Agus: Pacar Gue Lebih Sayang sama Twitter

Masih di suatu negeri bernama Indonesia, Agus yang baru saja selesai shalat witir berjamaah di mesjid Baitul Maqdis duduk bersila seraya berdoa khusyuk. Aku yang sudah selesai berdoa meminta agar ketampanan yang kupunyai ini terus dipertahankan lalu duduk di dekatnya sembari memperhatikan wajahnya yang serius berdoa. Tangannya menengadah, matanya tertutup dan bibirnya komat-kamit memperdengarkan doa yang sedang dipanjatkannya meski samar. Saking khusyuknya, mungkin dia tidak sadar. Kudekatkan telingaku mencoba menebak apa isi doa sahabat yang telah enam tahun bersama ku ini.

"Ya Allah, Tuhan semesta alam pemilik cinta dari semua makhlukNya. Maafkan hambaMu yang belakangan ini jauh dariMu. Ya Allah pemilik segala cinta dari semua makhluk yang tak hentinya bedzikir dan memuji, malam ini aku datang memohon petunjukMu. Aku bingung. Lastri, Kau ingat Lastri?! Tentu saja Kau ingat. Biar kuperjelas, Lastri binti Sudirman. Ehm, pacarku. Aku berniat memutuskan hubungan ku dengannya."

....GUBRAK....

Aku tertawa cekikikan mendengar doa yang dipanjatkannya dengan sangat khusyuk, saat itu juga dia menghentikan doanya lalu memandang ke arahku yang belum bisa berhenti tertawa.
"Kau mendengarnya yah, Tyar?!" Dan nada bicaranya masih belum berubah, lembut seperti saat ia memanjatkan doanya tadi. Aku tertawa lagi
"Maaf, Gus. Aku tidak sengaja mendengar dialogmu dengan Tuhan tadi"
"Nggak sengaja kok betah!" Tanggapnya yang membuatku tertawa lagi.

"Apa maksud doamu tadi, Gus?!" Aku bertanya padanya serupa seorang ustad yang sedang berbicara pada muridnya. "Ceritakan padaku, InsyaAllah aku akan membantu mu". Agus kemudian pelan-pelan menceritakan keluh kesahnya tentang Lastri, ehm pacarnya. "Lastri, Tyar. Setiap kali aku menyebut namanya aku merasakan sakit dalam dada. Seakan angin berhenti berhembus dan sawah tidak lagi menumbuhkan padi. Beda dengan dulu yang kalau aku menyebut namanya, seakan ada seribu tangkai bunga yang menghanturkan aromanya pada kami berdua"
Gawat, Agus mulai berpuisi. Sepertinya curhatnya kali ini akan lebih lama dari biasanya. Aku yang sadar gejala itu langsung memotong bicaranya, "Memangnya ada masalah apa?! Setahuku hubungan kalian berdua setahun ini mulus-mulus saja." Tanyaku
Agus mendehem sambil memperbaiki kerah kemejanya lalu melanjutkan ceritanya.

"Lastri" Dada Agus kembang kempis pelan. "Aku berniat mengakhiri hubungan ku dengan dia besok. Aku sudah mantap. Sudah sebulan sakit ini kutahan, Tyar! Sebulan, bayangkan! Sebulan ini dia tertutup padaku, jangankan menelepon, sms pun hampir tidak pernah lagi. Beda dengan dulu. Kali ini dia tertutup padaku. Sekarang jangankan menanyakan kabarku lewat sms, kalau bukan aku yang mengirim sms duluan, tidak mungkin kami akan ber-sms-an seperti biasanya. Aku merasa tidak berguna dan tidak dipedulikan"
"Bukannya itu bagus?! Dulu kau jengkel karena Lastri selalu mengirimkan sms berisi keluhannya. Sekarang kau tidak usah lagi mendengar ocehannya benar?!" Aku mencoba melihat sisi positif permasalahannya.

"Iya, Kau benar, Tyar! Tapi coba tebak! Sebulan ini aku merasa jauh sekali darinya". Saat itu juga Aku mulai mengerti, "Tapi sebenarnya bukan karena itu kau marah kan, Gus?! Kenapa? Apa masalah sebenarnya?!"
Agus menarik nafas lagi lalu menjawab pelan, "Lastri, perempuan paling kusayngi setelah ibuku lebih memilih bercerita dengan Twitter daripada dengan ku. Followernya 546, tweetnya 24 sehari, semua masalahnya diumbar lewat twitter, yang paling membuatku marah, kalau ada masalah di antara kami berdua, dia malah memilih menuturkannya di twitter daripada menuturkannya padaku"
 

Agus, sahabatku memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Lastri, ehm pacarnya lantaran cemburu pada Twitter, alasan yang bodoh. Tapi aku mengerti betul bagaimana perasaannya.

4 comments

  1. hha..
    pakakkala'...
    addeh, 24 tweets sehari, maniac..
    bsa keriting tante lastri.y itu...hha

    ReplyDelete
  2. hahaha.
    bukan mi lagi keriting kayaknya.
    langsung lurus.

    ReplyDelete