Tragedi di Ujian Praktek Seni Kedubes 2008

Di sekolah saya dulu (saya juga pernah sekolah, Men!). Salah satu rangkaian ujian praktek yang sering membuat geger warga sekitar (okeh, saya berlebihan) adalah Ujian Praktek Seni. Ujian Praktek Seni terbagi dua, satunya seni lukis (gambar) dan satunya lagi seni tari. Nah, yang seni tari inilah yang akan saya ceritakan kali ini. So, Fasten up your seatbelt!


Hari H
Hari yang ditunggu-tunggu. Hari ini, Kami, 12 anak muda tak berakal, akan menghadapi ujian praktek seni terakhir: Menari, atau yang oleh anak-anak Kedubes disebut Ang-nge-Dance. Sudah lebih satu bulan kami mempersiapkan tarian ini. Sebuah tarian yang terinspirasi dari tayangan yang kami tonton di rumah Abid tempo hari, sebuah tarian bernama Tari DoLo-DoLo. Sebuah tarian yang sangat kharismatik. Diiringi lau yang di telinga kami terdengar seperti
"Anak Prawangeeee...
Di Sarang penyamune..."
Karena syair dari radio tape yang tak jelas, kami berimprovisasi. Improvisasi yang juga tidak tak jelas.

H-1
Sibuk mikirin kostum.
Akhirnya kami sepakat menyewa kostum dari sebuah salon yang tak jauh dari sekolah kami, sebuah salon yang katanya dihuni oleh sesosok mahluk yang luar biasa indah. Indah, Kawan. Tapi perasaan ku tak enak. Kami pun meluncur ke salon itu: RIDHO SALON.
Sebuah salon yang letaknya hampir di depan Pertamina Antang, motor diparkir tak rapi di pinggir jalan.

Kostum Theo, sang Pemimpin Grup!
Diman berbicara pada sang empunya salon. Kami hanya melihat seisi salon. Mataku tertuju pada bingkai foto di tembok salon. Gambar sosok berkulit putih, berambut panjang, dibalut gaun merah mengkilap. Kuperhatikan tulisan di bawah foto: SHEILA SHAKILA. Finalis *****. Tanda asterix (*) yang kumaksud adalah kata yang dicetak miring tak jelas. Tak mampu kubaca. Sheila Shakila. Mungkinkah sosok di foto itu adalah sosok yang juga sedang melayani pelanggan wanita di depan ku ini?
Sosok lelaki berpakaian potongan wanita. Berkulit putih, berbaju ketat, dan potongan leher yang lebar. Sangat seksi.

HARI H
Hari yang telah kami tak nantikan. Hari terburuk dalam sejarah kami di Smunel. Semua bersiap. Baju yang telah disewa dan dikecilkan pun kami kenakan. Pakaian tradisional berwarna krem, sarung yang sangat panjang dan sangat berat, dan syal yang kami diikatkan di kepala kami. Membuat kami benar-benar tampak seperti anak muda pedalaman Nusa Tenggara Timur. Kostum paling istimewa tentu saja untuk Theo dan Utun, Pemimpin masing-masing grup. Pakaian yang dikenakan tak berbeda dengan kami, yang istimewa adalah aksesorisnya. Penutup kepala yang dibuat Diman dari daun pandan. Dibentuk sedemikian rupa hingga menjulang ke atas. Sangat gagah. Dan satu lagi yang istimewa: Parang panjang yang diselipkan di pinggang. Sebuah parang yang sengaja dibawa Dekos. Properti tambahan yang akan membuat tarian kami makin istimewa.
Kalau ngomong tentang Kostum, ada lagi yang menarik. Kalau tadi saya bilang ini adalah ujian praktek, berarti pesertanya bukan cuman cowok di kelas ku saja, Tentu ceweknya juga harus ikut.
Kalau saya belum pernah cerita, cewek di kelas saya jumlahnya cukup banyak, tapi yang cewek (baca: rajin make up) jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan dari mereka agak tomboi dan jarang memperhatikan hal-hal serupa make up. Dan tentu kamu tahu, kalau yang namanya kostum tradisional selalu dipadukan dengan aksesoris yang banyak dan, Make up yang tebal. Maksudku, TEBAL.
Inilah yang menjadi mimpi buruk untuk Rani (Ran), Wulan (Xpica), Icha', dan Wahyu (sekedar informasi: Wahyu itu nama cewek, hobinya nonton bola sama Moto GP). Make up adalah hal yang tabu untuk mereka. Saya berani taruhan, dibayar berapapun mereka tidak akan pernah pakai make up. Tapi hari ini, April 2008, mereka akan menelan pil pahit.
Kalian lihat saja fotonya:
Cewek-ceweknya tanpa make up. Ada saya di belakang!

Kalau yang ini dengan make up



Berempat sebelum resmi didandani




Mereka berempat setelah resmi didandani

Cek yang dilingkari.

Cantik bukan. Tapi jangan lihat jarinya Ran!



DI BALIK TIRAI PANGGUNG

Totally Me
"Setelah ini kita, Kawan!!!"
Kami tak mampu menyembunyikan kekhawatiran. Apalagi Diman, pelatih, koreografer, sekaligus penanggungjawab segala sesuatunya. Ia memperhatikan semuanya. Kostum, musik, aksesoris, dan detail-detail lainnya.
"Diman, nanti jatuh sarung na!! Kupake' mie celana pramuka ku' nahh??"
"Jammokohh!!!" Balas Diman
"Kupake' mie dehh!! Berat sarung na!!!" Kata kami lagi
"Terserah pale'!!"
"Tyar, tukaran ikat pinggang ki'. Pake ikat pinggang koh juga toh??" pinta Theo padaku
"Yo pae'!"

Semuanya siap! Pakaian dan aksesoris dan segala sesuatunya. Tinggal beraksi. Panggilan pun terdengar. Kami mengawalinya dengan doa. Lalu menyatukan tangan dan bersorak SEMPURNA!!!. Berharap penampilan kami benar-benar sempurna. Kami bersiap

SHOWTIME!!!
Musik mengalun. Satu persatu kami bermunculan ke panggung. Tepuk tangan dan sorakan dari teman-teman benar-benar membakar semangat kami. Blits kamera menyilaukan mata. Semuanya sempurna. Sangat rapi. Latihan tak sia-sia!!! Kami makin bersemangat.
Satu persatu formasi kami peragakan: Mula-mula membentuk lingkaran, lalu berbanjar dua, menghambur, mellow, elegan, diiringi musik tradisional seruling dari radio tape. Lancar, rapi, keren, tampan, dan rupawan (Wuaaahh). Hingga masuk ke gerakan inti.

GERAKAN INTI: PARANG!!!
Kami membagi anggota menjadi dua barisan. Satu barisan terdiri dari 6 orang. Diibaratkan sebagai dua kelompok yang sedang berseteru. Kelompokku dipimpin Theo, dan kelompok satunya lagi dipimpin Utun. Saya berdiri paling belakang. Terhimpit antara teman di depan ku dan tembok Aula. Gerakan dimulai, Theo dan Utun keluar dari barisan. Mengeluarkan sarung parang yang sedari tadi menempel di pinggang. Inilah senjata rahasia tarian kami. Theo dan Utun akan mengeluarkan parang dari sarungnya, sebilah parang yang telah diasah dan dilumuri jeruk nipis sampai mengkilat. Sangat alami. Sangat Perang!!! Sangat Parang!!! Sangat memesona!!!
Musik sesuai, Theo dan Utun mengeluarkan parang dari sarungnya. Penonton bersorak sangat keras memenuhi aula!! Blits kamera makin menyilaukan mata. SUKSESSS BESAARRR!!! Kataku dalam hati. Saya makin bersemangat. Pak Alim yang memegang handy-cam menghambur ke depan. Meyorot penari paling depan: Diman. Lohh?? Kenapa Diman?? Saya tak mengerti. Kuperhatikan sambil tetap melanjutkan tarian. Ternyata yang sejak tadi disoraki bukanlah Theo dan Utun yang menari dengan parangnya. Ternyata Diman!! Diman! Sarungnya melorot  
, memamerkan sesuatu di baliknya: Sebuah celana pendek (benar-benar pendek) hijau mengkilat bergaris putih.Arghhhh!!! Kami tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aspin yang menari di belakang Diman hanya tersenyum simpul menahan tawa.
Kawan, Mari kita Flashback:
(Inilah yang terjadi tadi di belakang panggung)
"Pake ikat pinggang kohh biar ndak melorot sarungmu!!!"
"Pake celana pramuka' mu! Ndak kliatan jie! Panjang jie sarung na!!!"
"Kasih rapat sarung mu!!"
Dan reaksi Diman: "Ndak jieehh. Ndak jiehh itu!!!"

Hal yang kami takutkan sejak pagi benar-benar terjadi. Untunglah kami cukup pandai mengatasinya. Namun tidak berlaku pada Diman. Ia telah memakan buah paling pahit sedunia. Malu-semalunya, di depan warga Smunel, teman-teman kelasku, guru-guru pembimbing. Sungguh. Memalukan.
Ia mencoba profesional. Ia tetap menari. Inilah yang kusukai darinya. Ia mencuri momen untuk merapikan sarungnya, Namun lagi-lagi sial. Hampir di gerakan penutup, sarungnya melorot lagi... Malu lagi...

Tarian penutup,
Formasi dua.
Saya di barisan depan.
Menari gerakan penutup, bergenggam tangan dengan teman-teman, lalu memberi hormat pada penonton. Tepat di saat musik pengiring selesai. Akhirnya...
Momen yang telah kami tak nantikan akhirnya selesai. Kami bebas!! Bebas, Kawan!! Kami tersenyum, bangga, sekaligus tersenyum karena kejadian yang menimpa Diman. Sungguh. Diman hanya diam, tapi mencoba tuk tetap tersenyum.
Tiba-tiba...
Pak Rahman: "Karena tadi ada sesuatu yang tidak terduga, namun harus tetap didokumentsikan, maka Kelompok putra XII IPS 1 diharapkan mengulang tariannya dari awal!!!"

AKHIRNYA KAMI MENARI LAGI DARI AWAL!!!


Hari itu adalah hari yang sangat berkesan bagi kami. Sungguh. Terutama untuk Diman. Menari sebanyak dua kali. Benar-benar sial. Sejak saat itu, saya mengingatnya sebagai tarian "Parang". Di saat Theo dan Utun mengeluarkan parang dari sarungnya, Diman juga melakukan hal yang sama, tapi dengan pengertian "parang" yang berbeda.
*Diman= Nama Samaran

SMA Negeri 5 Makassar. April 2008
Courtesy planktonemon.blogspot.com
Diposkan dengan editan lagi @ 11 Maret 2010 12.10 pm
Untuk Keluarga Dua Belas IPS 1 Smunel 2008

No comments