Curhat: Untung Sialnya Hari Ini

Untung Number 1: Pagi-pagi, si ibu membangunkan dengan cara paling ajaib, "Nak, ini ada uang. Ambil mi." Seraya menyimpan dua lembar uang 50 ribuan yang kalau dijumlahkan jumlahnya menjadi 170 ribu (sorry, i'm suck in math). Entah dengan alasan apa.
Yep. Si mama memang sangat jarang memberikan uang sebanyak itu, apalagi tanpa disertai dengan alasan yang jelas.

Untung Number 2: Hari ini anak sekolahan lagi pada terima rapor. Dan di mana ada penerimaan rapor, pasti ada makan-makannya, dan beruntunglah saya punya ibu yang guru SD. Dua kali setahun rumah ini kebanjiran. Satunya kebanjiran air, dan satunya lagi kebanjiran makanan enak. Si ibu pasti dikasih makanan oleh anak-anaknya di sekolah.

Rugi Number 1: Ban motor saya bocor. Kedua kalinya dalam seminggu ini. Rupanya ada sebatang besi kecil yang bersarang di ban luar Shogun RR saya. Lengkaplah lubang di ban dalam saya menjadi tiga. Dan demi keselamatan dan kemaslahatan bersama, ban dalam itu saya ganti. Ongkos: IDR 38.000,- (belum termasuk mendorong motor dari rumah sampai pos tambal ban untung mengisi angin lalu melanjutkan ke pos bengkel yang saya suka. Kenapa? Meskipun agak jauh, tapi di tempat yang saya suka itu yang jaga bengkelnya jujur)

Rugi Number 2: Di rumah lagi banyak makanan, tapi sayangnya lidah saya habis tergigit menyisakan sakit yang menyiksa, gigi geraham yang berlubang berasa asam, dan bibir sering mengering. Ujungnya, seenak apapun makanan yang masuk, tetap saja si lidah dan kawan-kawannya tidak toleran. Sakit, Dodooool.

Bagusnya si ibu berjanji akan membelikan sweater baru. Jadi uang saya yang keluar untuk ganti ban pun akan tergantikan dengan sweater yang baru. *sampai sekarang saya belum pernah beli sweater sendiri loh, semuanya ibu yang belikan*
Sudah dulu untuk malam ini, Gang! Doakan lidah, gigi, dan bibir saya cepat sembuh!

I Would Like to Say Thanks to

Keluarga besar PMR Wismu 05-205 Makassar atas partisipasi pada SECRET 2010 KPMR SMAN 10 Makassar.



Foto yang lain nyusul.

Cinta Itu Butuh Syarat. Mau Taruhan?!

Kalau kubilang CINTA, apa yang pertama kali muncul di kepala mu?
Pacarmu? Gebetanmu? Ayah ibumu? Isterimu? Kucing kecilmu? Tuhanmu?
Berat juga mengangkat tema cinta ke ruang publik kayak gini. Sebelum kita melangkah ke pembahasan, saya punya satu pertanyaan sederhana, "Apa itu cinta?".

---pikirkan dulu jawabanmu sebelum melanjutkan---

Katanya cinta yang murni dan sejati itu adalah cinta yang tidak perlu syarat dan alasan. Benarkah? Kalau kau sendiri, Teman? Sepakat kah kamu dengan pernyataan ini?

Saya mungkin tidak sepakat. Iya, aneh mungkin kedengarannya bagi teman-teman yang sudah luluh lantah sampai antah berantah dalam dunia percintaan dengan pernyataan ini. Tapi jangan di-close dulu! Saya punya alasan yang masuk akal.

Pernyataan: Cinta tidak meminta syarat
Bantahan: Cinta itu butuh syarat.
1. Cinta Antarpribadi - Laki-laki dengan Perempuan
Proses jatuh cinta dimulai dari proses suka. Kenapa kita bisa suka?
Karena dia sesuai dengan kriteria kita. Kalau tidak, kita tidak akan suka.
Kriteria=Syarat. Sepakat sampai sini?

2. (Masih) Cinta Antarpribadi
Kenapa kita menyatakan cinta? Alasannya masih sama karena dia memenuhi syarat kita.
Pernyataan cinta (menyet). Kenapa kita mau menerima cinta (sepakat untuk pacaran/menikah) atau menolak (tidak sepakat untuk pacaran/menikah) sesorang yang mencintai kita?
Alasannya masih sama. Dia memenuhi syarat atau tidak memebuhi syarat kita. Kalau dia memenuhi syarat untuk dijadikan pacar pasti akan kita terima. Tapi kalau hanya memenuhi syarat sebagai seorang teman, kita akan memintanya menjadi seorang teman saja.
Menyatakan, menerima, dan menolak cinta butuh syarat. Masih sepakat sampai di sini?

3. Cinta Sahabat kepada Sahabatnya
"Aku suka kamu yang dulu, yang humoris, sederhana, dan periang. Berbeda dengan sekarang kamu mulai penyendiri. Kudengar kau juga sudah mulai malas masuk sekolah. Lalu bla, bla, bla. Kamu juga bla, bla, bla. Aku ingin kamu menjadi seperti dulu"
Seorang sahabat kecewa pada sahabatnya lantaran sahabatnya menunjukkan perilaku negatif/tidak disukai.
Cinta sahabat butuh syarat. Masih sepakat?

4. Cinta orangtua terhadap anaknya
Ingat kisah Malin Kundang?
Kenapa ibu Malin Kundang mengutuk anaknya sendiri menjadi batu?
(Karena Malin Kundang durhaka, Tyar)
Mungkin kisah ini legenda, namun berlebihankah kalau kubilang besarnya cinta seorang ibu pada anak yang berbakti dan pada anak yang durhaka tentu berbeda kadar?
Cinta orangtua butuh syarat

5. Cinta dosen (guru) pada siswanya
Kalau ada siswa yang berprestasi, cerdas, ataupun sekedar hormat dan menghargai dosen (atau guru), akankah ia dibenci?
Begitupun sebaliknya. Akankah seorang murid yang gemar melanggar ketentuan akan dicintai?
Bandingkan besarnya cinta seorang dosen (atau guru) pada keduanya. Lebih besar ke mana?
Cinta dosen (atau guru) butuh syarat

6. Cinta rakyat kepada pemimpinnya
Kalau disuruh memilih, pemimpin yang jujur ataukah yang korupsi? Pilih yang mana?
Kalau ada dua perintah yang bersamaan, satunya diperintahkan oleh seorang pemimpin yang jujur dan satunya lagi diperintahkan oleh seorang pemimpin lain yang ternyata kurang dipercaya, mana perintah yang akan kita patuhi?
Sudah berapa banyak kebencian yang menjelma menjadi demonstrasi dan mosi tidak percaya lantaran pemimpin yang tidak dicintai dan dipercaya?
Cinta rakyat kepada pemimpin butuh syarat

7. Cinta Tuhan kepada umatnya
Saya bukan orang yang cukup agamais. Tapi satu hal yang saya tahu, Tuhan akan mencintai orang yang juga mencintai dan setia terhadapnya. Kalau kau muslim, tahukah kau dosa yang tidak ingin Tuhan maafkan?
Iya, pengkhianatan lantaran menduakannya. Tuhan pun tidak suka diselingkuhi.
Cinta Tuhan butuh syarat.

Cinta itu butuh syarat, Sepakat?
Benarkah memaksa semua orang mencintai kita tapi kita tidak ingin memenuhi syarat mereka semua?
Haha. Tapi semua orang tetap berhak punya pandangan sendiri.

Si Adik Masuk RS

Adik saya masih di rumah sakit. Iya, tadi jam tiga sore adik saya si Ardy kecelakaan. Motornya yang lagi dikebut nggak sengaja (tidak mungkin disengaja, si Ardy ndak pernah ingin bunuh diri) nabrak mobil yang muncul tiba-tiba.

Jadinya dia musti mendapatkan dua jahitan di dahi kirinya. Cukup parah sih, Gang (Agang dalam bahasa Makassar berarti Teman). Tapi sudah sangat baikan tadi. Sudah bisa ketawa-ketawa sama sms request ayam bakar dan susu ultra. (preman yang satu ini memang terampil dalam hal yang satu ini).

Yah, sayang. Akhirnya saya dan Thya tidak jadi ke Hotel Clarion buat nonton inaugurasinya si Dhede’, Asai, sama Dhiny. Padahal sudah janji mau pergi. Really sorry, Dear Friends, something went wrong.

Doakan adik saya supaya cepat sembuh, Gang!



Rokok Membuat Saya Ragu Pada Banyak Orang

"Alam ini harus dijaga!"
"Pegunungan kapur di Bantimurung adalah salah satu pegunungan kapur paling cantik di dunia. Satunya lagi di Brazil"
"Produk air mineral menyedot air ratusan kali lebih cepat dari siklus hidrologis air, mereka merusak alam."
"Pernah satu kali kami mengunjungi Bantaeng (salah satu daerah di Sulawesi Selatan), di sana jarang sekali pohon. Hampir keseluruhan adalah sayuran semak yang tidak mampu menahan debit air yang berlebihan dan mencegah longsor"

Saya ingat kata mereka bergantian. Bergantian, berarti ada beberapa orang. Waktu itu menjelang pagi di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Matahari menjelang muncul selagi dingin belum hilang. Sekeliling masih biru. Biru khas subuh. Terus terang, saya kagum mendengar perkataan mereka. Manusia yang masih sempat memikirkan alam. Beberapa yang dikatakan mereka sangat benar. Alam ini harus dijaga. Saya sepakat.

Sesaat harum kabut pagi yang jarang kami temui di jejal kota berganti aroma tembakau terbungkus kertas putih dan filter berbagai warna. Kemudian sadar bahwa kabut perlahan berganti dengan asap rokok. Beberapa dari mereka menghisap dalam rokok yang dijepit rapat antara telunjuk dan jari tengah. Api di ujungnya menari di antara jari-jari. Sedangkan saya masih duduk di sana. Masih memeluk lutut mencoba menjadi hangat.

Entah berapa batang rokok yang terbakar di sana. Sekarang fokus saya bukan lagi pada cerita mereka tentang alam. Tapi pada asap dan api di jari mereka. Dihisap. Digetar-getarkan lalu dibuang abunya lalu dihisap hingga habis, lalu dilempar entah ke mana. Bergabung dengan alam. Saat itu kemudian saya ragu. Filter rokok adalah sampah dan baru saja mereka membuang sampah sembarangan.

Di kampus. Saya bertemu lagi dengan seorang di antara mereka yang dulu menceramahi tentang alam. Masih dengan sebatang rokok yang dinikmatinya. Dihabiskan. Dihempas jatuh ke tanah. Diinjak. Dibiarkan. Dia membuang sampah sembarangan lagi. Mungkin menurutnya koridor kampus bukan bagian dari alam yang harus dilindungi. Saya ragu lagi.

Saya juga ingat ketika suatu kali saya ikut pengkaderan dengan tema praktek kapitalisme di Indonesia. Iya, di negeri ini rasanya susah sekali menyangkal bahwa praktek ekonomi hari ini adalah baik-baik saja. Pematerinya mahasiswa angkatan 2005. Hapal dan lancar beliau membeberkan keburukan praktek kapitalisme yang merusak negeri ini. Memiskinkan. Produk-produk yang membodohi.

Di tengah penjelasan yang baru saja menarik itu, beliau mengambil korek api dan tentu saja rokok seraya bertanya, "Boleh merokok?! Ndak bisa ka' berpikir kalau ndak merokok" (Saya tidak bisa berpikir kalau tidak merokok). Hari itu saya ragu lagi. Karena setahu saya, rokok adalah produk kapitalisme.

Ikutan Soal Luna Maya dan Ariel Ah

Eh, udah dengar cerita kasus Luna Maya belum?! *Gosh, Tyar where have you been. Ya iyyalah sudah pernah*
Postingan ini nggak membahas video itu kok. Cukup media lain saja yang membahas, lagipula blog ini memang bukan blog infotainment.
Tadi saya iseng *tapi pake nafsu* googling nyari videonya.
Baru mau buka google, elah yang muncul malah di luar dugaan. Klik spoilernya, Agang!




Akhirnya harus bersabar dulu. *sabar untuk tujuan yang kurang bagus*
Baru setelah koneksinya normal baru saya coba lagi











*Kabuurr*

Si Fulan Membuatku Menanti Seperti Pelangi

Halo, Fans! Haha *tertawa sekeras-kerasnya karena baru saja selesai ujian akhir semester*
Saya lagi di Warung Kopi Mammiri. Berita bagusnya warkop ini lagi sepi jadi koneksinya bagus, berita buruknya warkop ini baru saja menaikkan harga. Teh susu yang biasanya dihargai IDR 6.000,- kini dihargai IDR 7.000,- sebuah pukulan yang telak bagi para mahasiswa generasi masa depan bangsa *berlebihan*

Eh, tadi ada yang minta tolong di-burning-kan. Orangnya sih saya ndak tau. Tapi familiar bukan family liar. Bolehlah. Sekali-sekali membantu orang yang tidak dikenal.
Beliau, sebut saja si Fulan *kayak nama di cerita zaman nabi* sambil menunggu burningannya selesai, sempat mengajak saya mengobrol sebelum beranjak pergi. Dan dari obrolan singkat itulah saya kemudian tahu bahawa si Fulan yang familiar ini adalah senior saya di Jurusan Ilmu Ekonomi. *entah harus senang atau sedih*

Ini gambarnya, Gang!




Lalu si Fulan beranjak pergi. Meninggalkan saya dengan segelas teh susu hangat tapi hati yang dingin. Sebenarnya, saya tidak rela si Fulan pergi secepat itu. Mungkinkah perkenalan kami tadi sudah cukup membuat saya yakin untuk menantinya? Apakah ada satu sudut dalam hati yang masih tidak rela ditinggalnya pergi?! *bukan, saya bukan gay*

Ada sebab lain yang mungkin bisa dijelaskan lewat gambar ini




Ho'oh. FD-nya si Fulan ketinggalan waktu nge-burning tadi. Sekarang entah bagaimana saya akan mengembalikannya




Fulan, kembalilah. Hingga tulisan ini diterbitkan aku masih setia menanti.
Daaatanglah. Kedatanganmu ku tunggu. Tlah lama telah lama ku menunggu.
Jangan, jangan berjoget.