Rokok Membuat Saya Ragu Pada Banyak Orang

"Alam ini harus dijaga!"
"Pegunungan kapur di Bantimurung adalah salah satu pegunungan kapur paling cantik di dunia. Satunya lagi di Brazil"
"Produk air mineral menyedot air ratusan kali lebih cepat dari siklus hidrologis air, mereka merusak alam."
"Pernah satu kali kami mengunjungi Bantaeng (salah satu daerah di Sulawesi Selatan), di sana jarang sekali pohon. Hampir keseluruhan adalah sayuran semak yang tidak mampu menahan debit air yang berlebihan dan mencegah longsor"

Saya ingat kata mereka bergantian. Bergantian, berarti ada beberapa orang. Waktu itu menjelang pagi di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Matahari menjelang muncul selagi dingin belum hilang. Sekeliling masih biru. Biru khas subuh. Terus terang, saya kagum mendengar perkataan mereka. Manusia yang masih sempat memikirkan alam. Beberapa yang dikatakan mereka sangat benar. Alam ini harus dijaga. Saya sepakat.

Sesaat harum kabut pagi yang jarang kami temui di jejal kota berganti aroma tembakau terbungkus kertas putih dan filter berbagai warna. Kemudian sadar bahwa kabut perlahan berganti dengan asap rokok. Beberapa dari mereka menghisap dalam rokok yang dijepit rapat antara telunjuk dan jari tengah. Api di ujungnya menari di antara jari-jari. Sedangkan saya masih duduk di sana. Masih memeluk lutut mencoba menjadi hangat.

Entah berapa batang rokok yang terbakar di sana. Sekarang fokus saya bukan lagi pada cerita mereka tentang alam. Tapi pada asap dan api di jari mereka. Dihisap. Digetar-getarkan lalu dibuang abunya lalu dihisap hingga habis, lalu dilempar entah ke mana. Bergabung dengan alam. Saat itu kemudian saya ragu. Filter rokok adalah sampah dan baru saja mereka membuang sampah sembarangan.

Di kampus. Saya bertemu lagi dengan seorang di antara mereka yang dulu menceramahi tentang alam. Masih dengan sebatang rokok yang dinikmatinya. Dihabiskan. Dihempas jatuh ke tanah. Diinjak. Dibiarkan. Dia membuang sampah sembarangan lagi. Mungkin menurutnya koridor kampus bukan bagian dari alam yang harus dilindungi. Saya ragu lagi.

Saya juga ingat ketika suatu kali saya ikut pengkaderan dengan tema praktek kapitalisme di Indonesia. Iya, di negeri ini rasanya susah sekali menyangkal bahwa praktek ekonomi hari ini adalah baik-baik saja. Pematerinya mahasiswa angkatan 2005. Hapal dan lancar beliau membeberkan keburukan praktek kapitalisme yang merusak negeri ini. Memiskinkan. Produk-produk yang membodohi.

Di tengah penjelasan yang baru saja menarik itu, beliau mengambil korek api dan tentu saja rokok seraya bertanya, "Boleh merokok?! Ndak bisa ka' berpikir kalau ndak merokok" (Saya tidak bisa berpikir kalau tidak merokok). Hari itu saya ragu lagi. Karena setahu saya, rokok adalah produk kapitalisme.

No comments