Tukang Jagal, Kambing Dan Isi Perutnya !

Darah-darah bercucuran,
Nyawa-nyawa menguap,
Meninggalkan sedih dan tawa dunia,
Meninggalkan hidup,
Pergi Entah ke mana,

Yah,, hari ini Idul Adha, salah satu hari raya favoritku, jelas saja!! Semua orang suka Idul Adha. Ya ndak?

Seusai melaksanakan Shalat Ied, saya dan salah seorang teman baik saya, Azwar berencana mengusir kebosanan hari ini dengan menyaksikan secara LIVE tayangan penyembelihan hewan kurban di MEsjid Favorit kami: Mesjid Baitul Maqdis

Rencana pun kami jalankan, di sana kami bertemu dengan salah seorang kawan (yang sering tidak kami akui): Kautsar.
Dan Prosesi penyembelihan akan di mulai, satu persatu hewan kurban dikeluarkan dari salah satu ruangan di WC yang dijadikan kandang kambing sementara, seperti sekolah Muhammadiyahnya Andrea Hirata saja.

Pak Parno (samaran; aslinya saia ndak tau) memulai ritual dengan sedikit pengantar, doa dan ucapan terima kasih pada sang penyumbang kurban. Lalu sebilah parang panjang, tajam, dan berani didekatkan ke leher salah seekor sapi yang telah tergeletak, terikat tak berdaya di bawahnya. Parang: Sebuah momok yang sangat menakutkan.

Kini giliran sang kambing.
Ponding menahan kepala,
Tilar menahan bagian perut (tepatnya menekan),
dan yang laen turut membantu, dan saya tentu menjalankan peranan saya dengan baik: menonton dengan sangat kalem

Parang dijulurkan ke leher sang korban.
Lalu perlahan parang tajam tadi mengiris, menyayat tenggorokan dan pembuluh darah. Mengalirkan darah merah segar: tragis.

Terjadi hal di luar dugaan:
Tilar sepertinya terlalu menekan perut sang kambing tadi, lalu secara tiba-tiba:
CROTTT!!!!
kotoran kambing berwarna hijau tua (kerena belum diproses di saluran ekskresi) menyembur keluar dari leher kambing yang telah robek tadi, memenuhi pakaiannya dari badan hingga tangan. Bau tak sedap mengudara. Dan kami tertawa.

PUWAS!!!

TERHIBUR!!!

Dan Tilar berjalan menuju tempat wudhu,
Membersihkan jasmaninya...





ADITYAR ICHSANUL MAHIDIN: SANG JAGAL 212