Positif Negatifnya Sakit Mata

Read: Postingannya Alvidha soal saya yang lagi sakit mata

Sakit mata itu ndak enak, apalagi kalau dipadu dengan sakit hati. Tapi postingan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sakit hati. Sakit mata sudah cukup buruk.
Rekans pernah sakit mata? Iya, rasanya sangat tidak nyaman. Penglihatan terganggu, kotoran mata (belek) kian banyak, mata memerah membara, dan sekitaran orbita (lingkar mata, hehe. so'so'an pake bahasa latin) membengkak. "Kak Tyar, bengkak mata ta' kayak habis nangis semalaman karena dipustuskan sama pacar", mengutip komentar si Awaliah.



Tapi sakit mata juga ada gunanya, Gan! Apa?
Waktu saya lagi sakit mata, saya diminta tolong jadi PAGAR BAGUS di pernikahan salah seorang dosen. Yep, pastinya saya malu, bagaimana tidak? Sebagian teman angkatan saya yang lelaki sedang pulang kampung, sisanya lagi? Mungkin ditelan zaman. Berarti saya harus menjadi PAGAR BAGUS bersama senior (yang notabenenya saya memiliki hubungan yang tidak terlalu bagus dengan hampir mereka semua)

Seumur hidup, saya memang belum pernah menjadi pagar bagus, apalagi pagar ayu. Selain karena saya laki-laki, saya memang (sedikit) pemalu dan (agak) kurang suka berada di tengah keramaian, serta sangat tidak suka didandani yang macam-macam, olehnya itu melakoni peran sebagai pagar bagus merupakan tantangan besar. Ini adalah satu-satunya momen di mana saya bersyukur sedang sakit mata. Artinya: Saya punya alasan untuk tidak ikutan jadi pagar bagus. Selamat.

Tapi serius, lebih banyak ndak enaknya! Bukan salahnya Titah atau Gina yang selalu menghindar dari saya tempo hari saat ulang tahun Kosmik ke 21 kemarin karena takut ketularan (loh katanya sakit mata? kok malah sempat datang ke acara ulang tahun?
Bagaimana tidak? Perayaan Ulangtahun Kosmik dirangkaikan dengan Launching Perpustakaan Mini Kosmik dan saya sendiri adalah ketua panitianya. Akan kurang bagus kalau di pembukaan Perpustakaan tersebut saya tidak hadir)
Akhirnya saya memberikan laporan kepanitiaan dan mendampingi ketua Korps pada saat pembukaan di depan para warga dan undangan dalam keadaan mata merah perih dan gatel. Mau dong digarukin.

Tapi alhamdulillah, sakit matanya tidak terlalu menyiksa dan tidak berlangsung terlalu lama berkat Cendo Xitrol, Insto, Ampicilin, serta obat-obatan kimia lainnya. Cendo Xitrol memang ampuh, beberapa hari saja sudah langsung mereda, namun begitu saya baca reviewnya di internet, saya segera mengurangi penggunaannya. Karena saya memang menggunakannya tidak atas resep dokter. Katanya bisa berakibat ketergantungan dan lain-lain. Syukurlah saya sudah sembuh.

Tips jika Rekans sedang sakit mata (jangan dipraktekkan karena bukan dari orang yang berhak memberikan tips kesehatan):
  1. Bersihkan mata dengan air bersih! Maksud saya, yang benar-benar bersih. Air keran tidak banyak menolong. Percayalah! Justru akan membuat mata Rekans kian perih karena kandungan kaporitnya. Saya merasakannya. Lebih baik gunakan larutan boorwater jika ada (boorwater: air murni, coba cari di apotik)
  2. Perhatikan barang-barang yang habis Rekans gunakan, apalagi di dalam rumah, apalagi yang bisa berakibat pada menularnya sakit matanya Rekans pada orangs yang Rekans sayangi. Lebih baik langsung cuci piring gelas sendok cangkul dan sekop yang habis Rekans gunakan untuk makan. Jangan lupa amankan handuk, sarung, sapu tangan, dan lain lain. Mencegah lebih baik daripada menularkan. Sepakat?
  3. Kurangi dulu kontak dengan orang lain. Yep, meskipun kata orang-orang sakit mata tidak menular melalui kontak mata (saling melihat, bukan mata yang saling bersentuhan), tidak ada yang bisa menjamin kebersihan barang yang habis Rekans gunakans, siapa tahu ada temannya rekans yang meminjam tanpa sepengetahuan Rekans. Iya kans?
  4. Jangan gunakan obat sembarangan. Baik itu obat tetes mata ataupun obat yang diminum. Baca dahulu dosis yang disarankan dan efek samping yang mungkin ditimbulkan.
  5. Istirahatkan mata. Mata sedang sakit, jangan dipaksakan bekerja terlalu keras. Contoh: Sesekali cobalah makan tanpa menggunakan mata. Dijamin Rekans akan sakit perut karena minum air kobokan.
  6. Last, and the most important: Jangan minum obat tetes mata merek apapun.
Salams!

Anekdot Nemu di Jalan: Pencuri dan Pajamma'

"Woi! Palukka'! (Hey, Pencuri!) Teriak seorang warga dengan logat Makassar yang sangat kental saat memergoki seorang pencuri yang sedang menjalankan aksinya.
"Biar mi!" (Biarin!) Balas sang pencuri dengan tegas. "Dari pada kau! Pajamma'!" (Dari pada kamu! Tukang ngadu!)

Yak, dari anekdot ini saya mengerti kalau ternyata tukang ngadu lebih tidak terpuji dari pencuri. Pelajaran moral yang aneh.

Trip To Sidrap




Sawahnya begitu indah.

Mengalaykan Diri untuk Terakhir Kali

Menyempatkan diri berfoto bersama sebelum Kelik berangkat menuju kehidupan barunya di luar Sulawesi sana.









Selamat Jalan, Kelik Ismi Harjanto.
Semoga berhasil di sana. We'll meet at the place we dream of.

SALAM SAKURA!

Happy Birthday, Rin!


Mula-mula, izinkan saya memohon maaf karena seharusnya postingan ini sudah dipublikasikan sebulan yang lalu. Namun entah mengapa baru dipublikasikan sekarang (bilang saja malas, Tyar! Susah amat!)
Nggak usah panjang-panjang dah intronya, saya pemilik sah blog ini dengan ini mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk adinda Riri Suwahyuni yang ke...
Kalau bukan lima belas, enam belas mungkin. Ndak ku tau ki!


Mungkin akan saya ceritakan sedikit tentang anak perempuan yang lebih sering dipanggil Ririn daripada Ahmad ini (iyalah! ka memang Ririn namanya, Totolo!)
Baru-baru ini Ririn beserta kedua rekannya, Nayah dan Harda mewakili Makassar di ajang Jumpa Bakti Gembira Daerah (lomba kepalangmerahan) tingkat Sulawesi Selatan dan berhasil membawa pulang juara umum untuk kontingen Makassar. Bangga dong!
Saya juga pernah sih ikut Jumbara waktu masih Kacuuping dulu, tapi momennya cuma dapat yang Se-Makassar dan cuma dapat Juara 2 Pertolongan Pertama.
(so, you guys has done more than us!)

--Out of Topic: Utun (samaran, aslinya Chaerul Muhmammad) nelpon--
Utun: "Boi! Di mana ko?"
Tyar: "Di rumah ji"
Utun: "Mau ka' ke sana"
Tyar: "Di mana ko ini kah?!"
Utun: "Balai kesehatan, laboratorium apa kah ine"
Tyar: "Kemae njo?"
Utun: "Anjo dallekang na BTP"
Tyar: "Oh, anjo yang di deka' na mesji ka?"
Utun: "Iyo, di deka' na pabalu pasir ka sdgd cdfdhfdccfyfcas xgxterc ccfcydcf df ka ga nga pa ba ma ta da na (dialog bahasa Makassar fasih ceritanya)"
Tyar: (nggeekk) "Bah, lampa meko rinni!"
Utun: "Bah, tayang ma'!"
--demikian tayangan salam dari desa, wassalam--

Yup, Ririn adalah adik kita di SMAN 5 Makassar, khususnya di Red Cross 05 (bahasa Inggris bo' supaya bisa Go Internasional daripada Bahasa Makassar ka' lagi tena nuissengi arti na!)

Last but not least. Happy Birhtday, Rin.
Sekalian numpang mengiklankan: Ini Blognya Ririn
Iklan number dua: Postingannya Ririn soal Kakaknya yang tampan rupawan ini









Finally, Selamat Tinggal Usia Belasan

Sering saya mikir, bagaimana seharusnya menanggapi hari lahir, milad, ulangtahun, dan kawan-kawannya. Apakah dengan mentraktir teman dekat, jalan-jalan ke pantai bersama orang yang disayangi, atau diam di rumah dan mengucap syukur pada Tuhan atas umur dan kesehatan?

Yup, hari Jum'at kemarin saya secara (tidak) resmi genap berusia dua puluh tahun. Meskipun menurut beberapa orang tubuh yang (lumayan) tidak besar ini berkata lain.
Oke, sudah dua dekade saya hidup. Seharusnya mulai sekarang saya sudah punya alasan untuk menjadi semakin dewasa, semakin baik, semakin cerdas, dan semakin jelas (jelas dalam bertindak, tidak absurd dan konsisten).

Pertama-tama, selamat tinggal usia belasan, dan selamat datang usia puluhan.
Kedua-dua, terima kasih untuk keluarga, Ayah, Ibu, Ardy Cada', Nisa Oceng, dan Alfian Atong. Sudah jadi kebiasaan, tiap saya dan adik-adik berulangtahun, kami sekeluarga akan berkumpul setelah maghrib di meja makan, mendoakan ditemani masakan nan nikmat. Entah sejak kapan ini dimulai tapi saya ingin terus seperti ini. Artinya setiap tahun saya mencium dan menjabat tangan ayah ibu yang (juga) semakin tua.
Entahlah, mungkin ini yang terakhir. Saya merasa sudah terlalu tua untuk merayakan ulangtahun. Tapi terakhir ibu bilang, "Ini untuk mengingat hari lahir. Biar sederhana. Selamat ulang tahun".

Ketiga-tiga, terima kasih untuk adik saya, my dear Ikal, Dakocan, Naimah, Tali, Panda Kurus, Superpanda: NUR AWALIAH yang sudah tiga tahun berturut-turut menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, dan isinya selalu membuat saya tersenyum (kecuali yang barusan ini, bikin terharu bo').
(sambil membayangkan Lhya meng-konsep isi sms sambil menunggu jam dua belas malam. selama tiga tahun berturut-turut)
Seharusnya dia sudah dapat gelas cantik atau asbak. Thanks once more, Dear. (tapi ndak tahu kenapa selamat tiga tahun ini juga ndak pernah mengucapkan secara langsung. Padahal selalu ingat).
Terimakasih, Dinda. Kakakmu dulu tak begini, sekarang sudah nambah umur.

Keempat-empat, terimakasih juga untuk Utari Dwi Sartika, teman kelas di SMA yang (juga) setia mengirimkan sms berisi ucapan selamat ulangtahun dua tahun terakhir. Makasih, Agang! Diaminkan doanya!

Kelima-lima, terimakasih juga untuk Nur Rahmah Makmur, soulmate-nya Lhya untuk jadi satu-satunya orang selain keluarga yang mengucapkan selamat ulangtahun secara langsung. Heran, dari mana anak ini tahu hari ulang tahun saya yang aseli. Tapi mengingat dia adalah teman baik dari Lhya, sepertinya saya tidak usah bertanya. Jawabannya gampang ditebak.

Terimakasih untuk Kalian berdelapan, yang peduli walaupun tidak diingatkan oleh Birthday reminder di Facebook dan Koprol. (yup, menurut saya sedikit ucapan yang sungguh-sungguh lebih berarti dari banyak ucapan yang asal kirim saja - alasan tidak menampilkan ulangtahun di FB dan Koprol).

Terimakasih, Tuhan. Untuk umur, untuk kesehatan, untuk keluarga, dan untuk orang-orang yang menyayangi saya.

Suka Duka Tanpa Facebook

Okeh, selama dua bulan ini saya vakum di facebook. *Kenapa, Tyar?*
Ndak. Ndak kenapa kenapa ji. Hanya ingin membuktikan bahwa pernyataan, "manusia tidak bisa hidup tanpa Facebookan" adalah keliru *apa sih*
Salah satu alasannya adalah menjauhkan diri dari aktivitas pertemanan maya yang sangat dipuja orang Indonesia dan semakin merajalela dan ditanggapi berlebihan *menurut penulis (saya, red)*
Setiap lewat di depan orang yang sedang menghadap laptop di daerah yang ada wi-fi gratis atau dengan sebuah modem di pinggir laptopnya, saya selalu iseng mengajak teman yang ada di sana dengan bertaruh, "SAYA BERANI TARUHAN KALAU ORANG ITU SEDANG BUKA FACEBOOK" dan sampai sekarang hampir selalu benar. Haha

Enaknya adalah, saya punya waktu lebih untuk lebih produktif. Baca blog orang (yang pastinya bukan sekedar status nyampah bin tidak jelas kayak di facebook), melakukan sesuatu yang lebih dengan para teman nyata, i mean real and true friends! Saya bisa melihat wajah mereka ketika mereka tertawa yang di facebook biasanya diwakili oleh, "wkwkwkw" atau emoticon :D atau singkatan LOL 

Tidak enaknya adalah, *jejeng!*

KETINGGALAN INFORMASI

Yup! Saya ketinggalan informasi, teman angkatan saya di Ekonomi ada yang menikah dan saya bahkan tidak tahu. Kalau saya tahu, Setidaknya saya bisa mendatangi walaupun sekedar memberi ucapan selamat!

KETINGGALAN FITUR








Kita Butuh Waktu untuk Saling Mengerti

Terlalu banyak yang kau tak suka dariku. Terlalu banyak juga hal yang tak kusuka darimu.
"Tapi cinta itu sengit, kita tarik menarik", Seperti kata Cholil Mahmud dan isterinya, Irma Hidayana.
Entahlah, belakangan bahkan selama ini saya sering mikir kalau kau itu terlalu langit dan saya terlalu bumi, tapi mungkin kita butuh waktu. Kita butuh waktu untuk saling mengerti.
Kalaupun kau tidak punya waktu, itupun sesuatu yang mungkin harus saya mengerti.

Am I Being That Melancholic These Days?

Dua Pelajaran Moral yang dipetik dari Film Twilight:

Hey! Saya mau bahas cinta lagi. Baru-baru ini saya nonton filmnya Twilight Saga: New Moon. Iya, sangat telat memang. Padahal orang-orang sudah duduk manis menonton seri Twilight yang ketiga: Eclipse. Saya bukan fanatik Twilight, mulanya saya nonton Twilight karena dikiranya bergenre Action, perkelahian antara Vampir melawan Werewolf. Ternyata setelah menonton, titik beratnya justru pada persaingan antara Vampir dengan Werewolf dalam memperebutkan cinta seorang manusia. *so sweet, mau dong diperebutin*

Nah, salah satu adegan yang saya suka adalah ketika si vampir keren, Edward  memutuskan untuk meninggalkan pacarnya yang manusia yang bernama Bella (mungkin lebih bagus kalau namanya Nurwati, lebih Asian). Bisa ditebak kelanjutannya, Bella mengalami sakit hati yang luar biasa keras (cocok mi keras kah kalau sakit hati sekaliya mi?) sampai mimpi buruk yang juga buruk sekaliya mi.

Begitupun Edward, juga mengalami sakit yang tidak berbeda. Nah, akhirnya saya menarik pelajaran moral, "Seorang lelaki tidak boleh meninggalkan seorang perempuan yang dicintai dan mencintainya tanpa disertai alasan yang jelas." Karena akan menyebabkan sakit pada perempuan maupun lelakinya sendiri. Leaving love is hurt, and sometimes it's killing.

Dan dari pelajaran moral tersebut, saya menarik pelajaran moral kedua, "seorang lelaki boleh meninggalkan perempuan yang dicintai dan mencintainya jika disertai dengan alasan yang jelas"
Sekian dan terimakasih.

Mau Ka' Beli Baju Baru

Setelah diingat-ingat, terakhir meluangkan waktu untuk beli baju baru itu waktu baru lulus SMA. Sekarang sudah tahun kedua di kampus.
Pantas lusuh semua mi.
Maunya yang? Murah dan nyaman. Cakar? Ndak. Ndak ku suka ki. Selain susah cari yang bagus, jauh dan jarang memang dapat yang bagus. Namanya juga Cap Karung. Mending ke Makassar Town Square. Sepotong lengan panjang harganya Rp. 20.000,- saja. Pas dengan budget.

Ah, enak mentongi curhat di blog.

Bisakah Kita Menyatu?!

Jurang.
Gunung.
Laut.
Kau terlampau cerewet.
Jurang makin luas.
Gunung makin tinggi.
Laut makin dalam.
Aku makin tak suka.

Sial, harusnya curhat malah jadi puisi.

Kenapa Barang Ini Disebut Es Teler?!

Alert: Gambar di bawah ini hanyalah rekayasa. Diperagakan oleh model yang berpengalaman dan sangat tampan















Name: Es Teler
Brand: Es Teler Tanah Abang
Akreditasi: A
EXTREMELY RECOMMENDED!!!

(Jejeng) Terperangah Di Komputer City

Tadi saya (Tyar. Red. *masa' afgan?!* J-A-Y-U-S) jalan-jalan ke toko Computer City loh! Dan karena terbilang baru dua kali dalam dua puluh tahun belakangan saya ke sana, alhasil saya tidak tahu kita musti parkir di mana. Yup, I'm a kind of kampungan. Akhirnya saya numpang parkir di depan kantor polisi trus cabut ke dalam Toko (saya menyebutnya toko, bukan kota sebagaimana namanya Computer City)

Okeh, (karena I'm a kind of kampungan like i said) saya tidak tahu di mana tempat barang yang saya cari. Oh iya, saya lagi nyari gamepad buat mengisi liburan dengan main game. But sometimes reality is just too far away from your wish. Di dalam saya kaget, ternyata agak ramai. Jalan sedikit saja sudah ditawari bergantian, "Cari apa ki'?!", "Cari apa, Mas?!", "Cari apa, Dek?!" yang membuat saya tidak nyaman. Risih. Bukan, mereka tidak salah. Saya yang salah tidak menyukai. Dengan langkah yang dipercepat saya meninggalkan para penjaga toko yang berusaha ramah tersebut.

Pas nemu barang barang yang saya cari, saya juga tidak jadi beli. Selain karena harganya yang cukup mahal (untuk mahasiswa yang belum perpenghasilan sendiri), juga karena keadaan counter yang cukup ramai yang membuat saya merasa ingin cepat-cepat beranjak dari sana. Yup again, I'm a kind of kampungan and I don't like crowd so much. Sebenarnya di sana tidak terlalu ramai, biasa saja dengan orang-orang berpakaian stylish sambil duduk nongkrong di pinggir counter dan pinggir koridor (atau apalah namanya). Jadi otomatis kalau jalan, saya akan lewat persis di tengah-tengah seperti tamu yang disambut pagar ayu dan pagar bagus. Risih.

Ngomong-ngomong soal keramaian, sebenarnya saya tidak membenci keramaian. Saya bisa saja menikmatinya selama tidak ada orang tidak dikenal yang mengajak saya bicara dan membiarkan saya melakukan apa saja yang saya suka (yang tentu saja tidak mengganggu mereka juga). Just leave me alone and thank you.

Mungkin hanya selama sepuluh menit saya berada di dalam. Setelah itu kabur sambil berkata dalam hati, "I wish i can be a little bit sanguinic. Haha"

Untuk penjaga counter yang berusaha ramah, maaf saya bahkan tidak melihat mata kalian dan membalas senyuman kalian.