Finally, Selamat Tinggal Usia Belasan

Sering saya mikir, bagaimana seharusnya menanggapi hari lahir, milad, ulangtahun, dan kawan-kawannya. Apakah dengan mentraktir teman dekat, jalan-jalan ke pantai bersama orang yang disayangi, atau diam di rumah dan mengucap syukur pada Tuhan atas umur dan kesehatan?

Yup, hari Jum'at kemarin saya secara (tidak) resmi genap berusia dua puluh tahun. Meskipun menurut beberapa orang tubuh yang (lumayan) tidak besar ini berkata lain.
Oke, sudah dua dekade saya hidup. Seharusnya mulai sekarang saya sudah punya alasan untuk menjadi semakin dewasa, semakin baik, semakin cerdas, dan semakin jelas (jelas dalam bertindak, tidak absurd dan konsisten).

Pertama-tama, selamat tinggal usia belasan, dan selamat datang usia puluhan.
Kedua-dua, terima kasih untuk keluarga, Ayah, Ibu, Ardy Cada', Nisa Oceng, dan Alfian Atong. Sudah jadi kebiasaan, tiap saya dan adik-adik berulangtahun, kami sekeluarga akan berkumpul setelah maghrib di meja makan, mendoakan ditemani masakan nan nikmat. Entah sejak kapan ini dimulai tapi saya ingin terus seperti ini. Artinya setiap tahun saya mencium dan menjabat tangan ayah ibu yang (juga) semakin tua.
Entahlah, mungkin ini yang terakhir. Saya merasa sudah terlalu tua untuk merayakan ulangtahun. Tapi terakhir ibu bilang, "Ini untuk mengingat hari lahir. Biar sederhana. Selamat ulang tahun".

Ketiga-tiga, terima kasih untuk adik saya, my dear Ikal, Dakocan, Naimah, Tali, Panda Kurus, Superpanda: NUR AWALIAH yang sudah tiga tahun berturut-turut menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, dan isinya selalu membuat saya tersenyum (kecuali yang barusan ini, bikin terharu bo').
(sambil membayangkan Lhya meng-konsep isi sms sambil menunggu jam dua belas malam. selama tiga tahun berturut-turut)
Seharusnya dia sudah dapat gelas cantik atau asbak. Thanks once more, Dear. (tapi ndak tahu kenapa selamat tiga tahun ini juga ndak pernah mengucapkan secara langsung. Padahal selalu ingat).
Terimakasih, Dinda. Kakakmu dulu tak begini, sekarang sudah nambah umur.

Keempat-empat, terimakasih juga untuk Utari Dwi Sartika, teman kelas di SMA yang (juga) setia mengirimkan sms berisi ucapan selamat ulangtahun dua tahun terakhir. Makasih, Agang! Diaminkan doanya!

Kelima-lima, terimakasih juga untuk Nur Rahmah Makmur, soulmate-nya Lhya untuk jadi satu-satunya orang selain keluarga yang mengucapkan selamat ulangtahun secara langsung. Heran, dari mana anak ini tahu hari ulang tahun saya yang aseli. Tapi mengingat dia adalah teman baik dari Lhya, sepertinya saya tidak usah bertanya. Jawabannya gampang ditebak.

Terimakasih untuk Kalian berdelapan, yang peduli walaupun tidak diingatkan oleh Birthday reminder di Facebook dan Koprol. (yup, menurut saya sedikit ucapan yang sungguh-sungguh lebih berarti dari banyak ucapan yang asal kirim saja - alasan tidak menampilkan ulangtahun di FB dan Koprol).

Terimakasih, Tuhan. Untuk umur, untuk kesehatan, untuk keluarga, dan untuk orang-orang yang menyayangi saya.

No comments