film romantik, sebut saja "Kuntilanak Berkuda" dan "Genderuwo Lepas" (judul film-nya ngasal abis) diceritakan bahwa kencan tanpa bunga itu seperti makan sayur tapi tidak pakai sendok. Ndak nikmat abis.

Ada yang bilang cinta itu adalah bahasa universal yang bisa dimengerti di seluruh dunia. Kalau kita hubung-hubungkan antara cinta-sebagai-bahasa-universal dengan ritual-bunga-mawar-cokelat ini, mungkin pernyataan ini memang ada benarnya. In case, Kalau ada laki-laki (atau perempuan) yang memberikan bunga mawar merah nan harum padamu, walaupun dia nggak ngomong (entah karena sok romantik atau memang gagu dari sononya), kita akan mengerti dengan sendirinya kalau dia sedang jatuh cinta. Kepada mu. Sweet abis.

Tapi bunga mawar ndak langsung menjadi satu-satunya "sesuatu" yang bisa digunakan untuk menyatakan cinta. Iya, ini bukan tentang sesuatunya, tapi maksud dari sesuatu itu. Yep, sesuatu yang mewakili "cinta" (lalu bunga bermekaran, angin berhembus sepoi-sepoi, kecoa dan katak di kamar mandi pun bersorak sorai. Pagi ini, Tyar sedang romantik). Jarang abis.

Saya selalu percaya bahwa setiap orang -lelaki-atau-perempuan- boleh memiliki caranya sendiri dalam menyatakan cinta.
Berikut ini adalah contoh pernyataan cinta dari seorang kaya kepada isterinya (yang juga kaya tentu saja)

"Selamat ulang tahun sayang, kupersembahkan Lamborghini Murcielago ini untukmu, aku ingin selalu bersamamu. Aku senang di usiamu yang semakin tua ini. Kamu masih ada di sini, di sampingku."

Lalu mereka berdua berkendara bersama keliling kota dengan mobil baru. Mobil itu adalah hadiah ulang tahun sekaligus cinta. Romantik

Dan berikut adalah pernyataan cinta dari seorang bersahaja kepada suaminya.

"Abang, ini dinda bikinkan kopi susu sama pisang goreng. Abang pasti capek kan habis kerja seharian?"

Lalu di ruang tamu, si dinda memandangi si abang yang sedang makan pisang goreng dan minum kopi susu. Kopi susu dan pisang goreng itu adalah hadiah untuk kerja keras suami, sekaligus cinta. Romantik abis

Iya, semua orang punya cara sendiri dalam menyatakan cintanya pada orang lain. Beberapa orang menyatakan cintanya dengan menggunakan nama pasangan sebagai ID di Facebook, seperti "InDysLaLuwSayaNgAndi". Norak tapi romantik abis, setidaknya bagi pasangannya. Beberapa orang lain mungkin menyatakannya lewat lukisan, patung ukiran, buku antologi puisi, atau sepotong tulisan pendek lewat sms. Yang terakhir adalah favorit saya.

Iya, dulu saya sangat suka mengirimkan tulisan pendek dan sangat suka jika tulisannya juga dibalas pakai tulisan (iyalah, masa' pakai cendol atau bata?! Kayak di KasKus aja). Saya suka mengirim tulisan pendek pada siapa saja, kecuali laki-laki. Saya tidak ingin di-cap sebagai laki-laki yang mengalami disorientasi seksual.
Bagi saya, menyatakan cinta lewat tulisan pendek adalah cara paling mudah dan murah (beginilah jika orang yang ekonomis abis jatuh cinta). Belakangan hobi itu saya hentikan. Semalam, saya melakukannya lagi untuk Nurani Ardila, seorang perempuan yang telah membuat saya jatuh hati.

To: Nurani Ardila
Hujan itu romantik, hujan meninggalkan tempatnya yang tinggi lalu turun ke bumi mencari jalan ke laut. Sesekali mereka bersatu, sesekali hujan terlanjur kering sebelum keduanya sempat bertemu. Seperti kita, kita adalah hujan yang laut. Bersatu atau mengering, kita serahkan pada perasaan yang membawa kita

Iya, lewat tulisan itu saya ingin membahasakan bahwa kita berdua itu kayak hujan dan laut. Bersatu atau tidak, tergantung pada perasaan yang mengikat kita masing-masing. Sebuah tulisan yang sebenarnya butuh peyakinan.
Layaknya orang-orang lain yang sedang jatuh cinta, saya menunggu balasannya yang mungkin berbunyi, "Iya, kita itu kayak hujan dan laut. Kalaupun hujan itu mengering sebelum mencapai laut, dia akan kembali menjadi awan, lalu mengulang siklusnya dari awan lalu turun ke bumi lagi kembali mencari jalan ke laut. Begitu seterusnya, sampai mereka bertemu". Sebuah momen yang seharusnya perfect abis.

Di tengah kesesatan mencari jalan seorang kenalan untuk ta'ziah, akhirnya penasaran saya berakhir. 1 pesan diterima.

From: Nurani Ardila

Sudah satu jam saya pikir dan tidak tahu mau membalas apa pesan mu yang tadi. Betulan saya tidak mengerti.
Saya lagi mulas soalnya.
Makasih

Akhirnya saya tersenyum dan membelokkan ke topik yang lain. Mungkin bagi Ardila, menyatakan cinta lewat tulisan pendek bukan caranya.

Ikutan Sundul #jamanSD Lagi rame di Twitter.



Kamu mau tahu zaman SD-nya aku yang ganteng ini? (HOEKS) Becanda ding. Ini dia di bawah, mari di-klik:




Quick Post: Baru Sekali Ini Saya Dipuji Langsung

Hello, World!
Akhirnya sempat online lagi di Waria (Baca: Warkop Griya). Serius, Waria kayak mi markas yang hampir setiap malam dipake buat ngumpul. Bayangkan, dengan modal IDR 5.000 (baca: LIMA RIBU RUPIAH) kita sudah dapat segelas minuman bonus free akses WI-FI sepuasnya. Inilah yang menjadi kelebihannya. Nggak heran kalau anak-anak sering ngumpul di sini setiap malam sampai PAGI (apalagi kalau hari libur)

Kemarin waktu lagi nunggu Kak Ayu bareng Fithrah di depan Zogo (Kau tahu Zogo? Kalau tidak tahu, Kamu KAMPUNGAN!). Ituloh toko pakaian yang murah meriah saingannya Top Mode. Ada ngaseng mi di situ pakaian yang kau cari mulai dari jaket sampai dalaman. Tapi jangan harap di sana ada yang jual rompi anti peluru (benar-benar out of topic)

Nah, kemarin waktu nunggu Kak Ayu sambil duduk di atas motor ada om-om tidak dikenal yang juga nongkrong di situ. (waktu itu saya pake topi jadi rambut agak gondrong saya tertutup topi dengan harapan tidak jadi berantakan kalau diterpa angin). Waktu mau pulang, si om tanpa baca Basmalah langsung bertanya serius, "Kamu CEWEK yah?!"
BUMI GONJANG GANJING! LANGIT RUNTUH! SEBENTAR LAGI LEBARAN (ngaco ah)
Tapi serius, ternyata om itu memang bertanya kepada saya. "Bukan, Pak! Saya laki-laki" Saya coba menanggapi. Si om tersenyum lalu berkata lagi, "Cantik tawwa" (translated: cantik kok!)

Saya langsung beranjak tanpa lupa berkata, "Terimakasih, Pak"

Malam yang aneh.