Cerita Putih Abu - Abu . Benar - Benar Memalukan !


Hari itu hari Sabtu, sehabis melaksanakan Sabtu Bersih Lingkungan, masuklah kami di pelajaran pavorit bagi beberapa orang: Bahasa Indonesia.
"bla.bla.bla.bla"
Bu Guru menerangkan dengan gaya klasik seorang guru yang sukses membuat kami bosan. Muncullah suara-suara parau dari belakang kelas
"Tyar, habis mie waktunya!!" bisik Theo
"Iyo kahh" balasku. "Yakin kohh?! Hari Sabtu ine, ndak sama jadwalnya sama hari-hari lain!"
"Iyo! Liat mekohh jam berapa mie?! Mau Kohh dimarahi lagi sama Pak Atang gara-gara terlambat!?" Lanjutnya semakin meyakinkan
Si Aspin pun ikut-ikutan "Iyo, Tyar! Habis mie!!Bilang mekohh!!"
Saya makin tak yakin, tapi sepertinya teman-teman yakin betul.
"Woi, habismie! Nanti dimarahiki' lagi kayak minggu-minggu lalu!!" sambung Ayus, diikuti celotehan Bowo, Abid, Utun, dan lain-lain.
"Tyar! Bilang kohh ke ibu! Kau Tommieh KETUA KELAS!!" Sambung mereka lagi
"Tar" Kupanggil Tharie yang juga tak kelihatan seperti memperhatikan penjelasan sang guru.
"Bilang kohh ke ibu, habismie waktunya!"
"Kau mohh!!" tolaknya mentah-mentah. Lama kelamaan kelas makin ribut dan gelisah.
"Bu, habis waktu.. Bu, Habis..!!" celoteh teman-teman di belakang. Akhirnya saya pun menyampaikan aspirasi mereka dengan gagah berani
"Bu, maaf. Waktunya sudah habis." kataku pelan agak keras
"SIAPA YANG BILANG?!" sang guru terlihat tidak senang.
"SIAPA YANG BILANG WAKTU SUDAH HABIS? INI HARI SABTU! JAM SEGINI MASIH LANJUT! MASIH ADA LIMA BELAS MENIT!!" saya dan teman-teman panik
"SIAPA YANG BILANG?? ANGKAT TANGAN!! KALIAN INI KURANG SOPAN!!"
Terdengar lagi celotehan bodoh dari bangku belakang "Siapa bilang itu'ehh? Angkat tangankohh!! Siapakah itu tadi'?!"
Saya pun mengancungkan tangan tinggi ke atas. Disusul oleh Tharie. Dan teman-teman yang lain bisa ditebak, pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Sungguh mejengkelkan.
"Mana ini Theo', Ippank, Ayus, sama yang lain'ehh. Dia tommieh yang pakarammula. Masa' saya jie sama Tharie yang kena?!" pikirku dalam hati.
Singkat cerita, saya dan Tharie dipanggil ke meja guru dan diceramahi. Kami tak bisa mengelak. Alhasil..
"Berdiri di sana!!" perintah ibu
"WHAT THE?! Berdiri? Ayolah, ibu pasti bercanda! Hukuman berdiri itu untuk SD sama SMP. Saya? Kurang dua bulan lagi tamat SMA disuruh berdiri di depan kelas?! Bukan sakitnya, Bu! Malu!! Sama teman-teman kelas sih tidak masalah. Sama anak-anak yang lewat depan kelas baru naliat ki' begini? Mate mie jah!"
Akhirnya, saya didampingi Tharie berdiri sangat romantis di depan teman-teman yang begundal tak tahu diri ini. Kupandangi Ippank yang senyum seakan tak terjadi apa-apa. Sehabis itu, kulimpahkan kemarahan padanya habis-habisan. Bukan karena apanya, dia yang paling semangat tadi!
Sungguh kenang-kenangan yang tak pantas dikenang seusai SMA nanti.


No comments